zmedia

Mausuatul Akhlak: Tagaful (Pura-pura tidak Tahu)

Pembaca rahimakumullah, Tagaful adalah seni untuk sengaja mengabaikan atau bersikap pura-pura tidak tahu terhadap kesalahan kecil orang lain. Konsep berharga ini, sebagaimana ringkasan terjemahan dari Mausu’ah Al-Akhlaq (Ensiklopedia Akhlak) milik Dorar Saniyah ini, sejatinya merupakan manifestasi dari sikap pemaaf dan berlapang dada yang sangat dianjurkan oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah. Dengan mempraktikkan at-taghaful, kita belajar untuk tidak terlalu mempermasalahkan hal-hal kecil, sehingga hati kita tetap jernih dan hubungan dengan sesama tetap terjaga.

التَّرْغِيْبُ فِي التَّغَافُلِ مِنَ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ

ANJURAN TAGAFUL DARI AL-QURAN

Allah ta’ala berfirman kepada NabiNya ﷺ:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Jadilah pemaaf, dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh, (QS Al-A’raf: 119).

Allah ta’ala juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Apakah seorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang, (QS Al-Hujurat: 12).

التَّرْغِيْبُ فِي التَّغَافُلِ مِنَ السُّنَّةِ النَّبَوِيَّةِ

ANJURAN TAGAFUL DARI SUNAH NABI ﷺ

Dari Abu Umamah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْأَمِيْرَ إِذَا ابْتَغَى الرِّيْبَةَ فِي النَّاسِ أَفْسَدَهُمْ

Sungguh, jika seorang pemimpin curiga kepada manusia (bawahannya), maka dia akan merusak mereka,[1] (Sunan Abu Dawud: 4889).

Dari Urwah bin Az-Zubair bahwa Aisyah Radhiyallahu Anha istri Nabi ﷺ berkata:

دَخَلَ رَهْطٌ مِنَ الْيَهُودِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالُوا: السَّامُ عَلَيْكُمْ، قَالَتْ عَائِشَةُ: فَفَهِمْتُهَا فَقُلْتُ: وَعَلَيْكُمُ السَّامُ وَاللَّعْنَةُ! قَالَتْ: فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَهْلًا يَا عَائِشَةُ! إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ. فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَوَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا؟ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَدْ قُلْتُ: وَعَلَيْكُمْ

Sekelompok orang Yahudi datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu mereka mengucapkan: As-Samu' alaikum (Kematian atas kalian). Aisyah berkata: 'Aku memahaminya, lalu aku berkata: Dan atas kalian kematian dan laknat!' Aisyah berkata: 'Rasulullah ﷺ bersabda: "Tenanglah, wahai Aisyah! Sesungguhnya Allah menyukai kelembutan dalam segala urusan." Aku berkata: 'Wahai Rasulullah, apakah engkau tidak mendengar apa yang mereka katakan?' Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku telah menjawab: Dan atas kalian,” (Sahih Bukhari: 6024. Sahih Muslim: 2165).[2]

Dari Abdullah bin Zam’ah Radhiyallahu Anhu bahwa ketika Rasulullah ﷺ sedang berkhutbah, ada orang yang kentut dan orang-orang pun tertawa, maka beliau menasihati mereka dengan berkata:

إِلَامَ يَضْحَكُ أَحَدُكُمْ مِمَّا يَفْعَلُ؟

Mengapa salah satu dari kalian menertawakan apa yang dia lakukan?[3] (Sahih Bukhari: 4942. Sahih Muslim: 2855). التَّرْغِيْبُ فِي التَّغَافُلِ مِنْ أَقْوَالِ السَّلَفِ

ANJURAN TAGAFUL DARI PERKATAAN SALAF

Abu Bakar As-Sidiq Radhiyallahu Anhu berkata:

فَازَ بِالْمُرُوْءَةِ مَنِ امْتَطَى التَّغَافُلَ، وَهَانَ عَلَى الْقُرَنَاءِ مَنْ عُرِفَ بِاللَّجَاجِ

Orang yang berhasil dalam murua'ah kemanusiaan adalah orang yang membiasakan diri dengan akhlak tagaful, dan orang yang dikenal suka berdebat akan diremehkan oleh teman-temannya, (Rabi al-Abrar li–az–Zamakhshari: 2/233).

Muawiyah Radhiyallahu Anhu berkata:

أُحِبُّ لِلسَّيِّدِ أَنْ يَكُونَ عَاقِلًا مُتَغَافِلًا

Aku suka seorang pemimpin yang yang berakal dan tagaful, (Uyun al-Akhbar li–Ibni Qutaybah: 1/327).

مَعْنَى التَّغَافُلِ لُغَةً وَاصْطِلَاحًا

MAKNA AT-TAGHAFUL SECARA BAHASA DAN ISTILAH

At-Taghaful secara bahasa:

الْغَفْلَةُ: غَيْبَةُ الشَّيْءِ عَنْ بَالِ الْإِنْسَانِ وَعَدَمُ تَذَكُّرِهِ لَهُ. وَالتَّغَافُلُ: تَعَمُّدُ الْغَفْلَةِ، أَيْ: بِالسَّهْوِ وَقِلَّةِ التَّيَقُّظِ.

Al-Ghaflah (lalai) adalah hilangnya sesuatu dari pikiran seseorang dan tidak mengingatnya. At-Taghaful adalah sengaja melalaikan, yaitu dengan kelupaan dan kurangnya kewaspadaan, (Mukhtar as-Sihaḥ li–ar–Razi: 228).

At-Taghaful secara istilah:

التَّغَافُلُ: هُوَ وَضْعُ الْغَفْلَةِ فِي مَوْضِعِهَا الَّذِي يُذَمُّ فِيْهِ الْبَحْثُ وَالتَّقَصِّي؛ فَهُوَ فَهْمٌ لِلْحَقِيْقَةِ، وَإِضْرَابٌ عَنِ الطَّيْشِ، وَاسْتِعْمَالٌ لِلْحِلْمِ، وَتَسْكِينٌ لِلْمَكْرُوْهِ.

At-Tagaful adalah menempatkan kelalaian pada tempatnya, di mana pencarian dan investigasi dicela. Ini karena pelakunya memahami mana yang benar, berpaling dari kebodohan, mengaplikasikan sikap sabar, dan menenangkan hal-hal yang tidak disukai, (Al-Akhlak was Siyar li Ibni Hazm: 86).

فَوَائِدُ التَّغَافُلِ

MANFAAT AT-TAGHAFUL

Berikut adalah buah jika masyarakat memiliki dan menerapkan akhlak tagaful:

مِنْ أَسْبَابِ إِبْقَاءِ الْمَوَدَّةِ بَيْنَ النَّاسِ.

1 – Salah satu sebab langgengnya cinta kasih di antara manusia.

مِنْ أَسْبَابِ قَطْعِ الْعَدَاوَاتِ.

2 – Salah satu sebab terputusnya permusuhan.

مِنْ أَسْبَابِ التَّسَامُحِ.

3 – Salah satu sebab toleransi.

مِنْ أَسْبَابِ قَطْعِ الْوَحْشَةِ عَنِ النُّفُوْسِ.

4 – Salah satu sebab hilangnya kegelisahan dari jiwa.

مِنْ أَسْبَابِ رَفْعِ الْحَرَجِ وَالْحَاجَةِ لِلِاعْتِذَارِ.

5 - Salah satu sebab hilangnya kesulitan dan kebutuhan untuk meminta maaf.

صَفَاءُ قَلْبِ الْمُتَغَافِلِ وَعَدَمُ اسْتِيْحَاشِهِ مِنَ النَّاسِ.

6 – Jernihnya hati orang yang saling tagaful dan tidak adanya kegelisahan terhadap manusia.

اعْتِيَادُ الْإِنْسَانِ ضَبْطَ النَّفْسِ وَكَظْمَ الْغَيْظِ.

7 – Kebiasaan seseorang dalam mengendalikan diri dan menahan amarah.

الْقُدْرَةُ عَلَى مُوَاجَهَةِ الْمَوَاقِفِ الصَّعْبَةِ بِهُدُوْءٍ وَسَكِيْنَةٍ.

8 – Kemampuan untuk menghadapi situasi sulit dengan tenang dan damai.

سَلَامَةُ الدِّيْنِ وَالْعِرْضِ.

9 – Selamatnya agama dan kehormatan.

إِلْقَاءُ مَحَبَّةِ الْمُتَغَافِلِ فِي قُلُوبِ النَّاسِ؛ لِمَا يَرَوْنَهُ مِنْ سَمَاحَتِهِ وَحُسْنِ مَعْشَرِهِ.

10 – Berseminya rasa cinta orang yang saling tagaful di dalam hati manusia; atas apa saja yang mereka lihat, dan itu semua bermula dari kemurahan hati dan bagusnya pergaulan orang tersebut.

مَوَانِعُ اكْتِسَابِ التَّغَافُلِ

PENGHALANG MEMILIKI AKHLAK TAGAFUL

Berikut adalah beberapa sifat yang menghalangi seseorang dari memiliki akhlak tagaful:

جَهْلُ الْإِنْسَانِ بِعَاقِبَةِ تَعَقُّبِ الزَّلَّاتِ، وَعَدَمِ التَّغَاضِي عَنْهَا، وَمَا يَنْتُجُ عَنْ ذَلِكَ.

1 – Tidak tahuya seseorang tentang akibat dari mencari-cari kesalahan, dan tidak mengabaikannya, serta apa yang dihasilkan dari perbuatan tersebut.

رَغْبَةُ الْإِنْسَانِ فِي الْاِنْتِصَارِ لِلنَّفْسِ.

2 – Keinginan seseorang untuk mengunggulkan dirinya sendiri.

اعْتِقَادُ الْإِنْسَانِ أَنَّ التَّغَافُلَ دَلِيلُ ضَعْفِهِ.

3 – Keyakinan seseorang bahwa tagaful adalah tanda kelemahan.

جَهْلُ الْإِنْسَانِ بِطَبِيعَةِ نَفْسِهِ الَّتِي لَا تَسْلَمُ مِنْ خَطَأٍ أَوْ زَلَلٍ.

4 – Tidak tahunya seseorang tentang sifat dirinya sendiri yang sebenarnya juga tidak bisa luput dari salah dan khilaf.

اعْتِقَادُ الْإِنْسَانِ أَنَّ فِي التَّغَافُلِ غَبَاءً وَحَمَاقَةً.

5 – Keyakinan seseorang bahwa di dalam tagaful terdapat kebodohan dan kekonyolan.

الْوَسَائِلُ الْمُعِيْنَةُ عَلَى اكْتِسَابِ التَّغَافُلِ

SARANA MELATIH AKHLAK TAGAFUL

Berikut adalah beberapa langkah untuk melatih akhlak tagaful:

أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ التَّغَافُلَ مِنْ أَخْلَاقِ الْفُضَلَاءِ وَالْعُلَمَاءِ.

1 – Mengetahui bahwa tagaful adalah salah satu akhlak para ulama dan orang-orang yang mulia.

أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ التَّغَافُلَ مِمَّا يُعِينُ عَلَى اسْتِجْلَابِ الْمَوَدَّةِ وَبَقَائِهَا.

2 – Mengetahui bahwa tagaful adalah salah satu hal yang membantu mendatangkan dan melanggengkan kasih sayang.

أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ التَّغَافُلَ مِنْ أَسْبَابِ قَطْعِ الْعَدَاوَةِ.

3 – Mengetahui bahwa tagaful adalah salah satu sebab terputusnya permusuhan.

أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ الْكَرِيْمَ يُمْدَحُ بِالتَّغَافُلِ عَنِ الزَّلَّةِ.

4 – Mengetahui bahwa orang yang mulia dipuji karena membiarkan kekhilafan (yang sepele).

مَظَاهِرُ وَصُوَرُ التَّغَافُلِ

GAMBARAN PENERAPAN AKHLAK TAGAFUL

Berikut adalah contoh penerapan akhlak tagaful:

التَّغَافُلُ عَنْ زَلَّاتِ ذَوِي الرَّحِمِ، وَالصَّبْرُ عَلَى أَذَاهُمْ، وَعَدَمُ قَطْعِهِمْ؛

1 – Membiarkan kekhilafan dari kerabat, sabar atas gangguan mereka, dan tidak memutuskan hubungan.

Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa seorang pria berkata:

 يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ لِي قَرَابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُونِي، وَأُحْسِنُ إِلَيْهِمْ وَيُسِيئُونَ إِلَيَّ، وَأَحْلُمُ عَنْهُمْ وَيَجْهَلُونَ عَلَيَّ

Ya Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki kerabat yang aku sambung, tetapi mereka memutuskan hubungan denganku. Aku berbuat baik kepada mereka, tetapi mereka berbuat buruk kepadaku. Aku bersabar terhadap mereka, tetapi mereka bersikap bodoh kepadaku. Nabi ﷺ bersabda:

 لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ المَلَّ، وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ

“Jika kamu seperti yang kamu katakan, maka seakan-akan kamu memberi mereka debu panas. Dan akan selalu ada penolong dari Allah bersamamu selama kamu dalam keadaan demikian.” (Sahih Muslim: 2558).

تَغَافُلُ الزَّوْجِ عَمَّا يَكْرَهُ مِنْ زَوْجَتِهِ؛

2 – Suami bersikap tagaful terhadap apa yang tidak dia sukai dari istrinya.

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha dalam suatu hadis yang panjang tentang seorang suami yang memuji suaminya:

وَلَا يُولِجُ ٱلْكَفَّ لِيَعْلَمَ ٱلْبَثَّ

Ia tidak memasukkan tangannya (ke dalam pakaianku) untuk mengetahui kesedihanku,[4] (Sahih Bukhari: 5189. Sahih Muslim: 2448).

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا، رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ.

Seorang mukmin tidak boleh membenci seorang mukminah (istrinya); jika ia tidak menyukai satu akhlaknya, maka ia akan ridha terhadap akhlak lainnya, (Sahih Muslim: 1469).

تَغَافُلُ الزَّوْجِ عَمَّا يَقَعُ مِنْ زَوْجَتِهِ بِسَبَبِ الْغَيْرَةِ.

3 – Suami membiarkan apa yang terjadi pada istrinya ketika cemburu.

Ibnu Hajar di dalam Fathu Bari (9/325) berkata:

وَقَدْ ذَكَرَ ٱلْعُلَمَاءُ أَنَّ ٱلْغَيْرَى لَا تُؤَاخَذُ بِمَا يَصْدُرُ عَنْهَا؛ لِأَنَّهَا فِي تِلْكَ ٱلْحَالَةِ يَكُونُ عَقْلُهَا مَحْجُوبًا بِشِدَّةِ ٱلْغَضَبِ ٱلَّذِي أَثَارَتْهُ ٱلْغَيْرَةُ.

Para ulama menyatakan bahwa wanita yang sedang diliputi rasa cemburu (al-ghayrāʾ) tidak layak untuk langsung disalahkan atas ucapan atau tindakan yang muncul darinya, karena dalam kondisi tersebut akalnya sedang tertutup oleh kemarahan yang dipicu oleh rasa cemburu.

تَغَافُلُ الزَّوْجِ أَحْيَانًا وَعَدَمُ تَعَهُّدِهِ الدَّائِمِ لِمَا يَجْرِي فِي الْبَيْتِ.

4 – Terkadang suami membiarkan dan tidak terus-menerus mengawasi apa yang terjadi di rumah.

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha dalam suatu hadis yang panjang tentang seorang suami yang memuji suaminya:

زَوْجِي إِذَا دَخَلَ فَهِدٌ، وَإِذَا خَرَجَ أَسِدٌ، وَلَا يَسْأَلُ عَمَّا عَهِدَ.

Suamiku, jika di rumah seperti fāhid (macan tutul)—tenang dan banyak tidur; jika keluar seperti singa—berani dan tegas; dan ia tidak menanyakan apa yang telah ia titipkan, (Sahih Bukhari: 5189. Sahih Muslim: 2448).

تَغَافُلُ الْوَالِدَيْنِ وَالْمُرَبِّيْنَ أَحْيَانًا عَنْ بَعْضِ أَخْطَاءِ الْأَوْلَادِ؛ لِرِيَاضَتِهِمْ وَتَأْدِيْبِهِمْ

5 – Terkadang orang tua dan pendidik membiarkan sebagian kesalahan anak-anak; untuk melatih dan mendidik mereka.

Abu Hamid Al-Gazali rahimahullah berkata:

ثُمَّ مَهْمَا ظَهَرَ مِنَ ٱلصَّبِيِّ خُلُقٌ جَمِيلٌ وَفِعْلٌ مَحْمُودٌ، فَيَنْبَغِي أَنْ يُكْرَمَ عَلَيْهِ وَيُجَازَى عَلَيْهِ بِمَا يَفْرَحُ بِهِ، وَيُمَدَحَ بَيْنَ أَظْهُرِ ٱلنَّاسِ،

Apabila tampak dari seorang anak akhlak yang baik dan perbuatan yang terpuji, maka sepatutnya ia dihormati dan diberi balasan yang membuatnya gembira, serta dipuji di hadapan orang banyak.

فَإِنْ خَالَفَ ذَلِكَ فِي بَعْضِ ٱلْأَحْوَالِ مَرَّةً وَاحِدَةً فَيَنْبَغِي أَنْ يَتَغَافَلَ عَنْهُ وَلَا يَهْتِكَ سِتْرَهُ، وَلَا يُكَاشِفَهُ وَلَا يُظْهِرَ لَهُ أَنَّهُ يَتَصَوَّرُ أَنْ يَتَجَاسَرَ أَحَدٌ عَلَى مِثْلِهِ، وَلَا سِيَّمَا إِذَا سَتَرَهُ ٱلصَّبِيُّ وَٱجْتَهَدَ فِي إِخْفَائِهِ؛

Namun jika ia menyelisihi hal itu dalam sebagian keadaan, sekali saja, maka sepatutnya hal itu diabaikan dan tidak dibongkar aibnya, tidak diungkapkan kepadanya, dan tidak ditampakkan bahwa seseorang bisa berani melakukan hal seperti itu—terutama jika si anak berusaha menutupinya dan bersungguh-sungguh menyembunyikannya.

فَإِنَّ إِظْهَارَ ذَلِكَ عَلَيْهِ رُبَّمَا يُفِيدُهُ جَسَارَةً حَتَّى لَا يُبَالِيَ بِٱلْمُكَاشَفَةِ.

Sebab, jika hal itu ditampakkan kepadanya, bisa jadi itu justru membuatnya berani hingga tidak lagi peduli untuk menyembunyikan kesalahannya, (Ihya Ulumudin:3/73).

التَّغَافُلُ عِنْدَ مُخَالَطَةِ النَّاسِ عَمَّا يَقَعُ مِنْ بَعْضِهِمْ مِنْ سُوْءِ الْأَلْفَاظِ.

6 – Saat bergaul dengan orang-orang, kita bersikap tagaful terhadap sebagian mereka yang mengucapkan kata-kata buruk.

Abu Hamid Al-Gazali Rahimahullah berkata:

وَلَا تُجَالِسِ ٱلْعَامَّةَ؛ فَإِنْ فَعَلْتَ فَأَدَبُهُ تَرْكُ ٱلْخَوْضِ فِي حَدِيثِهِمْ، وَقِلَّةُ ٱلْإِصْغَاءِ إِلَى أَرَاجِيفِهِمْ، وَٱلتَّغَافُلُ عَمَّا يَجْرِي مِنْ سُوءِ أَلْفَاظِهِمْ، وَقِلَّةُ ٱللِّقَاءِ لَهُمْ مَعَ ٱلْحَاجَةِ إِلَيْهِمْ.

Janganlah engkau duduk bersama orang awam; jika engkau melakukannya, maka adabnya adalah: tidak ikut membicarakan obrolan mereka, sedikit mendengarkan kabar-kabar bohong mereka, mengabaikan ucapan buruk mereka, dan jarang berinteraksi dengan mereka meskipun ada kebutuhan terhadap mereka, (Ihya Ulumuddin: 2/192).

ٱلتَّغَافُلُ عَنِ ٱلْحُسَّادِ وَٱلْمُبْغِضِينَ وَكَلَامِهِمْ

7 – Bersikap tagaful terhadap para pendengki, pembenci, dan ucapan mereka.

Abdullah bin Shaddād bin al-Hādī menasihati anaknya:

أَيْ بُنَيَّ، وَإِنْ سَمِعْتَ كَلِمَةً مِنْ حَاسِدٍ فَكُنْ كَأَنَّكَ لَسْتَ بِٱلشَّاهِدِ؛ فَإِنَّكَ إِنْ أَمْضَيْتَهَا حِيَالَهَا رَجَعَ ٱلْعَيْبُ عَلَىٰ مَنْ قَالَهَا، وَكَانَ يُقَالُ: ٱلْأَرِيبُ ٱلْعَاقِلُ هُوَ ٱلْفَطِنُ ٱلْمُتَغَافِلُ.

Wahai anakku, jika engkau mendengar ucapan dari seorang pendengki, maka bersikaplah seolah-olah engkau bukanlah saksi atasnya. Sebab jika engkau membiarkannya berlalu begitu saja, celaan itu akan kembali kepada orang yang mengucapkannya. Dan dahulu dikatakan: Orang yang cerdas dan berakal adalah orang yang tajam namun berpura-pura tidak tahu, (Al-Amali li Abi Ali Al-Qali: 2/203).

نَمَاذِجُ مِنَ التَّغَافُلِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

CONTOH TAGAFUL DARI NABI ﷺ

Berikut adalah contoh tagaful dari Nabi ﷺ:

تَغَافُلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَمَّا كَانَ يَسْمَعُهُ مِنْ شَتْمٍ وَأَذَى الْمُشْرِكِيْنَ

1 – Beliau ﷺ bersikap tagaful terhadap apa yang beliau dengar dari cercaan dan gangguan orang-orang musyrik.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلَا تَعْجَبُونَ كَيْفَ يَصْرِفُ اللهُ عَنِّي شَتْمَ قُرَيْشٍ وَلَعْنَهُمْ؟ يَشْتِمُونَ مُذَمَّمًا وَيَلْعَنُونَ مُذَمَّمًا، وَأَنَا مُحَمَّدٌ!

Tidakkah kalian heran bagaimana Allah memalingkan dari diriku celaan dan laknat Quraisy? Mereka mencela ‘Mudzammam’ dan melaknat ‘Mudzammam’, padahal aku adalah Muhammad![5] (Sahih Bukhari: 3533).

تَغَافُلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ التَّصَرُّفِ الْمَعِيْبِ، وَتَعَرُّضُهُ لَهُ بِالْعَفْوِ وَالصَّفْحِ

2 – Beliau ﷺ bersikap tagaful terhadap perilaku yang buruk, dan menghadapinya dengan maaf dan pengampunan.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu yang berkata:

كُنْتُ أَمْشِي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَيْهِ بُرْدٌ نَجْرَانِيٌّ غَلِيظُ الْحَاشِيَةِ، فَأَدْرَكَهُ أَعْرَابِيٌّ، فَجَذَبَهُ جَذْبَةً شَدِيدَةً، حَتَّى نَظَرْتُ إِلَى صَفْحَةِ عَاتِقِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَدْ أَثَّرَتْ بِهِ حَاشِيَةُ الرِّدَاءِ مِنْ شِدَّةِ جَذْبَتِهِ! ثُمَّ قَالَ: مُرْ لِي مِنْ مَالِ اللهِ الَّذِي عِنْدَكَ، فَالْتَفَتَ إِلَيْهِ فَضَحِكَ، ثُمَّ أَمَرَ لَهُ بِعَطَاءٍ

Aku berjalan bersama Nabi ﷺ, dan beliau mengenakan burd (mantel) Najrānī yang tebal pinggirannya. Lalu seorang Arab Badui mendekatinya dan menariknya dengan tarikan keras, hingga aku melihat bagian pundak Nabi ﷺ telah membekas karena kerasnya tarikan pada pinggiran mantel itu! Kemudian orang itu berkata: ‘Berikan aku dari harta Allah yang ada padamu!’ Maka Nabi ﷺ menoleh kepadanya, tersenyum, lalu memerintahkan agar ia diberi pemberian, (Sahih Bukhari: 3149. Sahih Muslim: 1057).

تَغَافُلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَمَّا وَقَعَ غَيْرَةً مِنْ بَعْضِ نِسَائِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

3 – Beliau ﷺ  bersikap tagaful ketika sebagian istri beliau ﷺ cemburu.

Imam bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu yang berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ بَعْضِ نِسَائِهِ، فَأَرْسَلَتْ إِحْدَى أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِينَ بِصَحْفَةٍ فِيهَا طَعَامٌ، فَضَرَبَتِ الَّتِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَيْتِهَا يَدَ الْخَادِمِ، فَسَقَطَتِ الصَّحْفَةُ فَانْفَلَقَتْ،

Nabi ﷺ sedang berada di rumah salah satu istrinya. Lalu salah seorang dari Ummahātul-Mu’minīn (istri beliau yang lain) mengirimkan sebuah piring berisi makanan. Maka istri yang sedang bersama Nabi ﷺ memukul tangan pelayan (yang membawa makanan), sehingga piring itu jatuh dan pecah.

فَجَمَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِلَقَ الصَّحْفَةِ، ثُمَّ جَعَلَ يَجْمَعُ فِيهَا الطَّعَامَ الَّذِي كَانَ فِي الصَّحْفَةِ، وَيَقُولُ: غَارَتْ أُمُّكُمْ.

Nabi ﷺ pun mengumpulkan pecahan piring tersebut, lalu mulai mengumpulkan makanan yang tercecer ke dalamnya, sambil berkata: ‘Ibumu sedang cemburu.’

ثُمَّ حَبَسَ الْخَادِمَ حَتَّى أُتِيَ بِصَحْفَةٍ مِنْ عِنْدِ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا، فَدَفَعَ الصَّحْفَةَ الصَّحِيحَةَ إِلَى الَّتِي كُسِرَتْ صَحْفَتُهَا، وَأَمْسَكَ الْمَكْسُورَةَ فِي بَيْتِ الَّتِي كَسَرَتْ.

Kemudian beliau menahan pelayan itu sampai didatangkan piring dari rumah istri yang sedang beliau tempati, lalu beliau memberikan piring yang utuh kepada istri yang piringnya pecah, dan menyimpan piring yang pecah di rumah istri yang memecahkannya, (Sahih Bukhari: 5225).

Setelah memahami dalil-dalil dari Al-Qur'an dan As-Sunnah serta pandangan para ulama, jelaslah bahwa at-tagaful bukanlah tanda kelemahan, melainkan wujud kekuatan diri yang luar biasa. Ia adalah cerminan dari hati yang lapang, jiwa yang tenang, dan akal yang bijaksana. Dengan membiarkan hal-hal kecil berlalu, kita tidak hanya menjaga diri dari amarah dan dendam, tetapi juga membangun benteng kokoh untuk hubungan yang harmonis, baik dengan keluarga, teman, maupun masyarakat. Mari kita tanamkan seni berlapang dada ini dalam keseharian kita, meneladani akhlak Rasulullah ﷺ dan para salafus shalih, agar hidup kita dipenuhi kedamaian dan keberkahan. Wallahua’lam

Karangasem, 1 September 2025

Irfan Nugroho (Pengelola situs Mukminun.com dan channel YouTube: Mukminun TV)

CATATAN KAKI [1] Imam Al-Munawi berkata:

وَمَقْصُودُ ٱلْحَدِيثِ حَثُّ ٱلْإِمَامِ عَلَى ٱلتَّغَافُلِ، وَعَدَمِ تَتَبُّعِ ٱلْعَوْرَاتِ؛ فَإِنَّ بِذٰلِكَ يَقُومُ ٱلنِّظَامُ وَيَحْصُلُ ٱلِٱنْتِظَامُ

Maksud dari hadis ini adalah anjuran bagi pemimpin untuk bersikap tagaful dan tidak membongkar aib orang lain, karena dengan itu tatanan masyarakat akan tetap terjaga.

[2] Tertulis di dalam Mausuatul Akhlak tentang hadis ini:

وَقَدِ ٱسْتُنْبِطَ مِنْ هٰذَا ٱسْتِحْبَابُ تَغَافُلِ أَهْلِ ٱلْفَضْلِ عَنْ سَفَهِ ٱلْمُبْطِلِينَ إِذَا لَمْ يَتَرَتَّبْ عَلَيْهِ مَفْسَدَةٌ

Dan dari hal ini disimpulkan anjuran bagi orang-orang yang memiliki keutamaan untuk bersikap tidak menggubris kebodohan orang-orang yang berbuat batil, selama hal itu tidak menimbulkan kerusakan

[3] Imam An-Nawawi berkata:

فِيهِ ٱلنَّهْيُ عَنِ ٱلضَّحِكِ مِنَ ٱلضَّرْطَةِ يَسْمَعُهَا مِنْ غَيْرِهِ، بَلْ يَنْبَغِي أَنْ يَتَغَافَلَ عَنْهَا وَيَسْتَمِرَّ عَلَى حَدِيثِهِ وَٱشْتِغَالِهِ بِمَا كَانَ فِيهِ، مِنْ غَيْرِ ٱلْتِفَاتٍ وَلَا غَيْرِهِ، وَيُظْهِرَ أَنَّهُ لَمْ يَسْمَعْ

Di dalamnya terdapat larangan tertawa karena suara kentut yang terdengar dari orang lain. Bahkan seharusnya seseorang bersikap tidak menggubrisnya, melanjutkan pembicaraannya dan kesibukannya seperti semula, tanpa menoleh atau menunjukkan reaksi apa pun, serta menampakkan seolah-olah ia tidak mendengarnya.

[4] Abu Ubaid bin Al-Qasim bin Salam berkata tentang makna ungkapan ini:

أَحْسَبُهُ كَانَ بِجَسَدِهَا عَيْبٌ أَوْ دَاءٌ تَكْتَئِبُ بِهِ؛ لِأَنَّ الْبَثَّ هُوَ الْحُزْنُ، فَكَانَ لَا يُدْخِلُ يَدَهُ فِي ثَوْبِهَا؛ لِيَمَسَّ ذَلِكَ الْعَيْبَ، فَيَشُقَّ عَلَيْهَا، تَصِفُهُ بِالْكَرَمِ.

Aku kira (wanita itu) memiliki cacat atau penyakit di tubuhnya yang membuatnya bersedih; karena al-bath berarti kesedihan. Maka suaminya tidak memasukkan tangannya ke dalam pakaiannya untuk menyentuh cacat itu, agar tidak menyakitinya. Ia (sang istri) menyifatinya sebagai orang yang dermawan, (Garibul Hadis li Abu Ubaid Al-Qasim bin Salam: 2/171).

[5] Penjelasan:

Kata (مُذَمَّم) berarti “yang tercela,” dan ini digunakan oleh orang-orang Quraisy sebagai ejekan terhadap Nabi ﷺ.

Kata (مُحَمَّد) berarti “yang terpuji,” dan itu adalah nama asli Nabi ﷺ yang penuh makna positif.

Post a Comment for "Mausuatul Akhlak: Tagaful (Pura-pura tidak Tahu)"