zmedia

Fikih Dorar: Jenazah yang Dimandikan dan yang tidak

Pembaca rahimakumullah, siapa saja jenazah yang dimandikan dan yang tidak dimandikan jika ada orang yang meninggal? Berikut adalah terjemahan dari Mausuatul Fiqhiyah Dorar Saniyah > Kitab Salat > Bab 15: Janaiz > Pasal 2: Memandikan dan Mengafani Jenazah > Pembahasan 1: Memandikan Jenazah > Poin 2: Jenazah yang Dimandikan dan yang tidak. Semoga bermanfaat!

حُكْمُ غُسْلِ الكَافِرِ

A - HUKUM MEMANDIKAN ORANG KAFIR

يَحْرُمُ عَلَى المُسْلِمِ تَغْسِيْلُ الكَافِرِ، وَهُوَ مَذْهَبُ المَالِكِيَّةِ، وَالحَنَابِلَةِ، وَاخْتِيَارُ الشَّوْكَانِيِّ، وَابْنِ بَازٍ، وَابْنِ عُثَيْمِيْنَ.

Haram bagi seorang Muslim memandikan orang kafir, dan ini adalah mazhab Malikiyah, Hanabilah, serta pilihan Asy-Syaukani, Ibnu Baz, dan Ibnu Utsaimin.

DALIL 1 - Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu jadikan teman orang-orang yang dimurkai Allah, [QS Al-Mumtahanah: 13]

Sisi Pendalilan

أَنَّ غُسْلَ الكُفَّارِ وَنَحْوَهُ؛ تَوَلٍّ لَهُمْ.

Bahwasanya memandikan orang-orang kafir dan yang semisalnya adalah bentuk loyalitas (wala') kepada mereka.

DALIL 2 - Firman Allah ta’ala:

وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَى قَبرِهِ

Dan janganlah engkau (Muhammad) melaksanakan salat untuk seseorang di antara mereka (orang-orang munafik) yang mati selama-lamanya, dan janganlah engkau berdiri (mendoakan) di kuburnya. [QS  At-Taubah: 84]

أَنَّهُ إِذَا نُهِيَ عَنِ الصَّلَاةِ عَلَى الكَافِرِ، وَهِيَ أَعْظَمُ مَا يُفْعَلُ بِالمَيِّتِ، وَأَنْفَعُ مَا يَكُونُ لِلمَيِّتِ، فَمَا دُونَهَا مِنْ بَابِ أَوْلَى.

Pertama: Bahwasanya apabila dilarang untuk menyalatkan orang kafir, padahal salat adalah amalan terbesar yang dilakukan untuk orang yang meninggal, dan amalan yang paling bermanfaat bagi orang yang meninggal, maka amalan selainnya (seperti memandikan) lebih dilarang lagi.

ثَانِيًا: لِأَنَّهُ تَعْظِيْمٌ لَهُ وَتَطْهِيرٌ؛ فَأَشْبَهَ الصَّلَاةَ عَلَيْهِ.

Kedua: Karena memandikan adalah bentuk pengagungan dan pembersihan baginya; maka menyerupai salat atasnya.

ثَالِثًا: لِأَنَّ الكَافِرَ نَجِسٌ، وَتَطْهِيرُهُ لَا يَرْفَعُ نَجَاسَتَهُ؛ لِقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ﴾

Ketiga: Karena orang kafir itu najis, dan mensucikannya tidak menghilangkan kenajisannya; berdasarkan firman Allah Ta'ala: "Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis," [QS At-Taubah: 28]. حُكْمُ غُسْلِ البَاغِي وَقَاطِعِ الطَّرِيْقِ

B - HUKUM MEMANDIKAN PEMBERONTAK DAN PERAMPOK JALANAN

اَلْبَاغِي وَقَاطِعُ الطَّرِيْقِ يُغَسَّلَانِ وَيُصَلَّى عَلَيْهِمَا، وَهُوَ مَذْهَبُ الجُمْهُورِ: المَالِكِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَالحَنَابِلَةِ.

Pemberontak dan perampok jalanan dimandikan dan disalatkan jenazahnya, dan ini adalah mazhab mayoritas ulama (jumhur): Malikiyah, Syafi'iyah, dan Hanabilah.

ARGUMENTASI

أَوَّلًا: أَنَّهُمَا لَا يَخْرُجَانِ عَنِ الإِسْلَامِ بِبَغْيِهِمَا.

Pertama: Bahwasanya keduanya tidak keluar dari Islam karena pemberontakan mereka.

ثَانِيًا: أَنَّهُمَا دَاخِلَانِ فِي عُمُومَاتِ الأَدِلَّةِ الدَّالَّةِ عَلَى وُجُوْبِ الغُسْلِ، وَهَذِهِ العُمُومَاتُ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَخْرُجَ مِنْهَا شَيْءٌ إِلَّا مَا دَلَّ الدَّلِيْلُ عَلَيْهِ.

Kedua: Bahwasanya keduanya termasuk dalam keumuman dalil-dalil yang menunjukkan wajibnya memandikan jenazah, dan keumuman ini tidak mungkin dikecualikan sesuatu pun darinya kecuali apa yang ditunjukkan oleh dalil. حُكْمُ غُسْلِ الشَّهِيدِ

C - HUKUM MEMANDIKAN JENAZAH SYAHID

شَهِيْدُ المَعْرَكَةِ

C.1 - Syahid dalam peperangan

لَا يُغَسَّلُ الشَّهِيْدُ الَّذِي مَاتَ مِنَ المُسْلِمِيْنَ فِي جِهَادِ الكُفَّارِ بِسَبَبٍ مِنْ أَسْبَابِ قِتَالِهِمْ قَبْلَ انْقِضَاءِ الحَرْبِ، وَذَلِكَ بِاتِّفَاقِ المَذَاهِبِ الفِقْهِيَّةِ الأَرْبَعَةِ: الحَنَفِيَّةِ، وَالمَالِكِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَالحَنَابِلَةِ.

Seorang syahid yang meninggal dunia dari kalangan Muslimin dalam jihad melawan orang-orang kafir disebabkan oleh salah satu sebab peperangan sebelum berakhirnya perang, maka ia tidak dimandikan. Hal ini berdasarkan kesepakatan empat mazhab fikih: Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali.

DALIL

Dari Jabir Radhiyallahu Anhu yang berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ فِي قَتْلَى أُحُدٍ بِدَفْنِهِمْ بِدِمَائِهِمْ، وَلَمْ يُصَلَّ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يُغَسَّلُوا.

Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan tentang para korban perang Uhud untuk menguburkan mereka dengan darah mereka, dan beliau tidak menyalatkan mereka serta tidak memandikan mereka, (Sahih Bukhari: 1347).

الشُّهَدَاءُ بِغَيْرِ حَرْبِ الكُفَّارِ

C.2 - Syuhada selain dalam Perang Melawan Orang Kafir

المَقْتُولُ ظُلْمًا

1 – Orang yang Terbunuh secara Zalim

المَقْتُولُ ظُلْمًا يُغَسَّلُ، وَهُوَ مَذْهَبُ المَالِكِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَرِوَايَةٌ عَنْ أَحْمَدَ، وَاخْتَارَهُ ابْنُ بَازٍ، وَابْنُ عُثَيْمِيْنَ، وَبِهِ أَفْتَتِ اللَّجْنَةُ الدَّائِمَةُ.

Orang yang terbunuh secara zalim dimandikan, dan ini adalah mazhab Malikiyah, Syafi'iyah, sebuah riwayat dari Ahmad, dan dipilih oleh Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin, serta ini adalah fatwa dari Lajnah Daimah.

DALIL Pertama: Dari Anas Radhiyallahu Anhu yang berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَعِدَ أُحُدًا، وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ، فَرَجَفَ بِهِمْ، فَقَالَ: اثْبُتْ أُحُدُ؛ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ نَبِيٌّ، وَصِدِّيقٌ، وَشَهِيْدَانِ

Bahwasanya Nabi ﷺ naik ke gunung Uhud, bersama Abu Bakar, Umar, dan Utsman, lalu gunung itu bergetar bersama mereka, maka beliau bersabda: “Tenanglah wahai Uhud, sesungguhnya di atasmu ada seorang Nabi, seorang yang sangat jujur (shiddiq), dan dua orang syahid,” (Sahih Bukhari: 3675).

ثَانِيًا: أَنَّ عُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ غُسِّلُوا وَصُلِّيَ عَلَيْهِمْ بِالاتِّفَاقِ، مَعَ كَوْنِهِمْ شُهَدَاءَ بِالاتِّفَاقِ.

Kedua: Bahwasanya Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu 'anhum dimandikan dan disalatkan atas mereka berdasarkan kesepakatan (ulama), padahal mereka adalah para syahid berdasarkan kesepakatan.

ثَالِثًا: أَنَّ المَقْتُولَ ظُلْمًا دَاخِلٌ فِي عُمُومَاتِ الأَدِلَّةِ الدَّالَّةِ عَلَى وُجُوبِ الغُسْلِ، وَهَذِهِ العُمُومَاتُ لَا يُمْكِنُ أَنْ يَخْرُجَ مِنْهَا شَيْءٌ إِلَّا مَا دَلَّ الدَّلِيلُ عَلَيْهِ، وَهُوَ شَهِيدُ المَعْرَكَةِ.

Ketiga: Bahwasanya orang yang terbunuh secara zalim termasuk dalam keumuman dalil-dalil yang menunjukkan wajibnya memandikan jenazah, dan keumuman ini tidak mungkin dikecualikan sesuatu pun darinya kecuali apa yang ditunjukkan oleh dalil, yaitu syahid dalam peperangan.

رَابِعًا: أَنَّ رُتْبَتَهُ دُونَ رُتْبَةِ الشَّهِيدِ فِي المُعْتَرَكِ؛ فَأَشْبَهَ المَبْطُونَ.

Keempat: Bahwasanya kedudukannya di bawah kedudukan syahid dalam medan perang; maka menyerupai orang yang meninggal karena sakit perut (mabthun).

خَامِسًا: أَنَّ هَذَا لَا يَكْثُرُ القَتْلُ فِيْهِ، فَلَمْ يَجُزْ إِلْحَاقُهُ بِشَهِيدِ المُعْتَرَكِ.

Kelima: Bahwasanya pembunuhan seperti ini tidak sering terjadi, maka tidak boleh menyamakannya dengan syahid dalam medan perang. الشَّهِيدُ بِغَيْرِ قَتْلٍ

2 – Syahid selain karena terbunuh

يُغَسَّلُ الشَّهِيدُ بِغَيْرِ قَتْلٍ؛ كَالمَبْطُونِ وَالمَطْعُونِ، وَالغَرِيقِ وَالحَرِيقِ، وَصَاحِبِ الهَدْمِ، وَنَحْوِ ذَلِكَ.

Syahid selain karena terbunuh dimandikan; seperti orang yang meninggal karena sakit perut (mabthun), terkena wabah (math'un), tenggelam, terbakar, tertimpa reruntuhan, dan yang semisalnya.

DALIL Pertama: Dari Samurah Radhiyallahu Anhu yang berkata:

صَلَّيْتُ وَرَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى امْرَأَةٍ مَاتَتْ فِي نِفَاسِهَا، فَقَامَ عَلَيْهَا وَسَطَهَا

Aku salat di belakang Nabi ﷺ atas seorang wanita yang meninggal dalam nifasnya, maka beliau berdiri di tengahnya, (Sahih Bukhari: 1332.  Sahih Muslim:964).

Sisi pendalilan:

أَنَّ النُّفَسَاءَ وَإِنْ كَانَتْ مَعْدُودَةً مِنْ جُمْلَةِ الشُّهَدَاءِ؛ فَإِنَّ الصَّلَاةَ عَلَيْهَا مَشْرُوعَةٌ، وَمِنْ ثَمَّ تَغْسِيلُهَا، بِخِلَافِ شَهِيدِ المَعْرَكَةِ.

Bahwasanya wanita yang meninggal karena nifas, meskipun termasuk dalam golongan syuhada; maka menyalatkannya adalah disyariatkan, dan dengan demikian memandikannya juga (disyariatkan), berbeda dengan syahid dalam peperangan.

Kedua: Berdasarkan Ijma:

نَقَلَ الإِجْمَاعَ عَلَى ذَلِكَ: ابْنُ قُدَامَةَ، وَالنَّوَوِيُّ، وَالشَّوْكَانِيُّ.

Telah menukil ijma' atas hal itu: Ibnu Qudamah, An-Nawawi, dan Asy-Syaukani.

حُكْمُ غُسْلِ السِّقْطِ

D – HUKUM MEMANDIKAN JANIN YANG MENINGGAL

حُكْمُ غُسْلِ السِّقْطِ إِذَا اسْتَهَلَّ

D.1 – Hukum  memandikan janin yang meninggal dan sempat menangis

يَجِبُ غُسْلُ السِّقْطِ إِذَا اسْتَهَلَّ

Wajib memandikan janin yang meninggal jika dia sempat mengeluarkan suara (menangis).

DALIL Pertama: Berdasarkan ijma' (konsensus ulama)

نَقَلَ الإِجْمَاعَ عَلَى ذَلِكَ: المَاوَرْدِيُّ، وَالكاسَانِيُّ، وَابْنُ قُدَامَةَ.

Telah menukil ijma' atas hal itu: Al-Mawardi, Al-Kasani, dan Ibnu Qudamah.

ثَانِيًا: لِأَنَّهُ قَدْ ثَبَتَ لَهُ حُكْمُ الدُّنْيَا فِي الإِسْلَامِ وَالمِيْرَاثِ وَالدِّيَةِ؛ فَيُغَسَّلُ كَغَيْرِهِ.

Kedua: Karena telah ثابت (tsabit - tetap/sahih) baginya hukum dunia dalam Islam, warisan, dan diat (denda); maka ia dimandikan seperti yang lainnya.

ثَالِثًا: لِأَنَّ الِاسْتِهْلَالَ دَلَالَةُ الحَيَاةِ، فَتَحَقَّقَ فِي حَقِّهِ سُنَّةُ المَوْتَى.

Ketiga: Karena mengeluarkan suara (menangis) adalah pertanda kehidupan, maka telah terealisasi padanya sunah-sunah orang mati. المَسْأَلَةُ الثَّانِيَةُ: حُكْمُ غُسْلِ السِّقْطِ إِذَا لَمْ يَسْتَهِلَّ

D.2 – Hukum memandikan janin yang meninggal dan tidak sempat menangis

حُكْمُ غُسْلِ السِّقْطِ إِذَا لَمْ يَسْتَهِلَّ وَكَانَ دُونَ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ

D.2.1 – Hukum memandikan janin yang meninggal, tidak sempat menangis, dan usianya kurang dari empat bulan

لَا يُغَسَّلُ السِّقْطُ إِذَا لَمْ يَسْتَهِلَّ، وَكَانَ دُونَ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ، وَهُوَ مَذْهَبُ المَالِكِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَالحَنَابِلَةِ، وَهُوَ ظَاهِرُ الرِّوَايَةِ عِنْدَ الحَنَفِيَّةِ وَحُكِيَ الإِجْمَاعُ عَلَى ذَلِكَ ؛ وَذَلِكَ لِأَنَّهُ قَبْلَ الأَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ لَا يَكُونُ نَسَمَةً، فَهُوَ كَالجَمَادَاتِ وَالدَّمِ، فَلَا يُغَسَّلُ.

Janin yang keguguran tidak dimandikan jika dia tidak menangis dan usianya kurang dari empat bulan, dan ini adalah mazhab Malikiyah, Syafi'iyah, Hanabilah, dan ini adalah zahir riwayat menurut Hanafiyah serta telah dinukilkan ijma' atas hal itu; hal itu karena sebelum usia empat bulan ia belum menjadi jiwa (nasamah), maka ia seperti benda mati dan darah, sehingga tidak dimandikan.

السِّقْطُ إِذَا لَمْ يَسْتَهِلَّ وَبَلَغَ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ

D.2.2 – Hukum memandikan janin yang meninggal, tidak sempat menangis, dan usianya sudah empat bulan

يُغَسَّلُ السِّقْطُ إِذَا وُلِدَ مَيِّتًا وَلَمْ يَسْتَهِلَّ، إِذَا كَانَ لَهُ أَرْبَعَةُ أَشْهُرٍ فَأَكْثَر، وَهُوَ الصَّحِيحُ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ، وَمَذْهَبُ الحَنَابِلَةِ، وَهُوَ اخْتِيَارُ ابْنِ بَازٍ، وَابْنِ عُثَيْمِيْنَ ؛ وَذَلِكَ لِأَنَّهُ نَسَمَةٌ نُفِخَ فِيهَا الرُّوحُ؛ فَيُغَسَّلُ.

Janin yang keguguran dimandikan jika dilahirkan dalam keadaan meninggal dan tidak mengeluarkan suara (menangis), jika usianya empat bulan atau lebih, dan ini adalah pendapat yang sahih menurut Syafi'iyah, mazhab Hanabilah, dan ini adalah pilihan Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin; hal itu karena ia adalah jiwa (nasamah) yang telah ditiupkan ruh padanya; maka ia dimandikan. Wallahua’lam

Demikian terjemahan dari Mausuatul Fiqhiyah Dorar Saniyah tentang jenazah yang dimandikan dan yang tidak dimandikan menurut Islam. Semoga bermanfaat.

Sukoharjo, 16 April 2025

Irfan Nugroho (Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya, menerima amal ibadahnya, dan mengabulkan doa-doanya. Aamiin)

Post a Comment for "Fikih Dorar: Jenazah yang Dimandikan dan yang tidak"