zmedia

Memandikan Jenazah Wanita, Banci, dan Muhrim

Pembaca rahimakumullah, bagaimana hukum khusus tentang memandikan jenazah wanita, banci, dan muhrim atau orang yang meninggal ketika ihram? Berikut adalah terjemahan dari Mausuatul Fiqhiyah Dorar Saniyah > Kitab Salat > Bab Janaiz > Bab Memandikan Jenazah > Hukum Khusus tentang Memandikan Jenazah Wanita, Banci, dan Muhrim. Semoga bermanfaat!

الْأَحْكَامُ الْخَاصَّةُ بِغُسْلِ الْمَرْأَةِ وَالْخُنْثَى وَالْمُحْرِمِ

Hukum Khusus tentang Memandikan Jenazah Wanita

يُسْتَحَبُّ تَسْرِيحُ شَعْرِ الْمَيِّتَةِ، وَجَعْلُهُ ثَلَاثَ ضَفَائِرَ خَلْفَهَا، وَهُوَ مَذْهَبُ الْجُمْهُورِ: الْمَالِكِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ.

Disunahkan untuk menyisir rambut jenazah wanita dan menjadikannya tiga kepang di belakang punggungnya. Ini adalah mazhab jumhur ulama: Malikiyah, Syafi'iyah, dan Hanabilah.

Dalil dari Sunah:

Dari Ummu Atiyah radhiyallahu anha yang berkata:

تُوُفِّيَتْ إِحْدَى بَنَاتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَتَانَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: «اغْسِلْنَها بِالسِّدْرِ وِتْرًا ثَلَاثًا، أَوْ خَمْسًا، أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ، إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ، وَاجْعَلْنَ فِي الْآخِرَةِ كَافُورًا -أَوْ شَيْئًا مِنْ كَافُورٍ- فَإِذَا فَرَغْتُنَّ فَآذِنَّنِي»،

Salah seorang putri Nabi ﷺ wafat. Lalu Nabi ﷺ mendatangi kami dan bersabda: 'Mandikanlah dia dengan air bidara secara ganjil, tiga kali, atau lima kali, atau lebih dari itu jika kalian menganggapnya perlu. Dan jadikanlah pada yang terakhir kapur barus – atau sedikit kapur barus. Jika kalian telah selesai, beritahukanlah kepadaku.'

فَلَمَّا فَرَغْنَا آذَنَّاهُ، فَأَلْقَى إِلَيْنَا حِقْوَهُ، فَضَفَّرْنَا شَعْرَهَا ثَلَاثَةَ قُرُونٍ، وَأَلْقَيْنَاهَا خَلْفَهَا.

Ketika kami telah selesai, kami memberitahukan kepada beliau. Lalu beliau melemparkan kepada kami sarungnya, maka kami mengepang rambutnya menjadi tiga kepang dan meletakkannya di belakang punggungnya, (Sahih Bukhari: 1253. Sahih Muslim: 939).

غُسْلُ الْخُنْثَى الْمُشْكِلِ

Memandikan Khunsa Musykil (Semacam Banci atau Orang yang Sulit Ditentukan Jenis Kelaminnya)

الْخُنْثَى الْمُشْكِلُ يُيَمَّمُ وَلَا يُغَسَّلُ، وَهَذَا مَذْهَبُ الْجُمْهُورِ: الْحَنَفِيَّةِ، وَالْمَالِكِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ، وَوَجْهٌ لِلشَّافِعِيَّةِ.

Khunsa musykil ditayamumkan dan tidak dimandikan. Ini adalah mazhab jumhur ulama: Hanafiyah, Malikiyah, Hanabilah, dan satu pendapat dari Syafi'iyah.

Argumentasi

أَوَّلًا: لِأَنَّهُ مَاتَ قَبْلَ أَنْ يَسْتَبِينَ أَمْرُهُ فَلَمْ يُغَسِّلْهُ رَجُلٌ وَلَا امْرَأَةٌ؛ لِأَنَّ حِلَّ الْغُسْلِ غَيْرُ ثَابِتٍ بَيْنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ، فَيُتَوَقَّى؛ لِاحْتِمَالِ الْحُرْمَةِ، وَيُيَمَّمُ بِالصَّعِيدِ؛ لِتَعَذُّرِ الْغُسْلِ.

Pertama: Karena dia meninggal sebelum jenis kelaminnya jelas, maka tidak dimandikan oleh laki-laki maupun perempuan. Sebab, kebolehan memandikan jenazah tidak tetap antara laki-laki dan perempuan, sehingga dihindari (memandikannya) karena kemungkinan haram. Dan ditayamumkan dengan tanah suci karena sulitnya memandikan.

ثَانِيًا: لِأَنَّهُ لَا يَحِلُّ لِلرَّجُلِ أَنْ يُغَسِّلَهُ؛ لِاحْتِمَالِ أَنْ يَكُونَ أُنْثَى، وَلَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تُغَسِّلَهُ؛ لِاحْتِمَالِ أَنَّهُ ذَكَرٌ؛ فَيُيَمَّمُ.

Kedua: Karena tidak halal bagi laki-laki untuk memandikannya karena kemungkinan dia adalah perempuan, dan tidak halal bagi perempuan untuk memandikannya karena kemungkinan dia adalah laki-laki. Maka, ditayamumkan. صِفَةُ غُسْلِ مَنْ مَاتَ مُحْرِمًا

Tata Cara Memandikan Orang yang Meninggal dalam Keadaan Ihram

غُسْلُ الْمُحْرِمِ الْمَيِّتِ كَغُسْلِهِ وَهُوَ حَيٌّ، فَيُجَنَّبُ مَا يُجَنَّبُ وَهُوَ حَيٌّ، وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ، وَبِهِ قَالَتْ طَائِفَةٌ مِنَ السَّلَفِ، وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ حَزْمٍ، وَابْنِ تَيْمِيَّةَ، وَابْنِ الْقَيِّمِ وَالصَّنْعَانِيِّ، وَابْنِ بَازٍ، وَابْنِ عُثَيْمِينَ. Memandikan jenazah orang yang sedang ihram sama seperti memandikannya ketika hidup, yaitu dijauhkan dari hal-hal yang dijauhkan ketika dia masih hidup. Ini adalah mazhab Syafi'iyah dan Hanabilah. Pendapat ini juga dipegang oleh sebagian salaf, serta merupakan pendapat Ibnu Hazm, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Ash-Shan'ani, Ibnu Baz, dan Ibnu Utsaimin. Dalil dari Sunah:

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma yang berkata:

بَيْنَا رَجُلٌ وَاقِفٌ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَفَةَ إِذْ وَقَعَ عَنْ رَاحِلَتِهِ فَوَقَصَتْهُ، أَوْ قَالَ فَأَوْقَصَتْهُ - فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

Ketika seorang laki-laki berdiri bersama Nabi ﷺ di Arafah, tiba-tiba dia terjatuh dari kendaraannya lalu kendaraannya menginjaknya – atau dia mengatakan kendaraannya menjatuhkannya – maka Nabi ﷺ bersabda:

اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ وَكَفِّنُوهُ فِي ثَوْبَيْنِ، وَلَا تُمِسُّوهُ طِيبًا، وَلَا تُخَمِّرُوا رَأْسَهُ، وَلَا تُحَنِّطُوهُ؛ فَإِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُلَبِّيًا

Mandikanlah dia dengan air dan bidara, dan kafanilah dia dengan dua helai kain, janganlah kalian sentuhkan padanya wewangian, janganlah kalian tutupi kepalanya, dan janganlah kalian berikan padanya hanut (wewangian khusus jenazah); karena sesungguhnya Allah akan membangkitkannya pada hari kiamat dalam keadaan bertalbiyah, (Sahih Bukhari: 1850. Sahih Muslim: 1206).

Argumentasi:

أَنَّهُ مَنَعَ مِنْ تَخْمِيرِ رَأْسِهِ بَعْدَ الْمَوْتِ، وَمِنْ مَسِّهِ بِالطِّيبِ؛ لِبَقَاءِ الْإِحْرَامِ عَلَيْهِ، وَدَلَّ قَوْلُهُ: ((فَإِنَّهُ يُبْعَثُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُلَبِّيًا)) عَلَى أَنَّهُ بَاقٍ عَلَى إِحْرَامِهِ؛ فَهُوَ كَالْحَيِّ.

Bahwa beliau melarang menutupi kepalanya setelah meninggal dan melarang menyentuhnya dengan wewangian karena ihramnya masih tetap padanya. Dan sabda beliau: "Maka sesungguhnya dia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan bertalbiyah" menunjukkan bahwa dia tetap dalam ihramnya, maka dia seperti orang yang hidup.

إِذَا خَرَجَ مِنَ الْمَيِّتِ نَجَاسَةٌ بَعْدَ غُسْلِهِ

Jika Keluar Najis dari Jenazah Setelah Dimandikan

إِذَا خَرَجَ مِنَ الْمَيِّتِ نَجَاسَةٌ بَعْدَ غُسْلِهِ وَقَبْلَ تَكْفِينِهِ؛ وَجَبَ غَسْلُ النَّجَاسَةِ، وَلَا يُعَادُ الْغُسْلُ، وَهَذَا مَذْهَبُ الْجُمْهُورِ: الْحَنَفِيَّةِ، وَالْمَالِكِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ. Jika keluar najis dari jenazah setelah dimandikan dan sebelum dikafani, maka wajib membasuh najis tersebut, dan tidak perlu mengulang mandi. Ini adalah mazhab jumhur ulama: Hanafiyah, Malikiyah, dan Syafi'iyah. Argumentasi:

أَوَّلًا: لِأَنَّ الْغُسْلَ قَدْ عُرِفَ بِالنَّصِّ، وَقَدْ حَصَلَ مَرَّةً، وَسَقَطَ الْوَاجِبُ فَلَا يُعِيدُهُ.

Pertama: Karena mandi telah diketahui berdasarkan nas (dalil), dan telah terjadi satu kali, serta kewajiban telah gugur, maka tidak perlu diulang.

ثَانِيًا: لِأَنَّهُ خَرَجَ عَنِ التَّكْلِيفِ بِنَقْضِ الطَّهَارَةِ.

Kedua: Karena ia telah keluar dari taklif (beban syariat) dengan batalnya taharah.

ثَالِثًا: قِيَاسًا عَلَى مَا لَوْ أَصَابَتْهُ نَجَاسَةٌ مِنْ غَيْرِهِ؛ فَإِنَّهُ يَكْفِي غَسْلُهَا بِلَا خِلَافٍ.

Ketiga: Dianalogikan dengan jika ia terkena najis dari selain dirinya; maka cukup membasuhnya tanpa perselisihan.

رَابِعًا: لِأَنَّ خُرُوجَ النَّجَاسَةِ مِنَ الْحَيِّ بَعْدَ غُسْلِهِ لَا يُبْطِلُهُ، فَكَذَلِكَ الْمَيِّتُ.

Keempat: Karena keluarnya najis dari orang yang hidup setelah mandinya tidak membatalkan mandi tersebut, begitu juga pada jenazah. حُكْمُ إِعَادَةِ وُضُوءِ الْمَيِّتِ بَعْدَ خُرُوجِ النَّجَاسَةِ مِنْهُ.

Hukum Mengulang Wudu Jenazah Setelah Keluar Najis Darinya

إِذَا خَرَجَ مِنَ الْمَيِّتِ نَجَاسَةٌ بَعْدَ غُسْلِهِ، وَقَبْلَ تَكْفِينِهِ؛ فَلَا يُعَادُ وُضُوءُهُ، وَهُوَ مَذْهَبُ الْجُمْهُورِ: الْحَنَفِيَّةِ، وَالْمَالِكِيَّةِ، وَالصَّحِيحُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيَّةِ.

Jika keluar najis dari jenazah setelah dimandikan dan sebelum dikafani, maka wudunya tidak perlu diulang. Ini adalah mazhab jumhur ulama: Hanafiyah, Malikiyah, dan pendapat yang sahih dari mazhab Syafi'iyah.

Argumentasi:

أَوَّلًا: لِأَنَّهُ إِنْ كَانَ حَدَثًا، فَالْمَوْتُ فَوْقَهُ فِي هَذَا الْمَعْنَى؛ لِكَوْنِهِ يَنْفِي التَّمْيِيزَ فَوْقَ الْإِغْمَاءِ؛ فَلَا مَعْنَى لِإِعَادَتِهِ مَعَ بَقَاءِ الْمَوْتِ.

Pertama: Karena jika itu adalah hadas, maka kematian lebih tinggi maknanya dalam hal ini; karena kematian menghilangkan tamyiz (kesadaran) lebih dari pingsan; maka tidak ada gunanya mengulangnya dengan tetap adanya kematian.

ثَانِيًا: لِأَنَّهُ خَرَجَ عَنِ التَّكْلِيفِ بِنَقْضِ الطَّهَارَةِ، وَقِيَاسًا عَلَى مَا لَوْ أَصَابَتْهُ نَجَاسَةٌ مِنْ غَيْرِهِ، فَإِنَّهُ يَكْفِي غَسْلُهَا بِلَا خِلَافٍ.

Kedua: Karena ia telah keluar dari taklif dengan batalnya taharah, dan dianalogikan dengan jika ia terkena najis dari selain dirinya, maka cukup membasuhnya tanpa perselisihan. حُكْمُ الاغْتِسَالِ مِنْ غُسْلِ الْمَيِّتِ

Hukum Mandi Setelah Memandikan Jenazah

يُسْتَحَبُّ الاغْتِسَالُ مِنْ غُسْلِ الْمَيِّتِ، وَذَلِكَ بِاتِّفَاقِ الْمَذَاهِبِ الْفِقْهِيَّةِ الْأَرْبَعَةِ: الْحَنَفِيَّةِ، وَالْمَالِكِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَالْحَنَابِلَةِ.

Disunahkan mandi setelah memandikan jenazah. Hal ini disepakati oleh empat mazhab fikih: Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyah, dan Hanabilah.

Dalil dari Atsar:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu yang berkata:

مَنْ غَسَّلَ مَيِّتًا فلْيغتَسِلْ

Barang siapa yang memandikan jenazah, hendaklah ia mandi, (HR Al-Bazar: 7992).

Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma yang berkata:

كُنَّا نُغَسِّلُ المَيِّتَ؛ فمِنَّا من يَغْتَسِلُ، ومنَّا مَن لا يغتَسِلُ

Kami dahulu memandikan jenazah; di antara kami ada yang mandi, dan di antara kami ada yang tidak mandi, (HR Daruqutni: 2/72). Wallahua’lam

Demikianlah hukum khusus tentang memandikan wanita banci dan muhrim menurut Mausuatul Fiqhiyah Dorar Saniyah. Semoga bermanfaat. Baarakallahu fiikum

Karangasem, 29 Juni 2025

Irfan Nugroho (Semoga Allah mengampuni dosanya, menerima amal ibadahnya, dan mengabulkan doa-doanya. Aamiin)

Post a Comment for "Memandikan Jenazah Wanita, Banci, dan Muhrim"