zmedia

Arbain Nawawi 22: Di Antara Jalan Masuk Surga

Pembaca rahimakumullah,  di antara jalan masuk surga adalah apa yang disebutkan oleh Nabi ﷺ di dalam hadis Arbain Nawawi nomor 22. Ya, cukup itu saja. Bagaimana jalannya? Teruskan membaca!

MATAN HADIS

Dari Abu Abdillah Jabir bin Abdillah Al-Anshari Radhiyallahu Anhuma, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah ﷺ:

أَرَأَيْتَ إِذَا صَلَّيْتُ الْمَكْتُوبَاتِ، وَصُمْتُ رَمَضَانَ، وَأَحْلَلْتُ الْحَلَالَ، وَحَرَّمْتُ الْحَرَامَ، وَلَمْ أَزِدْ عَلَى ذَلِكَ شَيْئًا؛ أَأَدْخُلُ الْجَنَّةَ؟ قَالَ: «نَعَمْ»".

Bagaimana pendapat Anda jika saya sudah salat fardu, berpuasa Ramadan, menghalalkan yang halal, dan mengharamkan yang haram, dan saya tidak menambah sedikit pun dari itu; apakah saya akan masuk surga?" Beliau menjawab: "Ya,” (Sahih Muslim: 15).

PENJELASAN HADIS

1 – Perkataan penanya (صَلَّيْتُ الْمَكْتُوبَاتِ) atau yang artinya, “Saya sudah salat fardu,” maksudnya:

أَيِ الْمَفْرُوضَاتِ الْخَمْسَ

Maksudnya, salat lima waktu yang diwajibkan.

2 – Perkataan penanya (وَصُمْتُ رَمَضَانَ) atau yang artinya, “Berpuasa Ramadan,” maksudnya:

أَمْسَكْتُ نَهَارَهُ عَنِ الْمُفْطِرَاتِ بِنِيَّةٍ

Aku menahan diri pada siangnya dari hal-hal yang membatalkan puasa dengan niat.

3 – Perkataan penanya (وَأَحْلَلْتُ الْحَلَالَ) atau yang artinya, “Menghalalkan yang halal,” maksudnya:

فَعَلْتُهُ مُعْتَقِدًا حِلَّهُ، وَالْحَلَالُ هُوَ كُلُّ مَا أَبَاحَهُ الشَّرْعُ

Aku mengerjakannya dengan meyakini kehalalannya, dan yang halal adalah segala sesuatu yang dibolehkan oleh syariat.

4 – Perkataan penanya (وَحَرَّمْتُ الْحَرَامَ) atau yang artinya, “Mengharamkan yang haram,” maksudnya:

اجْتَنَبْتُهُ مُعْتَقِدًا حُرْمَتَهُ، وَالْحَرَامُ هُوَ كُلُّ مَا نَهَى عَنْهُ الشَّرْعُ

Aku menjauhinya dengan meyakini keharamannya, dan yang haram adalah segala sesuatu yang dilarang oleh syariat.

5 – Perkataan penanya (وَلَمْ أَزِدْ عَلَى ذَلِكَ شَيْئًا) atau yang artinya, “dan saya tidak menambah sedikit pun dari itu,” maksudnya:

مِنَ التَّطَوُّعِ.

Dari amalan sunah.

6 – Perkataan penanya (أَأَدْخُلُ الْجَنَّةَ) atau yang artinya, “Apakah saya masuk surga,” maksudnya:

ابْتِدَاءً مِنْ غَيْرِ عِقَابٍ؛ لِأَنَّ مُطْلَقَ الدُّخُولِ يَتَوَقَّفُ عَلَى التَّوْحِيدِ

Langsung tanpa azab; karena masuk surga secara mutlak bergantung pada tauhid.

7 – Sabda Nabi ﷺ (نَعَمْ) atau yang artinya, “Ya,” maksudnya:

تَدْخُلُ الْجَنَّةَ

Kamu akan masuk surga.

PELAJARAN DARI HADIS

Pelajaran yang bisa diambil dari hadis 22 Arbain Nawawi tentang jalan masuk surga ini di antaranya:

تَحْلِيلُ الْحَلَالِ يَكُونُ بِاعْتِقَادِ حِلِّهِ سَوَاءٌ فَعَلَهُ، أَوْ لَمْ يَفْعَلْهُ، وَتَحْرِيمُ الْحَرَامِ بِاعْتِقَادِ حُرْمَتِهِ، وَاجْتِنَابِهِ، وَتَرْكِهِ.

1 – Menghalalkan yang halal adalah dengan meyakini kehalalannya, baik dia mengerjakannya atau tidak. Dan mengharamkan yang haram adalah dengan meyakini keharamannya, menjauhinya, dan meninggalkannya.

مِنَ الْفِقْهِ أَلَّا يَقْنِطَ الْعَالِمُ النَّاسَ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ.

2 – Termasuk dari pemahaman yang mendalam adalah seorang alim tidak membuat manusia berputus asa dari rahmat Tuhannya.

يَجُوزُ الِاقْتِصَارُ عَلَى الْفَرَائِضِ مِنَ الْمَكْتُوبَاتِ، وَرَمَضَانَ، وَالزَّكَاةِ وَغَيْرِهَا، لَكِنَّ الْأَفْضَلَ الْإِتْيَانُ بِالنَّوَافِلِ.

3 – Boleh mencukupkan diri dengan amalan wajib, baik salat fardu, puasa Ramadan, zakat, dan lainnya. Namun, yang lebih utama adalah (menambahnya dengan) mengerjakan amalan sunah.

يَنْبَغِي لِلْعَالِمِ أَنْ يُرَاعِيَ أَحْوَالَ النَّاسِ، فَلَا يُلْزِمُ النَّاسَ بِحَالَةٍ وَاحِدَةٍ، وَيُهْمِلَ الْفَوَارِقَ بَيْنَهُمْ بَلْ عَلَيْهِ أَنْ يُوَجِّهَ، وَيُرْشِدَ عَلَى حَسَبِ حَالِ السَّائِلِ.

4 – Seorang alim hendaknya memperhatikan keadaan manusia, sehingga dia tidak memaksakan satu kondisi kepada semua orang dan mengabaikan perbedaan di antara mereka. Sebaliknya, dia seharusnya mengarahkan dan membimbing sesuai dengan kondisi penanya.

يَسَّرَ الشَّرِيعَةُ الْإِسْلَامِيَّةُ عَلَى أَهْلِهَا، فَلَمْ تُشَدِّدْ عَلَيْهِمْ، وَلَمْ تُطَالِبْهُمْ بِالِانْقِطَاعِ لِلْعِبَادَةِ، بَلْ رَضِيَتْ مِنْهُمُ الْحِرْصَ عَلَى الْفَرَائِضِ، وَفِعْلَ الْحَلَالِ، وَتَرْكَ الْحَرَامِ.

5 – Syariat Islam telah memberikan kemudahan bagi umatnya. Dia tidak memberatkan mereka, dan tidak menuntut mereka untuk totalitas dalam ibadah. Tetapi, dia rida dengan mereka yang bersemangat dalam mengerjakan kewajiban, melakukan yang halal, dan meninggalkan yang haram.

عَظِيمُ مَنْزِلَةِ الصَّلَاةِ، وَالصِّيَامِ.

6 – Agungnya kedudukan salat dan puasa.

يَنْبَغِي لِطَالِبِ الْعِلْمِ أَنْ يَتَنَبَّهَ لِلْأَسْئِلَةِ الَّتِي تُعْرَضُ عَلَى الشَّيْخِ، وَيُحْضِرَ لَهَا ذِهْنَهُ وَقَلْبَهُ، وَلَوْ كَانَتْ مِنْ غَيْرِهِ؛ لِأَنَّهَا لَا تَخْلُو مِنْ فَائِدَةٍ.

7 – Seorang penuntut ilmu hendaknya memperhatikan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada seorang Syekh, dan mempersiapkan pikiran serta hatinya untuk pertanyaan tersebut, meskipun pertanyaan itu datang dari orang lain; karena pertanyaan-pertanyaan itu tidak lepas dari faedah.

السُّؤَالُ مِنْ أَسْبَابِ تَحْصِيلِ الْعِلْمِ.

8 – Bertanya adalah salah satu sebab untuk mendapatkan ilmu.

FAIDAH LAIN

Ada satu pertanyaan unik terkait hadis jalan masuk surga ini:

لِمَاذَا لَمْ يَذْكُرِ النَّبِيُّ ﷺ فِي هَذَا الْحَدِيثِ الزَّكَاةَ، وَالْحَجَّ؟

Mengapa Nabi ﷺ tidak menyebutkan zakat dan haji dalam hadis ini?)

لَعَلَّ النَّبِيَّ ﷺ عَلِمَ مِنْ حَالِ السَّائِلِ أَنَّهُ فَقِيرٌ فَلَمْ تَجِبْ عَلَيْهِ الزَّكَاةُ. وَأَمَّا الْحَجُّ، فَلَعَلَّهُ لَمْ يُفْرَضْ بَعْدُ.

Bisa jadi Nabi ﷺ mengetahui kondisi penanya bahwa dia adalah orang fakir sehingga zakat tidak wajib atasnya. Adapun haji, kemungkinan pada saat itu belum diwajibkan.

Demikian penjelasan dan pelajaran dari hadis 22 Arbain Nawawi tentang jalan masuk surga. Ini adalah terjemahan dari Tuhfatu Saniyah Syarh Arbain Nawawiah karya Syaikh Khalid Mahmud Al-Juhani hafizahullah.  Semoga bermanfaat!

Karangasem, 7 Agustus 2025

Irfan Nugroho (Pengasuh situs Mukminun.com dan channel Youtube Mukminun TV)

Post a Comment for "Arbain Nawawi 22: Di Antara Jalan Masuk Surga"