Pembaca rahimakumullah, di antara akhlak mulia adalah at-tasabutu atau at-tabayun, yang di dalam bahasa Indonesia lebih condong kepada tiga tergesa-gesa dalam menerima suatu berita sampai mengetahui berita itu benar atau tidak, atau klarifikasi. Bagaimana penjelasannya? Teruskan membaca!
التَّرْغيبُ في التَّثَبُّتِ مِنَ القُرآنِ الكَريمِANJURAN AT-TASABUTU DI DALAM QURAN
Pembaca rahimakumullah, akhlak tasabut diperintahkan oleh Allah di dalam firmanNya:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka TASABUT-LAH,[1] agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu, (QS Al-Hujurat 6).Dan Allah Ta'ala berfirman, memerintahkan untuk memastikan (kebenaran) ketika ada keraguan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا تَبْتَغُونَ عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللَّهِ مَغَانِمُ كَثِيرَةٌ كَذَلِكَ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلُ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْكُمْ فَتَبَيَّنُوا إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا
Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka TABAYUN-lah[2] dan janganlah kamu katakan kepada orang yang mengucapkan salam kepadamu, "Kamu bukan orang beriman," (dengan maksud) mencari harta benda kehidupan dunia,[3] karena di sisi Allah ada banyak harta rampasan. Dahulu kamu juga begitu, lalu Allah menganugerahkan (nikmat-Nya) kepadamu. Maka telitilah (kebenaran). Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan, (QS An-Nisa: 94). التَّرْغيبُ فِي التَّثَبُّتِ مِنَ السُّنَّةِ النَّبَوِيَّةِANJURAN TASABUT DARI SUNAH
Pembaca rahimakumullah, selain di dalam Quran, perintah untuk melazimi akhlak tasabut juga terdapat di dalam As-Sunah. Imam Bukhari meriwayatkan dari Mughirah Radhiyallahu Anhu bahwa beliau mendengar Nabi ﷺ bersabda:إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ، مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
Sesungguhnya dusta atas namaku tidaklah sama dengan dusta atas nama orang lain. Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya di neraka, (Sahih Bukhari: 1291).[4] التَّرْغيبُ فِي التَّثَبُّتِ مِنْ أَقْوَالِ السَّلَفِ وَالْعُلَمَاءِANJURAN TASABUT DARI SALAF & ULAMA
Pembaca Rahimakumullah, berikut adalah beberapa perkataan para salaf tentang akhlak tasabut:1 – Muawiyah Radhiyallahu Anhu berkata:
الْعَاقِلُ يَسْلَمُ مِنَ الزَّلَلِ بِالتَّثَبُّتِ وَالْأَنَاةِ وَتَرْكِ الْعَجَلَةِ، وَلَا يَزَالُ الْعَجِلُ يَخْشَى النَّدَامَةَ
Orang yang berakal akan selamat dari kesalahan dengan bersikap hati-hati (memastikan kebenaran), tenang, dan meninggalkan ketergesaan. Dan orang yang tergesa-gesa akan senantiasa khawatir akan penyesalan, (Ta'liq min Amali Ibn Duraid, h. 116)
2 – Sa'id bin Al-'As Radhiyallahu Anhu berkata:
الْحَزْمُ فِي التَّثَبُّتِ، وَالْخَطَأُ فِي الْعَجَلَةِ، وَالشُّؤْمُ فِي الْبِدَارِ
Kewaspadaan (ketegasan) ada pada kehati-hatian (memastikan kebenaran), dan kesalahan ada pada ketergesaan, serta kesialan (keburukan) ada pada terburu-buru (dalam bertindak), (Syarh Nahj Al-Balaghah li Ibni Abi Al-Hadid: 10/244).
مَعْنَى التَّثَبُّتِ لُغَةً وَاصْطِلَاحًاDEFINISI TASABUT SECARA BAHASA & ISTILAH
Pembaca rahimakumullah, Al-Azhari di dalam At-Tahdzib Al-Lugah berkata:التَّثَبُّتُ لُغَةً: التَّأَنِّي فِي الْأَمْرِ وَعَدَمُ الِاسْتِعْجَالِ فِيهِ
At-Tatsabbut secara bahasa: Berhati-hati dalam suatu perkara dan tidak tergesa-gesa di dalamnya, (Tahdzib Al-Lughah li Al-Azhari: 14/190).
Kemudian secara istilah, At-Tasabut artinya:
التَّأَنِّي وَالتَّرَيُّثُ، وَعَدَمُ التَّسَرُّعِ وَالْعَجَلَةِ فِي كُلِّ مَا يَأْتِي الْإِنْسَانُ مِنْ أَقْوَالٍ وَأَعْمَالٍ وَإِصْدَارِ أَحْكَامٍ، حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُ الْحَقُّ، وَيَظْهَرَ لَهُ الصَّوَابُ، وَلَا يَنْدَمَ حَيْثُ لَا يَنْفَعُ النَّدَمُ
Berhati-hati dan menunda (tidak terburu-buru), serta tidak tergesa-gesa dan gegabah dalam segala hal yang dilakukan manusia, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun pengambilan keputusan, hingga kebenaran menjadi jelas baginya, kebaikan menjadi tampak baginya, dan ia tidak menyesal di saat penyesalan tidak lagi bermanfaat, (At-Tatsabbut fil Qur'an Al-Karim li Muhammad Husain, h. 22).
فَوَائِدُ التَّثَبُّتِFAIDAH AKHLAK TASABUT
Melazimi akhlak tasabut akan membuahkan beberapa faidah, di antaranya:أَنَّ التَّثَبُّتَ عَلَامَةٌ مِنْ عَلَامَاتِ الْإِيمَانِ.
1 – Bahwa At-Tatsabbut adalah salah satu tanda keimanan.[5]السَّلَامَةُ مِنَ الْأَخْطَاءِ وَالْوِقَايَةُ مِنَ الِانْدِفَاعِ وَالتَّهَوُّرِ.
2 – Selamat dari kesalahan, tergesa-gesar, dan kecerobohan.[6]التَّثَبُّتُ دَاعٍ إِلَى الثِّقَةِ بِالْمُؤْمِنِينَ، وَيُنْبِئُ عَنْ حُسْنِ الظَّنِّ بِهِمْ.
3 – At-Tatsabbut mendorong tumbuhnya kepercayaan terhadap kaum mukminin, dan menunjukkan prasangka baik kepada mereka.[7]وِقَايَةٌ لِلنَّفْسِ مِنَ النَّدَمِ وَالْحَسْرَةِ إِذَا أَقْدَمَتْ عَلَى الْأُمُورِ دُونَ تَثَبُّتٍ.
4 – Perlindungan bagi diri dari penyesalan dan kekecewaan jika ia melakukan sesuatu tanpa At-Tatsabbut.
الِاطْمِئْنَانُ إِلَى مَا يَصِلُ إِلَيْهِ الْمَرْءُ مِنْ نَتَائِجَ، أَوْ يُقَرِّرُهُ مِنْ أَحْكَامٍ.
5 – Ketenangan terhadap hasil yang dicapai seseorang, atau keputusan yang ia tetapkan.
مَوَانِعُ فِعْلِ التَّثَبُّتِPENGHALANG DARI AKHLAK TASABUT
Pembaca rahimakumullah, berikut adalah beberapa penghalang dari akhlak tasabut:الغَفْلَةُ عَنْ أَوَامِرِ الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ الدَّاعِيَةِ إِلَى التَّثَبُّتِ.
1 – Lalai terhadap perintah-perintah Al-Qur'an dan Sunnah yang menyeru kepada At-Tatsabbut.
التَّسَرُّعُ فِي اتِّبَاعِ الظُّنُونِ، وَالِاسْتِنَادُ إِلَيْهَا كَأَنَّهَا حَقَائِقُ.
2 – Tergesa-gesa dalam mengikuti prasangka, dan menjadikannya sandaran seolah-olah itu adalah fakta.
الِاغْتِرَارُ بِالْأَلْفَاظِ الْبَرَّاقَةِ.
3 – Terperdaya oleh kata-kata yang mengilap (menarik perhatian).
الطَّيْشُ وَالتَّسَرُّعُ فِي قَبُولِ الْأَنْبَاءِ وَالْأَخْبَارِ.
4 – Ceroboh dan tergesa-gesar dalam menerima kabar dan berita.
اتِّبَاعُ مَا لَا دَلِيلَ عَلَيْهِ أَوْ بُرْهَانَ يَدْعَمُهُ وَيُؤَكِّدُهُ.
5 – Mengikuti sesuatu yang tidak ada dalilnya atau bukti yang mendukung dan menguatkannya.
الْوَسَائِلُ الْمُعِينَةُ عَلَى فِعْلِ التَّثَبُّتِSARANA MELATIH AKHLAK TASABUT
Pembaca rahimakumullah, berikut adalah beberapa hal yang diharapkan bisa membantu kita melatih akhlak tasabut:تَقْوِيَةُ مَلَكَةِ التَّقْوَى وَالْمُرَاقَبَةِ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.
1 – Menguatkan sifat takwa dan muraqabah (merasa diawasi) kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
اِنْشِغَالُ الْإِنْسَانِ بِمَا يَعْنِيهِ وَانْصِرَافُهُ عَمَّا لَا يَعْنِيهِ.
2 – Menyibukkan diri dengan sesuatu yang penting baginya dan berpaling dari apa yang tidak penting baginya.
أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ حَثَّ عَلَى التَّثَبُّتِ وَأَمَرَ بِهِ.
3 – Mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menganjurkan dan memerintahkan untuk bersikap At-Tatsabbut.
أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ أَثْنَى عَلَى الْمُتَثَبِّتِينَ فِي أُمُورِهِمْ.
4 – Mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memuji orang-orang yang bersikap At-Tatsabbut dalam urusan mereka.
سَلَامَةُ الصَّدْرِ مِنَ الْأَحْقَادِ.
5 – Keselamatan hati dari kebencian dan kedengkian. Wallahua’lam
Demikianlah materi pelajaran akhlak Tasabut dari Mausuatul Akhlak Dorar Saniyah. Ini adalah materi pelajaran di Pesantren Irmas Bani Saimo Sukoharjo, sebuah pesantren gratis setingkat SMA. Semoga bermanfaat!
Karangasem, 21 Mei 2025
Irfan Nugroho (Semoga Allah memudahkan urusannya. Aamiin)
CATATAN KAKI [1] Maksudnya:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ أَيُّ فَاسِقٍ كَانَ بِأَيِّ خَبَرٍ، فَتَمَهَّلُوا وَتَوَقَّفُوا عَنْ قَبُولِ خَبَرِهِ، حَتَّى تَتَيَقَّنُوا مِنْهُ، فَتَتَبَيَّنُوا صِدْقَهُ أَوْ كَذِبَهُ، وَتَظْهَرَ لَكُمُ الْحَقِيقَةُ.
Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu siapa pun yang fasik dengan berita apa pun, maka berhati-hatilah dan jangan terburu-buru menerima beritanya, sampai kalian memastikan kebenarannya, lalu kalian menjelaskan kejujuran atau kebohongannya, dan kebenaran terungkap bagimu, (Tafsir Muharar Dorar Saniyah).
Imam At-Tabari berkata:
أَنَّ عَامَّةَ الْقُرَّاءِ قَرَؤُوا (فَتَبَيَّنُوا)، وَقَرَأَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ (فَتَثَبَّتُوا)، وَأَنَّهُمَا قِرَاءَتَانِ مَعْرُوفَتَانِ مُتَقَارِبَتَا الْمَعْنَى يُصِيبُ الْقَارِئُ بِأَيَّتِهِمَا قَرَأَ، وَذَكَرَ عِدَّةَ أَسْبَابٍ فِي نُزُولِ الْآيَةِ: (فَتَبَيَّنُوا، بِالْبَاءِ، بِمَعْنَى: أَمْهِلُوا حَتَّى تَعْرِفُوا صِحَّتَهُ، لَا تَعْجَلُوا بِقَبُولِهِ، وَكَذَلِكَ مَعْنَى فَتَثَبَّتُوا)
Bahwa sebagian besar qari (pembaca/penghafal Al-Qur'an) membaca (ayat tersebut dengan lafaz) 'fatabayyanū' (فتَبَيَّنُوا), dan penduduk Madinah membaca 'fatatsabbatū' (فَتَثَبَّتُوا). Dan bahwa keduanya adalah dua bacaan (qira'at) yang dikenal dan maknanya berdekatan. Seorang pembaca (Al-Qur'an) akan benar dengan bacaan mana pun yang ia gunakan. Dan ia (penulis/ulama) menyebutkan beberapa sebab turunnya ayat tersebut: ('fatabayyanū', dengan huruf ba', bermakna: tundalah (berita itu) hingga kalian mengetahui kebenarannya, jangan terburu-buru menerimanya, dan demikian juga makna 'fatatsabbatū')
[2] Dalam firman-Nya "maka TABAYUN-lah", ada dua bacaan (qira'at): فَتَثَبَّتُوا: مِنَ التَّثَبُّتِ الَّذِي هُوَ خِلَافُ الْعَجَلَةِ.1 - "fatathabbatū": dari at-tatsabbut (memastikan/keteguhan) yang merupakan lawan dari ketergesaan (terburu-buru).
فَتَبَيَّنُوا: مِنَ التَّبَيُّنِ, بِمَعْنَى: التَّأَنِّي وَالنَّظَرِ وَالْكَشْفِ عَنْهُ حَتَّى يَتَّضِحَ2 - "fatabayyanū": dari at-tabayyun (penjelasan/klarifikasi), yang bermakna: kehati-hatian, penelitian (melihat), dan pengungkapan (investigasi) tentangnya hingga menjadi jelas.
[3] Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang berkata tentang firman Allah, “Dan janganlah kamu katakan kepada orang yang mengucapkan salam kepadamu, 'Kamu bukan orang beriman,”:كَانَ رَجُلٌ فِي غُنَيْمَةٍ لَهُ فَلَحِقَهُ الْمُسْلِمُونَ. فَقَالَ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ فَقَتَلُوهُ وَأَخَذُوا غُنَيْمَتَهُ فَأَنْزَلَ اللَّهُ فِي ذَلِكَ إِلَى قَوْلِهِ: (عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا) تِلْكَ الْغُنَيْمَةُ
Ada seorang laki-laki yang memiliki beberapa ekor kambing kecil. Lalu kaum Muslimin mengejarnya. Orang itu berkata: 'Assalamu 'alaikum (Salam sejahtera atas kalian).' Akan tetapi mereka membunuhnya dan mengambil kambing-kambingnya. Maka Allah menurunkan ayat mengenai hal itu, sampai firman-Nya: 'harta benda kehidupan dunia' – yaitu “Gunaimah” (kambing-kambing kecil itu), (Sahih Bukhari: 4591. Sahih Muslim: 3025).
[4] At-Tibi (w. 8 H/14 M) berkata:فِيهِ إِيجَابُ التَّحَرُّزِ عَنِ الْكَذِبِ عَلَى الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنْ لَا يُحَدَّثَ عَنْهُ إِلَّا بِمَا يَصِحُّ بِنَقْلِ الْإِسْنَادِ وَالتَّثَبُّتِ فِيهِ
Di dalamnya (hadis tersebut) terdapat kewajiban untuk berhati-hati dari berdusta atas (nama) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, yaitu tidaklah meriwayatkan (hadis) darinya melainkan apa yang sahih melalui periwayatan sanad (rantai perawi) dan memastikan (kebenaran) di dalamnya, (Al-Kasyif an Haqaiq As-Sunan: 2/659).
[5] Sungguh, Allah telah menyeru hamba-hamba-Nya yang beriman dengan firman-Nya:يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.' [QS Al-Hujurat: 6].
Maka hal itu menunjukkan bahwa di antara tanda-tanda keimanan adalah bersikap hati-hati (memastikan kebenaran) dalam menerima berita."
[6] Mengapa?لِأَنَّ التَّثَبُّتَ يَكْسِبُ الْمُتَثَبِّتَ الْقُدْرَةَ عَلَى التَّمْيِيزِ بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ، وَالضَّلَالِ وَالْهُدَى، وَالصَّوَابِ وَالْخَطَأِ.
Karena At-Tatsabbut (sikap hati-hati/memastikan kebenaran) memberikan kepada orang yang ber-Tatsabbut kemampuan untuk membedakan antara kebenaran dan kebatilan, kesesatan dan petunjuk, serta kebaikan dan kesalahan.
[7] Perhatikan firman Allah ta’ala:لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِينٌ * لَوْلَا جَاءُوا عَلَيْهِ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَإِذْ لَمْ يَأْتُوا بِالشُّهَدَاءِ فَأُولَئِكَ عِنْدَ اللَّهِ هُمُ الْكَاذِبُونَ
Mengapa orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tidak berprasangka baik terhadap diri mereka sendiri ketika kamu mendengar (berita bohong) itu, dan berkata, 'Ini adalah dusta yang nyata.' Mengapa mereka (para penuduh) tidak datang dengan empat saksi atas (tuduhan) itu? Maka karena mereka tidak datang dengan para saksi, di sisi Allah mereka itulah pendusta, (QS An-Nur: 12-13).
Post a Comment for "Mausuatul Akhlak: Tasabut atau Tabayun"