Pembaca rahimakumullah, berikut adalah terjemahan dari transkrip Syarah Bidayah fi Akidah 11 oleh Syaikh Wahid Abdussalam Bali hafizahullah tentang Iman kepada para Rasul. Semoga bermanfaat!
Bismillahirrahmanirrahim. Segala puji bagi Allah, cukuplah Dia bagi kami. Selawat dan salam semoga tercurah kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Kita lanjutkan, wahai para kekasih yang mulia, penjelasan kitab Al-Bidayah fil 'Aqidah.
BAB KEEMPAT: IMAN KEPADA PARA RASULDi dalamnya terdapat sembilan prinsip (dhawabith).
الضَّابِطُ الْأَوَّلُ: الْإِيمَانُ بِالرُّسُلِ الَّذِينَ أَرْسَلَهُمُ اللهُ؛ مَنْ نَعْلَمُهُ مِنْهُمْ تَفْصِيلًا، وَمَنْ لَا نَعْلَمُهُ إِجْمَالًا.(Prinsip Pertama: Beriman kepada para Rasul yang diutus oleh Allah; baik yang kita ketahui secara perinci maupun yang tidak kita ketahui secara global.)
Dalam prinsip ini, penulis menjelaskan bahwa salah satu rukun akidah adalah iman kepada para Rasul. Iman kepada para Rasul merupakan pilar yang kokoh dari pokok-pokok keimanan. Allah Ta'ala berfirman:آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ
"Rasul (Muhammad) telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya." (QS. Al-Baqarah: 285).
Secara bahasa, An-Nabi (Nabi) berasal dari kata al-anba' dan al-ikhbar (berita), karena ia menyampaikan berita dari Allah Tabaraka wa Ta'ala dan mengabarkan tentang-Nya.Iman kepada para Rasul mencakup empat perkara:
أَوَّلًا: التَّصْدِيقُ بِأَنَّهُمْ جَمِيعَهُمْ صَادِقُونَ بَارُّونَ رَاشِدُونَ أَتْقِيَاءُ أُمَنَاءُ هُدَاةٌ مُهْتَدُونَ
Pertama: Membenarkan bahwa mereka semua adalah jujur, berbakti, cerdas, bertakwa, amanah, pemberi petunjuk, dan mendapat petunjuk. Allah Azza wa Jalla telah menegaskan kejujuran para Rasul dalam firman-Nya:هَذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ
"Inilah yang dijanjikan (Allah) Yang Maha Pengasih dan benarlah para rasul (Nya)." (QS. Yasin: 52).
Dan Allah Azza wa Jalla menegaskan hidayah mereka, serta bahwa Dia telah memilih dan menyaring mereka dalam firman-Nya:
وَمِنْ آبَائِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَإِخْوَانِهِمْ وَاجْتَبَيْنَاهُمْ وَهَدَيْنَاهُمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ . ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
"Dan dari nenek moyang mereka, keturunan mereka, dan saudara-saudara mereka; Kami telah memilih mereka dan Kami memberi mereka petunjuk ke jalan yang lurus. Itulah petunjuk Allah, dengan itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Sekiranya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah amal yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-An'am: 87-88).
ثَانِيًا: التَّصْدِيقُ بِأَنَّهُمْ كُلَّهُمْ كَانُوا عَلَى الْحَقِّ الْمُبِينِ، وَالْهُدَى الْمُسْتَبِينِ.
Kedua: Membenarkan bahwa mereka semua berada di atas kebenaran yang nyata (al-haqqul mubin) dan petunjuk yang terang (al-hudal mustabin). Allah Azza wa Jalla menegaskan bahwa para Rasul membawa kebenaran dalam firman-Nya:لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ
"Sungguh, rasul-rasul Tuhan kami telah datang membawa kebenaran." (QS. Al-A'raf: 43).
Allah Azza wa Jalla juga menjelaskan bahwa Dia menurunkan kitab bersama mereka agar mereka memberi keputusan di antara manusia dengan adil dan merata dalam firman-Nya:
لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ
"Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka kitab dan timbangan agar manusia dapat berlaku adil." (QS. Al-Hadid: 25).
ثَالِثًا: التَّصْدِيقُ بِأَنَّ جَمِيعَ الرُّسُلِ بَلَّغُوا مَا أُرْسِلُوا بِهِ إِلَى النَّاسِ، فَقَامَتْ بِذَلِكَ الْحُجَّةُ عَلَى الْخَلْقِ.
Ketiga: Membenarkan bahwa seluruh Rasul telah menyampaikan risalah yang diutus kepada mereka untuk manusia, sehingga hujah telah tegak atas seluruh makhluk. Allah Azza wa Jalla menegaskan hal ini dalam firman-Nya:لِيَعْلَمَ أَنْ قَدْ أَبْلَغُوا رِسَالَاتِ رَبِّهِمْ وَأَحَاطَ بِمَا لَدَيْهِمْ وَأَحْصَى كُلَّ شَيْءٍ عَدَدًا
"Agar Dia (Allah) mengetahui bahwa mereka benar-benar telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (ilmu-Nya) meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu per satu." (QS. Al-Jinn: 28).
Dan Rabb kita Tabaraka wa Ta'ala menjelaskan bahwa Allah mengutus Rasul untuk memberi kabar gembira kepada yang taat dengan surga dan memberi peringatan kepada yang maksiat dengan neraka dalam firman-Nya:
رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ
"Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu diutus." (QS. An-Nisa: 165).
رَابِعًا: نَعْتَقِدُ أَنَّ جَمِيعَ الرُّسُلِ مَنْصُورُونَ مُؤَيَّدُونَ مِنَ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، وَأَنَّ الْعَاقِبَةَ لَهُمْ وَلِأَتْبَاعِهِمْ.
Keempat: Meyakini bahwa seluruh Rasul itu ditolong dan didukung oleh Allah Tabaraka wa Ta'ala, dan kesudahan yang baik adalah milik mereka dan pengikutnya. Allah Azza wa Jalla menegaskan bahwa Dia pasti menolong Rasul-Nya dan pengikutnya di dunia dan akhirat dalam firman-Nya:إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ
"Sesungguhnya Kami pasti menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat)." (QS. Ghafir: 51).
قَوْلُ الْمُصَنِّفِ غَفَرَ اللهُ لَهُ: وَنُؤْمِنُ بِمَنْ نَعْلَمُهُ مِنْهُمْ تَفْصِيلًا.
Penjelasan Penulis (semoga Allah mengampuninya): "Dan kami beriman kepada siapa yang kami ketahui secara perinci." Hal tersebut dikarenakan Allah Azza wa Jalla telah menyebutkan kepada kita nama-nama sebagian Rasul dan Nabi dalam Al-Qur'anul Karim, namun tidak menyebutkan kabar tentang sisanya. Mereka yang disebutkan oleh Allah Tabaraka wa Ta'ala dalam Al-Qur'anul Karim berjumlah 25 Nabi dan Rasul. Delapan belas di antaranya disebutkan dalam satu rangkaian ayat, dan secara berurutan mereka adalah: Ibrahim, Ishaq, Ya'qub, Nuh, Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, 'Isa, Ilyas, Isma'il, Al-Yasa', Yunus, dan Luth 'alaihimush shalatu was salam. Allah mengumpulkan mereka dalam firman-Nya:وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَى قَوْمِهِ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ . وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ كُلًّا هَدَيْنَا وَنُوحًا هَدَيْنَا مِنْ قَبْلُ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِ دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَى وَهَارُونَ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ . وَزَكَرِيَّا وَعِيسَى وَإِلْيَاسَ كُلٌّ مِنَ الصَّالِحِينَ . وَإِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَيُونُسَ وَلُوطًا وَكُلًّا فَضَّلْنَا عَلَى الْعَالَمِينَ
"Dan itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami angkat derajat siapa yang Kami kehendaki. Sesungguhnya Tuhanmu Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya (Ibrahim) Ishaq dan Ya'qub. Masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan sebelum itu Nuh telah Kami beri petunjuk, dan dari keturunannya (Ibrahim) terdapat Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan Zakaria, 'Isa, dan Ilyas; semuanya termasuk orang-orang yang saleh. Dan Isma'il, Ilyasa, Yunus, dan Luth; masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat lain (pada masanya)." (QS. Al-An'am: 83-86).Maka mereka ini adalah 18 Nabi dan Rasul. Adapun tujuh sisanya disebutkan dalam ayat-ayat yang terpisah. Allah Azza wa Jalla menyebutkan Hud 'alaihissalam dalam firman-Nya:
وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا
"Dan kepada kaum 'Ad (Kami utus) saudara mereka, Hud." (QS. Hud: 50).Allah menyebutkan Shalih 'alaihissalam dalam firman-Nya:
وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا
"Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Shalih." (QS. Hud: 61).Allah menyebutkan Syu'aib 'alaihissalam dalam firman-Nya:
وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا
"Dan kepada penduduk Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syu'aib." (QS. Hud: 84).Allah menyebutkan Adam dalam firman-Nya:
إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا
"Sesungguhnya Allah telah memilih Adam dan Nuh..." (QS. Ali 'Imran: 33).Allah menyebutkan Idris dan Dzulkifli dalam firman-Nya:
وَإِسْمَاعِيلَ وَإِدْرِيسَ وَذَا الْكِفْلِ كُلٌّ مِنَ الصَّابِرِينَ
"Dan (ingatlah kisah) Isma'il, Idris, dan Dzulkifli. Mereka semua termasuk orang-orang yang sabar." (QS. Al-Anbiya: 85).Adapun Muhammad ﷺ, Allah menyebutnya dalam firman-Nya:
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ
"Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang sesama mereka." (QS. Al-Fath: 29).Maka ke-25 Nabi dan Rasul ini wajib diimani secara perinci sebagaimana disebutkan Allah dalam Al-Qur'anul Karim.
Adapun orang yang tidak kita ketahui, kita beriman kepada mereka secara global. Kita beriman kepada seluruh Rasul yang diutus Allah, baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui, karena ada Rasul yang diceritakan kisahnya dan ada yang tidak:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ مِنْهُمْ مَنْ قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ فَإِذَا جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ قُضِيَ بِالْحَقِّ وَخَسِرَ هُنَالِكَ الْمُبْطِلُونَ "Dan sungguh, Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum engkau (Muhammad), di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak ada seorang rasul pun membawa suatu mukjizat kecuali dengan izin Allah. Maka apabila telah datang perintah Allah, diputuskanlah dengan adil. Dan rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang batil ketika itu." (QS. Ghafir: 78). Maka seseorang tidak akan masuk surga kecuali dengan syarat beriman kepada seluruh Nabi. Barangsiapa beriman kepada semua Nabi kecuali satu saja, ia tidak akan masuk surga bahkan dianggap kafir.Namun sayangnya, orang Yahudi beriman kepada semua Nabi kecuali dua Nabi yaitu 'Isa dan Muhammad.
Orang Nasrani beriman kepada semua Nabi kecuali Muhammad ﷺ. Sedangkan Muslimin beriman kepada semua Nabi termasuk Musa, 'Isa, dan Muhammad. Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلًا . أُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا . وَالَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلَمْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ أُولَئِكَ سَوْفَ يُؤْتِيهِمْ أُجُورَهُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا "Sesungguhnya orang-orang yang ingkar kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membeda-bedakan antara Allah dan rasul-rasul-Nya (dengan menyembah Allah tapi mengingkari Rasul), dan bermaksud membeda-bedakan antara Allah dan rasul-rasul-Nya (beriman kepada sebagian tapi ingkar sebagian), dan berkata: 'Kami beriman kepada sebagian dan kami mengingkari sebagian (yang lain),' serta bermaksud mengambil jalan tengah di antara yang demikian (iman atau kafir), mereka itulah orang-orang kafir yang sebenarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir itu azab yang menghinakan. Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya dan tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan pahala kepada mereka. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nisa: 150-152).Maka wajib beriman kepada semua Rasul dan tidak membeda-bedakan mereka dalam hal keimanan sebagaimana dilakukan Yahudi dan Nasrani. Orang beriman berkata:
لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ "...kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.” Dan mereka berkata, “Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat kembali.” (QS. Al-Baqarah: 285). الضَّابِطُ الثَّانِي: الْإِيمَانُ بِأَنَّ جَمِيعَ الرُّسُلِ جَاءُوا بِتَوْحِيدِ اللهِ، وَإِنِ اخْتَلَفَتْ شَرَائِعُهُمْ.(Prinsip Kedua: Beriman bahwa seluruh Rasul datang membawa tauhid kepada Allah, meskipun syariat mereka berbeda-beda.)
Seluruh Rasul yang diutus Allah datang membawa Tauhidullah sebagaimana firman-Nya:وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
"Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul pada setiap umat (untuk menyerukan), 'Sembahlah Allah dan jauhilah Thaghut'." (QS. An-Nahl: 36).
Dan firman-Nya:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
"Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku." (QS. Al-Anbiya: 25).
Maka semua Rasul datang mengajak untuk menyembah Allah semata (Tauhid murni). Nuh memerintahkan kaumnya kepada tauhid:
لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
"Sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia berkata, 'Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) bagimu selain Dia. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat (kiamat)'." (QS. Al-A'raf: 59).
Shalih mengajak kaum Tsamud menyembah Allah semata:
وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ
"Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Shalih. Dia berkata, 'Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia'..." (QS. Hud: 61).
Hud mengajak kaum 'Ad menyembah Allah semata:
وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ
"Dan kepada kaum 'Ad (Kami utus) saudara mereka, Hud. Dia berkata, 'Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa?'" (QS. Al-A'raf: 65).
Syu'aib mengajak penduduk Madyan menyembah Allah semata:
وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ
"Dan kepada penduduk Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syu'aib. Dia berkata, 'Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada tuhan bagimu selain Dia'..." (QS. Al-A'raf: 85).
Ibrahim berlepas diri dari berhala:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ . إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ
"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya, 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah, kecuali (kamu menyembah) Allah Yang Menciptakanku; karena sungguh, Dia akan memberi petunjuk kepadaku'." (QS. Az-Zukhruf: 26-27).
Musa mengajak kaumnya menyembah Allah semata:
إِنَّمَا إِلَهُكُمُ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا
"Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu." (QS. Thaha: 98).
'Isa bin Maryam mengajak kaumnya menyembah Allah semata:
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
"Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, 'Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putra Maryam.' Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, 'Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.' Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zalim itu." (QS. Al-Ma'idah: 72).
Bagian dari iman adalah:- Meyakini bahwa Allah menjadikan Ibrahim dan Muhammad ﷺ sebagai Khalil (kekasih tercinta),
- Allah berbicara langsung kepada Musa (taklima),
- Allah mengangkat Idris ke tempat yang tinggi,
- 'Isa adalah hamba Allah, utusan-Nya, kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam serta ruh dari-Nya,
- Allah melebihkan sebagian Rasul di atas sebagian yang lain.
- Pada zaman Adam, saudara boleh menikahi saudara perempuan dari kelahiran berbeda, lalu setelahnya diharamkan.
- Pada syariat Musa, lemak tertentu diharamkan bagi Bani Israil, lalu 'Isa menghalalkannya sebagai keringanan:
"...dan (Isa diutus) untuk menghalalkan bagi kamu sebagian dari yang sebelumnya diharamkan untukmu (di dalam Taurat di masa Nabi Musa)..." (QS. Ali 'Imran: 50).
3. Dahulu orang harus salat di dalam tempat ibadah mereka, namun dalam Islam bumi ini masjid dan suci:
وَجُعِلَتْ لِيَ الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا
"Dan dijadikan bagiku bumi sebagai tempat sujud dan sarana bersuci." (Sahih Bukhari: 335).
4. Dahulu harta rampasan perang tidak halal digunakan. Harta rampasan perang harus dikumpulkan, lalu Allah menurunkan api dari langit untuk membakarnya sebagai tanda bahwa harta rampasan tadi telah diterima Allah. Kemudian bagi umat Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam diubah. Lihat firman Allah:
يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْاَنْفَالِۗ قُلِ الْاَنْفَالُ لِلّٰهِ وَالرَّسُوْلِ...
“Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: harta rampasan perang itu milik Allah dan Rasul...” (QS Al Anfal: 1). الضَّابِطُ الثَّالِثُ: الْإِيمَانُ بِأَنَّ الرُّسُلَ بَشَرٌ مَخْلُوقُونَ أَكْرَمَهُمُ اللهُ بِالرِّسَالَةِ، وَأَنَّهُمْ لَيْسَ لَهُمْ مِنْ خَصَائِصِ الرُّبُوبِيَّةِ أَوِ الْأُلُوهِيَّةِ شَيْءٌ.(Prinsip Ketiga: Beriman bahwa para Rasul adalah manusia makhluk ciptaan Allah yang dimuliakan dengan risalah, dan mereka tidak memiliki sedikit pun sifat ketuhanan (rububiyah atau uluhiyah)
Rasul adalah manusia sebagaimana firman-Nya:قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ إِنْ نَحْنُ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَمُنُّ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَمَا كَانَ لَنَا أَنْ نَأْتِيَكُمْ بِسُلْطَانٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
"Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka, 'Kami hanyalah manusia seperti kamu, tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan kami tidak akan mendatangkan suatu bukti (mukjizat) kepadamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal'." (QS. Ibrahim: 11).
Nuh menjelaskan bahwa ia bukan tuhan dan tidak memiliki ilmu gaib:
قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَيَّ
"Katakanlah (Muhammad), 'Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan aku tidak mengetahui yang gaib dan aku tidak (pula) mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku'..." (QS. Al-An'am: 50).
Nabi Muhammad ﷺ diperintahkan untuk berkata:
قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
"Katakanlah (Muhammad), 'Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa bahaya. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman'." (QS. Al-A'raf: 188).
Allah Tabaraka wa Ta'ala mengisyaratkan dalam Al-Qur'anul Karim bahwa para Rasul adalah hamba-hamba di antara hamba-Nya yang dimuliakan dengan risalah, mereka bukanlah tuhan dan bukan pula malaikat.
Allah Ta'ala berfirman tentang Nuh 'alaihissalam:
ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا
"(Wahai) keturunan orang yang Kami bawa bersama Nuh. Sesungguhnya dia (Nuh) adalah hamba yang banyak bersyukur." (QS. Al-Isra: 3).
Dan Allah menampakkan sifat penghambaan ('ubudiyah) bagi Nabi-Nya Muhammad ﷺ dalam firman-Nya:
تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا "Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Qur'an) kepada hamba-Nya (Muhammad) agar dia menjadi pemberi peringatan bagi seluruh alam." (QS. Al-Furqan: 1).Allah Azza wa Jalla juga menyebutkan sifat penghambaan bagi Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub serta seluruh nabi, Allah berfirman:
وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ "Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub yang mempunyai kekuatan-kekuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi." (QS. Shad: 45).Dan Allah Azza wa Jalla menjelaskan bahwa Dawud adalah seorang hamba di antara hamba-hamba Allah, firman-Nya:
وَاذْكُرْ عَبْدَنَا دَاوُودَ ذَا الْأَيْدِ إِنَّهُ أَوَّابٌ "Dan ingatlah hamba Kami Dawud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Allah)." (QS. Shad: 17).Allah Tabaraka wa Ta'ala menyebutkan penghambaan Dawud 'alaihissalam dan bahwa beliau adalah hamba Allah Azza wa Jalla sehingga beliau berhak mendapatkan anugerah ini, Allah berfirman:
وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ "Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman; dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Allah)." (QS. Shad: 30).Dan Allah Azza wa Jalla berfirman tentang 'Isa bin Maryam:
إِنْ هُوَ إِلَّا عَبْدٌ أَنْعَمْنَا عَلَيْهِ وَجَعَلْنَاهُ مَثَلًا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ "Dia ('Isa) tidak lain hanyalah seorang hamba yang telah Kami berikan nikmat kepadanya, dan Kami jadikan dia sebagai contoh bagi Bani Israil." (QS. Az-Zukhruf: 59).Dialog 'Isa bin Maryam kelak:
وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلَمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ
"Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, 'Wahai 'Isa putra Maryam! Engkaukah yang mengatakan kepada orang-orang: Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?' 'Isa menjawab, 'Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya, tentulah Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib'." (QS. Al-Ma'idah: 116).
Semoga Allah mengaruniakan kita keikhlasan.
PERTANYAAN EVALUASI:- Apa makna Nabi?
- Sebutkan dalil wajibnya beriman kepada para Rasul!
- Sebutkan ayat yang menyebutkan 18 nabi sekaligus!
- Apa dalil bahwa seluruh Rasul membawa ajaran Tauhid?
- Sebutkan contoh perbedaan syariat antara para Rasul!
Post a Comment for "Syarah Bidayah fi Akidah 11: Iman kepada para Rasul"