Pembaca rahimakumullah, berikut adalah adab kepada orang sakaratul maut yang kami terjemahkan dari Sahihul Adab Al-Islamiyah karya Syaikh Wahid Abdussalam Bali hafizahullah dengan penjelasan dan pelajaran dari Syaikh Khalid Mahmud Al-Juhani hafizahullah. Semoga bermanfaat!
الآدَابُ الَّتِي يَنْبَغِي فِعْلُهَا عِنْدَ الْمُحْتَضِرِ[28] Adab kepada Orang Sakaratul Maut
تَذْكِيرُهُ بِالْوَصِيَّةِMengingatkannya tentang wasiat
Adab kepada orang sakaratul maut yang pertama adalah mengingatkannya tentang wasiat. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:مَا حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ شَيْءٌ يُوصَى فِيهِ يَبِيتُ لَيْلَتَيْنِ إِلَّا وَوَصِيَّتُهُ مَكْتُوبَةٌ عِنْدَهُ
مَا (Tidaklah) | حَقُّ (hak) | امْرِئٍ (seseorang) | مُسْلِمٍ (muslim) | لَهُ (yang mempunyai) | شَيْءٌ (sesuatu) | يُوصَى (yang diwasiatkan) | فِيهِ (padanya) | يَبِيتُ (ia bermalam) | لَيْلَتَيْنِ (dua malam) | إِلَّا (kecuali) | وَوَصِيَّتُهُ (dan wasiatnya) | مَكْتُوبَةٌ (tertulis) | عِنْدَهُ (di sisinya).
Tidaklah patut bagi seorang muslim yang mempunyai sesuatu yang akan diwasiatkan untuk bermalam dua malam melainkan wasiatnya telah tertulis di sisinya, (Sahih Bukhari: 2738). Imam Bukhari meriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqash yang berkata:يَا رَسُولَ اللَّهِ أُوصِي بِمَالِي كُلِّهِ قَالَ لَا قُلْتُ فَالشَّطْرُ قَالَ لَا قُلْتُ الثُّلُثُ قَالَ فَالثُّلُثُ وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ إِنَّكَ أَنْ تَدَعَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَدَعَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ فِي أَيْدِيهِمْ
يَا (Wahai) | رَسُولَ (Rasul) | اللَّهِ (Allah) | أُوصِي (aku berwasiat) | بِمَالِي (dengan hartaku) | كُلِّهِ (seluruhnya) | قَالَ (Beliau bersabda) | لَا (Jangan) | قُلْتُ (Aku berkata) | فَالشَّطْرُ (Maka separuhnya?) | قَالَ (Beliau bersabda) | لَا (Jangan) | قُلْتُ (Aku berkata) | الثُّلُثُ (Sepertiganya?) | قَالَ (Beliau bersabda) | فَالثُّلُثُ (Maka sepertiga) | وَالثُّلُثُ (dan sepertiga itu) | كَثِيرٌ (banyak) | إِنَّكَ (Sesungguhnya engkau) | أَنْ تَدَعَ (meninggalkan) | وَرَثَتَكَ (ahli warismu) | أَغْنِيَاءَ (dalam keadaan kaya) | خَيْرٌ (lebih baik) | مِنْ أَنْ تَدَعَهُمْ (daripada engkau meninggalkan mereka) | عَالَةً (dalam keadaan miskin) | يَتَكَفَّفُونَ (mengemis) | النَّاسَ (kepada manusia) | فِي أَيْدِيهِمْ (dengan tangan mereka).
Wahai Rasulullah, bolehkah aku berwasiat dengan seluruh hartaku? Beliau bersabda, "Jangan." Aku berkata, "Maka separuhnya?" Beliau bersabda, "Jangan." Aku berkata, "Sepertiganya?" Beliau bersabda, "Maka sepertiga itu saja. Sepertiga itu sudah banyak. Sesungguhnya engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin, mengemis kepada manusia dengan tangan mereka," (Sahih Bukhari: 2742). PENJELASANApa yang dimaksud dengan wasiat? Syaikh Khalid Al-Juhani berkata:
الْوَصِيَّةُ هِيَ عَهْدٌ خَاصٌّ يَكُونُ فِيمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَهِيَ تَدُورُ مَعَ الْأَحْكَامِ التَّكْلِيفِيَّةِ الْخَمْسَةِ،
Wasiat adalah perjanjian khusus yang berlaku setelah kematian, dan ia berkaitan dengan lima hukum taklifi (hukum syariat yang dibebankan kepada mukalaf):فَتَجِبُ عَلَى مَنْ عَلَيْهِ حَقٌّ بِلَا بَيِّنَةٍ أَوْ أَمَانَةٍ بِلَا إِشْهَادٍ،
1 – Wajib bagi orang yang memiliki hak tanpa bukti atau amanah tanpa saksi,وَتُسْتَحَبُّ لِمَنْ تَرَكَ مَالًا كَثِيرًا،
2 – Dianjurkan/sunah bagi orang yang meninggalkan harta banyak,
وَتُكْرَهُ لِفَقِيرٍ لَهُ وَرَثَةٌ فُقَرَاءُ،
3 – Makruh bagi orang fakir yang memiliki ahli waris fakir,
وَتُبَاحُ لِفَقِيرٍ لَهُ وَرَثَةٌ أَغْنِيَاءُ،
4 – Mubah bagi orang fakir yang memiliki ahli waris kaya,
وَتَحْرُمُ لِوَارِثٍ، أَوْ بِأَكْثَرَ مِنَ الثُّلُثِ، أَوْ لِإِعَانَةِ مُحَرَّمٍ.
5 – Haram bagi ahli waris, atau lebih dari sepertiga, atau untuk membantu perbuatan yang diharamkan.
PELAJARANPelajaran yang bisa diambil dari dua hadis di atas di antaranya:
١- مَشْرُوعِيَّةُ الْوَصِيَّةِ بِضَوَابِطِهَا الشَّرْعِيَّةِ.
1 – Disyariatkannya wasiat dengan ketentuan syariatnya.
٢- الْحَثُّ عَلَى الْمُبَادَرَةِ بِالْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ.
2 – Anjuran untuk bersegera melakukan amal saleh.
٣- مَشْرُوعِيَّةُ الْوَصِيَّةِ بِالثُّلُثِ فَأَقَلَّ.
3 – Disyariatkannya wasiat sepertiga atau kurang.
٤- الْأَفْضَلُ أَنْ يُوصَى بِأَقَلَّ مِنَ الثُّلُثِ.
4 – Lebih utama berwasiat kurang dari sepertiga.
٥- تَقْرِيرُ قَاعِدَةِ الْأَوْلَوِيَّاتِ، فَإِنْ تَعَارَضَتْ مَصْلَحَةُ الْوَرَثَةِ وَالْوَصِيَّةِ قَدَّمَ مَصْلَحَةَ الْوَرَثَةِ.
5 - Penetapan kaidah prioritas, jika bertentangan antara kepentingan ahli waris dan wasiat, maka didahulukan kepentingan ahli waris.
٦- حِرْصُ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ عَلَى نَقْلِ جَمِيعِ أَقْوَالِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
6 – Bersemangatnya para Sahabat radhiyallahu 'anhum dalam menyampaikan semua perkataan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
تَذْكِيرُهُ بِرَحْمَةِ اللَّهِ وَفَضْلِهِMengingatkannya tentang rahmat dan karunia Allah
Adab kepada orang sakaratul maut yang kedua adalah mengingatkannya tentang rahmat dan karunia Allah. Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah Al-Anshari radhiyallahu 'anhuma yang berkata:سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَبْلَ مَوْتِهِ بِثَلَاثَةِ أَيَّامٍ يَقُولُ: لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
سَمِعْتُ (Aku mendengar) | رَسُولَ اللَّهِ (Rasulullah) | ﷺ (Shallallahu 'alaihi wa sallam) | قَبْلَ (sebelum) | مَوْتِهِ (wafatnya) | بِثَلَاثَةِ (tiga) | أَيَّامٍ (hari) | يَقُولُ (bersabda) | لَا يَمُوتَنَّ (Janganlah sekali-kali mati) | أَحَدُكُمْ (salah seorang di antara kalian) | إِلَّا (kecuali) | وَهُوَ (sedangkan ia) | يُحْسِنُ الظَّنَّ (berprasangka baik) | بِاللَّهِ (kepada Allah) | عَزَّ وَجَلَّ (Azza wa Jalla/Maha Perkasa lagi Maha Agung).
Aku mendengar Rasulullah ﷺ tiga hari sebelum wafatnya bersabda: "Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal kecuali dia berprasangka baik kepada Allah 'Azza wa Jalla," (Sahih Muslm: 2877). Imam At-Tirmizi meriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu yang berkata:أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى شَابٍّ وَهُوَ فِي الْمَوْتِ فَقَالَ كَيْفَ تَجِدُكَ قَالَ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنِّي أَرْجُو اللَّهَ وَإِنِّي أَخَافُ ذُنُوبِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبِ عَبْدٍ فِي مِثْلِ هَذَا الْمَوْطِنِ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ مَا يَرْجُو وَآمَنَهُ مِمَّا يَخَافُ
أَنَّ (Bilih) | النَّبِيَّ (Nabi) | صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (shalallah alaihi wa sallam) | دَخَلَ (mlebet) | عَلَى (dhateng) | شَابٍّ (tiyang anem) | وَهُوَ (dene piyambakipun) | فِي (wonten ing) | الْمَوْتِ (pejah) | فَقَالَ (mila ngendika – sapa Rasul) | كَيْفَ (kados pundi) | تَجِدُكَ (sira manggihi awak sira) | قَالَ (matur – sapa tiyang anem wau) | وَاللَّهِ (Demi Allah) | يَا رَسُولَ اللَّهِ (dhuh Rasulullah) | أَنِّي (saestu kula) | أَرْجُو (ngarep-arep) | اللَّهَ (dhateng Allah) | وَإِنِّي (lan saestu kula) | أَخَافُ (wedi) | ذُنُوبِي (ing dosa-dosa kula) | فَقَالَ (Mila ngendika) | رَسُولُ اللَّهِ (sapa Rasulullah) | صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (shalallah alaihi wa sallam) | لَا يَجْتَمِعَانِ (boten badhe kumpul kekalihipun) | فِي قَلْبِ (wonten ing manah) | عَبْدٍ (setunggaling kawula) | فِي مِثْلِ (ing kados) | هَذَا الْمَوْطِنِ (papan punika) | إِلَّا (kejawi) | أَعْطَاهُ (Allah paring dhateng kawula wau) | اللَّهُ (Allah) | مَا يَرْجُو (menapa ingkang dipunarep-arep) | وَآمَنَهُ (lan Allah paring katentreman dhateng kawula) | مِمَّا (saking menapa) | يَخَافُ (ingkang diprunajrihi).
Rasulullah menjenguk seorang pemuda yang sedang sekarat, lalu beliau bertanya: "Bagaimana keadaanmu?" Pemuda itu menjawab: "Demi Allah, wahai Rasulullah, sungguh aku berharap kepada Allah dan sungguh aku takut akan dosa-dosaku." Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidaklah dua hal itu berkumpul pada tempat seperti ini kecuali Allah akan memberinya apa yang ia harapkan dan mengamankannya dari apa yang ia takuti," (Sunan At-Tirmizi: 983). PENJELASAN1 – Sabda Nabi (لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ) atau yang artinya, “Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal kecuali dia berprasangka baik kepada Allah 'Azza wa Jalla,” maksudnya:
هِيَ حُسْنُ الظَّنِّ بِاللَّهِ بِأَنْ يَغْفِرَ لَهُ.
Dia berprasangka baik kepada Allah bahwa Allah akan mengampuninya.
2 – Sabda Nabi (وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَرْجُو اللَّهَ) atau yang artinya, “Demi Allah, wahai Rasulullah, sungguh aku berharap kepada Allah,” maksudnya:
أَيْ أَرْجُو مَغْفِرَةَ اللَّهِ وَثَوَابَهُ.
Aku berharap ampunan dan pahala dari Allah.
3 – Sabda Nabi (فِي مِثْلِ هَذَا الْمَوْطِنِ) atau yang artinya, “Pada tempat seperti ini,” maksudnya:
أَيْ مَرَضِ الْمَوْتِ وَعِنْدَ الِاحْتِضَارِ.
Penyakit kematian dan saat sakaratul maut.
PELAJARANPelajaran yang bisa diambil dari dua hadis ini di antaranya:
١- وُجُوبُ حُسْنِ الظَّنِّ بِاللَّهِ عِنْدَ الْمَوْتِ.
1 – Wajib berprasangka baik kepada Allah saat kematian.
٢- مَشْرُوعِيَّةُ دُخُولِ الصَّالِحِينَ عَلَى الْمُحْتَضِرِ.
2 – Disyariatkannya orang-orang saleh mengunjungi orang yang sedang sakaratul maut.
٣- يَنْبَغِي لِلْإِنْسَانِ أَنْ يَرْجُوَ رَحْمَةَ اللَّهِ وَيَخَافَ ذُنُوبَهُ.
3 – Hendaknya manusia mengharapkan rahmat Allah dan takut akan dosa-dosanya.
٤- عَظِيمُ رَحْمَةِ اللَّهِ تَعَالَى.
4 – Agungnya rahmat Allah Ta’ala.
٥- يَنْبَغِي لِمَنْ حَضَرَ مُحْتَضِرٌ أَنْ يُذَكِّرَهُ بِرَحْمَةِ اللَّهِ وَفَضْلِهِ حَتَّى يَمُوتَ وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنِّ بِاللَّهِ.
5 – Hendaknya orang yang menjenguk orang sakaratul maut mengingatkannya akan rahmat dan karunia Allah hingga dia meninggal dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah.
٦- الْحَثُّ عَلَى الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ الْمُقْتَضِيَةِ لِحُسْنِ الظَّنِّ.
6- Anjuran untuk melakukan amal saleh yang menuntut prasangka baik.
تَعَاهُدُ بَلْ حَلْقِهِ وَشَفَتَيْهِMembasahi tenggorokan dan bibirnya
Adab kepada orang sakaratul maut yang ketiga adalah membasahi tenggorokan dan bibirnya. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Aisyah radhiyallahu 'anha berkata:إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ بَيْنَ يَدَيْهِ رَكْوَةٌ أَوْ عُلْبَةٌ فِيهَا مَاءٌ فَجَعَلَ يُدْخِلُ يَدَيْهِ فِي الْمَاءِ فَيَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ وَيَقُولُ: «لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ» ثُمَّ نَصَبَ يَدَهُ فَجَعَلَ يَقُولُ: «فِي الرَّفِيقِ الْأَعْلَى» حَتَّى قُبِضَ وَمَالَتْ يَدُهُ.
إِنَّ (Setuhune) | رَسُولَ اللَّهِ (Rasulullah) | ﷺ (shalallah alaihi wa sallam) | كَانَ (ana) | بَيْنَ (wonten ing ngajengipun) | يَدَيْهِ (astanaipun) | رَكْوَةٌ (wadah toya alit) | أَوْ (utawi) | عُلْبَةٌ (wadah/kaleng) | فِيهَا (ingkang isinipun) | مَاءٌ (toya) | فَجَعَلَ (lajeng panjenenganipun miwiti) | يُدْخِلُ (nglebetaken) | يَدَيْهِ (astanipun ingkang kalih) | فِي الْمَاءِ (ing dalem toya) | فَيَمْسَحُ (mangka ngusap – sapa Rasul) | بِهِمَا (kelawan kekalihipun) | وَجْهَهُ (pasuryanipun) | وَيَقُولُ (lan ngendika) | «لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ (Ora ana pangeran kang sinembah kejaba Allah) | إِنَّ (Setuhune) | لِلْمَوْتِ (keduwe pati iku) | سَكَرَاتٍ» (wonten sekaratipun) | ثُمَّ (Lajeng) | نَصَبَ (ngangkat) | يَدَهُ (astanipun) | فَجَعَلَ (lajeng panjenenganipun miwiti) | يَقُولُ (ngendika) | «فِي الرَّفِيقِ الْأَعْلَى» (Ing dalem kanca ingkang Maha Luhur) | حَتَّى (dumugi) | قُبِضَ (panjenenganipun kapundhut) | وَمَالَتْ (lan miring) | يَدُهُ (astanipun).
Sesungguhnya Rasulullah ﷺ, di depannya ada sebuah bejana atau wadah berisi air. Beliau memasukkan kedua tangannya ke dalam air lalu mengusap wajahnya dengan keduanya seraya berkata: 'Laa ilaaha illallah, sesungguhnya kematian itu ada sakaratul mautnya.' Kemudian beliau menegakkan tangannya dan mulai berkata: 'Kepada teman tertinggi, hingga beliau wafat dan tangannya terkulai, (Sahih Bukhari: 4449). PENJELASAN1 – Sabda Nabi (فِي الرَّفِيقِ الْأَعْلَى) atau yang artinya, “kepada teman tertinggi,” maksudnya:
جَمَاعَةُ الْأَنْبِيَاءِ
Kumpulan para nabi.
PELAJARANPelajaran yang bisa diambil dari hadis ini di antaranya:
١- لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٌ.
1 – Kematian memiliki sakaratul maut.
٢- اسْتِحْبَابُ بَلِّ حَلْقِ الْمُحْتَضِرِ وَشَفَتَيْهِ لِيَسْهُلَ عَلَيْهِ النُّطْقُ بِلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ.
2 – Dianjurkan membasahi tenggorokan dan bibir orang yang sakaratul maut agar mudah baginya mengucapkan "La ilaha illallah".
٣- فَضِيلَةُ كَلِمَةِ التَّوْحِيدِ.
3 – Keutamaan kalimat tauhid.
٤- تَقْرِيرُ تَوْحِيدِ الْأُلُوهِيَّةِ.
4 – Penetapan tauhid uluhiyah.
٥- تَقْرِيرُ مَوْتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِلَافًا لِمَنْ زَعَمَ أَنَّهُ حَيٌّ.
5 – Penetapan wafatnya Nabi ﷺ, berbeda dengan orang yang mengklaim bahwa beliau masih hidup.
٦- مِنْ صُوَرِ الدُّعَاءِ رَفْعُ الْإِصْبَعِ إِلَى السَّمَاءِ.
6 – Di antara bentuk doa adalah mengangkat jari ke langit.
تَلْقِينُهُ الشَّهَادَةَMentalkinkan syahadat kepadanya
Adab kepada orang sakaratul maut yang keempat adalah mentalkinkan syahadat kepadanya. Muslim meriwayatkan dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
لَقِّنُوا (Tuntuna sira kabeh) | مَوْتَاكُمْ (tiyang-tiyang ingkang badhe pejah ing antawise sira kabeh) | لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ (ora ana pangeran sinembah kejaba Allah).
Talkinkanlah kepada orang-orang yang mati di antara kalian 'Laa ilaaha illallah', (Sahih Muslim: 916). Imam Abu Dawud meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari Muadz bin Jabal Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
مَنْ (Sinten) | كَانَ (ingkang) | آخِرُ (akhir) | كَلَامِهِ (ucapanipun) | لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ (ora ana pangeran sinembah kejaba Allah) | دَخَلَ (mlebet – sapa man) | الْجَنَّةَ (ing swarga).
Barangsiapa yang akhir perkataannya adalah 'Laa ilaaha illallah', maka dia masuk surga, (Sunan Abu Dawud: 3116). PENJELASAN1 – Sabda Nabi (لَقِّنُوا) atau yang artinya, “Talkinkanlah,” maksudnya:
أَيْ ذَكِّرُوا مَنْ حَضَرَهُ الْمَوْتُ مِنْكُمْ بِكَلِمَةِ التَّوْحِيدِ بِأَنْ تَلَفَّظُوا بِهَا لِتَكُونَ آخِرَ كَلَامِهِ.
Ingatkanlah orang yang sedang menghadapi kematian di antara kalian dengan kalimat tauhid, yaitu dengan mengucapkannya agar menjadi ucapan terakhirnya.
2 – Sabda Nabi (مَوْتَاكُمْ) atau yang artinya, “orang-orang yang mati di antara kalian,” maksudnya:
أَيْ الْآيِلِينَ إِلَى الْمَوْتِ، وَالْمُرَادُ عِنْدَ الْمَوْتِ لَا عِنْدَ الدَّفْنِ.
Orang-orang yang menuju kematian, dan yang dimaksud adalah saat kematian, bukan saat penguburan.
3 – Sabda Nabi (دَخَلَ الْجَنَّةَ) atau yang artinya, “dia masuk surga,” maka arti surga adalah:
الدَّارُ الَّتِي أَعَدَّهَا اللَّهُ لِعِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ فِيهَا مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ.
Tempat yang disiapkan Allah untuk hamba-hamba-Nya yang beriman, di dalamnya terdapat apa yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas di hati manusia.
PELAJARANPelajaran yang bisa diambil dari dua hadis ini di antaranya:
١- اسْتِحْبَابُ تَلْقِينِ الْمُحْتَضِرِ كَلِمَةِ التَّوْحِيدِ.
1 – Dianjurkan mentalqin (membimbing) orang yang sedang menghadapi kematian dengan kalimat tauhid.
٢- مَنْ مَاتَ عَلَى كَلِمَةِ التَّوْحِيدِ دَخَلَ الْجَنَّةَ.
2 – Barang siapa yang meninggal dalam keadaan mengucapkan kalimat tauhid, dia akan masuk surga.
٣- الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ.
3 – Amal perbuatan itu tergantung pada akhirnya.
٤- فَضِيلَةُ كَلِمَةِ التَّوْحِيدِ.
4 – Keutamaan kalimat tauhid.
٥- وُجُوبُ نَبْذِ كُلِّ الْمَعْبُودَاتِ الْبَاطِلَةِ.
5 – Wajib meninggalkan semua sesembahan yang batil.
إِذَا قَضَى أَغْمَضُوا عَيْنَيْهِ وَدَعَوا لَهُJika telah meninggal, pejamkan matanya dan doakan
Adab kepada orang sakaratul maut yang kelima adalah memejamkan matanya dan mendoakannya. Imam Muslim meriwayatkan dari Ummu Salamah Radhiyallahu Anha yang berkata:دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَبِي سَلَمَةَ وَقَدْ شَقَّ بَصَرُهُ فَأَغْمَضَهُ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الرُّوحَ إِذَا قُبِضَ تَبِعَهُ الْبَصَرُ
دَخَلَ (Mlebet) | رَسُولُ اللَّهِ (Sapa Rasulullah) | صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (shalallah alaihi wa sallam) | عَلَى (ing atase) | أَبِي سَلَمَةَ (Abu Salamah) | وَقَدْ (lan sampun) | شَقَّ (mbukak) | بَصَرُهُ (paningalipun – sapa Abu Salamah) | فَأَغْمَضَهُ (mila nutup sapa Rasul ing paningalipun Abu Salamah) | ثُمَّ (lajeng) | قَالَ (ngendika – sapa Rasul) | إِنَّ (Setuhune) | الرُّوحَ (nyawa) | إِذَا (nalikane) | قُبِضَ (dipunjabut) | تَبِعَهُ (dipuniringi) | الْبَصَرُ (paningal).
Rasulullah ﷺ masuk menemui Abu Salamah, yang saat itu matanya terbelalak (karena meninggal dunia). Lalu Rasulullah ﷺ memejamkan matanya seraya bersabda, "Sesungguhnya roh apabila dicabut, pandangan mata akan mengikutinya."فَضَجَّ نَاسٌ مِنْ أَهْلِهِ فَقَالَ لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِلَّا بِخَيْرٍ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ
فَضَجَّ (Mila sami rame/nangis) | نَاسٌ (sapa pinten-pinten tiyang) | مِنْ أَهْلِهِ (saking kulawarganipun) | فَقَالَ (mila ngendika – sapa Rasul) | لَا تَدْعُوا (Aja nyuwun) | عَلَى أَنْفُسِكُمْ (ing atase awak-awak sira kabeh) | إِلَّا (kejaba) | بِخَيْرٍ (kelawan kasaenan) | فَإِنَّ (amargi setuhune) | الْمَلَائِكَةَ (malaikat) | يُؤَمِّنُونَ (ngamini) | عَلَى مَا (ing atase menapa mawon) | تَقُولُونَ (panjenengan ucapaken).
Maka beberapa orang dari keluarganya (Abu Salamah) meratap dengan suara keras. Rasulullah ﷺ bersabda, "Janganlah kalian berdoa untuk diri kalian kecuali dengan kebaikan, karena sesungguhnya para malaikat mengamini apa yang kalian katakan."ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَبِي سَلَمَةَ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّينَ وَاخْلُفْهُ فِي عَقِبِهِ فِي الْغَابِرِينَ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ وَافْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ
ثُمَّ (Lajeng) | قَالَ (ngendika – sapa Rasul) | اللَّهُمَّ (Dhuh Gusti Allah) | اغْفِرْ (nywun Paduka paring pangapunten) | لِأَبِي سَلَمَةَ (kagem Abu Salamah) | وَارْفَعْ (lan Paduka unggahna) | دَرَجَتَهُ (derajatipun) | فِي الْمَهْدِيِّينَ (ing dalem golongan tiyang-tiyang ingkang pikantuk pitedah) | وَاخْلُفْهُ (lan Paduka gentos ing piyambakipun) | فِي عَقِبِهِ (ing dalem turunipun) | فِي الْغَابِرِينَ (ing dalem tiyang-tiyang ingkang taksih wonten) | وَاغْفِرْ (lan ngapunten sapa Paduka) | لَنَا (dhateng kita) | وَلَهُ (lan dhateng piyambakipun) | يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ (dhuh Pengeraning sedaya jagad) | وَافْسَحْ (lan Paduka jembaraken) | لَهُ (kagem piyambakipun) | فِي قَبْرِهِ ing dalem kuburanipun) | وَنَوِّرْ (lan Paduka padhangi) | لَهُ (kagem piyambakipun) | فِيهِ (ing dalem kuburipun).
Kemudian beliau berdoa, "Ya Allah, ampunilah Abu Salamah, angkatlah derajatnya di kalangan orang-orang yang mendapat petunjuk, gantikanlah dia dalam keluarganya di antara orang-orang yang masih hidup, ampunilah kami dan dia wahai Tuhan semesta alam, lapangkanlah kuburnya, dan terangilah dia di dalamnya," (Sahih Muslim: 920). PENJELASANAbu Salamah adalah Abu Salamah bin Abd al-Asad bin Hilal bin Abd Allah bin Umar bin Makhzum, saudara sepersusuan Rasulullah ﷺ, dan putra dari bibi Nabi ﷺ yang bernama, Barrah binti Abd al-Muttalib.
Beliau adalah suami dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha, salah satu dari orang-orang yang pertama kali masuk Islam, berhijrah ke Habasyah, kemudian berhijrah ke Madinah, menyaksikan Badar, dan meninggal beberapa bulan setelah itu; ketika beliau masuk Madinah, lukanya kambuh, lalu beliau meninggal pada Jumadil Akhir tahun keempat, dan ketika masa iddah istrinya, Ummu Salamah, selesai, Nabi ﷺ menikahinya.
PELAJARANPelajaran yang bisa diambil dari hadis ini di antaranya:
١- مِنَ الْآدَابِ الَّتِي يَنْبَغِي فِعْلُهَا عِنْدَ الْمُحْتَضَرِ بَعْدَ مَوْتِهِ: تَغْمِيضُ عَيْنَيْهِ.
1 – Di antara adab yang hendaknya dilakukan pada orang yang sedang sakaratul maut setelah meninggalnya: memejamkan matanya.
٢- اسْتِحْبَابُ الدُّعَاءِ بِالْخَيْرِ عِنْدَ الْمَيِّتِ.
2 – Dianjurkan berdoa dengan kebaikan di samping jenazah.
٣- اسْتِحْبَابُ الدُّعَاءِ لِلْمَيِّتِ عِنْدَ مَوْتِهِ وَلِأَهْلِهِ وَذُرِّيَّتِهِ بِأُمُورِ الْآخِرَةِ وَالدُّنْيَا.
3 – Dianjurkan berdoa untuk jenazah saat meninggalnya, dan untuk keluarga serta keturunannya terkait urusan akhirat dan dunia.
٤- يَنْبَغِي أَنْ يُقَالَ بَعْدَ إِغْمَاضِ الْمَيِّتِ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِفُلَانٍ – وَيُسَمِّيهِ بِاسْمِهِ – وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ إِلَى آخِرِ مَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ.
4 – Hendaknya diucapkan setelah memejamkan mata jenazah: "Ya Allah, ampunilah fulan – dan sebutkan namanya – dan angkatlah derajatnya" dan seterusnya seperti yang diucapkan Nabi ﷺ kepada Abu Salamah radhiyallahu 'anhu.
٥- كَرَاهَةُ الدُّعَاءِ بِالشَّرِّ عِنْدَ الْمَيِّتِ.
5 – Makruh berdoa dengan keburukan di samping jenazah.
٦- تَقْرِيرُ مَبْدَإِ الْإِيمَانِ بِالْيَوْمِ الْآخِرِ.
6 – Penetapan prinsip keimanan pada hari akhir.
٧- تَقْرِيرُ مَبْدَإِ الْإِيمَانِ بِعَذَابِ الْقَبْرِ وَنَعِيمِهِ.
7 – Penetapan prinsip iman kepada azab dan nikmat kubur.
٨- الْأَوْلَى عِنْدَ الدُّعَاءِ أَنْ يَبْدَأَ الدَّاعِي بِنَفْسِهِ أَوَّلًا ثُمَّ يَدْعُو لِمَنْ شَاءَ.
8 – Yang utama saat berdoa adalah seorang pendoa memulai dengan dirinya sendiri terlebih dahulu, kemudian berdoa untuk siapa saja yang dia kehendaki.
٩- الْمَوْتُ لَيْسَ بِفَنَاءٍ وَلَا إِعْدَامٍ، وَإِنَّمَا هُوَ انْتِقَالُ وَتَغَيُّرُ حَالِيٍّ، وَإِعْدَامُ الْجَسَدِ دُونَ الرُّوحِ، إِلَّا مَا اسْتُثْنِيَ مِنْ عَجَبِ الذَّنْبِ.
9 – Kematian bukanlah kefanaan dan bukan pula ketiadaan, melainkan perpindahan dan perubahan keadaan, serta hilangnya jasad tanpa ruh, kecuali apa yang dikecualikan dari 'ajbuz dzanb (tulang ekor).
١٠- الرُّوحُ جِسْمٌ لَطِيفٌ مُتَخَلِّلٌ فِي الْبَدَنِ وَتَذْهَبُ الْحَيَاةُ مِنَ الْجَسَدِ بِذَهَابِهَا.
10 – Ruh adalah jasad yang lembut yang meresap dalam tubuh dan kehidupan akan hilang dari tubuh dengan hilangnya ruh.
١١- لَعَلَّ الْحِكْمَةَ أَنْ لَا يَقْبُحَ مَنْظَرُهُ إِذَا تَرَكَ إِغْمَاضَهُ.
11 – Barangkali hikmahnya adalah agar pemandangannya tidak menjadi buruk jika dibiarkan matanya tidak dipejamkan.
شَدُّ لَحْيَيْهِ وَتَلْيِينُ مَفَاصِلِهِMengikat dagunya dan melenturkan persendiannya
Adab kepada orang sakaratul maut yang keenam adalah mengikat dagunya dan melenturkan persendiannya. Imam Abu Dawud meriwayatkan dengan sanad hasan dari Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:كَسْرُ عَظْمِ الْمَيِّتِ كَكَسْرِهِ حَيًّا
كَسْرُ (Mecahaken) | عَظْمِ (balungipun) | الْمَيِّتِ (jenazah) | كَكَسْرِهِ (kados mecahaken) | حَيًّا (nalika taksih gesang).
Mematahkan tulang mayat sama seperti mematahkannya ketika hidup, (Sunan Abu Dawud: 3207). PELAJARANPelajaran yang bisa diambil dari hadis ini di antaranya:
١- تَعْظِيمُ الْإِسْلَامِ لِلْإِنْسَانِ حَيًّا وَمَيِّتًا.
1 – Pengagungan Islam terhadap manusia, baik yang hidup maupun yang sudah meninggal dunia.
٢- يَنْبَغِي لِمَنْ حَضَرَ مَيِّتًا أَنْ يَشُدَّ لَحْيَيْهِ وَيُلَيِّنَ مَفَاصِلَهُ؛ لِئَلَّا يَكْسَرَهَا.
2 – Hendaknya orang yang menghadiri jenazah mengikat rahang jenazah dan melenturkan sendi-sendinya agar tidak patah.
٣- لَا يُهَانُ مَيِّتًا كَمَا لَا يُهَانُ حَيًّا.
3 – Jenazah tidak boleh dihinakan sebagaimana orang hidup tidak boleh dihinakan.
تَوْجِيهُهُ إِلَى الْقِبْلَةِMenghadapkannya ke kiblat
Adab kepada orang sakaratul maut yang ketujuh adalah menghadapkannya ke kiblat. Imam Abu Dawud meriwayatkan dari Umair bin Qatadah bin Sa’ad Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:الْبَيْتِ الْحَرَامِ قِبْلَتِكُمْ أَحْيَاءً وَأَمْوَاتًا
الْبَيْتِ الْحَرَامِ (Ka'bah/Baitullah Al-Haram) | قِبْلَتِكُمْ (kiblat sira kabeh) | أَحْيَاءً (nalika gesang) | وَأَمْوَاتًا (lan nalika sampun seda).
Baitul Haram (Ka'bah) adalah kiblat kalian, baik saat hidup maupun setelah meninggal, (Sunan Abu Dawud: 2875). PENJELASAN1 – Sabda Nabi (قِبْلَتَكُمْ أَحْيَاءً) atau yang artinya, “Kiblat kalian saat hidup,” maksudnya:
أَيْ فِي الْحَيَاةِ فِي الصَّلَاةِ.
Dalam kehidupan saat salat.
2 – Sabda Nabi (وَأَمْوَاتًا) atau yang artinya, “setelah meninggal,” maksudnya:
أَيْ عِنْدَ الْمَوْتِ وَالدَّفْنِ.
Saat kematian dan penguburan.
PELAJARANPelajaran yang bisa diambil dari hadis ini di antaranya:
١- اسْتِحْبَابُ تَوْجِيهِ الْمَيِّتِ إِلَى الْقِبْلَةِ.
1 – Dianjurkan menghadapkan jenazah ke kiblat.
٢- يُشْتَرَطُ لِصِحَّةِ الصَّلَاةِ التَّوَجُّهُ لِلْقِبْلَةِ.
2 – Disyaratkan untuk sahnya salat menghadap kiblat.
٣- عَظِيمُ مَكَانَةِ الْبَيْتِ الْحَرَامِ.
3 – Agungnya kedudukan Baitul Haram.
تَجْرِيدُهُ مِنْ ثِيَابِهِMelepas pakaiannya
Adab kepada orang sakaratul maut yang kedelapan adalah melepas pakaiannya. Imam Abu Dawud meriwayatkan dengan sanad yang Hasan dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang berkata:لَمَّا أَرَادُوا غَسْلَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا وَاللَّهِ مَا نَدْرِي أَنُجَرِّدُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ ثِيَابِهِ كَمَا نُجَرِّدُ مَوْتَانَا أَمْ نَغْسِلُهُ وَعَلَيْهِ ثِيَابُهُ
لَمَّا (Nalika) | أَرَادُوا (pinten-pinten sahabat badhe) | غَسْلَ (nyiram) | النَّبِيِّ (ing Nabi) | صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (shalallah alaihi wa sallam) | قَالُوا (sami matur pinten-pinten sahabat wau) | وَاللَّهِ (Demi Allah) | مَا نَدْرِي (boten ngertos sapa kita) | أَنُجَرِّدُ (punapa kita ngudari) | رَسُولَ اللَّهِ (Rasulullah) | صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (shalallah alaihi wa sallam) | مِنْ ثِيَابِهِ (saking agemanipun) | كَمَا (kados dene) | نُجَرِّدُ (kita ngudari) | مَوْتَانَا (tiyang pejah kita) | أَمْ (punapa) | نَغْسِلُهُ (kita nyiram ing kanjeng Nabi) | وَعَلَيْهِ (dene taksih ngagem sapa Rasul) | ثِيَابُهُ (ing agemanipun).
Ketika mereka (para sahabat) ingin memandikan Nabi ﷺ, mereka berkata, "Demi Allah, kami tidak tahu apakah kami harus melepaskan pakaian Rasulullah ﷺ seperti kami melepaskan pakaian orang mati kami, atau apakah kami memandikannya dalam keadaan masih berpakaian,” (Sunan Abu Dawud: 3141). PELAJARANPelajaran yang bisa diambil dari hadis ini di antaranya:
١- مَشْرُوعِيَّةُ تَجْرِيدِ الْمَيِّتِ مِنْ ثِيَابِهِ عِنْدَ الْغَسْلِ.
1 – Disyariatkannya melepas pakaian jenazah saat memandikan.
٢- يَجُوزُ لِلْمَرْأَةِ تَغْسِيلُ زَوْجِهَا.
2 – Boleh bagi seorang wanita untuk memandikan suaminya.
٣- عَظِيمُ مَكَانَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.
3 – Agungnya kedudukan Nabi ﷺ di sisi Rabnya, Subhanahu wa Ta'ala.
تَغْطِيَتُهُ بِثَوْبٍ إِلَّا الْمُحْرِمَ فَلَا يُغَطَّى وَجْهُهُ وَرَأْسُهُMenutupinya dengan kain kecuali muhrim, maka wajah & kepala tidak
Adab kepada orang sakaratul maut yang kesembilan adalah menutupinya dengan kain kecuali muhrim. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma yang berkata:بَيْنَمَا رَجُلٌ وَاقِفٌ بِعَرَفَةَ إِذْ وَقَعَ عَنْ رَاحِلَتِهِ فَوَقَصَتْهُ أَوْ قَالَ فَأَوْقَصَتْهُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ وَكَفِّنُوهُ فِي ثَوْبَيْنِ وَلَا تُحَنِّطُوهُ وَلَا تُخَمِّرُوا رَأْسَهُ فَإِنَّهُ يُبْعَثُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُلَبِّيًا
بَيْنَمَا (Nalika) | رَجُلٌ (sawijining tiyang kakung) | وَاقِفٌ (ngadeg sapa rajul) | بِعَرَفَةَ (wonten ing Arafah) | إِذْ (dumadakan) | وَقَعَ (dhawah sapa rajul) | عَنْ رَاحِلَتِهِ (saking tungganganipun rajul) | فَوَقَصَتْهُ (mila tungganganipun ngidak ing rajul) | أَوْ قَالَ (utawi panjenenganipun ngendika) | فَأَوْقَصَتْهُ (mila tungganganipun mateni ing rajul) | قَالَ (ngendika sapa Nabi) | النَّبِيُّ (Nabi) | صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (shalallah alaihi wa sallam) | اغْسِلُوهُ (Adusana ing rajul) | بِمَاءٍ (kelawan toya) | وَسِدْرٍ (lan widara) | وَكَفِّنُوهُ (lan ulesana ing rajul) | فِي ثَوْبَيْنِ (ing kalih lembar kain) | وَلَا تُحَنِّطُوهُ (lan ampun dipunparingi wewangian) | وَلَا تُخَمِّرُوا (lan ampun nutupi) | رَأْسَهُ (sirahipun rajul) | فَإِنَّهُ (kerana setuhune rajul) | يُبْعَثُ (badhe dipunwungokaken) | يَوْمَ الْقِيَامَةِ (ing dinten kiyamat) | مُلَبِّيًا (kanthi ngucap talbiyah).
Ketika seorang laki-laki sedang wukuf di Arafah, tiba-tiba ia terjatuh dari kendaraannya, lalu kendaraannya menginjaknya (atau beliau berkata: menjatuhkannya hingga meninggal). Nabi ﷺ bersabda, "Mandikanlah ia dengan air dan daun bidara, kafanilah ia dengan dua helai kain, jangan berikan wewangian padanya, dan jangan tutupi kepalanya. Karena sesungguhnya ia akan dibangkitkan pada hari Kiamat dalam keadaan bertalbiyah," (Sahih Bukhari: 1265). PELAJARANPelajaran yang bisa diambil dari hadis ini di antaranya:
١- وُجُوبُ تَغْسِيلِ الْمَيِّتِ، وَأَنَّهُ فَرْضُ كِفَايَةٍ.
1 – Wajib memandikan jenazah, dan itu adalah fardu kifayah.
٢- مَشْرُوعِيَّةُ اغْتِسَالِ الْمُحْرِمِ.
2 – Disyariatkannya mandi jenazah bagi orang meninggal dalam kondisi ihram.
٣- الْحَثُّ عَلَى الِاعْتِنَاءِ بِنَظَافَةِ الْمَيِّتِ وَتَنْقِيَتِهِ، إِذْ أَمَرَهُمْ أَنْ يَجْعَلُوا مَعَ الْمَاءِ سِدْرًا.
3 – Anjuran untuk memperhatikan kebersihan dan penyucian jenazah, karena mereka diperintahkan untuk mencampur air dengan daun bidara.
٤- الْمَاءُ إِذَا خَالَطَهُ طَاهِرٌ فَإِنَّهُ يَبْقَى طَاهِرًا بِذَاتِهِ مُطَهِّرًا لِغَيْرِهِ.
4 – Air jika bercampur dengan sesuatu yang suci, maka ia tetap suci pada zatnya dan menyucikan yang lain.
٥- وُجُوبُ تَكْفِينِ الْمَيِّتِ.
5 – Wajib mengkafani jenazah.
٦- تَحْرِيمُ تَغْطِيَةِ رَأْسِ الْمَيِّتِ الْمُحْرِمِ، وَالْوَجْهِ لِلْأُنْثَى.
6 – Haram menutupi kepala jenazah yang meninggal dalam kondisi ihram, dan wajah bagi jenazah wanita.
تَحْسِينُ الْكَفَنِMemperbagus kain kafan
Adab kepada orang sakaratul maut yang ke-10 adalah memperbagus kain kafannya. Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu Anhuma bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:إِذَا كَفَّنَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُحَسِّنْ كَفَنَهُ
إِذَا (Menawi) | كَفَّنَ (ngafani sapa) | أَحَدُكُمْ (salah sawijining sira kabeh) | أَخَاهُ (ing sedherekipun salah sawijining sira kabeh) | فَلْيُحَسِّنْ (mila bagusna sapa ahadukum) | كَفَنَهُ (kafannipun).
Apabila salah seorang di antara kalian mengkafani saudaranya, maka hendaklah dia memperbagus kafannya, (Sahih Muslim: 943). PENJELASANSabda Nabi (فَلْيُحَسِّنْ كَفَنَهُ) atau yang artinya, “hendaklah dia memperbagus kafannya,” maksudnya:
أَيْ تَكْفِينَهُ فَيَشْمَلُ الثَّوْبَ وَهَيْئَتَهُ وَعَمَلَهُ، وَالْمُرَادُ بِتَحْسِينِ الْكَفَنِ بَيَاضُهُ وَنَظَافَتُهُ وَنَقَاؤُهُ وَسُبُوغُهُ وَكِثَافَتُهُ.
Pengkafanan jenazahnya mencakup kainnya, bentuknya, dan cara pembuatannya. Yang dimaksud dengan memperbagus kafan adalah keputihannya, kebersihannya, kemurniannya, kesempurnaannya, dan ketebalannya.
PELAJARANPelajaran yang bisa diambil dari hadis ini di antaranya:
١- الْحَثُّ عَلَى تَحْسِينِ الْكَفَنِ.
1 – Anjuran untuk memperbagus kafan.
٢- تَكْرِيمُ الْمُسْلِمِ حَيًّا وَمَيِّتًا.
2 – Memuliakan Muslim baik hidup maupun mati.
٣- مَشْرُوعِيَّةُ التَّوْكِيلِ فِي التَّكْفِينِ وَتَجْهِيزِ الْمَيِّتِ.
3 – Disyariatkannya menunjuk wakil dalam pengkafanan dan pengurusan jenazah.
التَّعْجِيلُ بِتَجْهِيزِهِ وَدَفْنِهِ إِذَا تَيَقَّنُوا مَوْتَهُMenyegerakan pengurusan dan penguburannya jika yakin telah meninggal
Adab kepada orang sakaratul maut yang terakhir adalah menyegerakan mengurus dan mengubur jenazah. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:أَسْرِعُوا بِالْجِنَازَةِ فَإِنْ تَكُ صَالِحَةً فَخَيْرٌ تُقَدِّمُونَهَا وَإِنْ يَكُ سِوَى ذَلِكَ فَشَرٌّ تَضَعُونَهُ عَنْ رِقَابِكُمْ
أَسْرِعُوا (Age-ageya) | بِالْجِنَازَةِ (kelawan jenazah) | فَإِنْ (kerana menawi) | تَكُ (punika) | صَالِحَةً (tiyang ingkang sae) | فَخَيْرٌ (mila punika kasaenan) | تُقَدِّمُونَهَا (ingkang sira enggal-enggalaken) | وَإِنْ (lan menawi) | يَكُ (punika) | سِوَى ذَلِكَ (sanesipun mekaten) | فَشَرٌّ (mila punika awon) | تَضَعُونَهُ (ingkang sira tilaraken) | عَنْ رِقَابِكُمْ (saking gulu sira kabeh).
Bersegeralah dengan jenazah. Jika dia adalah jenazah orang saleh, maka itu adalah kebaikan yang kalian segerakan untuknya. Dan jika bukan demikian, maka itu adalah keburukan yang kalian lepaskan dari pundak kalian, (Sahih Bukhari: 1315).Imam At-Tirmizi meriwayatkan dari Ali bin Abi Talib Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah ﷺ berwasiat kepadanya:
يَا عَلِيُّ ثَلَاثٌ لَا تُؤَخِّرْهَا الصَّلَاةُ إِذَا آنَتْ وَالْجَنَازَةُ إِذَا حَضَرَتْ وَالْأَيِّمُ إِذَا وَجَدْتَ لَهَا كُفْئًا
يَا عَلِيُّ (Dhuh Ali) | ثَلَاثٌ (tiga perkawis) | لَا تُؤَخِّرْهَا (aja kok tunda) | الصَّلَاةُ (salat) | إِذَا آنَتْ (menawi wekdalipun sampun dugi) | وَالْجَنَازَةُ (lan jenazah) | إِذَا حَضَرَتْ (menawi sampun siyaga) | وَالْأَيِّمُ (lan tiyang estri ingkang janda/boten gadhah garwa) | إِذَا وَجَدْتَ (menawi sira sampun manggihaken) | لَهَا (kangge piyambakipun) | كُفْئًا (tiyang jaler ingkang sakufu'/cocok).
Wahai Ali, ada tiga perkara yang tidak boleh kamu tunda: salat apabila telah tiba waktunya, jenazah apabila telah tiba (waktunya untuk diurus), dan wanita lajang (janda/gadis) apabila kamu menemukan jodoh yang sekufu' untuknya, (Sunan At-Tirmizi: 171). PENJELASANSabda Nabi (أَسْرِعُوا) atau yang artinya, “Bersegeralah,” maksudnya:
أَمْرٌ مِنَ الْإِسْرَاعِ، وَالْمُرَادُ بِالْإِسْرَاعِ الْإِسْرَاعُ الْمُتَوَسِّطُ بَيْنَ شِدَّةِ السَّعْيِ وَبَيْنَ الْمَشْيِ الْمُعْتَادِ.
Perintah untuk bercepat-cepat, dan yang dimaksud dengan cepat adalah cepat sedang antara lari cepat dan berjalan biasa.
PELAJARANPelajaran yang bisa diambil dari hadis ini di antaranya:
١- التَّعْجِيلُ بِتَجْهِيزِ الْمَيِّتِ وَدَفْنِهِ إِذَا تَيَقَّنُوا مَوْتَهُ.
1 – Menyegerakan pengurusan jenazah dan penguburannya jika mereka yakin akan kematiannya.
٢- عَدَمُ مَشْرُوعِيَّةِ تَأْخِيرِ الْجِنَازَةِ.
2 - Tidak disyariatkan menunda-nunda dalam mengantar jenazah.
٣- وُجُوبُ الصَّلَاةِ فِي وَقْتِهَا.
3 – Wajib salat pada waktunya.
٤- الْحَثُّ عَلَى تَزْوِيجِ الْمَرْأَةِ إِنْ وُجِدَ لَهَا كُفُؤٌ.
4 – Anjuran untuk menikahkan wanita jika ditemukan pasangan yang sekufu baginya.
٥- تَقْرِيرُ الْإِيمَانِ بِنَعِيمِ الْقَبْرِ، وَعَذَابِهِ.
5 – Penetapan konsep iman terhadap nikmat kubur dan azabnya.
٦- الْأَمْرُ بِالْإِسْرَاعِ بِالْجِنَازَةِ لِلنَّدْبِ بِلَا خِلَافٍ بَيْنَ الْعُلَمَاءِ، وَشَذَّ ابْنُ حَزْمٍ فَقَالَ بِوُجُوبِهِ.
6 – Perintah untuk mempercepat dalam mengantar jenazah adalah sunah tanpa perbedaan pendapat di antara ulama, dan Ibnu Hazm menyimpang dengan menyatakan wajibnya.
Demikian adab kepada orang sakaratul maut yang kami terjemahkan dari Sahihul Adab Al-Islamiyah karya Syaikh Wahid Abdussalam Bali hafizahullah. Semoga bermanfaat!
Karangasem, 19 Juli 2025
Irfan Nugroho (Semoga Allah mengampuni dosanya, menerima amal ibadahnya, dan mengabulkan doanya. Aamiin)
Post a Comment for "Sahihul Adab: Adab kepada Orang Sakaratul Maut"