Pembaca rahimakumullah, berikut adalah pembahasan tentang iman kepada kitab-kitab yang kami terjemahkan dari transkrip kuliah Syaikh Wahid Abdussalam Bali, Syarah Bidayah fi Akidah. Semoga bermanfaat!
Fakultas Ilmu Syariah dan Bahasa Arab Mata Kuliah: Akidah Tingkat Pertama Dari Kitab: Al-Bidayah fil 'Aqidah Syarah Fadhilatusy Syaikh Wahid Abdussalam Bali Bismillahirrahmanirrahim. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada pemimpin orang-orang terdahulu dan terkemudian, junjungan kita Muhammad, serta kepada keluarga dan seluruh sahabat beliau semuanya. Amma ba’du. Ini adalah perkuliahan kesepuluh dari rangkaian kuliah penjelasan kitab Al-Bidayah fil 'Aqidah.الْبَابُ الثَّالِثُ: الْإِيمَانُ بِالْكُتُبِ وَفِيهِ خَمْسَةُ ضَوَابِطَ:
Bab 3: Iman kepada kitab-kitab. Di dalamnya terdapat lima pedoman:PEDOMAN 1
الضَّابِطُ الْأَوَّلُ: مَرَاتِبُ الْوَحْيِ أَرْبَعَةٌ: ١- الرُّؤْيَا الْمَنَامِيَّةُ. ٢- النَّفْثُ فِي الرَّوْعِ. ٣- التَّكْلِيمُ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ. ٤- الْوَحْيُ بِوَاسِطَةِ الْمَلَكِ. Pedoman 1: Tingkatan wahyu ada empat: 1. Mimpi dalam tidur (Ar-Ru’ya al-Manamiyyah). 2. Tiupan ke dalam jiwa (An-Nafsu fir-Ru’). 3. Berbicara dari balik hijab (At-Taklim min Wara’i Hijab). 4. Wahyu melalui perantara Malaikat.Iman kepada kitab-kitab maksudnya adalah beriman kepada kitab-kitab samawi yang diturunkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla kepada para Rasul-Nya. Kitab-kitab ini adalah kitab suci dari langit yang diturunkan Allah kepada para Rasul sebagai rahmat dan petunjuk bagi makhluk.
Makna iman kepada kitab-kitab adalah pembenaran yang pasti bahwa Allah Ta’ala menurunkan kitab-kitab kepada para Rasul-Nya untuk para hamba-Nya agar mereka mengetahui cara beribadah kepada Allah Tabaaraka wa Ta’ala. Iman kepada kitab-kitab mencakup empat perkara:
1 – Beriman bahwa penurunannya adalah benar-benar dari sisi Allah.
2 – Beriman kepada kitab yang telah kita ketahui namanya secara spesifik, seperti Al-Qur'an, Taurat, dan Injil. Adapun yang tidak kita ketahui namanya, maka kita mengimaninya secara global.
3 – Membenarkan berita-beritanya yang shahih, seperti seluruh berita Al-Qur'an dan berita kitab-kitab terdahulu yang belum diubah atau diselewengkan.
4 – Mengamalkan hukum-hukum yang belum dihapus (mansukh) darinya, serta ridha dan berserah diri kepadanya. Kita diperintahkan mengamalkan hukum Al-Qur'an dan juga hukum kitab terdahulu selama belum dihapus oleh Al-Qur'an atau Sunnah.Dalil Wajibnya Iman kepada Kitab-Kitab
Allah Ta’ala berfirman:قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
Katakanlah (hai orang-orang mukmin), 'Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami berserah diri kepada-Nya, (QS Al-Baqarah: 136)Allah Ta’ala juga berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنزَلَ مِن قَبْلُ ۚ وَمَن يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya, (QS An-Nisa: 136).Dalil dari Sunnah
Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Al-Bara bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأَيْمَنِ، ثُمَّ قُلْ: اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ
Jika kamu mendatangi tempat tidurmu, maka berwudulah seperti wudumu untuk salat, lalu berbaringlah pada sisi kananmu, kemudian ucapkanlah: 'Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu, karena mengharap dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari-Mu kecuali kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang Engkau turunkan dan kepada nabi-Mu yang Engkau utus,’ (Sahih Bukhari: 247, Muslim: 2710). Saksi (syahid) dalam hadis ini adalah sabda Nabi:آمَنْتُ بكِتَابِكَ الذي أَنْزَلْتَ
Aku beriman kepada kitab-Mu yang Engkau turunkan, (Sahih Bukhari: 247).
yaitu kepada kitab-kitab-Mu yang Engkau turunkan, dan juga sabdanya:
وَبِنَبِيِّكَ الذي أَرْسَلْتَ
kepada nabi-Mu yang Engkau utus, (Sahih Bukhari: 247).yaitu kepada para nabi-Mu yang Engkau utus.
Dalil Sunnah lainnya adalah yang tsabit dalam Ash-Shahihain bahwa Jibril bertanya kepada Nabi ﷺ tentang iman, beliau menjawab:الْإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
Iman itu adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk, (Sahih Muslim: 8). Maka iman kepada kitab-kitab adalah salah satu rukun dari enam rukun iman.Tujuan Penurunan Kitab-Kitab
Semua kitab samawi diturunkan untuk satu tujuan dan satu target, yaitu agar Allah disembah semata tanpa sekutu bagi-Nya, dan agar kehidupan manusia sesuai dengan apa yang diinginkan Allah Tabaaraka wa Ta’ala serta di atas syariat-Nya.Tingkatan Wahyu yang Empat
Wahyu yang dimaksud di sini adalah wahyu yang diberikan Allah ‘Azza wa Jalla kepada para Rasul-Nya. Wahyu adalah pemberitahuan Allah kepada para nabi-Nya tentang apa yang Dia inginkan untuk disampaikan kepada mereka berupa syariat atau kitab, baik dengan perantara maupun tanpa perantara.1 – Mimpi dalam Tidur (Ar-Ru’ya al-Manamiyyah).
Mimpi para nabi adalah benar (haq) dan merupakan bagian dari kenabian. Dalilnya adalah riwayat Bukhari dan Muslim bahwa Nabi ﷺ bersabda:الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ
Mimpi yang shalih adalah satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian, (Sahih Bukhari: 6983, Muslim: 2263)Jika kita melihat kehidupan Nabi ﷺ, kita dapati bahwa sebelum Jibril datang membawa wahyu yang jelas, beliau memulainya dengan mimpi-mimpi yang saleh di dalam tidur. Dalilnya riwayat Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:
أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ، فَكَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ
Wahyu yang pertama kali dimulai pada diri Rasulullah ﷺ adalah mimpi yang saleh di dalam tidur. Tidaklah beliau bermimpi melainkan datang seperti cahaya subuh, (Sahih Bukhari: 3, Muslim: 160).Lihatlah mimpi Ibrahim ‘alaihissalam saat beliau bermimpi menyembelih putranya Ismail. Hal itu menjadi hakikat yang harus dilaksanakan karena mimpi nabi adalah wahyu. Beliau mengabarkan kepada anaknya, lalu sang anak membenarkan dan patuh. Allah Ta’ala berfirman:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: 'Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!' Ia menjawab: 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar,’ (QS Ash-Shaffat: 102).Ismail pun bersabar, demikian pula Ibrahim bersabar dalam mematuhi perintah Tuhannya untuk menyembelih anaknya.
فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ . وَنَادَيْنَاهُ أَن يَا إِبْرَاهِيمُ . قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ . وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik'. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar, (QS Ash-Shaffat: 103-107).Demikian pula mimpi Nabi Yusuf ‘alaihissalam saat melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan memberikan penghormatan kepadanya (sujud/tunduk). Beliau berkata kepada ayahnya:
إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ
(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: 'Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku,’ (QS Yusuf: 4).قَالَ يَا بُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَىٰ إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا ۖ إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنسَانِ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
Ayahnya berkata: 'Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan)mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia,’ (QS Yusuf: 5).Di akhir hidupnya saat Yusuf menjadi pembesar Mesir. Dia menyuruh saudara-saudaranya membawa ayah dan ibunya. Ketika mereka datang, Yusuf duduk di atas singgasana, dan saudara-saudaranya memberikan penghormatan dengan tunduk, begitu pula ayah dan ibunya.
وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا ۖ وَقَالَ يَا أَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِن قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا
Dan ia menaikkan kedua ibu-bapaknya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf: 'Wahai ayahku inilah tabir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan,’ (QS Yusuf: 100) Para ulama berkata bahwa sujud ini (dalam kisah Nabi Yusuf) bukanlah sujud ke atas tanah, melainkan berupa penundukan kepala, dan itulah penghormatan mereka pada masa itu. Kemudian Islam datang dan menghapus (nasakh) itu semua. Nabi ﷺ bersabda:مَا يَنْبَغِي لِبَشَرٍ أَنْ يَسْجُدَ لِبَشَرٍ، وَلَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا مِنْ عِظَمِ حَقِّهِ عَلَيْهَا
Tidak semestinya seorang manusia bersujud kepada manusia lainnya. Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain, niscaya aku akan memerintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya karena besarnya hak suami atasnya, (Musnad Ahmad: 12614, Jami At-Tirmidzi: 1159) Jadi, mimpi dalam tidur merupakan bagian dari wahyu. Termasuk bagian atau pembagian wahyu juga adalah:2 – Tiupan ke dalam jiwa (An-Nafsu fir-Ru’)
Dengan huruf Ra’ yang di-dhammah (yaitu ru' yang berarti jiwa/hati), bukan raw' yang berarti rasa takut. Maksudnya adalah tiupan ke dalam hati dan sanubari. Nabi ﷺ sering mendapatkan jenis wahyu seperti ini. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan disahihkan oleh Al-Albani dalam kitab sahihnya, Nabi ﷺ bersabda:إِنَّهُ لَيْسَ شَيْءٌ يُقَرِّبُكُمْ مِنَ النَّارِ وَيُبَاعِدُكُمْ عَنِ الْجَنَّةِ إِلَّا وَقَدْ نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ، وَإِنَّهُ لَيْسَ مِنْ شَيْءٍ يُدْنِيكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُكُمْ مِنَ النَّارِ إِلَّا وَقَدْ أَمَرْتُكُمْ بِهِ، وَإِنَّ الرُّوحَ (أَوْ قَالَ: وَإِنَّ الْقُدُسَ) نَفَثَ فِي رُوحِي أَنَّهُ لَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا، فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، وَلَا يَحْمِلَنَّكُمُ اسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ تَطْلُبُوهُ بِمَعَاصِي اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّهُ لَا يُدْرَكُ مَا عِنْدَ اللَّهِ إِلَّا بِطَاعَتِهِ
Sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang mendekatkan kalian ke neraka dan menjauhkan kalian dari surga melainkan telah aku larang. Dan tidak ada sesuatu pun yang mendekatkan kalian ke surga dan menjauhkan kalian dari neraka melainkan telah aku perintahkan. Sesungguhnya Ruhul Qudus telah meniupkan ke dalam jiwaku bahwa suatu jiwa tidak akan mati hingga disempurnakan rezekinya. Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mencari (rezeki). Janganlah lambatnya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan kemaksiatan kepada Allah 'Azza wa Jalla, karena sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah tidak akan diraih kecuali dengan ketaatan kepada-Nya, (Sahih Ibnu Hibban: 3235)Dalam riwayat lain disebutkan:
مَا تَرَكْتُ شَيْئًا مِمَّا أَمَرَكُمُ اللَّهُ بِهِ، إِلا أَمَرْتُكُمْ بِهِ، وَمَا تَرَكْتُ شَيْئًا مِمَّا نَهَاكُمُ اللَّهُ عَنْهُ إِلا وَقَدْ نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ، وَإِنَّ الرُّوحَ الأَمِينَ قَدْ أَلْقَى فِي رُوعِي، أَنَّهُ لَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَوْعِبَ كُلَّ الَّذِي كَتَبَ اللَّهُ لَهَا، فَمَنْ أَبْطَأَ عَنْهُ مِنْ ذَلِكَ شَيْءٌ، فَلْيُجْمِلْ فِي الطَّلَبِ، فَإِنَّكُمْ لَنْ تُدْرِكُوا مَا عِنْدَ اللَّهِ إِلا بِمِثْلِ طَاعَتِهِ
Aku tidak meninggalkan sesuatu pun yang diperintahkan Allah melainkan telah aku perintahkan kalian dengannya, dan aku tidak meninggalkan sesuatu pun yang dilarang Allah melainkan telah aku larang kalian darinya. Sesungguhnya Ruhul Amin telah meniupkan ke dalam jiwaku bahwa suatu jiwa tidak akan mati hingga menghabiskan seluruh (rezeki) yang telah Allah tetapkan baginya Maka siapa yang merasa lambat rezekinya, hendaklah ia memperbagus cara mencarinya, karena kalian tidak akan meraih apa yang di sisi Allah kecuali dengan ketaatan kepada-Nya, (Syarhus Sunnah lil Bagawi: 14/303). Saksi (syahid) dari teks ini adalah sabda beliau:نَفَثَ فِي رُوحِي
Meniupkan ke dalam jiwaku, yaitu ke dalam diri dan hatiku.3 – Berbicara dari balik hijab (At-Taklim min Wara’i Hijab)
Hal ini terjadi ketika Allah 'Azza wa Jalla berbicara kepada salah seorang nabi-Nya dari balik hijab di dunia, sebagaimana Dia berbicara kepada Musa 'alaihissalam. Allah Ta’ala berfirman:وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَن تَرَانِي وَلَٰكِنِ انظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ
Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsu6ng) kepadanya, berkatalah Musa: 'Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau'. Tuhan berfirman: 'Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi7 liha8tlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya niscaya kamu dapat melihat-Ku'. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hanc9ur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: 'Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku 10adalah orang yang pertama-tama beriman,’ (QS. Al-A'raf: 143).
Allah Ta'ala juga menjelaskan bahwa Dia benar-benar berbicara kepada Musa secara nyata melalui firman-Nya:
وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِن قَبْلُ وَرُسُلًا لَّمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ ۚ وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا
Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung, (QS. An-Nisa: 164)
Hal ini ditegaskan kembali dengan firman-Nya:
وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ ۚ
Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman kepadanya, (QS Al-A’raf: 143).
Kata (وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ) atau "berfirman/berbicara kepadanya" menunjukkan bahwa Allah benar-benar berbicara kepadanya.
Allah Jalla wa 'Ala juga berbicara kepada Nabi Adam 'alaihissalam, bapak seluruh manusia. Para ulama berbeda pendapat mengenai Adam 'alaihissalam, apakah beliau seorang nabi atau bukan. Allah Ta'ala berfirman:
وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ
Dan Kami berfirman: 'Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim,’ (QS. Al-Baqarah: 35).
Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa Allah 'Azza wa Jalla berbicara kepada Adam 'alaihissalam. Begitu pula Allah Tabaaraka wa Ta'ala berbicara kepada Nabi-Nya, Muhammad ﷺ pada malam Isra' dan Mi'raj, sebagaimana telah tsabit dalam Ash-Shahihain (Bukhari & Muslim) bahwa Nabi ﷺ bersabda: Atap rumahku terbuka saat aku berada di Makkah, lalu Jibril turun dan membelah dadaku, kemudian mencucinya dengan air Zamzam. Lalu ia datang membawa bejana emas yang penuh dengan hikmah dan iman, dituangkannya ke dalam dadaku kemudian menutupnya kembali. Lalu ia memegang tanganku dan membawaku naik ke langit dunia. Kemudian Allah mewajibkan atas umatku 50 shalat. Aku pun kembali membawa perintah itu hingga melewati Musa. Musa bertanya: 'Apa yang Allah wajibkan atas umatmu?'. Aku menjawab: '50 shalat'. Musa berkata: 'Kembalilah kepada Tuhanmu, karena umatmu tidak akan sanggup'. Maka aku kembali dan Allah menguranginya separuh. Aku kembali kepada Musa dan berkata: 'Allah telah mengurangi separuh'. Musa berkata: 'Kembalilah kepada Tuhanmu, karena umatmu tidak akan sanggup'. Aku kembali lagi dan Allah menguranginya separuh lagi. Aku kembali kepada Musa dan ia berkata lagi: 'Kembalilah kepada Tuhanmu karena umatmu tidak akan sanggup'. Maka aku kembali menghadap Allah dan Dia berfirman:هِيَ خَمْسٌ وَهِيَ خَمْسُونَ، لَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ
Salat itu lima (dalam pengerjaan) namun lima puluh (dalam pahala). Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah'. Aku kembali kepada Musa dan ia berkata: 'Kembalilah kepada Tuhanmu'. Aku menjawab: 'Aku merasa malu kepada Tuhanku,’ (Sahih Bukhari: 349. Sahih Muslim: 163)
Hadis ini menunjukkan bahwa Allah 'Azza wa Jalla berbicara kepada Nabi Muhammad ﷺ pada malam Isra' Mi'raj di atas langit yang tujuh.4 – Wahyu melalui perantara Malaikat
Hal ini karena Allah Tabaaraka wa Ta'ala memilih Jibril 'alaihissalam untuk menjadi malaikat wahyu bagi para nabi. Jibril mendatangi Nabi ﷺ dalam tiga bentuk:a – Dalam bentuk aslinya saat diciptakan Allah.
Nabi ﷺ tidak pernah melihat Jibril dalam bentuk asli kecuali dua kali. Sekali saat beliau melihatnya turun dari langit dengan rupa yang sangat besar hingga menutupi ruang antara langit dan bumi. Sekali lagi beliau melihatnya pada malam Isra' Mi'raj. Nabi ﷺ bersabda sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad dengan sanad yang hasan: "Aku melihat Jibril di Sidratul Muntaha, ia memiliki 600 sayap, setiap sayapnya menutupi apa yang ada di antara timur dan barat."b – Datang seperti bunyi denting lonceng.
Yaitu seperti suara lonceng yang keras. Dalilnya adalah riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Al-Harits bin Hisyam bertanya kepada Rasulullah ﷺ: "Wahai Rasulullah, bagaimana wahyu datang kepadamu?". Rasulullah ﷺ menjawab:أَحْيَانًا يَأْتِينِي مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ، وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ، فَيُفْصَمُ عَنِّي وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ، وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِيَ الْمَلَكُ رَجُلًا فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ
Kadang-kadang wahyu itu datang kepadaku seperti denting lonceng, dan itulah yang paling berat bagiku. Lalu wahyu itu berhenti dan aku telah memahami apa yang dikatakannya. Kadang pula malaikat menyerupai seorang laki-laki dan berbicara kepadaku, lalu aku memahami apa yang ia ucapkan, (Sahih Bukhari: 2).
Aisyah berkata:
فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَنْزِلُ عَلَيْهِ الْوَحْىُ فِي الْيَوْمِ الشَّدِيدِ الْبَرْدِ فَيَفْصِمُ عَنْهُ وَإِنَّ جَبِينَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقًا
Dan sungguh aku pernah melihat beliau (Rasulullah ﷺ) saat wahyu sedang turun kepadanya pada hari yang sangat dingin, lalu wahyu itu berhenti dan sungguh dahi beliau benar-benar bercucuran keringat, (Jami At-Tirmizi:3994).
Dalam Shahih Muslim dari Ubadah bin Shamit, ia berkata:كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ الْوَحْىُ نَكَسَ رَأْسَهُ وَنَكَسَ أَصْحَابُهُ رُءُوسَهُمْ فَلَمَّا أُتْلِيَ عَنْهُ رَفَعَ رَأْسَهُ
Biasanya Nabi ﷺ jika diturunkan wahyu kepadanya, beliau menundukkan kepalanya dan para sahabat pun ikut menundukkan kepala. Setelah wahyu selesai, beliau baru mengangkat kepalanya, (Sahih Muslim: 2335).c – Datang dalam rupa seorang laki-laki.
Dalilnya adalah apa yang telah disebutkan di atas bahwa Nabi ﷺ bersabda:وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِيَ الْمَلَكُ رَجُلاً فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ
Dan kadang-kadang malaikat menyerupai seorang laki-laki bagiku, lalu ia berbicara kepadaku, maka aku memahami apa yang ia ucapkan, (Sahih Bukhari: 2).
Begitu pula yang diriwayatkan Muslim dalam kitab Shahihnya dari Umar bin Khattab: "Suatu hari ketika kami duduk di sisi Rasulullah ﷺ, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang pakaiannya sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Tidak terlihat padanya bekas perjalanan dan tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia duduk di hadapan Nabi ﷺ, menyandarkan kedua lututnya ke lutut Nabi, dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas paha beliau. Ia berkata: 'Wahai Muhammad, kabarkanlah kepadaku tentang Islam'. Lalu Nabi ﷺ mengabarkannya. Kemudian ia bertanya tentang Iman, Ihsan, hari kiamat, dan tanda-tandanya. Setelah orang itu pergi, Nabi ﷺ bersabda: 'Bawa kembali orang itu!'. Mereka pun keluar mencari namun tidak melihat sesuatu pun. Lalu Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينُكُمْ
Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian, (Sahih Muslim: 8)
Jadi Jibril datang dalam rupa laki-laki yang pakaiannya sangat putih dan rambutnya sangat hitam.PEDOMAN 2
الضَّابِطُ الثَّانِي: الْإِيمَانُ بِالْكُتُبِ الَّتِي أَنْزَلَهَا اللَّهُ عَلَى رُسُلِهِ إِجْمَالًا، وَتَفْصِيلًا. Pedoman 2: Iman kepada kitab-kitab yang diturunkan Allah kepada rasul-rasul-Nya, secara umum maupun rinci.Wajib bagi setiap muslim untuk beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya seperti Al-Qur'anul Karim, Taurat, Injil, Zabur, Shuhuf Ibrahim, dan sejenisnya. Adapun kitab-kitab yang tidak kita ketahui namanya, kita beriman kepadanya secara global, yaitu mengimani bahwa Allah 'Azza wa Jalla benar-benar menurunkannya kepada para Rasul-Nya.
Di sini ada masalah penting. Penulis mengatakan:
الْإِيمَانُ بِالْكُتُبِ الَّتِي أَنْزَلَهَا اللَّهُ عَلَى رُسُلِهِ
Beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan Allah kepada Rasul-rasul-Nya
Maksudnya adalah kita mengimani kitab yang diturunkan kepada Musa, adapun Taurat yang ada di tangan orang Yahudi sekarang, di dalamnya ada kebenaran dan ada kebatilan karena mereka telah mengubah sebagiannya. Oleh karena itu, kita beriman kepada apa yang diturunkan kepada para Rasul, yaitu kitab-kitab yang diturunkan Allah Tabaaraka wa Ta'ala sebelum terjadinya penyelewengan, perubahan, dan penggantian.PEDOMAN 3
الضَّابِطُ الثَّالِثُ: الْإِيمَانُ بِأَنَّ جَمِيعَ الْكُتُبِ السَّابِقَةِ قَدْ دَخَلَهَا التَّحْرِيفُ، أَوْ فُقِدَتْ. Pedoman 3: Iman bahwa semua kitab sebelumnya telah mengalami penyimpangan atau hilang.Benar, karena Allah menyerahkan penjagaannya kepada pemilik dan pemeluknya untuk mereka jaga, namun mereka tidak menjaganya. Ada pun Al-Qur'anul Karim, Allah sendiri yang menjamin penjagaannya. Maka semua kitab samawi yang diturunkan dari sisi Allah telah mengalami penyelewengan atau kehilangan. Di antara yang diselewengkan adalah Taurat dan Injil. Adapun Zabur, ada yang mengatakan masih ada sisa-sisanya, tetap sisanya telah hilang.
Di antara bentuk penyelewengan Yahudi adalah apa yang disebutkan Allah dalam Al-Qur'an:
أَفَتَطْمَعُونَ أَن يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِّنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِن بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
Apakah kamu masih mengharapkan mereka pemuda-pemuda itu akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? (QS. Al-Baqarah: 75).
Allah juga berfirman:
فَبِمَا نَقْضِهِم مِّيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً ۖ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِ ۙ وَنَسُوا حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوا بِهِ ۚ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَىٰ خَائِنَةٍ مِّنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik, (QS. Al-Ma'idah: 13).
Al-Qur'an menetapkan bahwa mereka mengubah firman Allah dari tempatnya semula. Mengenai penyelewengan kaum Nasrani terhadap Injil, Allah berfirman:
وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُم بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِندِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِندِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِّي مِن دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِن كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ
Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: 'Ia datang dari sisi Allah', padahal ia bukan dari sisi Allah; dan mereka mengatakan kedustaan terhadap Allah sedang mereka mengetahui. Tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi Allah Al Kitab, hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia: 'Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah'. Akan tetapi (dia berkata): 'Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya,’ (QS. Ali Imran: 78-79)
وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَن تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا ۗ أَيَأْمُرُكُم بِالْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنتُم مُّسْلِمُونَ
dan tidak (pula) ia menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) ia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah muslim? (QS. Ali Imran: 80).
Allah juga menjelaskan bahwa mereka menulis kitab dengan tangan mereka sendiri, memasukkan kata-kata buatan mereka di antara baris-baris kitab dan mengklaimnya dari Allah padahal bukan. Allah berfirman:
فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَٰذَا مِنْ عِندِ اللَّهِ
Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; 'Ini dari Allah,’ (QS. Al-Baqarah: 79).
Ini adalah kejahatan besar yang dilakukan Yahudi dan Nasrani dengan menyelewengkan kitab mereka. Namun Al-Qur'anul Karim adalah kalam Allah yang dijaga sendiri oleh-Nya.PEDOMAN 4
الضَّابِطُ الرَّابِعُ: الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ: هُوَ كَلَامُ اللَّهِ تَعَالَى الْمُنَزَّلُ عَلَى رَسُولِهِ بِلَفْظِهِ الْعَرَبِيِّ، الْمُتَعَبَّدُ بِتِلَاوَتِهِ، الْمَنْقُولُ بِالتَّوَاتُرِ، الْمَكْتُوبُ فِي الْمَصَاحِفِ. Pedoman 4: Al-Qur'an Al-Karim: adalah kalam Allah Ta'ala yang diturunkan kepada Rasul-Nya dengan lafaz Arabnya, yang ibadah dengan membacanya, yang dinukil secara mutawatir, dan yang tertulis dalam mushaf-mushaf.Al-Qur'an memiliki banyak nama, di antaranya Al-Furqan, Al-Burhan, Al-Haq, An-Naba’ al-’Adzim, dan Ahsanul Hadits. Al-Qur'an adalah benar-benar kalam Allah, bukan ucapan manusia. Allah benar-benar berfirman dengannya. Kita menetapkan sifat Kalam bagi Allah sesuai dengan keagungan-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
قُل لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا
Katakanlah: 'Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula),’ (QS. Al-Kahfi: 109).
Maksudnya jika seluruh lautan di dunia menjadi tinta untuk menulis kata-kata yang diucapkan Allah, niscaya air laut itu akan habis sebelum kalimat Allah selesai ditulis, meskipun didatangkan lautan lain sebagai tambahan. Allah juga berfirman:
وَلَوْ أَنَّ مَا فِي الْأَرْضِ مِن شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِن بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَّا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, (QS. Luqman: 27).
Maka setiap muslim wajib mengimani bahwa Allah benar-benar berbicara dengan Al-Qur'an. Allah menjaga Al-Qur'an melalui firman-Nya:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya, (QS. Al-Hijr: 9).Al-Qur'an diturunkan kepada Rasulullah ﷺ
Allah Ta’ala berfirman:هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al-Qur'an) kepadamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al-Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: 'Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami'. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal, (QS. Ali Imran: 7).
Allah menjelaskan bahwa Dia menurunkan Al-Kitab dengan membawa kebenaran kepada Nabi ﷺ:
إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ
Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, (QS. An-Nisa: 105).Al-Qur'an turun dengan lafaz Arab
Yaitu bahasa orang Arab, khususnya suku Quraisy yang paling fasih. Allah berfirman:الر ۚ تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ إِنَّا أَنزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقُلُونَ
Alif, laam, raa. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al-Qur'an) yang nyata (dari Allah). Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur'an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya, (QS. Yusuf: 1-2).
Serta firman-Nya:
وَهَٰذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُّبِينٌ
Dan (Al-Qur'an) ini adalah bahasa Arab yang nyata, (QS. An-Nahl: 103).
Dan juga dalam firmanNya:
وَكَذَٰلِكَ أَنزَلْنَاهُ حُكْمًا عَرَبِيًّا ۚ
Demikianlah Kami menurunkannya sebagai hukum (peraturan) dalam bahasa Arab" (QS. Ar-Ra'd: 37).
Serta firman-Nya:
حم تَنزِيلٌ مِّنَ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِّقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Haa Miim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, (QS. Fussilat: 1-3).Membacanya bernilai ibadah
Al-Qur'an digunakan untuk beribadah dalam shalat. Jika seseorang membaca hadis atau lainnya dalam shalat, maka shalatnya tidak sah. Juga karena setiap hurufnya bernilai sepuluh kebaikan. Jika seseorang bertasbih atau berdzikir, satu kata bernilai sepuluh kebaikan, namun dalam Al-Qur'an, satu huruf bernilai sepuluh kebaikan. Dalilnya adalah riwayat At-Tirmidzi dengan sanad hasan:مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ
Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan 'Alif Lam Mim' itu satu huruf, akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf, (Jami At-Tirmidzi: 2910).
Nabi ﷺ sangat menganjurkan kita membaca Al-Qur'an sebagai bentuk ibadah. Dalam Shahih Muslim, Nabi ﷺ bersabda:اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ، اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ: الْبَقَرَةَ وَآلَ عِمْرَانَ، فَإِنَّهُمَا يَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا، اقْرَءُوا الْبَقَرَةَ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلَا تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ
Bacalah Al-Qur'an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya. Bacalah 'dua cahaya': Al-Baqarah dan Ali Imran, karena keduanya akan datang pada hari kiamat seolah-olah dua awan atau dua kelompok burung yang membentangkan sayapnya untuk membela pembacanya. Bacalah surat Al-Baqarah, karena mengambilnya adalah keberkahan dan meninggalkannya adalah kerugian, dan tukang sihir tidak akan mampu mengalahkannya, (Sahih Muslim: 804).
Nabi ﷺ juga menjelaskan bahwa orang yang sibuk dengan Al-Qur'an hingga menghafalnya, mahir, dan mengamalkannya, akan dikumpulkan bersama para malaikat yang mulia. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan:
مَثَلُ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهُوَ حَافِظٌ لَهُ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَمَثَلُ الَّذِي يَقْرَأُ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ فَلَهُ أَجْرَانِ
Perumpamaan orang yang membaca Al-Qur'an dan ia menghafalnya, maka ia bersama para malaikat utusan yang mulia lagi berbakti. Dan perumpamaan orang yang membacanya dengan bersusah payah (karena belum lancar), maka ia mendapatkan dua pahala, (Sahih Bukhari: 4937. Sahih Muslim: 798).Dinukil secara Mutawatir
Al-Qur'an sampai kepada kita melalui jalan mutawatir, yaitu diriwayatkan oleh orang banyak dari orang banyak yang secara adat mustahil mereka bersepakat untuk berbohong.Tertulis dalam Mushaf
Yaitu tertulis dalam mushaf-mushaf yang ditulis oleh Utsman radhiyallahu 'anhu ketika beliau mengumpulkan Al-Qur'an (Mushaf Al-Imam) dan membagikannya ke berbagai negeri. Maka disebutlah Rasm Utsmani. Ini telah menjadi kesepakatan (ijma’) seluruh sahabat.PEDOMAN 5
الضَّابِطُ الْخَامِسُ: الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ هُوَ آخِرُ الْكُتُبِ السَّمَاوِيَّةِ نُزُولًا، وَهُوَ مُهَيْمِنٌ عَلَيْهَا نَاسِخٌ لَهَا. Pedoman 5: Al-Qur'an Al-Karim adalah kitab samawi terakhir yang diturunkan, dan ia menjadi penjaga atas kitab-kitab sebelumnya serta menasakhnya.Al-Qur'an adalah kitab terakhir, tidak ada kitab setelahnya. Nabi ﷺ adalah nabi terakhir. Bahkan Isa 'alaihissalam saat turun di akhir zaman akan menghukumi dengan syariat Muhammad ﷺ dan tidak membawa kitab baru. Al-Qur'an bersifat Muhaimin atas kitab terdahulu, artinya ia mencakup semua hukum yang ada di dalamnya dan memberikan tambahan. Allah berfirman:
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ فَآمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Katakanlah: 'Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk,’ (QS. Al-A'raf: 158).
Allah juga berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرُ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (QS. Saba: 28).
Allah menjelaskan bahwa Al-Qur'an membenarkan kitab sebelumnya dan menjadi Muhaimin baginya:وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمَهَيْمِنًا عَلَيْهِ
Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Kitab (Al-Qur'an) dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian (Muhaimin) terhadap kitab-kitab yang lain itu," (QS. Al-Ma'idah: 48).
Al-Qur'an menghapus (nasakh) kitab-kitab terdahulu. Ia membawa hukum-hukumnya; ada yang tetap diakui dan ada yang dihapus atau diubah. Misalnya, dahulu Allah mengharamkan lemak tertentu bagi Yahudi, lalu Al-Qur'an datang dan menghapus itu semua.Saudara-saudaraku yang mulia, dimohon kesediaannya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:
1 – Definisikan Al-Qur'anul Karim!
2 – Apa saja pembagian wahyu?
3 – Apa kewajiban kita terhadap Al-Qur'an dan kitab-kitab terdahulu?
Aku memohon kepada Allah Tabaaraka wa Ta'ala agar menjadikanku dan kalian termasuk orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik darinya. Semoga shalawat Allah tercurah kepada Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya sekalian.
Karangasem, 12 Januari 2025
Irfan Nugroho (Pengelola situs Mukminun.com dan Channel YouTube: Mukminun TV)
Post a Comment for "Syarah Bidayah fi Akidah 10: Iman kepada Kitab-kitab"