Pembaca rahimakumullah, berikut adalah artikel tentang Iman kepada Allah yang kami terjemahkan dari matan Bidayah fi Akidah karya Syaikh Wahid Abdussalam Bali hafizahullah, disertai dengan ringkasan penjelasan dari Syaikh Khalid Mahmud Al-Juhani. Semoga bermanfaat!
اَلْبَابُ الْأَوَّلُ: اَلْإِيْمَانُ بِاللّٰهِ.BAB 1: IMAN KEPADA ALLAH[1]
وَفِيهِ سَبْعَةٌ ضَوَابِطُ: Di dalamnya ada tujuh pedoman:الضَّابِطُ الأَوَّلُ: تَوْحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ: هُوَ إِفْرَادُ اللَّهِ بِأَفْعَالِهِ.
Pedoman 1: Tauhid[2] Rububiyah[3] adalah mengesakan Allah dalam perbuatan-perbuatan-Nya.[4]الضَّابِطُ الثَّانِي: تَوْحِيدُ الْأُلُوهِيَّةِ: هُوَ إِفْرَادُ اللَّهِ بِالْعِبَادَةِ.
Pedoman 2: Tauhid Uluhiyah[5] adalah mengesakan Allah dalam ibadah.[6]الضَّابِطُ الثَّالِثُ: تَوْحِيدُ الْأَسْمَاءِ وَالصِّفَاتِ: هُوَ إِفْرَادُ اللَّهِ بِمَا سَمَّى وَوَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ فِي كِتَابِهِ، وَعَلَى لِسَانِ رَسُولِهِ ﷺ.
Pedoman 3: Tauhid Asma' wa Sifat adalah mengesakan Allah dengan apa yang Allah namai dan Allah sifatkan bagi diri-Nya sendiri di dalam Kitab-Nya, dan melalui lisan Rasul-Nya ﷺ.[7]الضَّابِطُ الرَّابِعُ: الْإِيمَانُ بِصِفَاتِ اللَّهِ مِن غَيْرِ تَحْرِيفٍ، وَلاَ تَأْوِيلٍ، وَلَا تَشْبِيْهٍ، وَلَا تَكْيِيفٍ.
Pedoman 4: Iman kepada sifat-sifat Allah[8] tanpa tahrif (mengubah),[9] ta'wil (menafsirkan),[10] tasybih (menyerupakan),[11] dan takyif (mempertanyakan bagaimana-Nya).[12]الضَّابِطُ الْخَامِسُ: الْعِبَادَاتُ أَرْبَعَةُ أَقْسَامٍ:
Pedoman 5: Ibadah itu ada empat (4) macam:١- عِبَادَاتٌ بَدَنِيَّةٌ.
1 – Ibadah Badan
٢- عِبَادَاتٌ قَوْلِيَّةٌ.
2 – Ibadah Lisan.
٣- عِبَادَاتٌ مَالِيَّةٌ.
3 – Ibadah Harta.
٤- عِبَادَاتٌ قَلْبِيَّةٌ.
4 – Ibadah Hati.
الضَّابِطُ السَّادِسُ: الْتَّوَسُّلُ قِسْمَانِ:
Pedoman 6: Tawassul ada dua macam:أ- الْتَّوَسُّلُ الْمَشْرُوعُ: وَهُوَ التَّوَسُّلُ إِلَى اللَّهِ بِاسْمٍ مِنْ أَسْمَائِهِ أَوْ صِفَةٍ مِنْ صِفَاتِهِ، أَوْ بِعَمَلِ صَالِحٍ، أَوْ بِطَلَبِ الدُّعَاءِ مِنْ الرَّجُلِ الصَّالِحِ.
1 - Tawassul yang disyariatkan: yaitu tawassul kepada Allah dengan salah satu nama-Nya, atau salah satu sifat-Nya, atau dengan amal saleh, atau dengan meminta doa dari orang saleh.ب- الْتَّوَسُّلُ الْمَمْنُوعُ: التَّوَسُّلُ إِلَى اللَّهِ بِمَا لَمْ يَثْبُتْ فِي الشَّرْعِ أَنَّهُ وَسِيلَةٌ.
2 - Tawassul yang dilarang: tawassul kepada Allah dengan sesuatu yang tidak ditetapkan dalam syariat sebagai sarana (wasilah).الضَّابِطُ السَّابِعُ: أُصُولُ الشِّرْكِ تِسْعَةٌ:
Pedoman 7: Pokok-pokok syirik ada sembilan:١- السِّحْرُ.
1 – Sihir.
٢- الْكَهَانَةُ.
2 – Perdukunan.
٣- التَّطَيُّرُ
3 – Tathayur.
٤- الذَّبْحُ لِغَيْرِ اللَّهِ.
4 – Menyembelih untuk selain Allah.
٥- النَّذْرُ لِغَيْرِ اللَّهِ.
5 – Nazar untuk selain Allah.
٦- الِاسْتِعَاذَةُ بِغَيْرِ اللَّهِ.
6 – Memohon perlindungan kepada selain Allah.
٧- دُعَاءُ غَيْرِ اللَّهِ.
7 – Berdoa kepada selain Allah.
٨- الِاعْتِقَادُ فِي النُّجُومِ وَالْأَنْوَاءِ.
8 – Keyakinan pada bintang-bintang dan fenomena alam (cuaca).
٩- الِاعْتِقَادُ أَنَّ غَيْرَ اللَّهِ يَنْفَعُ أَوْ يَضُرُّ.
9 – Keyakinan bahwa selain Allah dapat memberi manfaat atau mudarat.
PENJELASAN [1] Iman secara bahasa adalah:التَّصْدِيقُ وَالْإِقْرَارُ
Membenarkan dan mengakui.
Secara istilah, iman (jika disandingkan dengan Islam) adalah:
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
Engkau beriman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhir, dan engkau beriman kepada Qada yang baik dan buruk.
Iman kepada Allah adalah pokok iman yang paling penting, paling agung kedudukannya, dan paling tinggi nilainya. Iman kepada Allah adalah dasar dari pokok-pokok iman, pondasi bangunannya, penopang urusanya, dan sisa pokok-pokok iman hanyalah cabang.
[2] Tauhid secara bahasa artinya:الْإِفْرَادُ
Mengesakan (menjadikan satu-satunya).
Tauhid secara istilah adalah:إِفْرَادُ اللَّهِ تَعَالَى بِالْخَلْقِ، وَالتَّدْبِيرِ، وَالسِّيَادَةِ، وَالْمُلْكِ، وَإِفْرَادِهِ ﷺ بِالْعِبَادَةِ، وَبِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ
Mengesakan Allah Ta'ala dalam penciptaan, pengaturan, kepemimpinan, dan kerajaan, serta mengesakan-Nya ﷺ dalam ibadah, serta dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
[3] Ar-Rububiyyah secara bahasa berasal dari kata kerja rabba (mendidik/memelihara). Kata ini berasal dari nama Allah, yaitu Ar-Rabb. Dalam bahasa Arab, Ar-Rabb memiliki beberapa makna, di antaranya:الْمَالِكُ، وَالسَّيِّدُ الْمُطَاعُ، وَالْمُصْلِحُ
Pemilik, tuan yang ditaati, dan pemberi perbaikan.
[4] Inilah definisi Tauhid Rububiyah. Maksudnya, “Allah menciptakan alam semesta ini sendirian. Allah mengatur alam semesta ini sendirian. Allah memimpin alam semesta ini sendirian. Allah memiliki alam semesta ini sendirian.” [5] Uluhiyah secara bahasa artinya:أَلِهَ يَأْلَهُ
Mengabdi/menyembah.
[6] Inilah definisi Tauhid Uluhiyah. Maksudnya, “Kita salat hanya karena Allah. Kita menyembelih hanya karena Allah. Kita berdoa hanya kepada Allah. Intinya, kita melakukan ibadah apa pun itu hanya karena/untuk/kepada Allah.” Ibadah secara bahasa artinya:التَّذَلُّلُ وَالْخُضُوعُ
Kerendahan diri dan ketundukan.
Ibadah secara istilah artinya:اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ مِنَ الْأَقْوَالِ، وَالْأَعْمَالِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ
Istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah berupa perkataan dan perbuatan, baik yang lahir maupun yang batin.
[7] Inilah definisi Tauhid Asma wa Sifat. Maksudnya, “Kalau Allah menyebut diriNya ‘Maha Pengampun,’ maka tidak ada yg menyamai apalagi mengalahkan Allah dalam memberi ampunan. Kalau Allah menyebut diriNya ‘Maha Penyayang,’ maka tidak boleh kita menganggap ada yang mampu menyamai Allah apalagi mengungguli Allah dalam hal sifat penyayang.” Para ulama berkata, “Nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah tauqifiyah (berdasarkan wahyu). Akal tidak memiliki ruang untuk berijtihad di dalamnya. Artinya, penetapan ‘Asma dan Sifat Allah’ bergantung pada apa yang terdapat di dalam syariat, sehingga tidak boleh ditambah atau dikurangi. Mengapa? Karena akal tidak mungkin mampu untuk memahami apa yang pantas dan layak bagi Allah ta'ala dari nama-nama tersebut (kecuali berdasarkan apa yang Allah tetapkan sendiri bagi diriNya). Maka, dalam urusan Asma dan Sifat Allah, wajib untuk berhenti pada keterangan yang terdapat di dalam syariat.” [8] Apa yang dimaksud “Iman kepada Sifat-Sifat Allah”? Syaikh Khalid Mahmud Al-Juhani berkata:لْإِيمَانُ بِصِفَاتِ اللَّهِ تَكُونُ بِالتَّصْدِيقِ الْجَازِمِ، وَالْإِقْرَارِ بِصِفَاتِ اللَّهِ تَعَالَى الْوَارِدَةِ فِي الْكِتَابِ، وَالسُّنَّةِ
Beriman kepada sifat-sifat Allah adalah dengan pembenaran yang tegas dan pengakuan terhadap sifat-sifat Allah Ta'ala yang disebutkan dalam Kitab (Al-Qur'an) dan Sunnah.
Pilar Iman kepada Sifat-Sifat Allah ada tiga:الْأَصْلُ الْأَوَّلُ: التَّنْزِيهُ: أَيْ تَنْزِيهُ اللَّهِ ﷺ عَنْ أَنْ يُشْبِهَ شَيْئًا مِنْ صِفَاتِهِ مِنْ صِفَاتِ الْمَخْلُوقِينَ.
Pilar 1: Tanzih (Mensucikan Allah): Yaitu mensucikan Allah ﷺ dari upaya menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk.الْأَصْلُ الثَّانِي: الْإِثْبَاتُ: أَيِ الْإِيمَانُ بِمَا سَمَّى وَوَصَفَ اللَّهُ بِهِ نَفْسَهُ وَبِمَا سَمَّاهُ وَوَصَفَهُ بِهِ رَسُولُهُ ﷺ عَلَى الْوَجْهِ اللَّائِقِ بِجَلَالِ اللَّهِ وَعَظَمَتِهِ.
Pilar 2: Itsbat (Menetapkan): Yaitu beriman kepada apa yang Allah namakan dan sifatkan bagi diri-Nya dan apa yang dinamakan dan disifatkan oleh Rasul-Nya ﷺ, dengan cara yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah.الْأَصْلُ الثَّالِثُ: قَطْعُ الطَّمَعِ عَنْ إِدْرَاكِ حَقِيقَةِ كَيْفِيَّةِ صِفَاتِ اللَّهِ تَعَالَى؛ لِأَنَّ إِدْرَاكَ الْمَخْلُوقِ لِذَلِكَ مُسْتَحِيلٌ.
Pilar 3: Memutus Harapan untuk Memahami Hakikat (Bagaimana) Sifat-sifat Allah Ta'ala: Karena pemahaman makhluk tentang hal itu adalah mustahil. Tambahan penerjemah: Tentang pilar 3 ini, saya pernah mendapat faidah dari salah seorang Syaikh dalam suatu daurah, “Jika kalian sedang mengajar atau ceramah, lalu kalian membaca ayat atau hadis yang di dalamnya ada penyebutan ‘tangan Allah,’ sembunyikan tangan kalian. Jangan angkat tangan kalian. Supaya santri atau jamaah tidak menyerupakan ‘tangan Allah’ dengan tangan kalian.” Wallahua’lamMaka barang siapa yang mewujudkan ketiga pokok ini, sungguh ia telah mewujudkan iman yang wajib dalam bab nama-nama dan sifat-sifat sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh para Salafush Shalih.
[9] Tahrif (mengubah) maksudnya, “Mengubah teksnya baik secara lafal (lafzi) maupun makna (maknawi).” Contoh tahrif lafzi:Mengubah kata "istawa" dalam firman-Nya Ta'ala:
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
Yang Maha Pengasih bersemayam di atas Arasy. (QS Thaha: 5)
menjadi "istaula" (menguasai).
Contoh tahrif maknawi:1 – Mengubah makna “Tangan Allah” dengan “kekuatan Allah,”
2 – Mengubah makna “Mata Allah” dengan “pengawasan Allah,”
3 – Mengubah makna “Wajah Allah” dengan “pahala.”
[10] Apa yang dimaksud Takwil? Takwil adalah:صَرْفُ اللَّفْظِ مِنَ الِاحْتِمَالِ الرَّاجِحِ إِلَى الِاحْتِمَالِ الْمَرْجُوحِ لِدَلِيلٍ يَقْتَرِنُ بِهِ.
Mengalihkan lafal dari kemungkinan makna yang kuat kepada kemungkinan makna yang lemah, karena ada dalil yang menyertainya.
[11] Apa yang dimaksud Tasybih? Tasybih adalah tamtsil (pemisalan), seperti orang yang mengatakan, "Allah memiliki pendengaran seperti pendengaran kita, dan wajah seperti wajah kita." Allah Ta'ala Maha Suci dari hal tersebut. [12] Apa yang dimaksud Takyif? Takyif adalah:تَعْيِينُ كَيْفِيَّةِ الصِّفَةِ وَالْهَيْئَةِ الَّتِي تَكُونُ عَلَيْهَا مِنْ غَيْرِ تَقْيِيدِهَا بِمُمَاثِلٍ
Memastikan rupa, sifat dan bentuk (dengan membuat perumpamaan) tanpa membatasinya.
Contoh dalam hal ini bisa berupa, “Bagaimana ya cara duduknya Allah?” Kemudian ada orang ngawur yang menjawab, “Oh, duduknya Allah tu begini, begitu, dsb.” Nauzubillah.
Dan ini adalah batil, karena tidak ada yang mengetahui bagaimana rupa sifat-sifat Allah kecuali Dia sendiri. Adapun makhluk, sesungguhnya mereka tidak mengetahui hal itu dan tidak mampu untuk memahaminya.
Post a Comment for "Bidayah fi Akidah: Iman kepada Allah"