zmedia

Tafsir Ibnu Katsir QS An-Nisa 1 oleh Syaikh Wahid Abdussalam Bali

Pembaca yang semoga dirahmati Allah ta’ala, berikut adalah transkrip dari ceramah Syaikh Wahid Abdussalam Bali hafizahullah tentang Tafsir Ibnu Katsir QS An-Nisa ayat 1 yang diadakan di laman Facebook beliau pada 18 September 2025. Semoga bermanfaat!

PEMBUKAAN

Syaikh Wahid Abdussalam Bali: Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam. Salawat dan salam semoga tercurah kepada hamba dan utusan-Nya, Muhammad, serta kepada keluarga dan para sahabatnya.

Selamat datang, wahai para kekasih yang mulia, pada majelis baru ini, yaitu majelis tafsir. Ini adalah majelis tafsir ayat pertama dari Surah An-Nisa.

Wahai para kekasih yang mulia, saat ini kalian berada di majelis ilmu, zikir, dan ibadah. Para malaikat mengelilingi kalian, rahmat menyelimuti kalian, ketenangan turun kepada kalian, dan Allah mengingat kalian di sisi-Nya. Jangan lupakan salawat dan salam kepada Rasulullah ﷺ saat namanya disebut, dan hadirkanlah niat untuk mengamalkan apa yang kalian dengar dari firman Allah dan sabda Rasul-Nya ﷺ.

Merupakan karunia Allah kepada kita semua bahwa kita memulai hari kita dengan berkumpul dalam majelis ilmu dan zikir. Kita memulai hari kita dengan mengenal Tuhan kita, Yang Mahasuci lagi Mahatinggi, melalui pelajaran-pelajaran ilmu, hadis, fikih, dan tafsir.

Kita memohon kepada Allah Yang Mahamulia lagi Mahaagung untuk menganugerahkan kepada kita semua kejujuran dan keikhlasan dalam perkataan dan perbuatan. Mari kita mulai dengan memohon pertolongan dan bertawakal kepada Allah.

Alhamdulillah, salawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah ﷺ. Semoga Allah membalas kebaikanmu, wahai Syaikh yang diberkahi, menjadikanmu bermanfaat, dan menambahkan taufik serta bimbingan bagimu.

TAFSIR IBNU KATSIR

Syaikh Wahid Abdussalam Bali: Ibnu Katsir rahimahullah berkata: Bismillahirahmanirahim. Surah An-Nisa.

Ibnu Abbas berkata, “Surah An-Nisa turun di Madinah.” Demikian juga yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardawaih dari Abdullah bin Az-Zubair dan Zaid bin Tsabit.

Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud yang berkata, “Sungguh, dalam Surah An-Nisa terdapat lima ayat yang aku tidak akan menukarnya dengan dunia seisinya, yaitu:
  1. Firman Allah, “Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun seberat zarrah.” (QS An-Nisa: 40)
  2. Firman-Nya, “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya.” (QS An-Nisa: 31)
  3. Firman-Nya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa di bawah itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS An-Nisa: 48)
  4. Firman-Nya, “Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh telah menzalimi diri mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu (Muhammad).” (QS An-Nisa: 64)
  5. Firman-Nya, “Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan atau menganiaya dirinya sendiri, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nisa: 110)
Kemudian Al-Hakim berkata, "Sanad hadis ini sahih, jika Abdurrahman mendengarnya dari ayahnya, tetapi hal itu masih diperselisihkan." Al-Hakim juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang berkata, "Tanyakanlah kepadaku tentang Surah An-Nisa, karena aku membaca Al-Qur'an sejak aku masih kecil." Kemudian Al-Hakim berkata, "Hadis ini sahih sesuai syarat dua Syaikh (Al-Bukhari dan Muslim), tetapi mereka tidak meriwayatkannya."

AYAT PERTAMA SURAH AN-NISA

Syaikh Wahid Abdussalam Bali: Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَآءً ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا1 Artinya: Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, dan dari pada keduanya Dia mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS An-Nisa: 1) Allah Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bertakwa, yaitu beribadah kepada-Nya semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia mengingatkan mereka akan kekuasaan-Nya yang telah menciptakan mereka dari satu jiwa, yaitu Adam AS, dan dari jiwa itu Dia menciptakan pasangannya, yaitu Hawa AS, yang diciptakan dari tulang rusuknya yang paling kiri.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang berkata, "Wanita diciptakan dari pria, maka dibuatlah keinginan wanita pada pria. Sementara itu, pria diciptakan dari tanah, maka dibuatlah keinginannya pada tanah. Jadi, tahanlah wanita-wanita kalian."

Dalam hadis sahih disebutkan bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah bagian atasnya. Jika kamu mencoba meluruskannya, kamu akan mematahkannya. Namun, jika kamu menikmatinya, kamu akan menikmatinya dengan kebengkokannya.

Firman-Nya, "Dan dari pada keduanya Dia mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak," artinya Dia menyebarkan dari Adam dan Hawa laki-laki dan perempuan yang banyak, dan menyebarkan mereka di seluruh penjuru dunia dengan berbagai jenis, sifat, warna, dan bahasa yang berbeda. Kemudian, kepada-Nya-lah mereka akan kembali dan dikumpulkan.

Kemudian Allah Ta’ala berfirman, "Dan bertakwalah kepada Allah." Yaitu, bertakwalah kepada Allah dengan menaati-Nya. Ibrahim, Mujahid, dan Al-Hasan berkata, "Yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain," seperti perkataan "Aku memohon kepadamu demi Allah dan demi silaturahim." Adh-Dhahhak berkata, "Bertakwalah kepada Allah yang dengan-Nya kalian membuat janji dan kesepakatan."

"Dan (peliharalah) hubungan silaturahim," yaitu, bertakwalah agar tidak memutuskan tali silaturahim, tetapi berbuat baiklah dan sambunglah ia. Ini adalah pendapat Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, dan lainnya. Sebagian ulama membaca "wal-arhami" (dengan kasrah) sebagai 'athf (kata sambung) dari dammah pada kata "bih," yang berarti "kalian saling meminta demi Allah dan demi silaturahim," seperti yang dikatakan oleh Mujahid dan lainnya.

Firman-Nya, "Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu," artinya Allah mengawasi semua perbuatan dan keadaan kalian. Sebagaimana firman-Nya, "Dan Allah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu." (QS Al-Hajj: 17)

Dalam hadis sahih disebutkan, "Beribadahlah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak dapat melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu." (HR Al-Bukhari: 50, Muslim: 8). Ini adalah bimbingan dan perintah untuk merasa diawasi oleh Sang Maha Pengawas.

Oleh karena itu, Allah Ta’ala menyebutkan bahwa asal penciptaan semua makhluk adalah dari satu ayah dan satu ibu, agar mereka saling berbelas kasih satu sama lain dan menyayangi yang lemah di antara mereka.

Telah tetap dalam Sahih Muslim, dari hadis Jarir bin Abdullah Al-Bajali RA, bahwa ketika sekelompok orang datang kepada Rasulullah ﷺ dengan pakaian compang-camping karena kemiskinan mereka, beliau berdiri dan berkhotbah kepada orang-orang setelah salat Zuhur. Dalam khotbahnya, beliau berkata: "Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari satu jiwa..." hingga beliau menyelesaikan ayat tersebut. Dan beliau juga berkata: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok." (QS Al-Hasyr: 18) Kemudian beliau menganjurkan untuk bersedekah, seraya bersabda: "Hendaklah seseorang bersedekah dari dinarnya, dari dirhamnya, dari satu sha' gandumnya, dari satu sha' kurmanya," dan beliau melanjutkan hadisnya.

MAKNA MENDALAM AYAT

Syaikh Wahid Abdussalam Bali: Semoga Allah memberkahimu, wahai Syaikh Rabia.

Ini adalah Surah An-Nisa, dan ini adalah ayat pertamanya. Ketika kamu merenungkan ayat pertama ini, kamu akan takjub dengan keindahan dan kefasihan Al-Qur'an, serta ilmu-ilmu yang terkandung di dalamnya. Ini adalah satu ayat saja, namun di dalamnya terdapat ilmu yang sangat banyak.

Di dalamnya ada ilmu raqa'iq (kelembutan hati) dalam firman-Nya, "Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu." Ada ilmu tauhid di ayat yang sama, "Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu." Ada ilmu sejarah dalam firman-Nya, "yang telah menciptakan kamu dari satu jiwa, dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, dan dari pada keduanya Dia mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak." Ada ilmu sosial (ilmu ijtima’) dalam firman-Nya, "Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim," yaitu, bertakwalah agar tidak memutus tali silaturahim. Dan di dalamnya ada bimbingan menuju kebahagiaan abadi dengan merasa diawasi oleh Allah, Sang Maha Pengawas. "Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu."

SERUAN ALLAH DAN PENTINGNYA TAKWA

Syaikh Wahid Abdussalam Bali: Mari kita renungkan ayat yang mulia ini. "Hai sekalian manusia," adalah seruan untuk seluruh manusia. Seruan dalam Al-Qur'an ada yang bersifat umum dan ada yang khusus. Terkadang Al-Qur'an mengatakan, "Hai sekalian manusia," ini adalah seruan umum. Terkadang pula, Al-Qur'an mengkhususkan kelompok tertentu, seperti seruan kepada orang-orang beriman, "Hai orang-orang yang beriman." Terkadang mengkhususkan Yahudi dan Nasrani dengan "Hai Ahli Kitab." Dan terkadang mengkhususkan orang-orang kafir yang menyembah berhala. Sungguh menakjubkan, ketika Al-Qur'an menyebut "orang-orang yang diberi ilmu," yang dimaksud adalah Yahudi dan Nasrani, karena Allah memberi mereka ilmu dalam Taurat dan Injil. Dan jika disebutkan "orang-orang yang tidak mengetahui," yang dimaksud adalah para penyembah berhala, kafir Quraisy, dan lainnya, karena mereka tidak memiliki ilmu. Firman Allah, "Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata, ‘Mengapa Allah tidak berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kepada kami?’" (QS Al-Baqarah: 118). Ini adalah ucapan orang-orang kafir Quraisy, mereka disebut sebagai "orang-orang yang tidak mengetahui" karena mereka sama sekali tidak memiliki ilmu tentang kitab-kitab terdahulu. Mereka hanya mengandalkan akal dan apa yang mereka warisi dari nenek moyang mereka dalam menyembah berhala dan patung. Seruan di sini, "Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu," ditujukan kepada seluruh manusia. Ketika Sang Pencipta memanggil makhluk-Nya, maka hendaknya makhluk itu tahu bahwa Penciptanya menginginkan kebahagiaannya. Jadi, wahai siapa pun dari manusia yang ingin bahagia di dunia dan akhirat, bertakwalah kepada Allah. Takwa adalah menjadikan antara dirimu dan azab Allah sebagai pelindung. Kamu takut kepada Allah, Yang Mahasuci lagi Mahatinggi. Dengan takwa ini, kamu akan tercegah dari maksiat dan bersegera melakukan ketaatan.

ALLAH SEBAGAI RABB

Syaikh Wahid Abdussalam Bali: "Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu," dan tidak dikatakan "Bertakwalah kepada Allah." Kenapa? Karena Rabb adalah Yang Memelihara, Yang Menciptakan, dan Yang Memberi nikmat, Mahasuci Dia. Dan di sini, kata "Tuhanmu" sangatlah sesuai karena Allah menyebutkan awal penciptaan. "Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari satu jiwa." Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb yang telah memelihara kalian dengan nikmat-Nya, Mahasuci Dia. Maka, Dia-lah yang paling berhak untuk disembah sendirian tanpa ada sekutu, dan yang paling berhak untuk kalian takuti dan diawasi. Dia-lah yang paling berhak untuk kalian lakukan perintah-Nya dan kalian jauhi larangan-Nya. "Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari satu jiwa." Tuhan kita mengingatkan kita bahwa orang kaya dan miskin, yang kuat dan lemah, raja dan rakyat jelata, semuanya diciptakan dari satu jiwa, yaitu Adam AS. Maka, tidak boleh seorang pun sombong kepada yang lain. Kita semua berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah. Oleh karena itu, kita harus rendah hati, khusyuk, tunduk, dan merendahkan diri kepada Sang Pencipta, Mahasuci Dia, yang telah menciptakan kita dari jiwa ini, yaitu Adam. "Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari satu jiwa," yaitu satu jiwa saja. Semua manusia yang ada di bumi sekarang, dan yang akan datang, berasal dari satu jiwa. Ini menunjukkan keagungan Sang Pencipta, Mahasuci Dia. Allah, Yang Mahamulia lagi Mahaagung, tidak menciptakan semua manusia sekaligus, misalnya 100 miliar manusia sekaligus, meskipun Dia mampu melakukannya. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Akan tetapi, Allah menciptakan satu jiwa, kemudian dari jiwa itu Dia menciptakan pasangannya, yaitu Hawa. Lalu, Dia menentukan agar mereka melahirkan generasi, dan generasi itu melahirkan generasi, dan seterusnya, generasi demi generasi, karena hikmah yang agung yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala. Ini juga untuk mengingatkan manusia akan sejarah orang-orang terdahulu, agar mereka mengambil pelajaran. Barang siapa yang beriman kepada Allah akan bahagia, dan barang siapa yang kafir kepada Allah akan celaka di dunia dan akhirat. Generasi demi generasi berlalu, sejarah tercatat, dan pengalaman-pengalaman harus kita ambil manfaatnya.

SIFAT WANITA DAN ILMU SOSIAL

Syaikh Wahid Abdussalam Bali: "Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari satu jiwa dan dari padanya Dia menciptakan isterinya." Nabi ﷺ mengisyaratkan bahwa wanita secara umum memiliki sifat-sifat tertentu. Siapa yang memahami sifat-sifat ini akan mampu berinteraksi dengan istrinya dan merebut hatinya. Siapa yang tidak memahami sifat-sifat ini tidak akan mampu memimpin kehidupan rumah tangga. Nabi ﷺ menempatkan fondasi ilmu sosial, yaitu cara berinteraksi dengan manusia sesuai dengan strata mereka. Interaksi dengan istri berbeda dengan interaksi dengan anak, dengan tetangga, dengan teman, dan dengan kerabat. Setiap hubungan memiliki cara interaksinya sendiri. Beliau bersabda: "Wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah bagian atasnya. Jika kamu mencoba meluruskannya, kamu akan mematahkannya. Dan jika kamu menikmatinya, kamu akan menikmatinya dengan kebengkokannya." (HR Muslim: 1468)

Jika seorang suami memahami makna hadis ini dengan baik, dan menerapkan perintah-perintah kenabian serta ilmu yang terkandung di dalamnya, niscaya ia akan berhasil memimpin rumah tangga dan bahagia bersama istri dan anak-anaknya.

Sebagian orang ingin memperlakukan istrinya seperti pria. Jika itu terjadi, kehidupan rumah tangganya akan gagal. Wanita adalah wanita, dengan sifat-sifat wanita, seperti sifat mudah lupa, lemah, dan bengkok.

Kebengkokan di sini, pada bagian tulang rusuk yang paling atas, ada yang menafsirkan bahwa itu adalah kepalanya, artinya terkadang otak dan pemikirannya lemah, sehingga ia berpikir dengan perasaannya. Ia bisa berkata, "Ceraikan aku! Ceraikan aku!" dalam sebuah situasi. Jika sang suami menganggapnya seperti pria dan menganggap perkataan itu sungguh-sungguh, maka ia akan berkata, "Kamu kuceraikan," dan selesai.

Namun, jika sang suami menggunakan akalnya sebagai seorang pria, dan memahami bahwa wanita ini memiliki gejolak emosi yang terkadang menguasainya, sehingga ia melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak ia inginkan, seperti meminta cerai padahal ia tidak mau bercerai. Setelah ia tenang, sehari atau dua hari kemudian, ia akan menyesal telah mengucapkan kata-kata itu.

Saya ingat seorang wanita menelepon suaminya, yang sedang bersama teman-temannya, dan berkata, "Ceraikan aku, ceraikan aku!" Sang suami berkata, "Bagaimana bisa, lewat telepon?" Ia bersikeras, "Ceraikan aku sekarang! Kalau tidak, ceraikan aku!" Sang suami berkata, "Kamu tahu ini talak ketiga." "Kamu harus menceraikan aku, kamu harus menceraikan aku!" desaknya. Sang suami mencoba menenangkannya, tetapi ia terus memaksa, "Ambil teleponmu dan keluar, jauh dari mereka, lalu katakan 'Kamu kuceraikan' agar aku merasa lega." Sang suami berusaha menenangkannya, tetapi ia terus mendesak. Akhirnya ia keluar dan berkata, "Kamu kuceraikan." Wanita itu yang menelepon saya dan meminta fatwa. Ia berkata, "Apakah itu dianggap talak? Aku yang menekannya, aku yang memaksanya." Lihatlah, ia yang sangat mendesak, kini ia yang mencari solusi.

Seorang pria lain menelepon dan berkata bahwa istrinya meminta cerai, lalu ia pun menceraikannya. Istrinya malah menyalahkannya, "Kenapa kamu menuruti ucapanku? Seharusnya kamu memukulku, bukan mengucapkan talak," setelah ia sadar.

Oleh karena itu, penting untuk memahami sifat alami wanita. Jika ia berkata, "Ceraikan aku," padahal ia mencintaimu, itu karena emosinya terkadang menguasainya. Pada saat-saat itu, wanita berada dalam kondisi terlemahnya. Maka, sang pria harus memahami dan memberinya kesempatan untuk tenang. Jangan ajak bicara sekarang, biarkan ia, lalu keluar. Karena jika kamu tetap bersamanya, ia mungkin mengucapkan kata-kata yang menyakitimu, sehingga kamu mengucapkan talak. Oleh karena itu, Ali bin Abi Thalib RA, ketika membuat Fatimah RA marah, ia meninggalkannya dan pergi ke masjid lalu tidur di sana. Nabi ﷺ datang dan bertanya, "Di mana sepupumu?" Fatimah menjawab, "Ia marah padaku dan pergi ke masjid." Nabi ﷺ pun mendatanginya, dan mendapatinya sedang tidur di masjid, di atas tanah. Ada debu di tubuhnya. Nabi ﷺ berkata, "Bangunlah, wahai Abu Turab! Bangunlah, wahai Abu Turab!" Ali menyukai panggilan itu dari Nabi ﷺ. Intinya, jika terjadi masalah dan ketegangan dengan istrimu, lakukan salah satu dari dua hal:
  1. Katakan padanya untuk tenang, "Kita akan bicara nanti sore, atau besok, atau satu jam lagi."
  2. Jika kemarahannya memuncak, tinggalkan ia dan pergi ke kamar lain.
  3. Atau, mintalah izin darinya dan pergi keluar. Katakan, "Nanti saja kita bicarakan setelah aku kembali."
Ini agar ia bisa tenang. Jangan mencoba membuka masalah atau menyelesaikannya atau berdiskusi dengannya ketika ia sedang sangat marah, karena saat itu ia berada pada puncak kelemahannya. Dan manusia, baik pria maupun wanita, jika sedang marah, pintu berpikirnya tertutup, akalnya melemah, dan pemikirannya berkurang. Terlebih lagi wanita, yang akalnya lebih rendah dari pria, pemikirannya akan sangat melemah sehingga ia akan melakukan kesalahan.

Keputusan yang kalian ambil saat ini tidak hanya berdampak pada kalian berdua, tetapi juga pada seluruh keluarga. Ia akan mendesakmu untuk menceraikannya, dan kamu akan menceraikannya. Kalian punya anak laki-laki dan perempuan. Ketika mereka besar dan ingin menikah, orang-orang akan bertanya tentang mereka. Jika mereka mengetahui bahwa ayahnya menceraikan ibunya, mereka akan berkata, "Ini keluarga yang berantakan, cari keluarga lain." Jika seorang pria ingin menikahi anak perempuanmu, ia akan bertanya tentangnya, dan jika ia mengetahui ayahnya menceraikan ibunya, ia akan berkata, "Ini keluarga yang berantakan."

Jadi, kamu mengambil keputusan talak, sebuah keputusan yang akan memengaruhi masa depanmu, masa depan istrimu, masa depan anak laki-lakimu, dan masa depan anak perempuanmu. Maka, kamu harus bijaksana, berpikir, dan meminta petunjuk dari Allah berulang kali. Nabi ﷺ bersabda, "Wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah bagian atasnya." Sebagian ulama mengatakan maksudnya adalah kepalanya, sementara yang lain mengatakan lisannya. Artinya, ia mengucapkan kata-kata yang tidak ia inginkan, hanya dalam keadaan marah.

Maka, jangan ambil hati semua ucapannya, terutama saat ia marah. Jika kamu mencoba meluruskannya agar lurus seperti pria, dalam akalnya atau akhlaknya atau segalanya, maka kamu akan mematahkannya. Dalam riwayat lain, "Mematahkannya adalah menceraikannya." Artinya, kehidupan akan berakhir.

"Dan jika kamu menikmatinya, kamu akan menikmatinya dengan kebengkokannya." Artinya, kamu akan menerima sebagian kesalahannya. Para sosiolog berkata, "Lihatlah anakmu, ketika kamu membuatnya marah, ia menangis, lalu kamu datang memberinya hadiah, ia akan senang dan melupakan segalanya, bahkan jika kamu memukulnya." Tentu saja kita tidak menganjurkan kekerasan dalam pendidikan, pendidikan dengan targhib (dorongan) dan tarhib (peringatan) lebih baik. Tetapi, jika kamu bersikap keras padanya dan ia menangis, lalu kamu mendamaikannya, ia akan melupakan semua kesedihan itu.

Demikian juga wanita, jika kamu bersikap lembut kepadanya, menggunakan kata-kata yang baik, dan berinteraksi dengan baik, ia akan melupakan kesedihan yang terjadi. Maka, kamu harus bijaksana dalam berinteraksi dengan istrimu, dan kamu juga harus bijaksana dalam berinteraksi dengan suamimu.

Allah berfirman: "Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, 'Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang paling baik.' Sesungguhnya setan menimbulkan permusuhan di antara mereka." (QS Al-Isra: 53). Artinya, kamu memilih kata-kata terbaik saat berbicara dengan istrimu dan dengan semua orang. Dan kamu, wahai wanita, pilihlah kata-kata terbaik saat berbicara dengan suamimu, agar setan tidak ikut campur di antara kalian.

PENUTUP DAN IJAZAH

Syaikh Wahid Abdussalam Bali: "Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari satu jiwa, dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, dan dari pada keduanya Dia mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak." Ini adalah bagian dari keagungan Allah, Mahasuci Dia, yang menciptakan seluruh umat manusia ini dari seorang pria dan seorang wanita. "Dan bertakwalah kepada Allah," Allah mengulang perintah takwa lagi. "Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu" dan di sini "Dan bertakwalah kepada Allah," karena pentingnya takwa dan karena manusia membutuhkan orang yang selalu mengingatkannya untuk bertakwa kepada Allah, bertakwa kepada Allah. Karena jiwa manusia itu mudah lupa. "Dan bertakwalah kepada Allah," takutlah kepada Allah dan awasi Dia. "yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain," kamu berkata, "Demi Allah, lakukanlah ini," atau "Demi Allah, lakukanlah itu," maka kamu harus bertakwa kepada Allah. "dan (peliharalah) hubungan silaturahim," yaitu, bertakwalah agar tidak memutusnya. Dalam Sahih Muslim, Nabi ﷺ bersabda: "Barang siapa yang menyambung tali silaturahimnya, Allah akan menyambungnya. Dan barang siapa yang memutuskannya, Allah akan memutuskannya." (HR Muslim: 2557) Nabi ﷺ juga menjelaskan bahwa siapa yang menyambung tali silaturahim, Allah akan memberinya dua hadiah: umur panjang dan kelapangan rezeki. Beliau bersabda: "Barang siapa yang suka agar rezekinya dilapangkan dan umurnya dipanjangkan, hendaklah ia menyambung tali silaturahimnya." (HR Al-Bukhari: 5985, Muslim: 2557) Kemudian Allah berfirman, "Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." Artinya, Allah senantiasa mengawasi ucapan dan perbuatan kalian. Jika kamu menyadari bahwa Allah mengawasimu, kamu tidak akan pernah bermaksiat kepada-Nya. Jika jiwamu mengalahkanmu dan kamu bermaksiat, kamu akan segera bertaubat dan menyesal, maka Allah akan mengampunimu. Seperti firman-Nya: "Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan atau menganiaya dirinya sendiri, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS An-Nisa: 110)

Artinya, siapa pun yang menzalimi dirinya dengan melakukan maksiat atau berbuat keburukan, lalu segera menyesal, bertaubat, dan memohon ampun, ia akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Allah langsung mengampuninya, karena Allah Maha Penyayang kepada kita.

"Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." Kita berhenti sampai di sini, wahai para kekasih yang mulia. Sebagai penutup, faqir kepada ampunan Tuhanku, Wahid bin Abdussalam Bali, telah memberikan ijazah khusus kepada kalian semua dengan tafsir Ibnu Katsir rahimahullah dan ijazah umum dengan semua yang riwayatnya sahih. Aku juga memberikan ijazah kepada kalian untuk meriwayatkan semua karya tulisku dariku.

Salawat dan salam semoga tercurah kepada Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya. Bagi siapa yang ingin bergabung dengan kami di Telegram melalui "Masalah dan Solusi," silakan. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Demikian transkrip ceramah Tafsir Ibnu Katsir QS An-Nisa ayat 1 dari Syaikh Wahid Abdussalam Bali. Semoga bermanfaat. Baarakallahu fiikum

Karangasem, 20 September 2025

Irfan Nugroho (Pengelola situs Mukminun.com dan channel YouTube: Mukminun TV)

Post a Comment for "Tafsir Ibnu Katsir QS An-Nisa 1 oleh Syaikh Wahid Abdussalam Bali"