zmedia

6 Cara Menjadi Sahabat Nabi di Surga

Salah satu tanda kecintaan seorang Muslim kepada Nabi ﷺ adalah berkeinginan untuk menyertainya, berjuang bersamanya, membelanya, dan menolongnya. Al-Qadhi Iyad berkata:

وَمِنْ مَحَبَّتِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَصْرَةُ سُنَّتِهِ، وَالذَّبُّ عَنْ شَرِيعَتِهِ، وَتَمَنِّي حُضُورِ حَيَاتِهِ، فَيَبْذُلَ مَالَهُ وَنَفْسَهُ دُونَهُ

Di antara kecintaan kepada Nabi ﷺ adalah membela sunahnya, mempertahankan syariatnya, dan berharap dapat hidup di masanya sehingga ia dapat mengorbankan harta dan jiwanya demi beliau.

Ibnu Hajar berkata:

وَقَدْ ذَهَبَ جُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ إِلَى أَنَّ فَضِيلَةَ الصُّحْبَةِ لَا يُعْدِلُهَا عَمَلٌ، لِمُشَاهَدَةِ رَسُولِ اللهِ ـ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ـ، أَمَّا مَنْ اتَّفَقَ لَهُ الذَّبُّ عَنْهُ، وَالسَّبْقُ إِلَيْهِ بِالْهِجْرَةِ، أَوِ النَّصْرَةِ، أَوْ ضَبْطُ الشَّرْعِ الْمُتَلَقَّى عَنْهُ وَتَبْلِيغُهُ لِمَنْ بَعْدَهُ، فَإِنَّهُ لَا يُعْدِلُهُ أَحَدٌ مِمَّنْ يَأْتِي بَعْدَهُ، لِأَنَّهُ مَا مِنْ خَصْلَةٍ إِلَّا وَلِلَّذِي سَبَقَ بِهَا مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، فَظَهَرَ فَضْلُهُمْ.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa keutamaan menjadi sahabat Nabi ﷺ tidak dapat ditandingi oleh amal apa pun, karena mereka menyaksikan langsung Rasulullah ﷺ. Adapun orang yang mendapat kesempatan untuk membela beliau, mendahului beliau dalam hijrah, atau memberikan pertolongan, atau menjaga syariat yang diterima dari beliau dan menyampaikannya kepada generasi setelahnya—maka tidak ada seorang pun setelah mereka yang dapat menyamai kedudukan mereka. Sebab, tidak ada satu pun amal kebaikan kecuali orang yang pertama kali melakukannya akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkannya setelahnya. Maka tampaklah keutamaan mereka.

An-Nawawi berkata:

وَفَضِيلَةُ الصُّحْبَةِ - وَلَوْ لَحْظَةً - لَا يُوَازِيهَا عَمَلٌ، وَلَا تُنَالُ دَرَجَتُهَا بِشَيْءٍ، وَالْفَضَائِلُ لَا تُؤْخَذُ بِالْقِيَاسِ، ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ

Keutamaan bersahabat dengan Nabi ﷺ, meskipun hanya sejenak, tidak dapat disandingkan dengan amalan apa pun, dan derajatnya tidak dapat dicapai dengan sesuatu apa pun. Keutamaan ini tidak dapat dianalogikan dengan “karunia biasa” di dalam firman Allah:

ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ

Itu adalah karunia Allah, Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki, (QS Al-Jumuah: 4).

Maksudnya, menjadi sahabat Nabi ﷺ adalah karunia yang sangat luar biasa.

Jika persahabatan dengan Nabi ﷺ di dunia memiliki kehormatan dan kedudukan yang tinggi seperti ini, bagaimana dengan menjadi sahabat dan pendamping beliau ﷺ di surga?! Banyak sebab yang dapat mengantarkan kita untuk menjadi sahabat Nabi ﷺ di surga, di antaranya:

حُبُّهُ وَطَاعَتُهُ ﷺ

Mencintai dan Menaati Beliau ﷺ

Cinta kepada Nabi ﷺ adalah salah satu sebab terbesar yang menempatkan kita di jalan untuk menyertai beliau ﷺ di surga. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu yang berkata:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَيْفَ تَرَى فِي رَجُلٍ أَحَبَّ قَوْمًا وَلَمَّا يَلْحَقْ بِهِمْ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ lalu bertanya: "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang mencintai suatu kaum namun belum bisa bertemu dengan mereka?" Rasulullah ﷺ bersabda: "Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya,” (Sahih Muslim: 2640).

Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu 'anhu:

أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ ـ صلى الله عليه وسلم ـ عَنِ السَّاعَةِ، فَقَالَ: مَتَى السَّاعَةُ؟، فَقَالَ: وَمَا أَعْدَدْتَ لَهَا؟، قَالَ: لَا شَيْءَ، إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ، فَقَالَ ـ صلى الله عليه وسلم ـ: أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ، قَالَ أَنَسٌ: فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ ـ صلى الله عليه وسلم: أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Nabi ﷺ tentang hari kiamat, ia berkata: "Kapan hari kiamat?" Beliau balik bertanya: "Apa yang telah kamu siapkan untuknya?" Laki-laki itu menjawab: "Tidak ada, kecuali saya mencintai Allah dan Rasul-Nya." Beliau ﷺ bersabda: "Kamu akan bersama dengan orang yang kamu cintai." Anas berkata: "Kami tidak pernah gembira dengan sesuatu seperti kegembiraan kami dengan ucapan Nabi ﷺ: 'Kamu akan bersama dengan orang yang kamu cintai, (Sahih Bukhari: 6167. Sahih Muslim: 2639).

Anas berkata:

فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ ـ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ـ، وَأَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ أَعْمَالَهُمْ.

Saya mencintai Nabi ﷺ, Abu Bakar, dan Umar, dan saya berharap bisa bersama mereka karena kecintaanku kepada mereka, meskipun amalanku tidak seperti amalan mereka.

Cinta sejati kepada Nabi ﷺ yang mengantarkan kepada persahabatan dengan beliau ﷺ di surga bukanlah sekadar kata-kata yang diucapkan oleh lisan, melainkan cinta kepada beliau harus menjadi sebuah kehidupan yang dijalani, dan sebuah jalan yang diikuti. Allah benar-benar berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: "Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian." Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, (QS Ali Imran: 31)

Adapun ketaatan kepada beliau ﷺ yang juga merupakan jalan yang agung untuk menyertai beliau di surga, maka itu adalah konsekuensi dari syahadat bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berkata:

طَاعَتُهُ فِيمَا أَمَرَ، وَتَصْدِيقُهُ فِيمَا أَخْبَرَ، وَاجْتِنَابُ مَا عَنْهُ نَهَى وَزَجَرَ، وَأَنْ لَا يُعْبَدَ اللَّهُ إِلَّا بِمَا شَرَعَ

Ketaatan kepada beliau adalah pada apa yang diperintahkannya, membenarkan apa yang dikabarkannya, menjauhi apa yang dilarang dan dicegahnya, serta tidak menyembah Allah kecuali dengan apa yang disyariatkan.

Al-Baghawi dalam tafsir firman Allah Ta'ala:

وَمَنْ يُطِعْ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُوْلَئِكَ رَفِيقًا

Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul, maka mereka itu akan bersama orang-orang yang diberikan nikmat oleh Allah kepada mereka, yaitu para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah sebaik-baik teman, (An-Nisa: 69)

Beliau berkata: Ayat ini turun mengenai Tsauban, maula Rasulullah ﷺ, yang sangat mencintai Rasulullah ﷺ dan tidak sabar untuk tidak bersamanya. Suatu hari ia datang kepada beliau dengan wajah yang pucat dan tampak sedih.

فَقَالَ لَهُ الرَّسُولُ ـ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ـ: مَا غَيَّرَ لَوْنَكَ؟، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا بِي مَرَضٌ وَلَا وَجَعٌ، غَيْرَ أَنِّي إِذَا لَمْ أَرَكَ اسْتَوْحَشْتُ وَحْشَةً شَدِيدَةً حَتَّى أَلْقَاكَ، ثُمَّ ذَكَرْتُ الْآخِرَةَ فَأَخَافُ أَنِّي لَا أَرَاكَ، لِأَنَّكَ تُرْفَعُ مَعَ النَّبِيِّينَ، وَإِنِّي إِنْ دَخَلْتُ الْجَنَّةَ فِي مَنْزِلَةٍ أَدْنَى مِنْ مَنْزِلَتِكَ، وَإِنْ لَمْ أَدْخُلِ الْجَنَّةَ لَا أَرَاكَ أَبَدًا، .

Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya: 'Apa yang membuat warnamu berubah?' Ia menjawab: 'Wahai Rasulullah, saya tidak sakit dan tidak ada rasa sakit, hanya saja jika saya tidak melihat Anda, saya merasa sangat sepi sampai saya bertemu dengan Anda. Kemudian saya teringat akhirat, saya takut tidak bisa melihat Anda, karena Anda akan diangkat bersama para nabi, dan jika saya masuk surga, kedudukan saya lebih rendah daripada Anda, dan jika saya tidak masuk surga saya tidak akan melihat Anda selamanya.'

كَثْرَةُ الصَّلَاةِ

Banyak Salat

Menyertai Nabi ﷺ di surga tidak dapat diraih hanya dengan angan-angan, melainkan harus dengan amal. Jika setiap orang memiliki cita-cita dalam hidupnya yang ia usahakan, ia perjuangkan, dan ia korbankan segalanya untuk mencapainya, maka cita-cita sahabat muda Rabiah bin Ka'b al-Aslami -radhiyallahu 'anhu- adalah menyertai Nabi ﷺ di surga. Dan betapa jauhnya perbedaan antara satu cita-cita dengan yang lain.

Diriwayatkan dari Rabiah bin Ka'b al-Aslami -radhiyallahu 'anhu-, ia berkata:

كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ، فَقَالَ لِي: سَلْنِي؟، فَقُلْتُ: أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ، قَالَ: أَو غَيْرَ ذَلِكَ ؟، قُلْتُ: هُوَ ذَاكَ، قَالَ: فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

Saya menginap bersama Rasulullah ﷺ, lalu saya bawakan air wudu dan keperluannya. Beliau berkata kepadaku: "Mintalah kepadaku?". Saya menjawab: "Saya meminta kepada Anda untuk menemani Anda di surga". Beliau bertanya: "Atau ada yang lain?". Saya menjawab: "Itu saja". Beliau bersabda: "Bantulah aku dengan memperbanyak sujud,” (Sahih Muslim: 489) Makna dari "Saya meminta kepada Anda untuk menemani Anda di surga" adalah:

سَلْ لِي ذَلِكَ وَادْعُ لِي بِهِ، فَمِنَ الْمَعْلُومِ أَنَّ النَّبِيَّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- لَا يَمْلِكُ لِأَحَدٍ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ.

Mintakanlah itu untukku dan doakanlah aku dengannya. Karena telah diketahui bahwa Nabi ﷺ tidak memiliki kekuasaan untuk memasukkan seseorang ke surga.

Ibnu al-Qayyim berkata:

وَإِذَا أَرَدْتَ أَنْ تَعْرِفَ مَرَاتِبَ الْهِمَمِ فَانْظُرْ إِلَى هِمَّةِ رَبِيعَةَ بْنِ كَعْبٍ الْأَسْلَمِيِّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- وَقَدْ قَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: (سَلْنِي)، فَقَالَ: أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ، وَكَانَ غَيْرُهُ يَسْأَلُهُ مَا يَمْلَأُ بَطْنَهُ، أَوْ يُوَارِي جِلْدَهُ.

Jika Anda ingin mengetahui tingkatan cita-cita, maka lihatlah cita-cita Rabiah bin Ka'b al-Aslami -radhiyallahu 'anhu- ketika Rasulullah ﷺ berkata kepadanya: 'Mintalah kepadaku', ia menjawab: 'Saya meminta kepada Anda untuk menemani Anda di surga'. Sementara yang lain meminta kepada beliau ﷺ sesuatu yang dapat memenuhi perut mereka, atau menutupi badan mereka.

An-Nawawi berkata:

فِيهِ الْحَثُّ عَلَى كَثْرَةِ السُّجُودِ وَالتَّرْغِيبُ، وَالْمُرَادُ بِهِ السُّجُودُ فِي الصَّلَاةِ، وَفِيهِ دَلِيلٌ لِمَنْ يَقُولُ تَكْثِيرُ السُّجُودِ أَفْضَلُ مِنْ إِطَالَةِ الْقِيَامِ.

Di dalamnya terdapat anjuran untuk memperbanyak sujud dan motivasi untuk itu. Yang dimaksud adalah sujud dalam salat, dan ini merupakan dalil bagi mereka yang mengatakan bahwa memperbanyak sujud lebih utama daripada memperpanjang berdiri.

As-Suyuthi berkata:

(فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ): هُوَ كِنَايَةٌ عَنْ كَثْرَةِ الصَّلَاةِ.

Sabda Nabi ﷺ (Bantulah aku dengan memperbanyak sujud ) adalah kiasan untuk memperbanyak salat.

حُسْنُ الْخُلُقِ

Akhlak yang Baik

Dasar dari agama yang agung ini adalah akhlak yang mulia dan berbagai kebaikannya. Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, (Musnad Ahmad: 8939).

Allah Yang Maha Perkasa memuji Nabi-Nya ﷺ dan memujinya dengan akhlak yang baik. Allah ta’ala berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Dan sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas akhlak yang agung, (Al-Qalam: 4).

Al-Qadhi Iyad berkata:

وَأَمَّا الْأَخْلَاقُ الْمُكْتَسَبَةُ مِنَ الْأَخْلَاقِ الْحَمِيدَةِ، وَالْآدَابُ الشَّرِيفَةُ الَّتِي اتَّفَقَ جَمِيعُ الْعُقَلَاءِ عَلَى تَفْضِيلِ صَاحِبِهَا، وَتَعْظِيمِ الْمُتَّصِفِ بِالْخُلُقِ الْوَاحِدِ مِنْهَا فَضْلًا عَمَّا فَوْقَهُ، وَأَثْنَى الشَّرْعُ عَلَى جَمِيعِهَا، وَأَمَرَ بِهَا، وَوَعَدَ السَّعَادَةَ الدَّائِمَةَ لِلْمُتَخَلِّقِ بِهَا، وَوَصَفَ بَعْضَهَا بِأَنَّهُ جُزْءٌ مِنْ أَجْزَاءِ النُّبُوَّةِ، وَهِيَ الْمُسَمَّاةُ بِحُسْنِ الْخُلُقِ، فَجَمِيعُهَا قَدْ كَانَتْ خُلُقَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-.

Semua orang yang berakal telah sepakat bahwa akhlak dan adab mulia adalah sesuatu yang terpuji. Mereka juga menjunjung tinggi siapa pun yang memiliki akhlak dan adab yang mulia, meskipun hanya satu, apalagi jika seseorang memiliki lebih dari satu akhlak dan adab yang baik tersebut. Semua akhlak mulia ini juga dipuji dan diperintahkan oleh ajaran Islam. Bahkan, Islam menjanjikan kebahagiaan abadi bagi mereka yang menghias diri dengannya, bahkan ada yang disebut sebagai "bagian dari kenabian". Semua akhlak yang baik itu sudah terwujud dan menjadi bagian dari diri Nabi Muhammad ﷺ. Beliau adalah teladan sempurna dalam hal akhlak.

Di antara hadis-hadis yang menyebutkan akhlak yang baik dan menjelaskan keutamaan serta kedudukannya, dan bahwa itu adalah salah satu sebab untuk bisa menyertai Nabi ﷺ di surga, adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dari Jabir -Radhiyallahu Anhu- bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

Sungguh, di antara kalian yang paling aku cintai dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya, (Jami At-Tirmizi: 2018).

الصَّلَاةُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ

Berselawat kepada Rasulullah ﷺ

Dari Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً

Sungguh, orang yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah yang paling banyak berselawat kepadaku,  (Jami At-Tirmizi: 484)

Tentang hadis tersebut, Al-Munawi berkata:

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ: أَقْرَبُهُمْ مِنِّي يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَوْلَاهُمْ بِشَفَاعَتِي، وَأَحَقُّهُمْ بِالْإِفَاضَةِ مِنْ أَنْوَاعِ الْخَيْرَاتِ وَدَفْعِ الْمَكْرُوهَاتِ.

Sabda Nabi ﷺ (Sungguh, orang yang paling dekat denganku pada hari kiamat ) maksudnya yang paling dekat denganku pada hari kiamat, yang paling berhak mendapatkan syafaatku, dan yang paling berhak mendapatkan limpahan dari berbagai macam kebaikan dan terhindar dari hal-hal yang tidak disukai.

Abu Hatim berkata:

فِي هَذَا الْخَبَرِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِرَسُولِ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فِي الْقِيَامَةِ يَكُونُ أَصْحَابُ الْحَدِيثِ، إِذْ لَيْسَ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ قَوْمٌ أَكْثَرُ صَلَاةً عَلَيْهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- مِنْهُمْ.

Dalam hadis ini terdapat dalil bahwa orang yang paling dekat dengan Rasulullah ﷺ pada hari kiamat adalah para ahli hadis, karena tidak ada dari umat ini suatu kaum yang lebih banyak berselawat kepada beliau ﷺ daripada mereka.

Ibnu al-Qayyim dalam bab keempat dari kitabnya yang berharga, Jala' al-Afham, menyebutkan sejumlah manfaat dan buah yang diperoleh dengan berselawat kepada beliau ﷺ, di antaranya:

امْتِثَالُ أَمْرِ اللهِ تَعَالَى

1 – Mentaati perintah Allah Ta'ala.

مُوَافَقَتُهُ سُبْحَانَهُ فِي الصَّلَاةِ عَلَيْهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-، وَإِنِ اخْتَلَفَتِ الصَّلَاتَانِ، فَصَلَاتُنَا عَلَيْهِ دُعَاءٌ وَسُؤَالٌ، وَصَلَاةُ اللهِ تَعَالَى عَلَيْهِ ثَنَاءٌ وَتَشْرِيفٌ

2 – Menyesuaikan diri dengan Allah dalam berselawat kepada beliau ﷺ, meskipun selawat keduanya berbeda. Selawat kita kepada beliau adalah doa dan permohonan, sedangkan selawat Allah Ta'ala kepada beliau adalah pujian dan kemuliaan.

مُوَافَقَةُ مَلَائِكَتِهِ فِيهَا

3 – Menyesuaikan diri dengan para malaikat-Nya dalam berselawat.

حُصُولُ عَشْرِ صَلَوَاتٍ مِنَ اللهِ عَلَى الْمُصَلِّي مَرَّةً

4 – Mendapatkan sepuluh selawat dari Allah bagi orang yang berselawat satu kali.

أَنَّهُ يُرْفَعُ عَشْرَ دَرَجَاتٍ

5 – Diangkat sepuluh derajat.

أَنَّهُ يُكْتَبُ لَهُ عَشْرُ حَسَنَاتٍ

6 – Dituliskan sepuluh kebaikan baginya.

أَنَّهُ يُمْحَى عَنْهُ عَشْرُ سَيِّئَاتٍ

7 – Dihapus sepuluh keburukan darinya.

أَنَّهُ يُرْجَى إِجَابَةُ دُعَائِهِ إِذَا قَدَّمَهَا أَمَامَهُ، فَهِيَ تُصَاعِدُ الدُّعَاءَ إِلَى عِنْدِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

8 – Diharapkan doanya dikabulkan jika ia mengawali doanya dengan itu, karena selawat mengangkat doa kepada Rabb sekalian alam.

أَنَّهَا سَبَبٌ لِشَفَاعَتِهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- إِذَا قَرَنَهَا بِسُؤَالِ الْوَسِيلَةِ لَهُ

9 – Selawat menjadi sebab syafaat beliau ﷺ jika dibarengi dengan memintakan al-wasilah untuk beliau.

أَنَّهَا سَبَبٌ لِغُفْرَانِ الذُّنُوبِ

10 – Selawat menjadi sebab pengampunan dosa.

أَنَّهَا سَبَبٌ لِكِفَايَةِ اللهِ الْعَبْدَ مَا أَهَمَّهُ

11 – Selawat menjadi sebab Allah mencukupi hamba dari apa yang menyusahkannya.

أَنَّهَا سَبَبٌ لِقُرْبِ الْعَبْدِ مِنْهُ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَوْمَ الْقِيَامَةِ

12 – Selawat menjadi sebab dekatnya seorang hamba dengan beliau ﷺ pada hari kiamat.

تَرْبِيَةُ الْبَنَاتِ

Mendidik Anak Perempuan

Terdapat banyak hadis yang menjelaskan keutamaan anak perempuan dan mendidik mereka. Hadis-hadis tersebut menunjukkan bahwa mendidik mereka adalah penutup dari api neraka, dan jalan yang mengantarkan kepada persahabatan dengan Nabi ﷺ di surga dan kedekatan dengannya. Cukup dengan itu sebagai keutamaan dan kehormatan.

Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha bahwa Nabi ﷺ bersabda:

مَنِ ابْتُلِيَ مِنْ هَذِهِ الْبَنَاتِ بِشَيْءٍ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ

Barangsiapa diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuan,[1] maka mereka akan menjadi penutup baginya dari api neraka, (Sahih Bukhari: 1418).

Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا، جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ - وَضَمَّ أَصَابِعَهُ

Barangsiapa menanggung dua anak perempuan hingga keduanya balig, maka pada hari kiamat ia datang bersamaku - dan beliau menggabungkan jari-jarinya, (Sahih Muslim: 2631)

Beliau ﷺ juga bersabda:

مَنْ كُنَّ لَهُ ثَلَاثُ بَنَاتٍ، أَوْ ثَلَاثُ أَخَوَاتٍ ، فَاتَّقَى اللَّهَ وَ أَقَامَ عَلَيْهِنَّ كَانَ مَعِيَ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا، و أَوْمَأَ بِالسَّبَابَةِ و الْوُسْطَى

Barangsiapa memiliki tiga anak perempuan, atau tiga saudara perempuan, lalu ia bertakwa kepada Allah dan menanggung mereka,[2] maka ia akan bersamaku di surga seperti ini - dan beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya, (Musnad Ahmad: 14247) كَفَالَةُ الْيَتِيمِ

Menjamin Anak Yatim

Rasulullah ﷺ adalah orang pertama yang merasakan penderitaan dan kesedihan anak yatim. Oleh karena itu, beliau sangat memperhatikan pendidikan, perawatan, dan perlakuan terhadap mereka, agar mereka tumbuh menjadi anggota masyarakat yang bermanfaat, tidak merasa kekurangan dari orang lain, sehingga tidak hancur dan menjadi anggota yang merusak dalam kehidupan. Perhatian beliau ﷺ terhadap anak yatim sedemikian rupa sehingga beliau mengabarkan kepada para penjamin mereka bahwa mereka akan menjadi teman-teman beliau di surga.

Diriwayatkan dari Sahl bin Sa'ad Radhiyallahu Anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا ، وَأَشَارَ بِالسَّبَابَةِ وَالْوُسْطَى وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئًا

Aku dan penjamin anak yatim[3] di surga seperti ini - dan beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya serta membuka sedikit di antara keduanya, (Jami At-Tirmizi: 1918)

An-Nawawi berkata:

كَافِلُ الْيَتِيمِ: الْقَائِمُ بِأُمُورِهِ.

“Penjamin anak yatim” maksudnya orang yang mengurus urusan anak yatim.

Ibnu Hajar mengutip perkataan Syaikh beliau dalam syarah at-Tirmidzi yang berkata:

لَعَلَّ الْحِكْمَةَ فِي كَوْنِ كَافِلِ الْيَتِيمِ يُشْبِهُ فِي دُخُولِ الْجَنَّةِ، أَوْ شُبِّهَتْ مَنْزِلَتُهُ فِي الْجَنَّةِ بِالْقُرْبِ مِنَ النَّبِيِّ، أَوْ مَنْزِلَةِ النَّبِيِّ، لِكَوْنِ النَّبِيِّ شَأْنُهُ أَنْ يُبْعَثَ إِلَى قَوْمٍ لَا يَعْقِلُونَ أَمْرَ دِينِهِمْ، فَيَكُونُ كَافِلًا لَهُمْ وَمُعَلِّمًا وَمُرْشِدًا، وَكَذَلِكَ كَافِلُ الْيَتِيمِ يَقُومُ بِكَفَالَةِ مَنْ لَا يَعْقِلُ أَمْرَ دِينِهِ بَلْ وَلَا دُنْيَاهُ، وَيُرْشِدُهُ وَيُعَلِّمُهُ، وَيُحْسِنُ أَدَبَهُ فَظَهَرَتْ مُنَاسَبَةُ ذَلِكَ.

Hikmah dari disamakannya penjamin anak yatim dalam masuk surga, atau disamakannya kedudukan penjamin anak yatim di surga dengan dekatnya mereka dengan Nabi, atau kedudukan Nabi, adalah karena Nabi diutus kepada kaum yang tidak memahami urusan agama mereka, sehingga beliau menjadi penjamin, pengajar, dan pembimbing bagi mereka. Demikian pula penjamin anak yatim adalah orang yang mengurus orang yang tidak memahami urusan agamanya bahkan urusan dunianya. Penjamin anak yatim membimbing, mengajarinya, serta mendidik mereka dengan baik, maka nampaklah kesesuaiannya.

Ibnu Battal berkata:

حَقٌّ عَلَى مَنْ سَمِعَ هَذَا الْحَدِيثَ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ لِيَكُونَ رَفِيقَ النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فِي الْجَنَّةِ، وَلَا مَنْزِلَةَ فِي الْآخِرَةِ أَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ.

Wajib bagi siapa pun yang mendengar hadis ini untuk mengamalkannya agar ia menjadi teman Nabi ﷺ di surga, dan tidak ada kedudukan di akhirat yang lebih baik dari itu.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

كَافِلُ الْيَتِيمِ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ وَأَنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ فِي الْجَنَّةِ

Penjamin anak yatim, baik dari kerabatnya atau bukan, aku dan dia seperti dua jari ini di surga, (Sahih Muslim: 2983).

An-Nawawi berkata:

الْيَتِيمُ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ مَعْنَاهُ: قَرِيبُهُ، أَوِ الْأَجْنَبِيُّ مِنْهُ، فَالْقَرِيبُ مِثْلُ أَنْ تَكْفُلَهُ أُمُّهُ أَوْ جَدُّهُ، أَوْ أَخُوهُ، أَوْ غَيْرُهُمْ مِنْ قَرَابَتِهِ، وَاللهُ أَعْلَمُ.

Sabda Nabi ﷺ (Baik dari kerabatnya atau bukan) maknanya kerabatnya, atau orang asing baginya. Kerabat seperti ibunya, kakeknya, saudaranya, atau kerabatnya yang lain. Dan Allah Maha Tahu.

Hasan Al-Basri berkata:

يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ! الْخَشَبَةُ تَحِنُّ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَوْقًا إِلَيْهِ، أَفَلَيْسَ الرِّجَالُ الَّذِينَ يَرْجُونَ لِقَاءَهُ أَحَقُّ أَنْ يَشْتَاقُوا إِلَيْهِ؟

Wahai kaum Muslimin! Sebatang kayu merintih karena rindu kepada Rasulullah ﷺ. Bukankah orang-orang yang berharap bertemu dengannya lebih pantas untuk merindukannya?

Maka, bagaimana mungkin jiwa-jiwa orang mukmin tidak rindu untuk menjadi sahabat dan pendamping beliau ﷺ?!

Oleh karena itu, kerinduan seorang Muslim untuk menyertai Kekasih ﷺ di surga, dan usahanya untuk itu akan tetap menjadi ambisi besarnya, dan cita-cita agungnya yang ia perjuangkan untuk mencapainya dalam hidupnya.

فَاللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مُرَافَقَةَ نَبِيِّنَا وَحَبِيبِنَا -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فِي الْجَنَّةِ..

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu untuk menyertai Nabi dan Kekasih kami ﷺ di surga. Aamiin

Diterjemahkan di Karangasem pada 4 September 2025

Irfan Nugroho (Pengelola situs Mukminun.com dan channel YouTube: Mukminun TV)

[1] Di antara makna sabda Nabi yang ini adalah:

أَنَّ أَجْرَ الْقِيَامِ عَلَى الْبَنَاتِ أَعْظَمُ مِنْ أَجْرِ الْقِيَامِ عَلَى الْبَنِينَ

Bahwa pahala mengurus anak perempuan lebih besar daripada pahala mengurus anak laki-laki,  (Mausuatul Haditsiyah Dorar Saniyah: 9118).

[2] Yang dimaksud dengan “menanggung mereka” adalah:

فَتَحَلَّى بِالصَّبْرِ عَلَيْهِنَّ وَعَلَى تَرْبِيَتِهِنَّ حَتَّى يَكْبُرْنَ، وَقَامَ بِحُقُوقِهِنَّ وَأَنْفَقَ عَلَيْهِنَّ وَأَدَّبَهُنَّ بِأَدَبِ الْإِسْلَامِ، مَعَ تَعْلِيمِهِنَّ مَا لَا بُدَّ مِنْهُ مِنْ أُمُورِ الدِّينِ.

Bersabar dalam mengasuh dan mendidik mereka hingga dewasa, menunaikan hak-hak mereka, menafkahi mereka, serta mendidik mereka dengan adab Islam dan mengajarkan perkara-perkara agama yang wajib diketahui, (Mausuatul Haditsiyah: 150198).

[3] Termasuk dalam makna “penjamin anak yatim” adalah:

Yang dimaksud dengan menanggung anak yatim adalah merawatnya, mengurus segala kebutuhannya, dan menjaga hartanya—jika ia memiliki harta—dengan cara yang paling baik dan bermanfaat; yaitu dengan memeliharanya, mengembangkannya, dan menginvestasikannya dalam cara-cara yang aman yang diperkirakan tidak akan rugi. Hal ini dilakukan hingga ia mencapai usia balig. Ketika ia telah balig dan menunjukkan kedewasaan serta kemampuan mengelola harta dengan baik, maka hartanya diserahkan kepadanya, (Mausuatul Haditsiyah: 20972).

Post a Comment for "6 Cara Menjadi Sahabat Nabi di Surga"