zmedia

Tafsir QS Ibrahim 42: Wa Laa Tahsabanna Allaha Gafilan

Pembaca rahimakumullah, QS Ibrahim 42 - wa laa tahsabanna Allaha ghafilan amma ya’malu az-zalimun (jangan dikira Allah lalai dengan perbuatan orang-orang zalim). Ya, ayat ini menjadi pelipur bagi kita yang saat ini menyaksikan rakyat sedang mendapat bencana, tetapi orang-orang zalim penyebab bencana tidak kunjung taubat atau mendapat azab. Berikut adalah tafsir dan pelajaran dari QS Ibrahim 42.

QS IBRAHIM 42, LAFAZ & ARTI

Pembaca rahimakumullah, Allah ta’ala berfirman:

﴿وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ﴾

Latin: Wa La Tahsabanna Allaha Ghafilaan Amma Yamalu Az-Zalimuna Innama Yuuakhkhiruhum Liyawmin Tashkhasu Fihi Al-Absaru Arti: Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak, (QS Ibrahim: 42).

TAFSIR QS IBRAHIM 42

Pembaca rahimakumullah, berikut adalah tafsir per bagian dari QS Ibrahim 42 yang kami terjemahkan dari Tafsir Muharar Dorar Saniyah:

1 – Firman Allah (وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ) maksudnya adalah:

أيْ: وَلَا تَظُنَّ – يَا مُحَمَّدُ – أن اللَّهَ سَاهِيًا عَنْ أَعْمَالِ هَؤُلَاءِ الظَّالِمِينَ لِأَنْفُسِهِمْ، كَمُشْرِكِي قَوْمِكَ وَغَيْرِهِمْ

Janganlah engkau mengira – wahai Muhammad – bahwa Allah lalai terhadap perbuatan orang-orang zalim itu, seperti kaum musyrik dari kaummu dan selain mereka.

هو مِنْ سُنَّتِهِ إِمْهَالُ الظَّالِمِينَ، وَإِنْظَارُهُمْ مُدَّةً قَبْلَ أَنْ يُحِلَّ بِهِمْ عِقَابَهُ؛

Itu sudah menjadi sunnah Allah untuk memberi tenggang waktu kepada orang-orang zalim dan menunda hukuman mereka untuk sementara.

 بَلْ هُوَ عَالِمٌ بِأَعْمَالِهِمْ، وَسَيُعَاقِبُهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ؛ فَإِنَّهُ سُبْحَانَهُ يُمْهِلُ وَلَا يُهْمِلُ.

Dia Maha Mengetahui perbuatan mereka, dan akan menghukum mereka atas kezaliman mereka. Sesungguhnya Dia Maha Suci, memberi kesempatan tetapi tidak pernah melalaikan.

Dari Abu Musa al-Asy‘ari Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ، حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ، ثُمَّ قَرَأَ:

Sesungguhnya Allah memberi tenggang waktu bagi orang yang zalim, hingga apabila Allah sudah mencengkeram orang zalim tadi, Allah tidak akan melepaskannya.

Kemudian beliau ﷺ membaca ayat:

وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ

Dan demikianlah azab Tuhanmu. Apabila Dia mengazab penduduk negeri yang berbuat zalim; sesungguhnya azab-Nya itu sangat pedih dan keras, (QS. Hud: 102).

2 – Firman Allah (إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ) maksudnya adalah:

أيْ: إِنَّمَا يُمْهِلُ اللهُ الظَّالِمِينَ وَيُؤَخِّرُ عِقَابَهُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ الَّذِي تَرْتَفِعُ فِيهِ أَبْصَارُ الْخَلْقِ، وَهُمْ يُحَدِّقُونَ بِهَا مَبْهُوتِينَ خَائِفِينَ، دُونَ أَنْ تَطْرِفَ أَجْفَانُهُمْ، أَوْ تَغْتَمِضَ أَعْيُنُهُمْ؛ لِشِدَّةِ مَا أَصَابَهُمْ مِنَ الْفَزَعِ، وَمَا يَرَوْنَهُ مِنْ عَظِيمِ الْأَهْوَالِ.

Sesungguhnya Allah hanya memberi tenggang waktu bagi orang-orang zalim dan menunda hukuman mereka hingga hari kiamat, yaitu hari ketika pandangan makhluk terangkat, mereka menatap dengan terperangah dan penuh ketakutan, tanpa bisa memejamkan mata atau mengedipkan kelopak mata mereka, karena dahsyatnya rasa takut yang menimpa mereka dan besarnya kengerian yang mereka saksikan.

Hal ini senada dengan firman Allah”

وَاقْتَرَبَ الْوَعْدُ الْحَقُّ فَإِذَا هِيَ شَاخِصَةٌ أَبْصَارُ الَّذِينَ كَفَرُوا يَا وَيْلَنَا قَدْ كُنَّا فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَذَا بَلْ كُنَّا ظَالِمِينَ

Dan telah dekatlah janji yang benar (hari kiamat); maka tiba-tiba mata orang-orang yang kafir terbelalak. (Mereka berkata): ‘Celakalah kami, sesungguhnya kami dahulu lalai tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zalim,’ (QS. Al-Anbiyā’: 97).

PELAJARAN DARI QS IBRAHIM 42

Pembaca rahimakumullah, ayat ini memiliki banyak pelajaran, di antaranya:

هَذِهِ الْآيَةُ بِجُمْلَتِهَا فِيهَا وَعِيدٌ لِلظَّالِمِينَ، وَتَسْلِيَةٌ لِلْمَظْلُومِينَ.

1 – Ayat ini secara keseluruhannya mengandung ancaman bagi orang-orang zalim, dan menjadi pelipur lara bagi korban kezaliman.

2 – Di dalam ayat terdapat satu pertanyaan: apakah pantas bagi Rasulullah ﷺ untuk mengira/menyifati Allah dengan lalai?

Pertanyaan ini bisa dijawab dengan beberapa argumen:

a - Maksud ayat ini adalah peneguhan atas apa yang sudah beliau yakini, yaitu bahwa beliau tidak pernah mengira Allah lalai, sebagaimana firman-Nya:

وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Dan janganlah engkau menjadi termasuk orang-orang musyrik, (QS. Al-An‘ām: 14).

Dan firman-Nya:

وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ

Dan janganlah engkau menyeru tuhan lain bersama Allah, (QS. Al-Qaṣaṣ: 88).

b - Maksud ayat ini adalah penjelasan bahwa seandainya Allah tidak membalas (orang zalim), maka Allah tidak membalas itu bukan karena lalai terhadap kezaliman mereka. Karena mustahil Allah lalai, maka mustahil pula Allah tidak membalas mereka.

c - Maksud ayat ini adalah: Janganlah engkau mengira bahwa Allah memperlakukan mereka seperti orang yang lalai terhadap perbuatan mereka, tetapi Allah memperlakukan mereka seperti seorang pengawas yang mencatat dan menghitung segala sesuatu, sekecil apa pun.

d - Walaupun secara lahiriah kalimat ini ditujukan kepada Nabi ﷺ, pada hakikatnya ayat ini adalah peringatan yang ditujukan kepada umat beliau.

e - Larangan itu adalah bentuk peringatan agar tidak terjerumus dalam anggapan tersebut, tanpa memandang apakah orang yang diajak bicara benar-benar memiliki anggapan itu atau tidak. Wallahua’lam

TAMBAHAN PELAJARAN DARI SELAIN TAFSIR MUHARAR

Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi berkata:

تَأْخِيرُ العَذَابِ عَنِ الظُّلَمَةِ فِي كُلِّ زَمَانٍ وَمَكَانٍ لَمْ يَكُنْ غَفْلَةً عَنْهُمْ، وَإِنَّمَا هُوَ تَأْخِيرُهُمْ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ أَوْ إِلَى أَنْ يَحِينَ الوَقْتُ المُحَدَّدُ لِأَخْذِهِمْ.

Penundaan azab atas orang-orang zalim di setiap waktu dan tempat itu bukan karena Allah lalai terhadap mereka, melainkan penundaan itu sampai hari kiamat atau hingga tiba waktu yang telah ditentukan untuk membinasakan mereka.

Imam Al-Baghawi memaknai gaflah dengan:

الْغَفْلَةُ مَعْنًى يَمْنَعُ الْإِنْسَانَ مِنَ الْوُقُوفِ عَلَى حَقِيقَةِ الْأُمُورِ

Kelalaian adalah keadaan yang menghalangi manusia dari memahami hakikat perkara-perkara.

Demikianlah tafsir dan pelajaran dari QS Ibrahim 42. Semoga bermanfaat!

Karangasem, 12 Desember 2025

Irfan Nugroho (Pengelola situs Mukminun.com dan channel YouTube Mukminun TV)

Post a Comment for "Tafsir QS Ibrahim 42: Wa Laa Tahsabanna Allaha Gafilan"