zmedia

Mausuatul Akhlak: Tenang dan Berwibawa (At-Ta-anni wal Anah)

Dalam kehidupan seorang Muslim, akhlak tenang dan berwibawa bukan hanya mencerminkan kematangan pribadi, tetapi juga merupakan cermin keimanan dan kedekatan kepada Allah. Islam menanamkan nilai tenang (al-anāh) sebagai akhlak mulia yang membedakan antara orang yang tergesa dengan orang yang bijak. Sifat ini tercermin dalam sikap tidak terburu-buru dalam berkata, bertindak, maupun memutuskan perkara. Al-Qur’an dan Sunnah Nabi ﷺ sama-sama menegaskan keutamaan sifat tenang, yang menjadi jalan selamat dari kesalahan dan penyesalan. Bahkan, para ulama salaf menilai bahwa orang yang tenang lebih dekat kepada kebenaran dan lebih sedikit menyesal. Dalam suasana zaman yang serba cepat dan reaktif, membina akhlak tenang menjadi tantangan sekaligus kebutuhan yang mendesak.

Seluruh materi dalam artikel ini diringkas dari kitab Mausu‘atul Akhlak, terbitan Yayasan Dorar Saniyah.

التَّرْغِيبُ فِي التَّأَنِّي (الْأَنَاةُ) مِنَ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ

ANJURAN BERSIKAP TENANG (AL-ANAH) DALAM AL-QUR'AN

۞ وَقَالَ تَعَالَىٰ مُحَذِّرًا مِنْ خُطُورَةِ نَقْلِ الْكَلَامِ مِنْ غَيْرِ تَأَنٍّ وَتَثَبُّتٍ مِنْهُ:

۞ Dan Allah Ta‘ala berfirman memperingatkan tentang bahaya menyebarkan ucapan tanpa ketenangan dan pengecekan:

إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ ۞ [النُّور: ١٥]

Ketika kalian menerima berita itu dengan lisan-lisan kalian dan mengatakan dengan mulut kalian apa yang tidak kalian ketahui, dan kalian menganggapnya ringan, padahal di sisi Allah hal itu adalah besar. (An-Nur: 15)[1] التَّرْغِيبُ فِي التَّأَنِّي (الْأَنَاةُ) مِنَ السُّنَّةِ النَّبَوِيَّةِ

ANJURAN BERSIKAP TENANG (AL-ANAH) DALAM SUNNAH NABI

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْأَشَجِّ؛ أَشَجِّ عَبْدِ الْقَيْسِ:

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda kepada Al-Asyajj, Asyajj 'Abdul Qais:

إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ: الْحِلْمُ، وَالْأَنَاةُ.

Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua sifat yang dicintai Allah: kelembutan dan ketenangan, (Sahih Muslim: 17).[2] التَّرْغِيبُ فِي التَّأَنِّي (الْأَنَاةُ) مِنْ أَقْوَالِ السَّلَفِ وَالْعُلَمَاءِ

ANJURAN BERSIKAP TENANG (AL-ANAH) DARI UCAPAN PARA SALAF DAN ULAMA

وَقَالَ مَالِكٌ:

Imam Malik berkata:

(كَانَ يُقَالُ: التَّأَنِّي مِنَ اللَّهِ، وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ، وَمَا عَجِلَ امْرُؤٌ فَأَصَابَ، وَاتَّأَدَ آخَرُ فَأَخْطَأَ، إِلَّا كَانَ الَّذِي اتَّأَدَ أَصْوَبَ رَأْيًا، وَلَا عَجِلَ امْرُؤٌ فَأَخْطَأَ، وَاتَّأَدَ آخَرُ فَأَخْطَأَ، إِلَّا كَانَ الَّذِي اتَّأَدَ أَيْسَرَ خَطَأً)

Dulu dikatakan: ketenangan dari Allah, dan tergesa-gesa dari setan. Tidaklah seseorang tergesa-gesa lalu benar, dan orang lain tenang lalu keliru, kecuali yang tenang itu lebih tepat pendapatnya. Dan tidaklah seseorang tergesa-gesa lalu keliru, dan orang lain tenang lalu keliru, kecuali yang tenang itu lebih ringan kesalahannya, (Al-Madkhal ilā as-Sunan al-Kubrā lil Baihaqi: 817).

مَعْنَى التَّأَنِّي (الْأَنَاةُ) لُغَةً وَاصْطِلَاحًا

MAKNA AT-TA’ANNI (KETENANGAN) SECARA BAHASA DAN ISTILAH

التَّأَنِّي (الْأَنَاةُ) لُغَةً: الْحِلْمُ وَالْوَقَارُ

At-ta’anni (al-anah) secara bahasa: kelembutan dan kewibawaan, (Lihat: ash-Ṣiḥāḥ karya al-Jauharī: 6/2274), dan Maqāyīs al-Lughah karya Ibnu Fāris: 1/142).

التَّأَنِّي (الْأَنَاةُ) اصْطِلَاحًا: عَدَمُ الْعَجَلَةِ فِي طَلَبِ شَيْءٍ مِنَ الْأَشْيَاءِ، وَالتَّمَهُّلُ فِي تَحْصِيلِهِ، وَالتَّرَفُّقُ فِيهِ

At-ta’anni (al-anah) secara istilah: tidak tergesa-gesa dalam mencari sesuatu, berhati-hati dalam meraihnya, dan bersikap lemah lembut dalam menjalaninya, (Naḍrat an-Naʿīm fī Makārim Akhlāq ar-Rasūl al-Karīm: 3/865).

فَوَائِدُ التَّأَنِّي (الْأَنَاةُ)

MANFAAT BERSIKAP TENANG (AL-ANAH)

Berikut adalah beberapa faidah atau manfaat bersikap tenang:

١. دَلَالَةٌ عَلَى رَجَاحَةِ الْعَقْلِ، وَوُفُورِ الرَّزَانَةِ، وَطُمَأْنِينَةِ الْقَلْبِ

1 – Menunjukkan kedewasaan akal, kematangan sikap, dan ketenangan hati.

٢. يَعْصِمُ الْإِنْسَانَ مِنَ الضَّلَالِ وَالْخَطَإِ وَمَا لَا تُحْمَدُ عُقْبَاهُ

2 – Menjaga seseorang dari kesesatan, kesalahan, dan akibat yang tidak terpuji.

٣. التَّأَنِّي مَحْمُودُ الْعَاقِبَةِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

3 – Ketenangan membawa akibat yang baik di dunia dan akhirat.

٤. وِقَايَةُ الْأُسَرِ مِنَ التَّشَتُّتِ وَالضَّيَاعِ الَّذِي قَدْ تُحْدِثُهُ الشَّائِعَاتُ

4 – Melindungi keluarga dari perpecahan dan kehancuran yang dapat ditimbulkan oleh isu dan gosip.

٥. الْقُدْرَةُ عَلَى التَّمْيِيزِ بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ، وَالْهُدَى وَالضَّلَالِ، وَالصَّوَابِ وَالْخَطَإِ

5 – Mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan, petunjuk dan kesesatan, yang benar dan yang salah.

مَوَانِعُ فِعْلِ التَّأَنِّي (الْأَنَاةُ)

PENGHALANG SIKAP TENANG (AL-ANAH)

Berikut adalah beberapa hal yang menghalangi seseorang dari memiliki akhlak tenang:

١. الْغَضَبُ وَالْحُزْنُ الشَّدِيدُ

1 – Marah dan kesedihan yang berlebihan.

٢. اسْتِعْجَالُ نَتَائِجِ الْأُمُورِ

2 – Terburu-buru dalam menginginkan hasil dari suatu urusan.

٣. التَّفْرِيطُ

3 – Mengabaikan kewajiban atau kelalaian.

٤. إِجَابَةُ دَاعِي الشَّهَوَاتِ

4 – Menuruti panggilan hawa nafsu.

٥. تَرْكُ اسْتِشَارَةِ ذَوِي الْخِبْرَةِ فِي أُمُورٍ يَجْهَلُهَا

5 – Tidak meminta pendapat orang yang ahli dalam perkara yang tidak diketahui.

الْوَسَائِلُ الْمُعِينَةُ عَلَى فِعْلِ التَّأَنِّي (الْأَنَاةُ)

SARANA YANG MEMBANTU UNTUK BERSIKAP TENANG (AL-ANAH)

Berikut adalah beberapa hal yang membantu seseorang untuk bisa memiliki akhlak tenang:

١. الدُّعَاءُ

1 – Berdoa[3]

٢. النَّظَرُ فِي عَوَاقِبِ الِاسْتِعْجَالِ

2 – Mempertimbangkan akibat dari sikap tergesa-gesa.[4]

٣. مَعْرِفَةُ مَعَانِي أَسْمَاءِ اللَّهِ وَصِفَاتِهِ

3 – Memahami makna nama-nama dan sifat-sifat Allah.

٤. قِرَاءَةُ سِيرَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

4 – Membaca sirah Nabi ﷺ.

٥. قِرَاءَةُ سِيرَةِ السَّلَفِ الصَّالِحِ

5 – Membaca kisah para salaf yang saleh

٦. اسْتِشَارَةُ أَهْلِ الصَّلَاحِ وَالْخِبْرَةِ

6 – Berkonsultasi dengan orang-orang saleh dan ahli.[5] مَظَاهِرُ وَصُوَرُ التَّأَنِّي (الْأَنَاةُ)

CONTOH DAN BENTUK SIKAP TENANG (AL-ANAH)

Berikut adalah beberapa contoh atau penerapan akhlak tenang:

١. عِنْدَ الذَّهَابِ إِلَى الصَّلَاةِ

1 – Ketika pergi menuju salat.[6]

٢. التَّأَنِّي فِي طَلَبِ الْعِلْمِ

2 – Bersikap tenang dalam menuntut ilmu.[7]

٣. التَّأَنِّي عِنْدَ مُوَاجَهَةِ الْعَدُوِّ فِي سَاحَةِ الْقِتَالِ

3 – Tenang ketika menghadapi musuh di medan perang.

٤. التَّأَنِّي فِي الْإِنْكَارِ فِي الْأُمُورِ الْمُحْتَمَلَةِ

4 – Bersikap tenang dalam menegur pada perkara yang mengandung kemungkinan benar.

٥. التَّأَنِّي فِي التَّحَدُّثِ مَعَ الْآخَرِينَ

5 – Tenang dalam berbicara dengan orang lain.[8]

٦. عِنْدَ الْفَصْلِ فِي الْمُنَازَعَاتِ وَإِنْزَالِ الْعُقُوبَاتِ

6 – Saat memutuskan sengketa dan menjatuhkan hukuman.

٧. التَّأَنِّي فِي الدُّعَاءِ

7 – Tenang dalam berdoa.[9]

٨. التَّأَنِّي فِي نَقْلِ الْأَخْبَارِ

8 – Tenang dalam menyebarkan berita

٩. التَّأَنِّي فِي الْفَتْوَى

9 – Tenang dalam memberikan fatwa.

Dengan meneladani Al-Qur’an, Sunnah, dan hikmah para salaf, kita memahami bahwa tenang bukanlah kelemahan, tetapi kekuatan yang tersembunyi dalam ketegasan yang lembut. Ia menjaga akal tetap jernih, hati tetap lapang, dan langkah tetap lurus dalam menghadapi berbagai ujian. Akhlak tenang dan berwibawa menjadi pelindung dari godaan syahwat dan emosi sesaat, serta menjadi jalan menuju kemuliaan akhlak yang langgeng. Oleh karena itu, marilah kita berusaha menumbuhkan sifat tenang dalam diri, keluarga, dan lingkungan sekitar, agar kita menjadi bagian dari hamba-hamba Allah yang dicintai karena kelembutannya, ditinggikan karena wibawanya. Wallahua’lam

Sukoharjo, 23 April 2025

Irfan Nugroho (Semoga Allah mengampuni, merahmati,  dan menempatkan ibunya di surga. Aamiin)

CATATAN KAKI [1] Tertulis di Mausuatul Akhlak Dorar Saniyah tentang ayat ini:

وَمِنَ الْمَعْلُومِ بَدَاهَةً أَنَّ التَّلَقِّيَ إِنَّمَا يَكُونُ بِالْأُذُنِ، ثُمَّ يُعْرَضُ عَلَى الْعَقْلِ وَالْقَلْبِ، وَحِينَئِذٍ يَكُونُ الْكَلَامُ بِاللِّسَانِ،

Dan sudah dimaklumi secara naluriah bahwa menerima (informasi) itu sejatinya melalui telinga, lalu disajikan kepada akal dan hati, dan barulah kemudian kata-kata keluar melalui lisan.

فَإِنَّمَا هِيَ لَفْتَةٌ إِلَى السُّرْعَةِ وَعَدَمِ التَّأَنِّي أَوِ التَّرَوِّي فِي إِصْدَارِ الْحُكْمِ، بَلْ فِي تَدَاوُلِهِ وَالتَّحَرُّكِ بِهِ،

Sesungguhnya ini adalah isyarat terhadap sikap tergesa-gesa dan tidak adanya ketenangan atau kehati-hatian dalam menetapkan hukum, bahkan dalam menyebarkannya dan membawanya ke mana-mana.

[2] Tenang hadis ini, tertulis di dalam Mausuatul Akhlak Dorar Saniyah:

وَالْمُرَادُ بِالْأَنَاةِ تَرَبُّصُهُ حَتَّى نَظَرَ فِي مَصَالِحِهِ وَلَمْ يَعْجَلْ

Yang dimaksud dengan al-anāh (ketenangan) adalah ia menunggu sampai mempertimbangkan kemaslahatannya dan tidak tergesa-gesa, (Lihat: Ikmāl al-Muʿallim bi-Fawāʾid Muslim: 1/233–234, dan al-Minhāj Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim bin al-Ḥajjāj karya an-Nawawi: 1/189).

[3] Nabi ﷺ biasa berdoa kepada Allah agar Dia menunjukinya kepada akhlak yang terbaik. Di antara doanya adalah:

وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ؛ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا؛ لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ

Tunjukilah aku kepada akhlak yang terbaik; tidak ada yang dapat menunjuki kepada akhlak terbaik kecuali Engkau. Dan jauhkanlah dariku akhlak yang buruk; tidak ada yang dapat menjauhkannya dariku kecuali Engkau, (Sahih Muslim: 771).

[4] Abu Ishaq al-Qairawani mengatakan bahwa salah seorang ahli hikmah berkata:

إِيَّاكَ وَالْعَجَلَةَ؛ فَإِنَّ الْعَرَبَ كَانَتْ تُكَنِّيهَا أُمَّ النَّدَامَةِ

Berhati-hatilah terhadap sikap tergesa-gesa; karena orang Arab dahulu menyebutnya sebagai ‘ibu penyesalan’.

لِأَنَّ صَاحِبَهَا يَقُولُ قَبْلَ أَنْ يَعْلَمَ، وَيُجِيبُ قَبْلَ أَنْ يَفْهَمَ، وَيَعْزِمُ قَبْلَ أَنْ يُفَكِّرَ، وَيَقْطَعُ قَبْلَ أَنْ يَقْدِرَ، وَيَحْمَدُ قَبْلَ أَنْ يُجَرِّبَ، وَيَذُمُّ قَبْلَ أَنْ يَخْبُرَ

Sebab orang yang bersikap tergesa-gesa: berbicara sebelum mengetahui, menjawab sebelum memahami, bertekad sebelum berpikir, memutuskan sebelum memperhitungkan, memuji sebelum mencoba, mencela sebelum meneliti, (Zahru al-Ādāb wa Thamaru al-Albāb: 4/942).

[5] Jika seseorang menghadapi suatu perkara yang tidak ia ketahui, maka hendaklah ia meminta pendapat kepada orang-orang saleh dan berpengalaman, serta tidak tergesa-gesa dalam urusannya. Allah ta’ala berfirman:

وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal,” (Ali ‘Imran: 159).

[6] Dari Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ, beliau bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمُ الْإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلَاةِ، وَعَلَيْكُم بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ، وَلَا تُسْرِعُوا، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

Jika kalian mendengar iqamah, maka berjalanlah menuju salat dengan tenang dan penuh wibawa. Jangan tergesa-gesa. Apa yang kalian dapati (dari salat bersama imam), maka salatlah bersamanya. Dan apa yang tertinggal, maka sempurnakanlah (sendiri setelah imam salam), (Sahih Bukhari: 636. Sahih Muslim: 602).

[7] Allah Ta‘ālā berfirman:

لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ ۝

Janganlah engkau gerakkan lidahmu karena ingin segera menghafalnya,  (QS Al-Qiyamah: 16).

Maksudnya:

أَيْ: لَا تُحَرِّكْ بِالْقُرْآنِ لِسَانَكَ يَا مُحَمَّدُ مُتَعَجِّلًا بِحَمْلِهِ وَأَخْذِهِ قَبْلَ أَنْ يَفْرُغَ جِبْرِيلُ مِنْ قِرَاءَتِهِ عَلَيْكَ

Janganlah engkau (wahai Muhammad) menggerakkan lidahmu dengan (membaca) Al-Qur’an secara tergesa-gesa dalam membawa dan menghafalnya sebelum Jibril selesai membacakannya kepadamu, (Tafsir Muhara Dorar Saniyah).

[8] Dari Ummul Mukminin ‘Aisyah raḍiyallāhu ‘anhā yang berkata:

نَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُحَدِّثُ حَدِيثًا لَوْ عَدَّهُ الْعَادُّ لَأَحْصَاهُ

Sesungguhnya Nabi ﷺ berbicara dengan pembicaraan yang jika ada yang menghitungnya, niscaya ia akan dapat menghitungnya, (Sahih Bukhari: 3567. Sahih Muslim: 2493).

[9] Dari Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي

Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa. Ia berkata, ‘Aku telah berdoa, namun belum juga dikabulkan, (Sahih Bukhari: 6340. Sahih Muslim: 2735).

Post a Comment for "Mausuatul Akhlak: Tenang dan Berwibawa (At-Ta-anni wal Anah)"