zmedia

Sahihul Adab: Adab Menjenguk Orang Sakit

Pembaca rahimakumullah, berikut adalah adab menjenguk orang sakit sebagaimana yang kami pelajari dari kitab Sahihul Adab Al-Islamiyah karya Syaikh Wahid Abdussalam Bali hafizahullah. Semoga bermanfaat!

آدَابُ عِيَادَةِ الْمَرِيضِ

(27) Adab Menjenguk Orang Sakit

١ - أَنْ يَدْعُوَ اللهَ لَهُ بِالشِّفَاءِ.

1 - Hendaknya Berdoa Minta Kesembukan Untuknya.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqash Radhiyallahu Anhu yang bercerita tentang beliau yang sedang sakit lalu dijenguk oleh Nabi ﷺ:

ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ عَلَى جَبْهَتِهِ ثُمَّ مَسَحَ يَدَهُ عَلَى وَجْهِي وَبَطْنِي ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا وَأَتْمِمْ لَهُ هِجْرَتَهُ فَمَا زِلْتُ أَجِدُ بَرْدَهُ عَلَى كَبِدِي فِيمَا يُخَالُ إِلَيَّ حَتَّى السَّاعَةِ

Kemudian beliau meletakkan tangannya di dahiku, lalu mengusapkan tangannya ke wajah dan perutku, kemudian bersabda, "Ya Allah, sembuhkanlah Sa'ad dan sempurnakanlah hijrahnya." Maka aku senantiasa merasakan dinginnya di hatiku, sebagaimana yang terlintas dalam benakku hingga saat ini, (Sahih Bukhari: 5659).

Imam Abu Dawud dan At-Tirmizi meriwayatkan dengan sanad yang hasan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma  bahwa Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ عَادَ مَرِيضًا لَمْ يَحْضُرْ أَجَلُهُ فَقَالَ عِنْدَهُ سَبْعَ مِرَارٍ أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ إِلَّا عَافَاهُ اللَّهُ مِنْ ذَلِكَ الْمَرَضِ

Barang siapa menjenguk orang sakit yang belum tiba ajalnya, lalu ia mengucapkan di sisinya tujuh kali: "Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Tuhan Arsy yang Agung, agar menyembuhkanmu," niscaya Allah akan menyembuhkannya dari penyakit tersebut, (Sunan Abu Dawud: 3106. Sunan At-Tirmizi: 2083).

Imam Abu Dawud meriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin Ash Radhiyallahu Anhuma bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إِذَا جَاءَ الرَّجُلُ يَعُودُ مَرِيضًا فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ اشْفِ عَبْدَكَ يَنْكَأُ لَكَ عَدُوًّا أَوْ يَمْشِي لَكَ إِلَى جَنَازَةٍ قَالَ أَبُو دَاوُد وَقَالَ ابْنُ السَّرْحِ إِلَى صَلَاةٍ

Apabila seseorang datang menjenguk orang sakit, maka hendaklah ia mengucapkan, "Ya Allah, sembuhkanlah hamba-Mu ini, ia akan melukai musuh-Mu atau berjalan bersamamu menuju jenazah."[1] Abu Dawud berkata, dan Ibnu As-Sarh berkata, "menuju shalat,” (Sunan Abu Dawud: 3107). PENJELASAN

[1] Sabda Nabi (dan sempurnakanlah hijrahnya) maksudnya, “Karena Saad bin Abi Waqash sedang sakit, maka dia takut akan meninggal dunia di tempat dia berhijrah. Oleh karena itu, Allah Yang Maha Agung dan Maha Mulia mengabulkan doa Rasul-Nya dan Allah menyembuhkannya, lalu Saad meninggal setelah itu di Madinah.

[2] Sabda Nabi (ia akan melukai musuh-Mu) maksudnya, “Dia akan berperang/berjihad di jalan  Allah.”

PELAJARAN

Pelajaran yang bisa diambil dari adab menjenguk orang sakit yang pertama ini di antaranya:

١- الْحَثُّ عَلَى عِيَادَةِ الْمَرِيضِ.

1 - Dorongan untuk menjenguk orang sakit.

عَظِيمُ دُعَاءِ النَّبِيِّ وَتَأْثِيرُهُ.

2 - Kebesaran doa Nabi dan pengaruhnya.

مَشْرُوعِيَّةُ التَّوَسُّلِ بِأَسْمَاءِ اللَّهِ وَصِفَاتِهِ.

3 - Disyariatkannya tawassul (memohon) dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah.

إِثْبَاتُ الْعَرْشِ وَأَنَّهُ عَظِيمٌ.

4 - Penetapan 'Arsy dan bahwa ia itu agung.

فَضِيلَةُ الْجِهَادِ وَاتِّبَاعِ الْجَنَائِزِ.

5- Keutamaan jihad dan mengiringi jenazah.

لَعَلَّهُ جَمَعَ بَيْنَ النِّكَايَةِ وَتَشْيِيعِ الْجَنَازَةِ، لِأَنَّ الْأَوَّلَ كَدْحٌ فِي إِنْزَالِ الْعِقَابِ عَلَى عَدُوِّ اللَّهِ، وَالثَّانِي سَعْيٌ فِي إِيصَالِ الرَّحْمَةِ إِلَى وَلِيِّ اللَّهِ.

6- Mungkin beliau menggabungkan antara menghabisi musuh dan mengiringi jenazah, karena yang pertama adalah usaha dalam menjatuhkan hukuman terhadap musuh Allah, dan yang kedua adalah usaha dalam menyampaikan rahmat kepada wali Allah.

أَنْ يَأْمُرَهُ الْعَائِدُ بِالصَّبْرِ وَالتَّحَمُّلِ.

2 - Hendaknya Memerintahkannya untuk Bersabar dan Tabah.

Allah ta’ala berfirman:

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,[1] (156) (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah,[2] mereka mengucapkan, "Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn" (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). (157) Mereka itulah yang mendapat Selawat [3] dan Rahmat [4] dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk, (QS Al-Baqarah: 155-157).

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy’ari Radhiyallahu Anhu  bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

Apabila seorang hamba sakit atau bepergian, maka dicatat baginya pahala seperti apa yang biasa ia kerjakan ketika mukim (tidak bepergian) dan sehat, (Sahih Bukhari: 2996).

PENJELASAN:

[1] Kata sabar secara bahasa artinya menahan. Secara syar’i, definisi sabar adalah:

حَبْسُ اللِّسَانِ عَنِ التَّشَكِّي، وَالْقَلْبِ عَنِ التَّسَخُّطِ، وَالْجَوَارِحِ عَنْ عَدَمِ الرِّضَا.

Menahan lisan dari mengeluh, menahan hati dari marah, dan menahan anggota badan dari perilaku yang menunjukkan tidak rida.

[2] Musibah artinya:

الْمُصِيبَةُ مَا يُصِيبُ الْعَبْدَ مِنْ ضَرَرٍ فِي نَفْسِهِ أَوْ أَهْلِهِ أَوْ مَالِهِ.

Apa yang menimpa seorang hamba berupa kerugian pada dirinya, keluarganya, atau hartanya.

[3] Selawat dari Allah maksudnya:

الْمَغْفِرَةُ لِعَطْفِ الرَّحْمَةِ عَلَيْهَا

Ampunan, karena kata “selawat” digabung dengan kata “rahmat”.

[4] Rahmat dari Allah maksudnya:

الْإِنْعَامُ وَهُوَ جَلْبُ مَا يَسُرُّ وَدَفْعُ مَا يَضُرُّ، وَأَعْظَمُ ذَلِكَ دُخُولُ الْجَنَّةِ بَعْدَ النَّجَاةِ مِنَ النَّارِ.

Pemberian nikmat, yaitu datangnya apa saja yang menyenangkan dan tertolaknya apa saja yang membahayakan, dan yang paling agung dari itu adalah masuk surga setelah selamat dari neraka.

PELAJARAN

Pelajaran yang bisa diambil dari adab menjenguk orang sakit yang kedua ini adalah sebagai berikut:

١- فَضِيلَةُ الصَّبْرِ.

1- Keutamaan sabar.

٢- قَدْ يُبْتَلَى الْمُؤْمِنُ بِالْمَصَائِبِ فِي النَّفْسِ وَالْأَهْلِ وَالْمَالِ؛ لِيَصْبِرَ فَتَرْتَفِعَ دَرَجَتُهُ وَيَعْلُوَ مَقَامُهُ عِنْدَ رَبِّهِ.

2- Seorang mukmin bisa diuji dengan musibah pada diri, keluarga, dan harta; agar dia bersabar sehingga derajatnya meningkat dan kedudukannya tinggi di sisi Tuhannya.

٣- فَضِيلَةُ الِاسْتِرْجَاعِ عِنْدَ الْمُصِيبَةِ وَهُوَ قَوْلُ: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ.

3- Keutamaan istirja' (mengucapkan 'Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji'un') saat musibah, yaitu ucapan: Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali.

٤- عَظِيمُ رَحْمَةِ اللَّهِ وَثَوَابِهِ.

4- Kebesaran rahmat dan pahala Allah.

٥- فَضْلُ النِّيَّةِ الصَّالِحَةِ.

5- Keutamaan niat yang baik.

٣ - أَنْ يَذْهَبَ لِعِيَادَةِ الْمَرِيضِ مَاشِيًا.

3 - Hendaknya Pergi Menjenguk Orang Sakit dengan Berjalan Kaki.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu Anhu yang berkata:

عَادَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ فِي بَنِي سَلِمَةَ مَاشِيَيْنِ

Nabi ﷺ dan Abu Bakar menjenguk saya di Bani Salimah[1] dengan berjalan kaki, (Sahih Bukhari: 4577).

Imam Muslim meriwayatkan dari Tsauban Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ عَادَ مَرِيضًا لَمْ يَزَلْ فِي خُرْفَةِ الْجَنَّةِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا خُرْفَةُ الْجَنَّةِ قَالَ جَنَاهَا

Barang siapa menjenguk orang sakit, maka ia senantiasa berada di khurfah surga. Ditanyakan, "Wahai Rasulullah, apakah khurfah surga itu?" Beliau menjawab, "Kebun yang buah-buahnya yang bisa dipetik,”[2] (Sahih Muslim: 2568).

PENJELASAN

[1] Bani Salamah adalah sebuah daerah yang berada di pedalaman Madinah. Lokasinya sekitar 7 km Barat Laut Madinah. Di sinilah sahabat Abu Qatadah tinggal.

[2] Nabi menyerupakan apa yang diperoleh dan didapatkan oleh penjenguk orang sakit dari pahala dengan apa yang didapatkan oleh pemetik dan pengumpul buah.

PELAJARAN

Pelajaran yang bisa diambil dari adab menjenguk orang sakit yang ketiga ini di antaranya:

١- فَضْلُ عِيَادَةِ الْمَرِيضِ.

1- Keutamaan menjenguk orang sakit.

٢- اسْتِحْبَابُ الذَّهَابِ لِعِيَادَةِ الْمَرِيضِ مَاشِيًا.

2- Disunahkan pergi menjenguk orang sakit dengan berjalan kaki.

٣- اسْتِحْبَابُ التَّطَهُّرِ لِإِرَادَةِ الدُّعَاءِ.

3- Disunahkan bersuci untuk maksud berdoa.

٤ - عِيَادَةُ الْمَرِيضِ سَبَبٌ مِنْ أَسْبَابِ دُخُولِ الْجَنَّةِ وَالْأَكْلِ مِنْ فَاكِهَتِهَا.

4- Menjenguk orang sakit adalah salah satu sebab masuk surga dan memakan buah-buahannya.

٤ - يُسْتَحَبُّ أَنْ يَقُولَ الزَّائِرُ: لَا بَأْسَ عَلَيْكَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللهُ.

4 - Disunnahkan Mengucapkan: "Laa Ba'sa Tahurun, Insya Allah."

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma yang berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى أَعْرَابِيٍّ يَعُودُهُ قَالَ لَا بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Bahwasanya Nabi ﷺ pernah menjenguk seorang Arab Badui yang sedang sakit maka beliau bersabda, "Tidak mengapa, ini adalah pembersih (dosa), insya Allah," (Sahih Bukhari: 3616).

PELAJARAN

Pelajaran yang bisa diambil dari adab keempat dari adab menjenguk orang sakit ini adalah:

١- لَا نَقْصَ عَلَى الْإِمَامِ فِي عِيَادَةِ مَرِيضٍ مِنْ رَعِيَّتِهِ وَلَوْ كَانَ أَعْرَابِيًّا جَافِيًا، وَعَلَى الْعَالِمِ فِي عِيَادَةِ الْجَاهِلِ لِيُعْلِمَهُ وَيُذَكِّرَهُ بِمَا يَنْفَعُهُ وَيَأْمُرَهُ بِالصَّبْرِ لِئَلَّا يَتَسَخَّطَ قَدَرَ اللَّهِ.

1- Tidak ada kekurangan bagi seorang pemimpin (imam) dalam menjenguk orang sakit dari rakyatnya, meskipun dia adalah seorang Badui yang kasar. Dan bagi seorang ulama, dalam menjenguk orang yang tidak berilmu (bodoh) adalah untuk mengajarinya dan mengingatkannya tentang apa yang bermanfaat baginya, serta memerintahkannya untuk bersabar agar tidak membenci takdir Allah.

٢- يَنْبَغِي لِلْمَرِيضِ أَنْ يَتَلَقَّى مَوْعِظَةَ الْعَائِدِ بِالْقَبُولِ، وَيُحْسِنَ جَوَابَ مَنْ يُذَكِّرُهُ بِذَلِكَ.

2- Seyogianya bagi orang sakit untuk menerima nasihat dari penjenguknya dengan lapang dada, dan membalas dengan baik kepada siapa saja yang mengingatkannya tentang hal itu.

٣- مِنَ السُّنَّةِ أَنْ يُخَاطِبَ الْعَلِيلَ بِمَا يُسَلِّيهِ مِنْ أَلَمِهِ.

3- Termasuk sunah adalah berbicara kepada orang yang sakit dengan apa yang dapat menghiburnya dari rasa sakitnya.

٤- يُسْتَحَبُّ أَنْ يَقُولَ الزَّائِرُ لِلْمَرِيضِ: لَا بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ.

4- Disunahkan bagi penjenguk untuk mengatakan kepada orang sakit: "Tidak mengapa, (penyakit ini) adalah pembersih (dosa), insya Allah."

٥ - اِسْتِحْبَابُ وَضْعِ الْيَدِ عَلَى الْمَرِيضِ وَرُقْيَتِهِ.

5 - Disunnahkan Meletakkan Tangan di atas Orang Sakit dan Merukyahnya.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَتَى مَرِيضًا أَوْ أُتِيَ بِهِ قَالَ أَذْهِبْ الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ اشْفِ وَأَنْتَ الشَّافِي لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا

Bahwasanya Rasulullah ﷺ apabila mendatangi orang sakit atau didatangkan orang sakit kepadanya, beliau bersabda, "Hilangkanlah penyakit ini, wahai Rabb manusia. Sembuhkanlah, Engkaulah Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit sedikit pun,” (Sahih Bukhari: 5675).

Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اشْتَكَى يَقْرَأُ عَلَى نَفْسِهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ وَيَنْفُثُ فَلَمَّا اشْتَدَّ وَجَعُهُ كُنْتُ أَقْرَأُ عَلَيْهِ وَأَمْسَحُ بِيَدِهِ رَجَاءَ بَرَكَتِهَا

Bahwasanya Rasulullah ﷺ apabila sakit, beliau membacakan untuk dirinya sendiri surat-surat perlindungan (Al-Mu'awwidzatain) dan meniupkannya. Ketika sakit beliau semakin parah, aku (Aisyah radhiyallahu 'anha) membacakan untuk beliau dan mengusap dengan tangannya karena mengharap keberkahannya, (Sahih Bukhari: 5016).

PELAJARAN

Pelajaran yang bisa diambil dari Adab Menjenguk Orang Sakit bagian kelima ini adalah:

١- تَقْرِيرُ تَوْحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ.

1- Penetapan tauhid rububiyah.

٢- لَا شَافِيَ إِلَّا اللَّهُ.

2- Tidak ada penyembuh kecuali Allah.

٣- كَمَالُ دُعَاءِ النَّبِيِّ حَيْثُ لَمْ يَدْعُوَ بِالشِّفَاءِ فَقَطْ إِنَّمَا دَعَا بِأَلَّا يَتْرُكَ وَجَعًا؛ لِأَنَّهُ قَدْ يَذْهَبُ الْمَرَضُ وَيَتْرُكُ أَثَرًا عِنْدَ صَاحِبِهِ.

3- Kesempurnaan doa Nabi, karena beliau tidak hanya berdoa untuk kesembuhan, tetapi juga berdoa agar tidak meninggalkan sedikit pun rasa sakit; karena terkadang penyakit bisa hilang namun meninggalkan bekas pada penderitanya.

٤- مَشْرُوعِيَّةُ الرُّقْيَةِ مَا لَمْ تَكُنْ شِرْكًا.

4- Disyariatkannya ruqyah selama tidak mengandung syirik.

٥- مَشْرُوعِيَّةُ رُقْيَةِ الْمَرِيضِ دُونَ طَلَبٍ مِنْهُ.

5- Disyariatkannya meruqyah orang sakit tanpa diminta olehnya.

٦- اسْتِحْبَابُ وَضْعِ الْيَدِ عَلَى الْمَرِيضِ عِنْدَ رُقْيَتِهِ.

6- Disunahkan meletakkan tangan pada orang sakit saat meruqyahnya.

٧- فَضِيلَةُ الْمُعَوِّذَاتِ.

7- Keutamaan Al-Mu'awwidzat (Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas).

٨- مَشْرُوعِيَّةُ تَرْكِ التَّدَاوِي لِمَنْ عَظُمَ تَوَكُّلُهُ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى.

8- Disyariatkan meninggalkan pengobatan bagi siapa saja yang sangat besar tawakkalnya kepada Allah Ta'ala.

٩- الرَّغْبَةُ إِلَى اللَّهِ فِي عَافِيَةِ الْجِسْمِ أَفْضَلُ لِلْعَبْدِ وَأَصْلَحُ لَهُ مِنَ الرَّغْبَةِ إِلَيْهِ فِي الْبَلَاءِ.

9- Berharap kepada Allah untuk kesehatan tubuh adalah lebih baik bagi hamba dan lebih maslahat baginya daripada berharap kepada-Nya dalam musibah.

١٠- مَشْرُوعِيَّةُ التَّوَسُّلِ بِأَعْضَاءِ النَّبِيِّ حَالَ حَيَاتِهِ.

10- Disyariatkan tawassul (memohon) dengan anggota tubuh Nabi ﷺ selama beliau masih hidup.

١١- عَظِيمُ فِقْهِ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا.

11- Kebesaran pemahaman (fiqih) Ummul Mukminin Aisyah radiyallahu 'anha.

٦ - تَذْكِيرُ الْمَرِيضِ بِوَضْعِ يَدِهِ عَلَى مَوْضِعِ الْأَلَمِ وَالدُّعَاءِ لِنَفْسِهِ.

6 - Mengingatkan Orang Sakit untuk Meletakkan Tangannya di Tempat yang Sakit dan Berdoa untuk Dirinya Sendiri.

Imam Muslim meriwayatkan dari Ustman bin Abi Ash Radhiyallahu Anhu:

أَنَّهُ شَكَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَعًا يَجِدُهُ فِي جَسَدِهِ مُنْذُ أَسْلَمَ

Bahwasanya ia mengadu kepada Rasulullah ﷺ tentang rasa sakit yang ia dapati di tubuhnya sejak ia masuk Islam.

فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِي تَأَلَّمَ مِنْ جَسَدِكَ وَقُلْ بِاسْمِ اللَّهِ ثَلَاثًا

Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya, "Letakkan tanganmu di bagian tubuhmu yang sakit dan ucapkan 'Bismillah' tiga kali."

وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

Dan ucapkan tujuh kali: "A'udzu billahi wa qudratihi min syarri maa ajidu wa uhaadziru." (Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaan-Nya dari keburukan apa yang aku rasakan dan aku khawatirkan), (Sahih Muslim: 2202).

PELAJARAN

Pelajaran yang bisa diambil dari adab keenam dari bab Adab Menjenguk Orang Sakit kali ini di antaranya:

١- مَشْرُوعِيَّةُ شِكَايَةِ مَا بِالْإِنْسَانِ لِمَنْ يَتَبَرَّكُ بِهِ بِرَجَاءِ بَرَكَةِ دُعَائِهِ.

1- Disyariatkan mengeluhkan apa yang menimpa seseorang kepada orang yang diberkahi dengan harapan keberkahan doanya.

٢- مَشْرُوعِيَّةُ التَّوَسُّلِ بِصِفَاتِ اللَّهِ تَعَالَى.

2- Disyariatkan tawassul (memohon) dengan sifat-sifat Allah Ta'ala.

٣- عَظِيمُ قُدْرَةِ اللَّهِ تَعَالَى.

3- Kebesaran kekuasaan Allah Ta'ala.

٤- مَشْرُوعِيَّةُ التَّعَوُّذِ مِنَ وَجَعٍ هُوَ فِيهِ وَمِمَّا يَتَوَقَّعُ حُصُولَهُ فِي الْمُسْتَقْبَلِ مِنَ الْحَزَنِ وَالْخَوْفِ، فَإِنَّ الْحَزَنَ هُوَ الِاحْتِرَازُ عَنْ مَخُوفٍ.

4- Disyariatkan berlindung dari rasa sakit yang sedang dialami dan dari apa yang diperkirakan akan terjadi di masa depan berupa kesedihan dan ketakutan, karena kesedihan adalah kehati-hatian dari hal yang ditakuti.

٥- اسْتِحْبَابُ وَضْعِ الْيَدِ الْيُمْنَى عَلَى مَوْضِعِ الْأَلَمِ مَعَ الدُّعَاءِ.

5- Disunahkan meletakkan tangan kanan pada tempat yang sakit sambil berdoa.

٦- الْأَعْدَادُ الَّتِي تَرِدُ فِي مِثْلِ هَذَا الْحَدِيثِ سِرٌّ مِنْ أَسْرَارِ النُّبُوَّةِ، وَلَيْسَ لَنَا أَنْ نَطْلُبَ الْعِلَّةَ، وَالسَّبَبَ الَّذِي يَقْتَضِيهِ كَمَا فِي أَعْدَادِ الرَّكَعَاتِ الْحُدُودِ.

6- Angka-angka yang disebutkan dalam hadis semacam ini adalah rahasia kenabian, dan kita tidak boleh mencari 'illah (alasan) dan sebab yang menghendakinya, sebagaimana pada jumlah rakaat yang telah ditentukan.

٧ - اِسْتِحْبَابُ سُؤَالِ أَهْلِ الْمَرِيضِ عَنْ حَالِهِ.

7 - Disunnahkan Menanyakan Keadaan Orang Sakit kepada Keluarganya.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma yang berkata:

أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ خَرَجَ مِنْ عِنْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَجَعِهِ الَّذِي تُوُفِّيَ فِيهِ

Bahwasanya Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu keluar dari rumah Rasulullah ﷺ saat beliau sakit yang menyebabkan wafatnya.

فَقَالَ النَّاسُ يَا أَبَا حَسَنٍ كَيْفَ أَصْبَحَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَصْبَحَ بِحَمْدِ اللَّهِ بَارِئًا

Maka orang-orang bertanya, "Wahai Abu Hasan (Ali), bagaimana keadaan Rasulullah ﷺ pagi ini?" Ia menjawab, "Pagi ini beliau dalam keadaan baik, alhamdulillah."

فَأَخَذَ بِيَدِهِ عَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ لَهُ أَنْتَ وَاللَّهِ بَعْدَ ثَلَاثٍ عَبْدُ الْعَصَا وَإِنِّي وَاللَّهِ لَأَرَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْفَ يُتَوَفَّى مِنْ وَجَعِهِ هَذَا

Maka Abbas bin Abdul Muththalib memegang tangannya dan berkata kepadanya, "Demi Allah, engkau setelah tiga hari akan menjadi seperti "orang yang tunduk kepada tongkat" (maksudnya akan menjadi orang yang diperintah oleh selain Allah dan RasulNya karena kekhalifahan akan dipegang oleh selain Ali). Dan demi Allah, sesungguhnya aku melihat Rasulullah ﷺ akan wafat karena sakitnya ini,” (Sahih Bukhari: 4447).

PELAJARAN

Pelajaran yang bisa diambil dari adab ketujuh dari Adab Menjenguk Orang Sakit adalah sebagai berikut:

١- مَشْرُوعِيَّةُ عِيَادَةِ الْمَرْضَى.

1- Disyariatkannya menjenguk orang sakit.

٢- اسْتِحْبَابُ سُؤَالِ أَهْلِ الْمَرِيضِ عَنْ حَالِهِ.

2- Disunahkan bertanya kepada keluarga orang sakit tentang keadaannya.

٣- مَعْرِفَةُ الْعَبَّاسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ الْمَوْتَ فِي وَجْهِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قُوَّةُ فِرَاسَةٍ مِنْهُ.

3- Pengetahuan Al-Abbas radhiyallahu 'anhu tentang kematian di wajah Rasulullah ﷺ adalah kekuatan firasat darinya.

٤- الْأَمْرُ لَا يُشْتَرَطُ فِيهِ الْعُلُوُّ وَلَا الِاسْتِعْلَاءُ.

4- Dalam memberi perintah, seseorang tidak disyaratkan untuk memiliki kedudukan yang tinggi atau dominasi.

٨ - تَطْيِيبُ نَفْسِ الْمَرِيضِ

8 - Menyenangkan Hati Orang Sakit.

Imam At-Tirmizi meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَادَ رَجُلًا مِنْ وَعَكٍ كَانَ بِهِ فَقَالَ أَبْشِرْ فَإِنَّ اللَّهَ يَقُولُ هِيَ نَارِي أُسَلِّطُهَا عَلَى عَبْدِي الْمُذْنِبِ لِتَكُونَ حَظَّهُ مِنْ النَّارِ

Bahwasanya Nabi ﷺ menjenguk seorang laki-laki yang sedang demam. Beliau bersabda, "Bergembiralah, karena sesungguhnya Allah berfirman, 'Ini adalah api-Ku, Aku timpakan kepada hamba-Ku yang berdosa agar itu menjadi bagiannya dari neraka,’ (Sunan At-Tirmizi: 2088).

PELAJARAN

Pelajaran yang bisa diambil dari adab terakhir dalam menjenguk orang sakit adalah:

١- مَشْرُوعِيَّةُ عِيَادَةِ الْمَرِيضِ.

1- Disyariatkannya menjenguk orang sakit.

٢- اسْتِحْبَابُ تَطْيِيبِ نَفْسِ الْمَرِيضِ بِشَيْءٍ مِنَ الْكَلَامِ الْحَسَنِ.

2- Disunahkan untuk menyenangkan hati orang sakit dengan perkataan yang baik.

٣- عَظِيمُ لُطْفِ اللَّهِ بِعِبَادِهِ الْمُذْنِبِينَ حَيْثُ جَعَلَ لَهُمْ مَا يُكَفِّرُ ذُنُوبَهُمْ.

3- Kebesaran kelembutan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang berdosa, di mana Dia menjadikan bagi mereka apa yang dapat menghapus dosa-dosa mereka.

٤- عَظِيمُ أَلَمِ الْحُمَّى.

4- Beratnya rasa sakit demam.

٥- تَقْرِيرُ الْإِيمَانِ بِالنَّارِ.

5- Penetapan keimanan terhadap neraka.

CATATAN KAKI [1] Ungkapan (يَمْشِي لَكَ إِلَى جَنَازَةٍ) maksudnya:

يَتبَعُها بالصَّلاةِ والدَّفنِ ابتِغاءً لوَجهِك

Ia mengiringinya dengan shalat (jenazah) dan pemakaman, mengharap wajah-Mu (ridha-Mu).

[2] Maksudnya adalah:

يَمْشِي فِي طَرِيقٍ تُؤَدِّيهِ إِلَى الْجَنَّةِ، وَيَظَلُّ كَذَلِكَ إِلَى أَنْ يَرْجِعَ إِلَى بَيْتِهِ بَعْدَ انْتِهَاءِ زِيَارَتِهِ لِلْمَرِيضِ

Ia berjalan di jalan yang mengantarkannya menuju surga, dan ia terus dalam keadaan demikian hingga ia kembali ke rumahnya setelah selesai menjenguk orang sakit.

Post a Comment for "Sahihul Adab: Adab Menjenguk Orang Sakit"