Pembaca rahimakumullah, satu malam di rumah Maimunah adalah salah satu episode di dalam serial satu malam di rumah sahabat yang disampaikan oleh Syaikh Wahid Abdussalam Bali di dalam channel YouTube beliau selama Ramadan. Berikut adalah transkrip untuk episode Satu Malam di Rumah Maimunah. Semoga bermanfaat!
لَيْلَةٌ فِي بَيْتِ مَيْمُونَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا
Satu Malam di Rumah Maimunah radhiyallāhu ‘anhāImam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallāhu ‘anhumā yang berkata:
بِتُّ لَيْلَةً فِي بَيْتِ خَالَتِي مَيْمُونَةَ، وَنَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا انْتَصَفَ اللَّيْلُ قَبْلَهُ بِقَلِيلٍ أَوْ بَعْدَهُ بِقَلِيلٍ، قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَمَسَحَ النَّوْمَ عَنْ عَيْنَيْهِ – أَوْ قَالَ: عَنْ وَجْهِهِ ثُمَّ قَرَأَ الْعَشْرَ آيَاتِ الْخَوَاتِيمَ مِنْ سُورَةِ آلِ عِمْرَانَ، ثُمَّ قَامَ إِلَى شَنٍّ مُعَلَّقَةٍ فَتَوَضَّأَ، ثُمَّ قَامَ يُصَلِّي، فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ، فَأَخَذَنِي بِأُذُنِي وَأَدَارَنِي عَنْ يَمِينِهِ.
Aku pernah bermalam di rumah bibiku Maimunah. Rasulullah ﷺ pun tidur. Ketika telah sampai pertengahan malam, sedikit sebelum atau sedikit sesudahnya, Rasulullah ﷺ bangun. Lalu beliau mengusap rasa kantuk dari kedua matanya, atau dari wajahnya. Kemudian beliau membaca sepuluh ayat terakhir dari Surah Ali ‘Imran. Setelah itu beliau menuju sebuah kantong air yang tergantung lalu berwudu darinya. Kemudian beliau berdiri untuk salat. Aku pun berdiri di sebelah kiri beliau, lalu beliau memegang telingaku dan memindahkanku ke sebelah kanan beliau,” (Sahih Bukhari: 183)Catatan Imaniah
Dalam peristiwa ini, Ibnu Abbas radhiyallāhu ‘anhu menceritakan kepada kita, ketika ia masih seorang anak kecil, tentang kesungguhannya dalam menuntut ilmu. Namun ia menuntut ilmu melalui teladan langsung.Ia ingin mengetahui apa yang dilakukan Rasulullah ﷺ pada malam hari. Ketika ia mengetahui bahwa Nabi ﷺ pada malam itu berada di rumah bibinya, Maimunah, ia berkata dalam dirinya: “Ini adalah kesempatan.”
Maka ia pun pergi untuk bermalam di sana.
Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa Al-Abbas, yaitu ayahnya, yang mengutusnya. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi ﷺ sendiri yang berkata kepadanya:
بِتْ عِنْدَنَا اللَّيْلَةَ
“Bermalamlah bersama kami malam ini.”
Ketika Nabi ﷺ tidur, Ibnu Abbas tidak benar-benar tidur pada malam itu. Ia hanya memperhatikan dan mengamati ibadah Nabi ﷺ.
Ketika Nabi ﷺ bangun, beliau mengusap rasa kantuk dari wajahnya. Ini adalah sunnah. Dari kisah inilah kita mengetahui bahwa dianjurkan bagi seseorang ketika bangun tidur untuk mengusap wajahnya dari rasa kantuk. Kemudian Nabi ﷺ membaca sepuluh ayat terakhir dari Surah Ali ‘Imran. Siapa kita mengetahui sunnah ini?
Dari Ibnu Abbas radhiyallāhu ‘anhu yang memperhatikan dengan sangat teliti apa yang dilakukan Nabi ﷺ. Setelah itu Nabi ﷺ berdiri untuk melaksanakan shalat malam.
كَيْفَ تُطَبِّقُ هَذَا الْمَوْقِفَ فِي حَيَاتِكَ الْعَمَلِيَّةِBagaimana menerapkan kisah ini dalam kehidupan kita?
أَوَّلًا: اجْعَلْ لَكَ قِسْطًا مِنْ قِيَامِ اللَّيْلِ Pertama: Jadikanlah untuk dirimu bagian dari salat malam.Karena seseorang ketika bangun di malam hari dan berdiri di hadapan Rabbnya, ia akan merasakan kenikmatan dalam salat. Ia akan khusyuk di hadapan Allah, merendahkan diri di hadapan Yang Maha Perkasa, dan menunjukkan kebutuhan dirinya kepada Yang Maha Kaya.
Allah mencintai ketika melihat seorang hamba dalam keadaan seperti itu.
ثَانِيًا: لَا تَسْتَطِيعُ قِيَامَ اللَّيْلِ إِلَّا بِالِاسْتِعَانَةِ بِاللَّهِ
Kedua: Salat malam tidak bisa dilakukan kecuali dengan meminta pertolongan kepada Allah.Karena itu, perbanyaklah berdoa kepada Allah agar Dia menolongmu untuk melaksanakan salat malam. Sesungguhnya Allah tidak mengizinkan seseorang berdiri di hadapan-Nya pada waktu-waktu yang mulia ini kecuali orang yang dicintai-Nya.
Salat malam adalah saat-saat yang penuh cahaya, waktu yang lebih berharga daripada permata. Salat malam tidak akan ditinggalkan kecuali oleh orang yang terhalangi dari kebaikan. Siapa yang pernah merasakan kelezatannya, ia tidak akan meninggalkannya selamanya.
Bagaimana mungkin seseorang meninggalkannya, padahal pada saat itu ia sedang berduaan dengan Yang ia cintai, berduaan dengan Pelindungnya, berduaan dengan Tuhannya.
Kemudian ia berdiri di hadapan-Nya dan membaca firman-Nya dengan tartil. Hatinya selaras dengan lisannya. Allah Ta‘ala berfirman:
إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا
Sesungguhnya bangun di waktu malam itu lebih kuat (mengisi jiwa) dan lebih tepat untuk membaca, (QS Al-Muzzammil: 6)
Ketika Allah membangunkan seseorang di malam hari lalu ia membaca Al-Qur’an, maka hatinya akan selaras dengan lisannya. Kemudian ia bersujud di hadapan Allah sehingga ia menjadi dekat dengan-Nya.
Allah Ta‘ala berfirman:
وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ
Dan bersujudlah serta mendekatlah (kepada Allah), (QS Al-‘Alaq: 19)
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ
Keadaan paling dekat seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang sujud.” (Sahih Muslim: 482)
Pada waktu-waktu itu pula Rabb Yang Maha Mulia menyeru:
Rasulullah ﷺ bersabda:
هَلْ مِنْ دَاعٍ فَأَسْتَجِيبَ لَهُ؟ هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ؟ هَلْ مِنْ تَائِبٍ فَأَتُوبَ عَلَيْهِ؟
Siapa yang berdoa kepada-Ku maka Aku kabulkan? Siapa yang memohon ampun kepada-Ku maka Aku ampuni? Siapa yang bertaubat kepada-Ku maka Aku terima taubatnya?” (Sahih Bukhari: 1145. Sahih Muslim: 758)
Betapa indahnya saat-saat tersebut. Dada menjadi lapang, hati menjadi tenang, dan jiwa menjadi tenteram. Seseorang akan mengambil darinya energi keimanan yang sangat kuat untuk menjalani hari-harinya.
Di tengah berbagai fitnah kehidupan, ia tidak mudah lemah dan tidak mudah menyimpang, karena ia telah mengambil bekal iman dari shalat malamnya.
Bagaimana mungkin Rabbnya membiarkannya menyimpang, padahal ia baru saja berdiri di hadapan-Nya, berdoa kepada-Nya, memohon kepada-Nya, dan merendahkan diri di hadapan-Nya.
فَاحْرِصْ عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً
Maka bersemangatlah untuk melaksanakan shalat malam sebelas rakaat setiap malam.
Engkau bisa melaksanakannya di awal malam, di pertengahan malam, atau di akhir malam. Semoga Allah memberi kita taufik untuk menghidupkan salat malam.
Demikian transkrip ceramah Syaikh Wahid Abdussalam Bali episode Satu Malam di Rumah Maimunah. Semoga bermanfaat!
Karangasem, 8 Maret 2026
Irfan Nugroho (Pengelola situs Mukminun.com)
Post a Comment for "Satu Malam di Rumah Maimunah Radhiyallahu Anha"