zmedia

Apa Kontribusi Kita untuk Islam?

Pembaca rahimakumullah, Allah memerintahkan kita untuk mengibadahiNya dengan ibadah personal dan interpersonal, yaitu ibadah yang memberi kontribusi terhadap kebaikan kaum muslimin, bahkan non-muslim.

Perhatikan firman Allah:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam, (QS Al-Anbiya: 107).

أَنَّ اللهَ أَرْسَلَ نَبِيَّهُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَحْمَةً لِجَمِيعِ الْعَالَمِ؛ مُؤْمِنِهِمْ، وَكَافِرِهِمْ.

Sesungguhnya Allah telah mengutus Nabi-Nya Muhammad ﷺ sebagai rahmat[1] bagi seluruh alam; mukmin maupun kafir,  (Tafsir At-Tabari: 16/441).

Imam At-Tabrani meriwayatkan di dalam Al-Mu’jam Al-Ausath dengan sanad yang sahih dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ، وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ سُرُورٌ يُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ، أَوْ يَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً، أَوْ يَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا، أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا، وَلَأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخٍ لِي فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ -يَعْنِي: مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ- شَهْرًا

Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Dan amalan yang paling dicintai oleh Allah Azza wa Jalla adalah kegembiraan yang engkau masukkan ke dalam hati seorang muslim, atau engkau menghilangkan kesusahannya, atau engkau membayarkan utangnya, atau engkau menghilangkan kelaparannya. Dan sungguh, berjalan bersama saudaraku untuk suatu keperluan lebih aku cintai daripada aku beri'tikaf di masjid ini -yaitu: Masjid Madinah- selama sebulan, (Al-Mu’jam Al-Ausath li At-Tabrani: 6026).

SEMUA MEMBERI KONTRIBUSI

Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah... Semua dari kita dituntut untuk memberi kontribusi, bagi kebaikan diri sendiri, orang lain, dan untuk kemajuan agama Islam. Apa dalilnya?

Perhatikan firman Allah ta’ala:

ٱنفِرُوا۟ خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَٰهِدُوا۟ بِأَمْوَٰلِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan maupun berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui, (QS. At-Taubah: 41).

Perhatikan klausa:

ٱنفِرُوا۟ خِفَافًا وَثِقَالًا

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan maupun berat, (QS At-Taubah: 41).

1 – Imam Hasan Al-Basri menafsirkannya dengan:

شَيْبًا وَشُبَّانًا

Tua atau muda, (Tafsir At-Tabari).

2 – Imam Mujahid menafsirkannya dengan:

شَبَابًا وَشُيُوخًا، وَأَغْنِيَاءَ وَمَسَاكِينَ.

Muda atau tua. Kaya atau miskin, (Idem).

3 – Al-Hakim menafsirkannya dengan:

مَشَاغِيلَ وَغَيْرَ مَشَاغِيلَ.

Sibuk atau tidak sibuk, (Idem).

4 – Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu menafsirkannya dengan:

نِشَاطًا وَغَيْرَ نِشَاطٍ.

Semangat maupun tidak semangat, (Idem).

5 – Abu Amru menafsirkannya dengan:

رُكْبَانًا وَمُشَاةً.

Berkendara maupun jalan kaki, (Idem).

6 – Ibnu Zaid menafsirkannya dengan:

ذَا ضَيْعَةٍ، وَغَيْرَ ذِي ضَيْعَةٍ.

Memiliki mata pencaharian, atau tidak memiliki mata pencaharian, (Idem).

7 – Syaikh Abdurrahman Nasir As-Sa’di menafsirkannya dengan:

فِي الْعُسْرِ وَالْيُسْرِ، وَالْمَنْشَطِ وَالْمَكْرَهِ، وَالْحَرِّ وَالْبَرْدِ، وَفِي جَمِيعِ الْأَحْوَالِ Dalam keadaan sulit maupun mudah, dalam keadaan semangat maupun terpaksa, dalam keadaan panas maupun dingin, dan dalam segala keadaan, (Taisir Al-Karim Ar-Rahman).

Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah.. Semua dari kita diperintahkan oleh Allah untuk memberi kontribusi kepada agama ini, dalam segala keadaan. Dan ketika menyimpulkan ayat ini, Buya Hamka di dalam Tafsir Al-Azhar berkata:

“Ayat-ayat yang seperti inilah yang menjadi sebab mengapa Islam sejak tumbuhnya sampai perkembangannya telah mempersatukan di antara ibadat kepada Allah dengan perbaikan nasib manusia.”

GAMBARAN KONTRIBUSI PARA SAHABAT NABI ﷺ

Pembaca rahimakumullah, tahun kesembilan hijriah, tepatnya di bulan Rajab. Waktu itu di puncak musim panas,  yang menurut Buya Hamka, itu sekitar bulan Oktober. Ini adalah musim kali terakhir buah kurma dipetik dari pohonnya.

Namun, di saat yang sama, umat Islam mendapat informasi bahwa Pasukan Salib Romawi dan Arab Nasrani sudah bersekutu untuk menyerang Madinah. Sebuah ancaman besar di tengah puncak masa panen tanaman kurma.

Itulah yang menjadikan para sahabat merasa berat untuk mempersiapkan diri menghadapi Pasukan Romawi dan Arab Nasrani, sampai-sampai Allah berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ ٱنفِرُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ٱثَّاقَلْتُمْ إِلَى ٱلْأَرْضِ ۚ أَرَضِيتُم بِٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا مِنَ ٱلْءَاخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا فِى ٱلْءَاخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa ketika dikatakan kepadamu, "Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah," kamu merasa berat dan cenderung tinggal di bumi? Apakah kamu lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit, (QS. At-Taubah: 38).

Hingga kemudian, Allah kembali memerintahkan kaum muslimin untuk melakukan persiapan dengan firmannya:

ٱنفِرُوا۟ خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَٰهِدُوا۟ بِأَمْوَٰلِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan maupun berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui, (QS. At-Taubah: 41).

Dengan turun ayat 41 ini, kita belajar tentang besarnya kontribusi kepada Islam. Coba perhatikan kata Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri dalam Ar-Rahiq Al-Makhtum:

كَانَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ قَدْ جَهَّزَ عِيرًا لِلشَّامِ، مِائَتَيْ بَعِيرٍ بِأَقْتَابِهَا وَأَحْلَاسِهَا، وَمِائَتَيْ أُوقِيَّةٍ، فَتَصَدَّقَ بِهَا

Utsman bin Affan telah mempersiapkan kafilah untuk Syam, 200 ekor unta dengan pelana dan perlengkapannya, dan 200 uqiyah (mata uang perak), lalu beliau menyedekahkannya.

ثُمَّ تَصَدَّقَ بِمِائَةِ بَعِيرٍ بِأَحْلَاسِهَا وَأَقْتَابِهَا، ثُمَّ جَاءَ بِأَلْفِ دِينَارٍ فَنَثَرَهَا فِي حِجْرِهِ ﷺ

Kemudian bersedekah lagi dengan 100 ekor unta dengan pelana dan perlengkapannya. Kemudian beliau datang membawa 1.000 dinar lalu menaburkannya di pangkuan Rasulullah ﷺ.

Dengan itu pun Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا ضَرَّ عُثْمَانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ الْيَوْمِ

Tidak akan membahayakan Utsman apa pun yang ia lakukan setelah hari ini, (Sunan At-Tirmizi: 3701).

Tak cukup di situ. Kata Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri:

ثُمَّ تَصَدَّقَ وَتَصَدَّقَ، حَتَّى بَلَغَ مِقْدَارُ صَدَقَتِهِ تِسْعَمِائَةِ بَعِيرٍ وَمِائَةَ فَرَسٍ سِوَى النُّقُودِ

Kemudian beliau bersedekah dan bersedekah lagi, hingga jumlah sedekahnya mencapai 900 ekor unta dan 100 ekor kuda selain uang.

Maka setelah itu, semua sahabat ikut berkontribusi dalam mempersiapkan Perang Tabuk, di antaranya:

- Abdurrahman bin Auf berkontribusi dengan 200 uqiyah perak,[2]

- Abu Bakar dengan seluruh hartanya,

- Umar bin Khattab dengan separuh hartanya,

- Abbas, Talhah, Sa’ad bin Ubadah, Muhammad bin Maslamah, dan banyak lagi lainya berkontribusi dengan hartanya,

- Ashim bin Adi dengan 90 wasaq kurma.[3]

Bahkan, kata Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri:

حَتَّى كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَنْفَقَ مُدًّا أَوْ مُدَّيْنِ لَمْ يَكُنْ يَسْتَطِيعُ غَيْرَهَا؛ وَبَعَثَتِ النِّسَاءُ مَا قَدِرْنَ عَلَيْهِ مِنْ مِسْكٍ وَمَعَاضِدَ وَخَلَاخِلَ وَقُرْطٍ وَخَوَاتِمَ

Hingga di antara mereka ada yang menginfakkan satu mud atau dua mud yang mereka tidak mampu sedekah dengan selain itu. Dan para wanita mengirimkan apa yang mereka mampu berupa minyak wangi, gelang atas, gelang kaki, anting-anting, dan cincin.

BERKONTRIBUSI SESUAI KEMAMPUAN

Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah... Dari penggalan kisah kontribusi para sahabat di dalam Perang Tabuk, baik dengan harta maupun dengan jiwanya, kita belajar bahwa berkontribusi bagi Islam itu sesuai kemampuan.

Coba perhatikan firman Allah:

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ

Katakanlah (Muhammad), "Setiap orang berbuat sesuai dengan Syakilah-nya masing-masing,” (QS Al-Isra: 84). Apa makna Syakilah?

1 – Ibnu Abbas menafsirkannya dengan:

عَلَىٰ نَاحِيَتِهِ

Menurut caranya (pembawaannya) sendiri, (Tafsir At-Tabari).

2 – Mujahid menafsirkannya dengan:

عَلَىٰ طَبِيعَتِهِۦ عَلَىٰ حِدَتِهِۦ

Sesuai dengan tabiatnya, menurut caranya sendiri, (Idem).

3 – Qatadah menafsirkannya dengan:

عَلَىٰ نَاحِيَتِهِۦ وَعَلَىٰ مَا يَنْوِي.

Menurut caranya (pembawaannya) dan menurut apa yang ia niatkan, (Idem).

4 – Syaikh Abdurrahman Nasir As-Sa’di menafsirkannya dengan:

عَلَىٰ مَا يَلِيقُ بِهِ مِنَ الْأَحْوَالِ

Sesuai dengan keadaan yang sedang dia hadapi, (Taisir Al-Karim Ar-Rahman).

Oleh karena itu, berkontribusilah sesuai dengan kemampuan kita, apa pun keadaan yang sedang kita hadapi.

Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah...

Di dalam As-Sahihain dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu yang berkata:

 أَنَّ امْرَأَةً سَوْدَاءَ كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ أَوْ شَابًّا

Bahwa dahulu ada seorang wanita atau seorang pemuda berkulit hitam yang memiliki kebiasaan membersihkan masjid.

 فَفَقَدَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَ عَنْهَا أَوْ عَنْهُ

Lantas, suatu hari Rasulullah ﷺ kehilangan beliau, lalu bertanya tentang wanita atau pemuda berkulit hitam tersebut.

Para sahabat pun mengatakan bahwa beliau telah meninggal dunia. Rasulullah ﷺ pun berkata:

 أَفَلَا كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي

Lantas mengapa kalian tidak memberi tahu saya?

Sahabat Abu Hurairah berkata (ketika meriwayatkan hadis ini kepada santri-santrinya):

 فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا أَوْ أَمْرَهُ

Seolah-olah para sahabat memandang urusan membersihkan masjid atau wanita/pemuda berkulit hitam itu sebagai sosok/urusan yang sepele.

Lantas Rasulullah ﷺ berkata:

 دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهَا

Tunjukkan padaku kuburannya. Lantas, para sahabat menunjukkan kuburannya, dan beliau mensalatinya. Setelah itu, beliau ﷺ bersabda:

 إِنَّ هَذِهِ الْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَلَاتِي عَلَيْهِمْ

Sungguh, kuburan ini telah dipenuhi dengan kegelapan bagi penghuninya. Dan Allah benar-benar akan memberikan cahaya karena salat yang aku kerjakan atas mereka, (Sahih Muslim: 956).

Perhatikan, ketika beberapa sahabat memandang remeh sosok ibu-ibu berkulit hitam yang biasa membersihkan masjid, ternyata Nabi ﷺ memandangnya sebagai sosok yang istimewa. Artinya apa? Sekecil apa pun kontribusi kita kepada Islam, ia memiliki posisi spesial di sisi Allah.

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, (QS Az-Zalzalah: 7).

MENGAPA MEMBERI KONTRIBUSI KEPADA ISLAM?

Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah... Mengapa harus berkontribusi kepada Islam? Allah ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن تَنصُرُوا۟ ٱللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian menolong Allah, Allah pasti akan menolong kalian dan meneguhkan kaki kalian, (QS Muhammad 7).

Di dalam ayat ini Allah berjanji “akan menolong kalian (orang yang menolong Allah) dan meneguhkan kaki kalian”. Apa maksudnya?

Al-Biqai mengatakan bahwa orang yang berkontribusi kepada Islam, dia akan mendapat “pertolongan Allah”, yaitu:

بِأَٔنْ يَّمْلَأَ قُلُوبَكُمْ سَكِينَةً وَاطْمِئْنَانًا

1 – (Allah akan) memenuhi hati kalian (orang yang menolong Allah) dengan Sakinah[4] dan Tumakninah,[5] (Nidham Ad-Durar).

وَأَٔبْدَانَكُمْ قُوَّةً وَشَجَاعَةً فِي حَالِ ٱلْقَتْلِ

2 – (Allah akan) menjadikan raga kalian kuat,[6] dan jiwa kalian berani[7] ketika perang, (Idem).

وَوَقْتَ ٱلْبَحْثِ وَٱلْجِدَالِ

3 – Allah akan menolong orang yang menolongNya untuk melakukan penelitian (الْبَحْثِ) dalam memahami kebenaran dan saat berdebat (الْجِدَالِ) ketika membela agama-Nya dengan hujjah yang kuat, (Idem)

وَعِنْدَ مُبَاشَرَةِ جَمِيعِ الْأَعْمَالِ.

4 – Allah akan menolong orang yang menolongNya ketika dia mengerjakan pekerjaan apa pun, (Idem)

فَتَكُونُوا عَالِينَ قَاهِرِينَ فِي غَايَةِ مَا يَكُونُ مِن طِيبِ ٱلنُّفُوسِ، وَٱنشِرَاحِ ٱلصُّدُورِ

5 – Allah akan menolong orang yang menolongNya dengan menjadikannya sosok yang 1) unggul,[8] 2) jawara,[9] 3) legowo tingkat tertinggi,[10] dan 4) lapang dadanya,[11] (Idem).

Imam Al-Qurtubi menafsirkan (وَيُثَبِّتْ أَقْدامَكُمْ) dengan:

أَيْ عِنْدَ الْقِتَالِ وَعَلَى الْإِسْلَامِ وَعَلَى الصِّرَاطِ

yaitu 1) saat berperang,[12] 2) di atas Islam,[13] dan 3) di atas shirath (jembatan di akhirat).[14]

MAKNA “MENOLONG ALLAH”

Inilah yang dimaksud dengan berkontribusi kepada Islam, yaitu menolong Allah. Apa makna “menolong Allah” di dalam firmanNya (يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن تَنصُرُوا۟ ٱللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ)?

Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi berkata:

أَيْ فِي دِينِهِ وَرَسُولِهِ وَعِبَادِهِ ٱلْمُؤْمِنِينَ.

Menolong agamaNya, RasulNya, dan hamba-hambaNya yang beriman, (Aisarut Tafasir).

BAGAIMANA MENOLONG AGAMA ALLAH?

Tentang cara menolong agama Allah, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berkata:

اِعْلَمْ رَحِمَكَ اللهُ أَنَّهُ يَجِبُ عَلَيْنَا تَعَلُّمُ أَرْبَعِ مَسَائِلَ.

Ketahuilah, semoga Allah merahmatimu, sesungguhnya wajib bagi kita mempelajari empat masalah.

الأُولَى الْعِلْمُ وَهُوَ مَعْرِفَةُ اللهِ، وَمَعْرِفَةُ نَبِيِّهِ، وَمَعْرِفَةُ دِينِ الإِسْلاَمِ بِالأَدِلَّةِ.

(Pertama) Ilmu, yaitu mengenal Allah, mengenal Nabi-Nya, dan mengenal agama Islam dengan dalil-dalil.

الثَّانِيَةُ الْعَمَلُ بِهِ.

(Kedua) Mengamalkannya.

الثَّالِثَةُ الدَّعْوَةُ إِلَيْهِ.

(Ketiga) Mendakwahkannya.

الرَّابِعَةُ الصَّبْرُ عَلَى الأَذَى فِيهِ.

(Keempat) Bersabar atas gangguan di dalamnya.

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala:

وَالْعَصْرِ - إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ - إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran, (QS. Al-Asr: 1-3).

BAGAIMANA MENOLONG RASULULLAH ﷺ?

Cara terbaik menolong Rasulullah ﷺ adalah dengan memenuhi hak-hak beliau, yaitu:

الإيمانُ بِهِ، مَحَبَّتُهُ، طَاعَتُهُ، مُتَابَعَتُهُ، الِاقْتِدَاءُ بِهِ، تَوْقِيرُهُ، تَعْظِيمُ شَأْنِهِ، وُجُوبُ النُّصْحِ لَهُ، مَحَبَّةُ آلِ بَيْتِهِ وَأَصْحَابِهِ، الصَّلَاةُ عَلَيْهِ.

1) Beriman kepada beliau, 2) mencintai beliau, 3) menaati beliau, 4) mengikuti beliau dalam ucapan dan perbuatan, 5) menjadikan beliau sebagai teladan, 6) menghormati dan memuliakan beliau, 7) mengagungkan kedudukan beliau, 8) memberikan nasihat yang baik untuk beliau, 9) mencintai keluarga dan sahabat beliau, 10) berselawat kepada beliau.

BAGAIMANA MENOLONG HAMBA-NYA?

Termasuk menolong Allah adalah menolong hambaNya yang beriman. Bagaimana caranya? Yaitu dengan mengamalkan akhlak Ihsan. Apa itu ihsan?

بَذْلُ جَمِيْعِ الْمَنَافِعِ من أيِّ نَوْعٍ كان، لأيِّ مَخْلُوْقٍ يَكُوْنُ

Ihsan adalah memberi semua manfaat – apa pun itu jenisnya; kepada setiap makhluk – apa pun itu, (Bahjatul Qulub Al-Abrar li As-Sa’di: 142).

DENGAN APA KITA BERKONTRIBUSI KEPADA ISLAM?

1. Al-‘Atha’ Al-Mâlî (الْعَطَاءُ الْمَالِيُّ) — Kontribusi Harta

Kontribusi harta adalah bentuk kontribusi yang paling ringan dan sering dilakukan. Ia dapat menjadi sarana vital yang mendukung lajunya dakwah dan kegiatan keislaman. Sebagaimana kaum Anshar yang memberikan hartanya untuk mendukung dakwah Rasulullah ﷺ dan para sahabat Muhajirin.

وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗ

"Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan." (Al-Hasyr: 9)

2. Al-‘Atha’ Al-‘Ilmî (الْعَطَاءُ الْعِلْمِيُّ) — Kontribusi Ilmu

Kontribusi berupa ilmu dapat memperluas pemahaman umat, membentengi mereka dari penyimpangan, dan memperkokoh pondasi dakwah. Ilmu menjadi cahaya dalam membimbing manusia menuju kebenaran.

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ۗ

"Katakanlah: 'Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?'" (Az-Zumar: 9)

3. Al-‘Atha’ Al-Jismî (الْعَطَاءُ الْجِسْمِيُّ) — Kontribusi Fisik

Tenaga dan fisik juga bagian penting dalam mendukung dakwah. Ada aktivitas-aktivitas dakwah yang tidak cukup hanya dengan harta atau ilmu, tetapi membutuhkan kehadiran fisik, seperti membantu pelaksanaan kegiatan dakwah, pembangunan masjid, atau pengiriman bantuan.

وَجَاهِدُوْا فِي اللّٰهِ حَقَّ جِهَادِهٖ ۚ

"Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya." (Al-Hajj: 78)

4. Al-‘Atha’ An-Nafsî (الْعَطَاءُ النَّفْسِيُّ) — Kontribusi Jiwa

Ini adalah bentuk kontribusi tertinggi, di mana seseorang mengorbankan nyawa demi menegakkan agama Allah. Seperti para mujahid yang gugur dalam medan perang demi kemuliaan Islam.

إِنَّ اللّٰهَ اشْتَرٰى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَيَقْتُلُوْنَ وَيُقْتَلُوْنَ ۗ

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh." (At-Taubah: 111)

5. Al-‘Atha’ Al-Mulky (الْعَطَاءُ الْمُلْكِيُّ) — Kontribusi Kewenangan

Kewenangan atau jabatan bisa menjadi sarana strategis untuk menyokong dakwah. Pengaruh dari jabatan dapat membuka peluang seluas-luasnya bagi dakwah dan syiar Islam jika digunakan secara amanah dan ikhlas. Hal ini dicontohkan oleh seorang mukmin dari keluarga Fir’aun yang menyembunyikan imannya, tetapi membela dakwah Nabi Musa عليه السلام dari dalam pemerintahan Fir’aun.

وَقَالَ رَجُلٌ مُّؤْمِنٌ مِّنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَكْتُمُ إِيمَانَهُۥٓ أَتَقْتُلُوْنَ رَجُلًا أَنْ يَّقُوْلَ رَبِّيَ اللّٰهُ وَقَدْ جَآءَكُمْ بِالْبَيِّنٰتِ مِنْ رَّبِّكُمْ ۖ وَإِنْ يَّكُ كَاذِبًا فَعَلَيْهِ كَذِبُهُۥ ۖ وَإِنْ يَّكُ صَادِقًا يُّصِبْكُمْ بَعْضُ الَّذِيْ يَعِدُكُمْ ۚ إِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ

"Dan seorang laki-laki yang beriman di antara keluarga Fir’aun yang menyembunyikan imannya berkata, 'Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia mengatakan: Tuhanku adalah Allah, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa bukti-bukti dari Tuhanmu? Jika dia pendusta, maka kedustaannya itu akan menimpa dirinya sendiri. Tetapi jika dia benar, niscaya akan menimpamu sebagian dari (azab) yang diancamkannya.' Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang melampaui batas dan pendusta." (Al-Mu’min: 28)

Sukoharjo, 17 Mei 2025

Irfan Nugroho (Pengajar di PPTQ At-Taqwa dan RQ Irmas Bani Saimo Sukoharjo)

CATATAN KAKI

[1] Apa maksud rahmat di sini? Kata Al-Biqai:

طَائِعِهِمْ بِالثَّوَابِ، وَعَاصِيهِمْ بِتَأْخِيرِ الْعِقَابِ.

Orang yang taat diberi pahala, dan orang yang bermaksiat siksanya ditunda (di akhirat), (Nidham Ad-Durar).

[2] 200 uqiyah perak diperkirakan sekitar 23,8 kilogram. Jika harga perak per 17 Mei 2025 adalah Rp17.112, maka uqiyah perak senilai Rp407.265.600. [3] Jika kita menggunakan perkiraan Imam Syafi'i dengan patokan beras (karena kurma bisa bervariasi beratnya): 90 wasaq x 130,56 kg/wasaq = 11.750,4 kg [4] Ketenangan (سَكِينَةً): Merupakan kedamaian batin, ketentraman jiwa, dan hilangnya kegelisahan atau keraguan. [5] Ketenteraman (اطْمِئْنَانًا): Lebih menekankan pada keyakinan yang mendalam, kepastian hati, dan rasa puas dengan ketentuan Allah. [6] Kekuatan (قُوَّةً): Bukan hanya kekuatan fisik semata, tetapi juga ketahanan tubuh dalam menghadapi kesulitan dan tantangan peperangan. [7] Keberanian (شَجَاعَةً): Keteguhan hati dan jiwa untuk menghadapi musuh tanpa rasa takut yang berlebihan. [8] Tinggi (عَالِينَ): Menunjukkan kemuliaan, kehormatan, dan kedudukan yang unggul di hadapan Allah dan manusia. Mereka tidak akan direndahkan oleh musuh-musuh mereka. [9] Jawaran (قَاهِرِينَ): Menunjukkan kemenangan dan kemampuan untuk menundukkan orang-orang yang menentang kebenaran. [10] Legowo tingkat tertinggi (غَايَةِ مَا يَكُونُ مِن طِيبِ النُّفُوسِ): Kemenangan yang diraih tidak disertai dengan kesombongan, dendam, atau kegelisahan, melainkan dengan jiwa yang bersih, tenang, dan puas dengan pertolongan Allah. [11] Kelapangan dada (انْشِرَاحِ الصُّدُورِ): Merupakan keadaan hati yang lapang, terbuka, dan bebas dari kesempitan, kegelisahan, atau kebencian. Orang yang lapang dadanya akan lebih mudah menerima kebenaran, bersabar dalam menghadapi ujian, memaafkan kesalahan orang lain, dan memiliki pandangan yang positif terhadap kehidupan. [12] Saat berperang (عِنْدَ الْقِتَالِ): Allah akan memberikan keteguhan dan kekuatan kepada mereka di medan pertempuran sehingga mereka tidak mudah goyah, mundur, atau dikalahkan oleh musuh. Kaki mereka akan tetap kokoh berdiri dalam menghadapi segala tantangan. [13] Di atas Islam (عَلَى الْإِسْلَامِ): Allah akan memantapkan mereka dalam agama Islam, memberikan mereka hidayah untuk terus istiqamah di jalan-Nya hingga akhir hayat. Kaki mereka akan tetap teguh di atas kebenaran Islam. [14] Di atas shirath (عَلَى الصِّرَاطِ): Allah akan memudahkan mereka melewati shirath (jembatan yang terbentang di atas neraka pada hari kiamat) dengan selamat dan tanpa tergelincir. Kaki mereka akan teguh melangkah menuju surga.

Post a Comment for "Apa Kontribusi Kita untuk Islam?"