zmedia

MAUSUATUL AKHLAK: TAWADHU

Pembaca rahimakumullah, apa yang dimaksud dengan tawadhu? Apa keutamaan tawadhu? Bagaimana mewujudkan akhlak tawadhu? Berikut adalah terjemahan Mausuatul Akhlak Dorar Saniyah tentang Tawadhu. Semoga bermanfaat!

التَّرْغِيبُ فِي التَّوَاضُعِ مِنَ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ

ANJURAN TAWADHU DARI AL-QURAN

Allah Ta'ala berfirman:

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا

Adapun Ibadurrahman[1] adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan Haunan,[2] (QS. Al-Furqan: 63).

Allah Ta'ala berfirman:

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ

Dan rendahkanlah[3] sayapmu[4] terhadap orang-orang yang beriman, (QS. Al-Hijr: 88).

Allah Ta'ala berfirman:

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Dan rendahkanlah sayapmu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman,[5] (QS. Ash-Shu'ara: 215).

Allah Ta'ala berfirman:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka,[6] (QS. Al-Fath: 29). التَّرْغِيبُ فِي التَّوَاضُعِ مِنَ السُّنَّةِ النَّبَوِيَّةِ

ANJURAN TAWADHU DARI SUNAH

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

Sedekah itu tidak akan mengurangi harta, (baca penjelasannya di sini)

وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا

dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba karena sifat pemaafnya melainkan kemuliaan,

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

serta tidaklah seseorang berlaku tawadhu karena Allah melainkan Allah akan meninggikan derajatnya,[7] (Sahih Muslim: 2588).

Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا

Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawadhu,

حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ، وَلَا يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

sehingga tidak ada seorang pun yang menyombongkan diri kepada orang lain, dan tidak ada yang berbuat zalim kepada yang lain, (Sahih Muslim: 2865).

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Haritsah bin Wahab Al-Khazai Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ؟ قَالُوا: بَلَى

Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang penghuni surga?" Para sahabat menjawab: "Tentu."

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعَّفٍ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ

Beliau bersabda, “Yaitu setiap orang yang lemah dan dianggap lemah, yang sekiranya dia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya.”

ثُمَّ قَالَ: أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ؟ قَالُوا: بَلَى

(Haritsah berkata) Kemudian beliau bersabda, “Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang penghuni neraka?” Para sahabat menjawab, “Tentu.”

قَالَ: كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ

Beliau bersabda, “Yaitu setiap orang yang kasar, rakus lagi kikir, dan sombong,” (Sahih Bukhari: 4918. Sahih Muslim: 2853. Lafaz ini milik Muslim).

مَعْنَى التَّوَاضُعِ لُغَةً وَاصْطِلَاحًا

MAKNA TAWADHU SECARA BAHASA DAN ISTILAH

Tawadhu secara bahasa berarti التَّذَلُّلُ atau merendahkan diri.

Tawadu secara istilah berarti:

رِضَا الْإِنْسَانِ بِمَنْزِلَةٍ دُونَ مَا يَسْتَحِقُّهُ فَضْلُهُ وَمَنْزِلَتُهُ

Kerelaan seseorang terhadap kedudukan yang lebih rendah dari apa yang semestinya ia dapatkan berdasarkan keutamaan dan martabatnya, (Ad-Dzari'ah ila Makarim ash-Syari'ah karya Ar-Raghib al-Ashfahani, hal: 299).

فَوَائِدُ التَّوَاضُعِ

BUAH DARI AKHLAK TAWADHU

Tawadhu akan membuahkan banyak kebaikan, di antaranya:

أَنَّ التَّوَاضُعَ يَرْفَعُ الْمَرْءَ قَدْرًا وَيُعْظِمُ لَهُ خَطَرًا وَيَزِيدُهُ نُبْلًا

1 – Bahwasanya tawadhu itu mengangkat derajat seseorang, memuliakan kedudukannya, dan menambah keluhuran budinya.

التَّوَاضُعُ يُؤَدِّي إِلَى الْخُضُوعِ لِلْحَقِّ وَالِانْقِيَادِ لَهُ

2 – Tawadhu menuntun seseorang untuk tunduk kepada kebenaran dan patuh kepadanya.

التَّوَاضُعُ هُوَ عَيْنُ الْعِزِّ؛ لِأَنَّهُ طَاعَةٌ لِلَّهِ وَرُجُوعٌ إِلَى الصَّوَابِ

3 – Tawadhu adalah inti dari kemuliaan; karena ia merupakan bentuk ketaatan kepada Allah dan kembalinya seseorang pada kebenaran.

يَكْفِي الْمُتَوَاضِعَ مَحَبَّةُ عِبَادِ اللَّهِ لَهُ، وَرَفْعُ اللَّهِ إِيَّاهُ

4 – Cukuplah bagi orang yang tawadhu mendapatkan kecintaan dari hamba-hamba Allah, serta derajatnya diangkat oleh Allah karenanya.

التَّوَاضُعُ فِيهِ مَصْلَحَةُ الدِّينِ وَالدُّنْيَا

5 – Di dalam sifat tawadhu terdapat kemaslahatan, baik bagi urusan agama maupun urusan dunia.

التَّوَاضُعُ يَكْسِبُ السَّلَامَةَ، وَيُورِثُ الْأُلْفَةَ، وَيَرْفَعُ الْحِقْدَ، وَيُذْهِبُ الصَّدَّ

6 – Tawadhu mendatangkan keselamatan, membuahkan keharmonisan, menghilangkan rasa dengki, dan melenyapkan sikap saling menjauh.

تَوَاضُعُ الشَّرِيفِ يَزِيدُ فِي شَرَفِهِ

7 – Sikap rendah hati (tawaduk) yang dimiliki oleh orang yang mulia justru akan menambah kemuliaannya.

التَّوَاضُعُ يُؤَلِّفُ الْقُلُوبَ، وَيَفْتَحُ مَغَالِيقَهَا

8 – Tawadhu itu dapat menyatukan hati dan membuka gembok-gemboknya (hati yang tertutup).

أَقْسَامُ التَّوَاضُعِ

MACAM-MACAM TAWADUK

Pembaca rahimakumullah, apa benar tawaduk tidak hanya satu? Tertulis di dalam Mausuatul Akhlak Dorar Saniyah:

التَّوَاضُعُ تَوَاضُعَانِ: أَحَدُهُمَا مَحْمُودٌ، وَالْآخَرُ مَذْمُومٌ.

Tawadhu itu ada dua macam, salah satunya terpuji (mahmud), dan yang lainnya tercela (madzmum).

وَالتَّوَاضُعُ الْمَحْمُودُ :تَرْكُ التَّطَاوُلِ عَلَى عِبَادِ اللَّهِ وَالْإِزْرَاءِ بِهِمْ.

Adapun tawadhu yang terpuji adalah meninggalkan sikap sombong (merasa lebih) di hadapan hamba-hamba Allah dan tidak meremehkan mereka.

وَالتَّوَاضُعُ الْمَذْمُومُ هُوَ تَوَاضُعُ الْمَرْءِ لِذِي الدُّنْيَا رَغْبَةً فِي دُنْيَاهُ

Sedangkan tawadhu yang tercela adalah merendahkan dirinya seseorang di hadapan pemilik dunia (orang kaya/berkuasa) karena mengharap keduniaannya.

فَالْعَاقِلُ يَلْزَمُ مُفَارَقَةَ التَّوَاضُعِ الْمَذْمُومِ عَلَى الْأَحْوَالِ كُلِّهَا، وَلَا يُفَارِقُ التَّوَاضُعَ الْمَحْمُودَ عَلَى الْجِهَاتِ كُلِّهَا

Maka orang yang berakal harus menjauhi tawadhu yang tercela dalam segala kondisi, dan tidak meninggalkan tawadhu yang terpuji dari segala sisi, (Raudhatul 'Uqala karya Ibnu Hibban Al-Busti, hal: 59).

الْوَسَائِلُ الْمُعِينَةُ عَلَى اكْتِسَابِ التَّوَاضُعِ

SARANA MELATIH AKHLAK TAWADHU

تَقْوَى اللَّهِ

1 – Bertakwa kepada Allah.

عَامِلِ النَّاسَ بِمَا تُحِبُّ أَنْ يُعَامِلُوكَ بِهِ

2 – Perlakukan orang lain sebagaimana Anda ingin mereka memperlakukan Anda.

التَّفَكُّرُ فِي أَصْلِ الْإِنْسَانِ

3 – Merenungkan asal-usul penciptaan manusia.

مَعْرِفَةُ الْإِنْسَانِ قَدْرَهُ

4 – Kesadaran seseorang akan kadar (kemampuan dan batasan) dirinya.

تَذَكُّرُ الْأَمْرَاضِ وَالْأَوْجَاعِ وَالْمَصَائِبِ

5 – Mengingat penyakit, rasa sakit, dan berbagai musibah.

تَطْهِيرُ الْقَلْبِ

6 – Menyucikan hati (dari penyakit-penyakit hati).

أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ التَّوَاضُعَ مِنْ أَخْلَاقِ الْأَنْبِيَاءِ وَالصَّالِحِينَ، فَيَجْتَهِدَ فِي الِاقْتِدَاءِ بِهِمْ

7 – Menyadari bahwa tawaduk adalah bagian dari akhlak para Nabi dan orang-orang saleh, sehingga seseorang akan bersungguh-sungguh dalam meneladani mereka.

صُوَرُ التَّواضُعِ

GAMBARAN AKHLAK TAWADUK

Pembaca rahimakumullah, berikut adalah beberapa gambaran dalam penerapan akhlak tawaduk:

تَوَاضُعُ الْإِنْسَانِ فِي نَفْسِهِ، وَيَكُونُ ذَلِكَ بِأَلَّا يَظُنَّ أَنَّهُ أَعْلَمُ مِنْ غَيْرِهِ، أَوْ أَتْقَى مِنْ غَيْرِهِ، أَوْ أَكْثَرُ وَرَعًا مِنْ غَيْرِهِ، أَوْ أَكْثَرُ خَشْيَةً لِلَّهِ مِنْ غَيْرِهِ، أَوْ يَظُنُّ أَنَّ هُنَاكَ مَنْ هُوَ شَرٌّ مِنْهُ، وَلَا يَظُنَّ أَنَّهُ قَدْ أَخَذَ صَكًّا بِالْغُفْرَانِ، وَآخَرَ بِدُخُولِ الْجَنَّةِ.

1 – TAWADHUNYA SESEORANG TERHADAP DIRINYA SENDIRI, yaitu dengan cara tidak merasa bahwa ia lebih berilmu, lebih bertakwa, lebih warak, atau lebih takut kepada Allah dibandingkan orang lain. Ia juga tidak menganggap orang lain lebih buruk darinya, serta tidak merasa telah mengantongi jaminan pengampunan dosa maupun jaminan masuk surga.

التَّوَاضُعُ فِي التَّعَلُّمِ

2  - Tawadhu dalam menuntut ilmu;

Abdullah bin al-Mu'tazz berkata:

الْمُتَوَاضِعُ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ أَكْثَرُهُمْ عِلْمًا، كَمَا أَنَّ الْمَكَانَ الْمُنْخَفِضَ أَكْثَرُ الْبِقَاعِ مَاءً

Orang yang rendah hati dalam mencari ilmu adalah orang yang paling banyak ilmunya, sebagaimana daerah yang rendah merupakan tempat yang paling banyak menampung air."

التَّوَاضُعُ مَعَ النَّاسِ

3 - Tawadhu dalam berinteraksi dengan sesama

فَالْمُسْلِمُ يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَدْعُوهُمْ إِلَى الْخَيْرِ، وَإِلَى الْأَخْلَاقِ الْإِسْلَامِيَّةِ، وَمِنْ طَبِيعَةِ النَّاسِ أَنَّهُمْ لَا يَقْبَلُونَ قَوْلَ مَنْ يُعَظِّمُ نَفْسَهُ وَيَحْقِرُهُمْ، وَيَرْفَعُ نَفْسَهُ وَيَضَعُهُمْ

Seorang muslim bergaul dengan masyarakat dan menyeru mereka kepada kebaikan serta akhlak Islam. Sudah menjadi tabiat manusia untuk menolak ucapan orang yang menyombongkan diri sambil meremehkan mereka, atau meninggikan dirinya sendiri sambil merendahkan orang lain.

Allah Ta'ala berfirman:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas, (QS. Al-Kahfi: 28).

التَّوَاضُعُ مَعَ الْأَقْرَانِ، وَمِنَ التَّوَاضُعِ: تَوَاضُعُ الْمُسْلِمِ مَعَ قَرِينِهِ؛ وَذَلِكَ لِأَنَّهُ كَثِيرًا مَا تَشْتَعِلُ الْمُنَافَسَةُ وَيَقَعُ التَّحَاسُدُ بَيْنَهُمَا

4 - Tawadhu terhadap rekan sejawat; di antara bentuk rendah hati adalah sikap seorang muslim terhadap kawan sederajatnya. Hal ini penting karena sering kali persaingan berkobar dan rasa iri hati muncul di antara sesama rekan sejawat.

تَوَاضُعُ الْإِنْسَانِ مَعَ مَنْ هُوَ دُونَهُ، مِنَ التَّوَاضُعِ: التَّوَاضُعُ مَعَ مَنْ هُوَ أَقَلُّ مِنْكَ، بَلْ لَا يُتَصَوَّرُ التَّوَاضُعُ إِلَّا مَعَ مَنْ هُوَ دُونَكَ

5 – Tawadhu terhadap orang yang berada di bawahnya; termasuk rendah hati adalah bersikap tawadhu kepada orang yang tingkatannya (sosial, ekonomi, atau ilmu) di bawah Anda. Bahkan, hakikat tawadhu justru paling tampak saat seseorang berhadapan dengan orang yang statusnya lebih rendah darinya.

تَوَاضُعُ صَاحِبِ الْمَالِ، فَإِنَّ مَنْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ بِالْمَالِ وَالْجَاهِ، وَالْقُوَّةِ وَالنُّفُوذِ، أَحْوَجُ الْخَلْقِ إِلَى خُلُقِ التَّوَاضُعِ؛ لِأَنَّ هَذِهِ النِّعَمَ مَدْعَاةٌ إِلَى الْكِبْرِ وَالْفَخْرِ.

6 – Tawaduknya pemilik harta; orang-orang yang dikaruniai Allah harta, kedudukan, kekuatan, dan pengaruh adalah manusia yang paling butuh pada sifat tawadhu. Hal ini dikarenakan segala kenikmatan tersebut sering kali menjadi pemicu munculnya kesombongan dan sikap membanggakan diri.

تَوَاضُعُ الْقَائِدِ لِمَنْ تَحْتَ إِمْرَتِهِ، الْقَائِدُ النَّاجِحُ هُوَ الَّذِي يَخْفِضُ جَنَاحَهُ لِلْأَفْرَادِ الَّذِينَ تَحْتَ إِمْرَتِهِ؛ لِأَنَّهُ كُلَّمَا تَوَاضَعَ لَهُمْ وَخَفَضَ لَهُمْ جَنَاحَهُ كَانَ أَقْرَبَ إِلَى نُفُوسِهِمْ، وَكَانَ أَمْرُهُ لَهُمْ مُحَبَّبًا إِلَيْهِمْ، فَهُمْ يُطِيعُونَهُ عَنْ حُبٍّ وَإِخْلَاصٍ

7 – Tawadhunya seorang pemimpin terhadap bawahannya; pemimpin yang sukses adalah dia yang merendahkan hati kepada orang-orang yang dipimpinnya. Semakin ia bersikap lembut dan rendah hati, maka ia akan semakin dekat di hati mereka dan setiap perintahnya akan diterima dengan senang hati, sehingga mereka menaatinya atas dasar cinta dan keikhlasan.

Allah Ta'ala berfirman:

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman yang mengikutimu." (QS. Ash-Shu'ara: 215).

قَبُولُ الْحَقِّ وَالِانْقِيَادُ لَهُ

8 – Menerima kebenaran dan tunduk kepadanya;

Ketika Al-Fudhayl ditanya mengenai tawadhu, beliau menjawab:

يَخْضَعُ لِلْحَقِّ، وَيَنْقَادُ لَهُ، وَيَقْبَلُهُ مِمَّنْ قَالَهُ

Yaitu engkau tunduk pada kebenaran, patuh kepadanya, dan menerimanya dari siapa pun yang mengucapkannya. Wallahua’lam

Karangasem, 7 Januari 2026

Irfan Nugroho (Pengelola situs Mukminun.com dan channel YouTube Mukminun TV)

CATATAN KAKI [1] Imam Al-Baghawi menafsirkan Ibadurrahman dengan:

أَفَاضِلُ الْعِبَادِ

Yaitu hamba-hamba yang paling utama.

[2] Imam Baghawi menafsirkan Haunan dengan:

بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ مُتَوَاضِعِينَ غَيْرَ أَشِرِينَ وَلَا مَرِحِينَ، وَلَا مُتَكَبِّرِينَ.

(Mereka berjalan) dengan penuh ketenangan dan kewibawaan dalam keadaan rendah hati; tidak angkuh, tidak berlebih-lebihan dalam kegembiraan (yang melampaui batas), dan tidak pula menyombongkan diri.

[3] Kata اِخْفِضْ berasal dari kata خَفَضَ يَخْفِضُ yang artinya, “rendahkanlah, turunkanlah.” [4] Imam Al-Qurtubi menafsirkan وَاخْفِضْ جَناحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ dengan:

أَلِنْ جَانِبَكَ لِمَنْ آمَنَ بِكَ وَتَوَاضَعْ لَهُمْ

Bersikap lembutlah kepada orang-orang yang beriman kepadamu dan bersikap rendah hatilah terhadap mereka.

[5] Tertulis di dalam Mushaf Tadabu wa Amal tentang ayat ini:

لَا نَجَاحَ لِلدَّاعِيَةِ إِلَّا بِالْحِلْمِ، وَالتَّوَاضُعِ، وَلِينِ الْجَانِبِ

Tidak ada keberhasilan bagi seorang pendakwah kecuali dengan sifat santun, rendah hati, dan sikap yang lemah lembut.

[6] Contoh penerapan ayat ini adalah sebagaimana yang tertulis di dalam Mushaf Tadabur wa Amal:

ابْتَسِمْ لِزُمَلَائِكَ وَإِخْوَانِكَ وَأَلْقِ السَّلَامَ عَلَيْهِمْ؛ فَهَذَا مِنَ التَّرَاحُمِ

Tersenyumlah kepada rekan-rekan serta saudara-saudaramu dan ucapkanlah salam kepada mereka; karena hal itu merupakan bagian dari sikap saling berkasih sayang.

[7] Tertulis di dalam Mausuatul Haditsiyah Dorar Saniyah:

رَفَعَهُ اللَّهُ تَعَالَى فِي الدُّنْيَا، أَوْ رَفَعَهُ فِي الْآخِرَةِ، أَوْ فِيهِمَا مَعًا

Allah akan mengangkat derajat orang yang tawaduk karena Allah di dunia, atau mengangkatnya di akhirat, atau di keduanya sekaligus.

Post a Comment for "MAUSUATUL AKHLAK: TAWADHU"