zmedia

Fikih Dorar: Siapa yg Bertanggung Jawab Memandikan Jenazah

Pembaca rahimakumullah, siapa yang bertanggung jawab memandikan jenazah? Berikut adalah terjemahan dari Mausuatul Fiqhiyah Dorar Saniyah > Kitab Salat > Bab Janaiz > Memandikan Jenazah > Siapa yang bertanggung jawab memandikan jenazah. Semoga bermanfaat.

مَن يَتَوَلَّى الغُسْلَ

Siapa yang bertanggung jawab memandikan jenazah

الفَرْعُ الأَوَّلُ: أَوْلَى النَّاسِ بِغُسْلِ المَيِّتِ

A - Orang yang paling berhak memandikan jenazah

المَسْأَلَةُ الأُولَى: إِذَا كَانَ المَيِّتُ رَجُلًا

A.1 - Jika jenazah itu laki-laki

أَوْلَى النَّاسِ بِغُسْلِ المَيِّتِ وَصِيُّهُ الَّذِي أَوْصَى أَنْ يُغَسِّلَهُ، ثُمَّ أَبُوهُ، ثُمَّ جَدُّهُ، ثُمَّ ابْنُهُ، ثُمَّ الأَقْرَبُ فَالأَقْرَبُ مِنْ عَصَبَاتِهِ نَسَبًا، ثُمَّ وَلَاءً، ثُمَّ ذَوُو أَرْحَامِهِ، وَهُوَ مَذْهَبُ الحَنَابِلَةِ، وَاخْتَارَهُ ابْنُ بَازٍ، وَابْنُ عُثَيْمِينَ؛

Orang yang paling berhak memandikan jenazah adalah wasiatnya (yang ditunjuk olehnya untuk memandikannya), kemudian ayahnya, lalu kakeknya, kemudian anaknya, lalu kerabat laki-laki yang paling dekat dari sisi nasab, kemudian dari sisi hubungan wala’, lalu dari kerabat lainnya. Ini adalah mazhab Hanabilah, dan dipilih oleh Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin;

وَذَلِكَ لِأَنَّهُ حَقٌّ لِلْمَيِّتِ؛ فَقُدِّمَ فِيهِ وَصِيُّهُ عَلَى غَيْرِهِ كَبَاقِي حُقُوقِهِ، وَلِأَنَّ المَيِّتَ قَدْ يَكُونُ فِيهِ أَشْيَاءُ لَا يُحِبُّ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهَا كُلُّ أَحَدٍ، وَلَا يُحِبُّ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهَا إِلَّا شَخْصٌ يَأْتَمِنُهُ، فَيُوصِي أَنْ يُغَسِّلَهُ فُلَانٌ.

Karena itu adalah hak jenazah; maka yang diwasiatkan didahulukan atas yang lain seperti halnya hak-hak lainnya. Dan karena jenazah bisa jadi memiliki sesuatu yang tidak ingin diketahui semua orang, dan ia hanya ingin orang yang ia percayai saja yang melihatnya, maka ia mewasiatkan agar si fulanlah yang memandikannya.

وَيُقَدَّمُ أَبُوهُ بَعْدَ ذَلِكَ؛ لِحُنُوِّهِ وَشَفَقَتِهِ، ثُمَّ جَدُّهُ؛ لِمُشَارَكَتِهِ الأَبَ فِي المَعْنَى، ثُمَّ ابْنُهُ وَإِنْ نَزَلَ؛ لِقُرْبِهِ

Lalu ayahnya didahulukan setelah itu karena kasih sayang dan kelembutannya, kemudian kakeknya karena ia berbagi makna dengan ayahnya, lalu anaknya meskipun berada di bawah (cucu dan seterusnya) karena kedekatannya.

المَسْأَلَةُ الثَّانِيَةُ: إِذَا كَانَ المَيِّتُ امْرَأَةً

A.2 - Jika jenazah itu perempuan

اخْتَلَفَ أَهْلُ العِلْمِ فِي أَوْلَى النَّاسِ بِغُسْلِ المَيِّتِ إِنْ كَانَ المَيِّتُ امْرَأَةً عَلَى قَوْلَيْنِ:

Para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang paling berhak memandikan jenazah jika jenazah itu perempuan, menjadi dua pendapat:

القَوْلُ الأَوَّلُ: إِنْ كَانَ المَيِّتُ امْرَأَةً، فَأَوْلَى النَّاسِ بِهَا النِّسَاءُ، ثُمَّ الزَّوْجُ إِنْ كَانَتْ مُتَزَوِّجَةً، وَهُوَ الأَصَحُّ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ؛ لِأَنَّهُنَّ أَلْيَقُ

Pendapat pertama: Jika jenazah itu perempuan, maka yang paling berhak memandikannya adalah para wanita, kemudian suaminya jika ia sudah menikah. Ini yang paling sahih menurut mazhab Syafi’iyah, karena para wanita lebih pantas (untuk urusan ini).

القَوْلُ الثَّانِي: أَنَّ الأَوْلَى الزَّوْجُ ثُمَّ النِّسَاءُ، وَهُوَ مَذْهَبُ المَالِكِيَّةِ، وَوَجْهٌ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ؛ وَذَلِكَ لِأَنَّهُ يَنْظُرُ مِنْهَا إِلَى مَا لَا يَنْظُرُ غَيْرُهُ

Pendapat kedua: Yang lebih berhak adalah suaminya, lalu para wanita. Ini adalah mazhab Malikiyah dan salah satu pendapat dalam mazhab Syafi’iyah. Karena suami boleh melihat bagian tubuh istrinya yang tidak boleh dilihat oleh orang lain.

الفَرْعُ الثَّانِي: حُكْمُ غُسْلِ الْمَرْأَةِ زَوْجَهَا أَوِ الْعَكْسِ

B - Hukum wanita memandikan suaminya atau sebaliknya

المَسْأَلَةُ الأُولَى: حُكْمُ غُسْلِ الْمَرْأَةِ زَوْجَهَا

B.1 - Hukum wanita memandikan suaminya

يَجُوزُ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تُغَسِّلَ زَوْجَهَا إِذَا مَاتَ.

Boleh bagi wanita untuk memandikan suaminya jika suaminya meninggal. Dalilnya berdasarkan ijmak:

نَقَلَ الْإِجْمَاعَ عَلَى ذَلِكَ: ابْنُ الْمُنْذِرِ، وَابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ، وَالنَّوَوِيُّ، وَابْنُ قُدَامَةَ، وَابْنُ رُشْدٍ، وَالشَّرْبِينِيُّ، وَالشَّوْكَانِيُّ، وَغَيْرُهُمْ

Ijmak ini diriwayatkan oleh: Ibnu Al-Mundzir, Ibnu Abdil Barr, An-Nawawi, Ibnu Qudamah, Ibnu Rusyd, Asy-Syarbini, Asy-Syaukani, dan selain mereka.

المَسْأَلَةُ الثَّانِيَةُ: حُكْمُ غُسْلِ الرَّجُلِ زَوْجَتَهُ

B.2 - Hukum laki-laki memandikan istrinya

يَجُوزُ لِلرَّجُلِ أَنْ يُغَسِّلَ زَوْجَتَهُ، وَهُوَ مَذْهَبُ الْجُمْهُورِ: الْمَالِكِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ، وَقَوْلُ بَعْضِ السَّلَفِ، وَحُكِيَ الْإِجْمَاعُ عَلَى ذَلِكَ

Boleh bagi seorang suami untuk memandikan istrinya. Ini adalah mazhab jumhur ulama: Malikiyah, Syafi’iyah, Hanabilah, dan sebagian salaf. Ijmak juga disebutkan dalam hal ini. Dan itu karena beberapa alasan:

أَوَّلًا: لِأَنَّهُ أَحَدُ الزَّوْجَيْنِ، فَأُبِيحَ لَهُ غُسْلُ صَاحِبِهِ كَالْآخَرِ، وَالْمَعْنَى فِيهِ أَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنَ الزَّوْجَيْنِ يَسْهُلُ عَلَيْهِ اطِّلَاعُ الْآخَرِ عَلَى عَوْرَتِهِ دُونَ غَيْرِهِ؛ لِمَا كَانَ بَيْنَهُمَا فِي الْحَيَاةِ، وَيَأْتِي بِالْغُسْلِ عَلَى أَكْمَلِ مَا يُمْكِنُهُ؛ لِمَا بَيْنَهُمَا مِنَ الْمَوَدَّةِ وَالرَّحْمَةِ

Pertama: Karena keduanya adalah pasangan, maka dibolehkan bagi salah satunya memandikan yang lain, sebagaimana sebaliknya. Maksudnya, setiap pasangan lebih mudah melihat aurat pasangannya dibandingkan orang lain, karena kedekatan yang terjadi semasa hidup. Dan ia akan melakukan pemandian dengan sebaik-baiknya karena adanya kasih sayang di antara mereka.

ثَانِيًا: لِأَنَّ آثَارَ النِّكَاحِ مِنْ عِدَّةِ الْوَفَاةِ وَالْإِرْثِ بَاقِيَةٌ؛ فَكَذَا الْغُسْلُ

Kedua: Karena dampak dari pernikahan seperti masa idah kematian dan warisan masih berlaku, maka demikian pula pemandian jenazah. الفَرْعُ الثَّالِثُ: تَغْسِيلُ الْمَرْأَةِ لِلطِّفْلِ

C - Wanita memandikan anak kecil laki-laki

لِلْمَرْأَةِ أَنْ تُغَسِّلَ الصَّبِيَّ الصَّغِيرَ.

Boleh bagi wanita untuk memandikan anak kecil laki-laki. Dalilnya berdasarkan ijmak:

نَقَلَ الْإِجْمَاعَ عَلَى ذَلِكَ ابْنُ الْمُنْذِرِ، وَابْنُ قُدَامَةَ

Ijmak ini diriwayatkan oleh Ibnu Al-Mundzir dan Ibnu Qudamah.

الفَرْعُ الرَّابِعُ: تَغْسِيلُ الرَّجُلِ لِلصَّغِيرَةِ.

D - Laki-laki memandikan anak kecil perempuan

يَجُوزُ لِلرَّجُلِ غُسْلُ الصَّغِيرَةِ الَّتِي لَا تُشْتَهَى، وَهَذَا مَذْهَبُ الْحَنَفِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ؛ وَذَلِكَ لِأَنَّ حُكْمَ الْعَوْرَةِ غَيْرُ ثَابِتٍ فِي حَقِّ الصَّغِيرَةِ الَّتِي لَا تُشْتَهَى

Boleh bagi laki-laki untuk memandikan anak perempuan kecil yang belum menimbulkan syahwat. Ini adalah mazhab Hanafiyah dan Syafi’iyah; karena hukum aurat belum berlaku atas anak perempuan kecil yang belum menimbulkan syahwat.

الفَرْعُ الْخَامِسُ: حُكْمُ الْمَرْأَةِ تَمُوتُ بَيْنَ أَجَانِبَ، وَالرَّجُلِ يَمُوتُ بَيْنَ أَجْنَبِيَّاتٍ

E - Hukum wanita meninggal di tengah laki-laki asing, dan laki-laki meninggal di tengah perempuan asing

إِذَا مَاتَتِ الْمَرْأَةُ بَيْنَ رِجَالٍ أَجَانِبَ، أَوْ مَاتَ الرَّجُلُ بَيْنَ نِسَاءٍ أَجْنَبِيَّاتٍ، وَلَا يُوجَدُ مَنْ يُبَاحُ لَهُ غُسْلُهَا أَوْ غُسْلُهُ- يُيَمَّمَانِ، وَهَذَا بِاتِّفَاقِ الْمَذَاهِبِ الْفِقْهِیَّةِ الْأَرْبَعَةِ: الْحَنَفِيَّةِ، وَالْمَالِكِيَّةِ، وَالْأَصَحُّ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ، وَهُوَ قَوْلُ بَعْضِ السَّلَفِ؛ وَذَلِكَ إِلْحَاقًا لِفَقْدِ الْغَاسِلِ بِفَقْدِ الْمَاءِ

Jika seorang wanita meninggal di tengah laki-laki asing, atau laki-laki meninggal di tengah perempuan asing, dan tidak ada orang yang boleh memandikannya, maka jenazahnya ditayamumkan. Ini adalah kesepakatan dari empat mazhab fikih: Hanafiyah, Malikiyah, pendapat yang paling sahih dalam Syafi’iyah, dan Hanabilah. Ini juga pendapat sebagian salaf. Hal ini karena kondisi tidak adanya orang yang memandikan disamakan dengan tidak adanya air.

الفَرْعُ السَّادِسُ: حُكْمُ غُسْلِ الْكَافِرِ لِلْمُسْلِمِ

F - Hukum orang kafir memandikan jenazah Muslim

لَا يَصِحُّ غُسْلُ الْكَافِرِ لِلْمُسْلِمِ، وَهُوَ مَذْهَبُ الْجُمْهُورِ: الْحَنَفِيَّةِ، وَالْمَالِكِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ؛ وَذَلِكَ لِأَنَّ غُسْلَ الْمَيِّتِ عِبَادَةٌ، وَلَيْسَ الْكَافِرُ مِنْ أَهْلِهَا

Tidak sah orang kafir memandikan jenazah Muslim. Ini adalah mazhab mayoritas ulama: Hanafiyah, Malikiyah, dan Hanabilah; karena memandikan jenazah adalah bentuk ibadah, dan orang kafir bukan termasuk orang yang layak melakukannya. Wallahua'lam

Sukoharjo, 7 Mei 2025

Irfan Nugroho (Staf Pengajar di PPTQ At-Taqwa dan RQ Irmas Bani Saimo  Sukoharjo)

 

Post a Comment for "Fikih Dorar: Siapa yg Bertanggung Jawab Memandikan Jenazah"