Pembaca rahimakumullah, apa saja adab takziyah seorang muslim ketika saudaranya meninggal dunia? Berikut adalah terjemahan dari Sahihul Adab Al-Islamiyah karya Syaikh Wahid Abdussalam Bali hafizahullah. Semoga bermanfaat!
آدَابُ التَّعْزِيَةِADAB-ADAB TAKZIAH
اَلتَّلَفُّظُ بِالْمَأْثُورِ مَا أَمْكَنَ 1 – MENGUCAPKAN KALIMAT YANG MA'TSUR (BERASAL DARI DALIL) SEBISA MUNGKINImam Muslim meriwayatkan dari Ummu Salamah Radhiyallahu Anhuma yang berkata:
دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَبِي سَلَمَةَ وَقَدْ شَقَّ بَصَرُهُ فَأَغْمَضَهُ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الرُّوحَ إِذَا قُبِضَ تَبِعَهُ الْبَصَرُ
Rasulullah ﷺ masuk menemui Abu Salamah, yang saat itu matanya terbelalak (karena meninggal dunia). Lalu Rasulullah ﷺ memejamkan matanya seraya bersabda, "Sesungguhnya roh apabila dicabut, pandangan mata akan mengikutinya."
فَضَجَّ نَاسٌ مِنْ أَهْلِهِ فَقَالَ لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِلَّا بِخَيْرٍ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ
Maka beberapa orang dari keluarganya (Abu Salamah) meratap dengan suara keras. Rasulullah ﷺ bersabda, "Janganlah kalian berdoa untuk diri kalian kecuali dengan kebaikan, karena sesungguhnya para malaikat mengamini apa yang kalian katakan."
ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَبِي سَلَمَةَ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّينَ وَاخْلُفْهُ فِي عَقِبِهِ فِي الْغَابِرِينَ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ وَافْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ
Kemudian beliau berdoa, "Ya Allah, ampunilah Abu Salamah, angkatlah derajatnya di kalangan orang-orang yang mendapat petunjuk, gantikanlah dia dalam keluarganya di antara orang-orang yang masih hidup, ampunilah kami dan dia wahai Tuhan semesta alam, lapangkanlah kuburnya, dan terangilah dia di dalamnya," (Sahih Muslim: 920).
PENJELASANSabda Nabi (وَاخْلُفْهُ فِي عَقِبِهِ فِي الْغَابِرِينَ) atau yang artinya, “gantikanlah dia dalam keluarganya di antara orang-orang yang masih hidup,” maksudnya:
كُنْ خَلِيفَةً لَهُ فِي رِعَايَةِ أَمْرِهِ وَحِفْظِ مَصَالِحِ أَهْلِهِ وَأَوْلَادِهِ، فَلَا تَكِلْهُمْ إِلَى غَيْرِكَ.
Jadikanlah adanya seorang pengganti dalam mengurus urusannya dan menjaga kemaslahatan keluarga serta anak-anaknya, maka janganlah Engkau serahkan mereka kepada selain diriMu, (Mausuatul Haditsiyah Dorar Saniyah: 20149).
PELAJARANPelajaran yang dapat diambil:
مِنَ الْآدَابِ الَّتِي يَنْبَغِي فِعْلُهَا عِنْدَ الْمُحْتَضَرِ بَعْدَ مَوْتِهِ: تَغْمِيضُ عَيْنَيْهِ
1 – Termasuk adab yang hendaknya dilakukan pada orang yang sedang sakaratul maut setelah ia meninggal: memejamkan kedua matanya.
اِسْتِحْبَابُ الدُّعَاءِ بِالْخَيْرِ عِنْدَ الْمَيِّتِ
2 – Disunahkan (dianjurkan) berdoa dengan kebaikan di sisi mayit.
اَلْحَثُّ عَلَى التَّلَفُّظِ بِالْمَأْثُورِ بَعْدَ الْمَوْتِ
3 – Anjuran untuk mengucapkan kalimat-kalimat yang ma'tsur (berasal dari dalil) setelah kematian.
اِسْتِحْبَابُ الدُّعَاءِ لِلْمَيِّتِ عِنْدَ مَوْتِهِ وَلِأَهْلِهِ وَذُرِّيَّتِهِ بِأُمُورِ الْآخِرَةِ وَالدُّنْيَا
4 – Dianjurkan mendoakan mayit pada saat kematiannya, serta mendoakan keluarga dan keturunannya dengan kebaikan urusan akhirat dan dunia.
يَنْبَغِي أَنْ يُقَالَ بَعْدَ إِغْمَاضِ الْمَيِّتِ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِفُلَانٍ -وَيُسَمِّيهِ بِاسْمِهِ- وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ إِلَى آخِرِ مَا قَالَ النَّبِيُّ لِأَبِي سَلَمَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ
5 – Hendaknya mengucapkan doa berikut setelah memejamkan mata mayit: "Ya Allah, ampunilah si fulan (disebut namanya)", dan angkatlah derajatnya. Dan seterusnya, seperti yang diucapkan Nabi kepada Abu Salamah radhiyallahu 'anhu.
كَرَاهَةُ الدُّعَاءِ بِالشَّرِّ عِنْدَ الْمَيِّتِ
6 – Makruh berdoa dengan keburukan di sisi mayit.
تَقْرِيرُ مَبْدَأِ الْإِيمَانِ بِالْيَوْمِ الْآخِرِ
7 – Menegaskan prinsip keimanan pada Hari Akhir.
تَقْرِيرُ مَبْدَأِ الْإِيمَانِ بِعَذَابِ الْقَبْرِ وَنَعِيمِهِ
8 – Menegaskan prinsip keimanan pada azab dan nikmat kubur.
اَلْأَوْلَى عِنْدَ الدُّعَاءِ أَنْ يَبْدَأَ الدَّاعِي بِنَفْسِهِ أَوَّلًا ثُمَّ يَدْعُوَ لِمَنْ شَاءَ
9 – Lebih utama saat berdoa, hendaknya orang yang berdoa memulai untuk dirinya sendiri terlebih dahulu, baru kemudian mendoakan siapa pun yang ia kehendaki.
اَلْمَوْتُ لَيْسَ بِفَنَاءٍ وَلَا إِعْدَامٍ، وَإِنَّمَا هُوَ انْتِقَالٌ وَتَغَيُّرُ حَالٍ، وَإِعْدَامُ الْجَسَدِ دُونَ الرُّوحِ، إِلَّا مَا اسْتُثْنِيَ مِنْ عَجْبِ الذَّنَبِ
10 – Kematian bukanlah kebinasaan dan juga bukan ketiadaan, melainkan ia adalah perpindahan dan perubahan keadaan. Dan ketiadaan jasad tanpa ruh, kecuali tulang ekor yang dikecualikan.
اَلرُّوحُ جِسْمٌ لَطِيفٌ مُتَخَلِّلٌ فِي الْبَدَنِ وَتَذْهَبُ الْحَيَاةُ مِنَ الْجَسَدِ بِذَهَابِهَا، وَلَيْسَ عَرَضًا كَمَا زَعَمَهُ الْبَعْضُ
11 – Ruh adalah jasad yang lembut yang berada di dalam tubuh dan kehidupan meninggalkan jasad dengan perginya ruh, dan ruh bukanlah sifat (yang tidak berdiri sendiri) sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang.
لَعَلَّ الْحِكْمَةَ أَنْ لَا يَقْبُحَ مَنْظَرُهُ إِذَا تُرِكَ إِغْمَاضُهُ
12 – Boleh jadi hikmahnya adalah agar pemandangan wajah mayit tidak menjadi buruk jika tidak dipejamkan matanya.
اِسْتِحْبَابُ صُنْعِ الطَّعَامِ لِأَهْلِ الْمَيِّتِ2 – DIANJURKAN MEMBUATKAN MAKANAN UNTUK KELUARGA MAYIT
Imam Abu Dawud meriwayatkan dengan sanad yang hasan menurut Syaikh Al-Albani dari Abdullah bin Ja’far Radhyallahu Anhuma bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:اصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا فَإِنَّهُ قَدْ أَتَاهُمْ أَمْرٌ شَغَلَهُمْ
Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja'far, karena sungguh telah datang kepada mereka urusan yang menyibukkan mereka, (Sunan Abu Dawud: 3132).
PENJELASANSabda Nabi (اِصْنَعُوا لِأَهْلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا) atau yang artinya, “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far,” maksudnya:
أَعِدُّوا لَهُمْ وَوَفِّرُوا لَهُمُ الطَّعَامَ
Siapkanlah dan sediakanlah makanan untuk mereka.
Sabda Nabi (فَإِنَّهُ قَدْ جَاءَهُمْ مَا يَشْغَلُهُمْ), atau yang artinya, “karena sungguh telah datang kepada mereka urusan yang menyibukkan mereka,” maksudnya:
مَا يَحْدُثُ لَهُمْ مِنْ حُزْنٍ وَهَمٍّ وَغَمٍّ، وَتَعْزِيَةِ النَّاسِ لَهُمْ، وَنَحْوِ ذَلِكَ مِنْ أُمُورٍ
Apa yang menimpa mereka berupa kesedihan, kesusahan, dan kedukaan, serta takziahnya orang-orang kepada mereka, dan urusan-urusan lain yang serupa.
PELAJARANPelajaran yang bisa diambil dari hadis ini di antaranya:
يَنْبَغِي لِأَقَارِبِ الْمَيِّتِ أَنْ يُرْسِلُوا إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ طَعَامًا لِاشْتِغَالِهِمْ عَنْ أَنْفُسِهِمْ بِمَا هَمَّهُمْ مِنَ الْمُصِيبَةِ.
1 – Hendaknya kerabat mayit mengirimkan makanan kepada keluarga mayit agar mereka tidak disibukkan oleh kesedihan mereka karena musibah.
سَمَاحَةُ الْإِسْلَامِ وَعَظِيمُ دَعْوَتِهِ حَيْثُ يَدْعُو إِلَى تَوْطِينِ الْعَلَاقَاتِ بَيْنَ أَفْرَادِ الْمُجْتَمَعِ.
2 – Keluwesan Islam dan agungnya seruannya, di mana ia mendorong untuk mempererat hubungan antar anggota masyarakat.
اَلْمَسْحُ عَلَى رَأْسِ الْيَتِيمِ وَإِكْرَامُهُ3 – MENGUSAP KEPALA ANAK YATIM DAN MEMULIAKANNYA
Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari Abdullah bin Ja’far Radhiyallahu Anhuma yang berkata:لَوْ رَأَيْتَنِي وَقُثَمَ وَعُبَيْدَ اللَّهِ ابْنَيْ عَبَّاسٍ وَنَحْنُ صِبْيَانٌ نَلْعَبُ إِذْ مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى دَابَّةٍ فَقَالَ ارْفَعُوا هَذَا إِلَيَّ قَالَ فَحَمَلَنِي أَمَامَهُ
Andai engkau melihatku bersama Qutsam dan Ubaidullah, dua putra Abbas, saat kami masih anak-anak bermain, tiba-tiba Nabi ﷺ lewat dengan mengendarai hewan tunggangan. Beliau bersabda: 'Angkatlah anak ini kepadaku.' Maka beliau menempatkanku di depan beliau.
وَقَالَ لِقُثَمَ ارْفَعُوا هَذَا إِلَيَّ فَجَعَلَهُ وَرَاءَهُ وَكَانَ عُبَيْدُ اللَّهِ أَحَبَّ إِلَى عَبَّاسٍ مِنْ قُثَمَ فَمَا اسْتَحَى مِنْ عَمِّهِ أَنْ حَمَلَ قُثَمًا وَتَرَكَهُ
Kemudian beliau bersabda kepada Qutsam: 'Angkatlah anak ini kepadaku.' Lalu beliau menempatkannya di belakang beliau. Ubaidullah adalah anak yang lebih disayangi Abbas daripada Qutsam. Namun Nabi ﷺ tidak merasa sungkan kepada pamannya (Abbas) karena beliau menempatkan Qutsam (di tunggangannya) dan meninggalkannya.
قَالَ ثُمَّ مَسَحَ عَلَى رَأْسِي ثَلَاثًا وَقَالَ كُلَّمَا مَسَحَ اللَّهُمَّ اخْلُفْ جَعْفَرًا فِي وَلَدِهِ
Lalu, beliau mengusap kepalaku tiga kali, dan setiap kali mengusap beliau mengucapkan: 'Ya Allah, gantikanlah Ja'far pada keturunannya.'
قَالَ قُلْتُ لِعَبْدِ اللَّهِ مَا فَعَلَ قُثَمُ قَالَ اسْتُشْهِدَ قَالَ قُلْتُ اللَّهُ أَعْلَمُ بِالْخَيْرِ وَرَسُولُهُ بِالْخَيْرِ قَالَ أَجَلْ
Maka aku (Khalid bin Sarah – tabiin perawi hadis ini) bertanya kepada Abdullah (yaitu Abdullah bin Ja'far): 'Apa yang terjadi pada Qutsam?' Dia menjawab: 'Dia mati syahid.' Aku berkata: 'Allah dan Rasul-Nya Maha Mengetahui mana yang terbaik.' Ia menjawab: 'Benar,’ (Musnad Ahmad: 1760).
PELAJARANPelajaran yang bisa diambil dari hadis ini di antaranya:
عَظِيمُ رَحْمَةِ النَّبِيِّ بِالْأَطْفَالِ لَا سِيَمَا الْيَتَامَى مِنْهُمْ.
1 – Besarnya kasih sayang Nabi terhadap anak-anak, terutama para yatim di antara mereka.
اِسْتِحْبَابُ الْمَسْحِ عَلَى رَأْسِ الْيَتِيمِ.
2 – Dianjurkan untuk mengusap kepala anak yatim.
لَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنْ يَقُولَ لِمَنْ مَاتَ مُجَاهِدًا: اسْتُشْهِدَ فِي سَبِيلِ اللهِ.
3 – Tidak diperbolehkan bagi siapa pun untuk mengatakan "telah syahid di jalan Allah" bagi orang yang meninggal saat berjuang.
يَنْبَغِي لِلْعَالِمِ أَلَّا يَتَكَبَّرَ عَنِ الرُّجُوعِ إِلَى الصَّوَابِ إِنْ أَخْطَأَ فِي مَسْأَلَةٍ.
4 – Hendaknya seorang ulama tidak sombong untuk kembali kepada kebenaran jika dia keliru dalam suatu masalah.
مَشْرُوعِيَّةُ رُكُوبِ الدَّابَّةِ.
5 – Boleh menunggangi hewan.
مَشْرُوعِيَّةُ الِاسْتِعَانَةِ بِالْمَخْلُوقِ فِيمَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ.
6 – Boleh meminta pertolongan kepada makhluk dalam hal yang ia mampu. Wallahua’lam
Demikian 3 adab takziyah beserta hadis-hadis yang menjadi dalil atas setiap adab tersebut. Ini adalah terjemahan dari Sahihul Adab Al-Islamiyah karya Syaikh Wahid Abdussalam Bali, dengan pelajaran untuk setiap hadis kami terjemahkan dari Al-La’ali al-Bahiyatu karya Syaikh Khalid Mahmud Al-Juhani. Semoga bermanfaat!
Karangasem, 16 September 2025
Irfan Nugroho (Pengelola situs Mukminun.com dan channel YouTube: Mukminun TV)
Post a Comment for "Sahihul Adab: Adab Takziyah"