Pembaca rahimakumullah, di dalam Islam terdapat konsep Na’yu atau pengumuman kematian yang terlarang. Seperti apa maksudnya? Berikut adalah terjemahan dari Mausuatul Fiqhiyah Dorar Saniyah > Kitab Salat > Bab Janaiz > Hukum Orang Sakit dan Sekarat > Hukum Orang Sekarat > Na’yu. Semoga bermanfaat.
نَعْيُ المَيِّتِ
Na’yu Mayat (Pengumuman Kematian yg Terlarang)
حُكْمُ نَعْيِ المَيِّتِHukum Na’yu Mayat
يُكْرَهُ نَعْيُ المَيِّتِ وَهَذَا بَاتِّفَاقِ المَذَاهِبِ الفِقْهِيةِ الأَرْبَعَةِ: الحَنَفِيَّةِ، وَالمَالِكِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَالحَنَابِلَةِ Na’yu Mayat (Mengumumkan Kematian)[1] itu hukumnya makruh, dan ini adalah kesepakatan empat mazhab fikih, yaitu Hanafiah,[2] Malikiah,[3] Syafiiah,[4] dan Hanabilah.[5]الدَّلِيلُ مِنَ السُّنَّةِ
Dalil dari SunahDari Hudzaifah ibnul Yaman Radhiyallahu Anhuma yang berkata:
إِذَا مِتُّ فَلَا تُؤْذِنُوا بِي؛ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَكُونَ نَعْيًا؛ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَى عَنِ النَّعْيِ
Jika aku mati, jangan umumkan kematianku; aku khawatir itu termasuk pengumuman kematian; karena aku mendengar Rasulullah ﷺ melarang na’yu (pengumuman kematian), (Musnad Ahmad: 23502. Sunan At-Tirmizi: 986 dan Sunan Ibnu Majah: 1476).
الإِعْلَامُ بِمَوْتِ المَيِّتِ مِنْ غَيْرِ نِدَاءٍMemberitahukan Kematian tanpa Pengumuman
لَا يُكْرَهُ الإِعْلَامُ بِمَوْتِ المَيِّتِ مِنْ غَيْرِ نِدَاءٍ، وَهَذَا بَاتِّفَاقِ المَذَاهِبِ الفِقْهِيةِ الأَرْبَعَةِ: الحَنَفِيَّةِ، وَالمَالِكِيَّةِ، وَالشَّافِعِيَّةِ، وَالحَنَابِلَةِ، وَحُكِيَ فِيهِ الإِجْمَاعُ Memberitahukan kematian tanpa pengumuman[6] hukumnya tidak makruh. Ini adalah kesepakatan empat mazhab fikih, yaitu Hanafiah,[7] Malikiah,[8] Syafiiah,[9] dan Hanabilah,[10] bahkan konon terdapat ijma[11] dalam hal ini.من السُّنَّة
Dalil dari Sunah1 – Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu yang berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَى النَّجَاشِيَّ فِي اليَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ؛ خَرَجَ إِلَى المُصَلَّى، فَصَفَّ بِهِمْ، وَكَبَّرَ أَرْبَعًا
Bahwa Rasulullah ﷺ mengumumkan kematian Najasyi pada hari wafatnya; beliau keluar ke tempat salat, lalu salat bersama mereka, dan bertakbir empat kali, (Sahih Bukhari: 1245. Sahih Muslim: 951).
2 – Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu yang berkata:
أَنَّ رَجُلًا أَسْوَدَ- أَوِ امْرَأَةً سَوْدَاءَ- كَانَ يَقُمُّ المَسْجِدَ فَمَاتَ، فَسَأَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْهُ، فَقَالُوا: مَاتَ، قَالَ: أَفَلَا كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي بِهِ، دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهِ- أَوْ قَالَ قَبْرِهَا- فَأَتَى قَبْرَهَا فَصَلَّى عَلَيْهَا
Bahwa seorang pria kulit hitam - atau seorang wanita kulit hitam - yang biasa membersihkan masjid telah meninggal, maka Nabi ﷺ bertanya tentangnya, mereka berkata: Dia telah meninggal, beliau berkata: Mengapa kalian tidak memberitahuku tentangnya, tunjukkan aku kuburannya - atau beliau berkata kuburannya - maka beliau mendatangi kuburannya dan shalat atasnya, (Sahih Bukhari: 458. Sahih Muslim: 956).
من الإجماع
Dalil dari Ijmaنَقَلَ الإِجْمَاعَ عَلَى ذَلِكَ: ابْنُ رُشْدٍ الجَدُّ، وَالمَوَّاقُ، وَالخَرَشِيُّ
Ijma' tentang hal ini telah dinyatakan oleh Ibnu Rusydi al-Jadd, Al-Mawwaq, dan Al-Kharsyi;
لِمَا يَتَرَتَّبُ عَلَى مَعْرِفَةِ ذَلِكَ مِنَ المُبَادَرَةِ لِشُهُودِ جِنَازَتِهِ، وَتَهْيِئَةِ أَمْرِهِ، وَالصَّلَاةِ عَلَيْهِ، وَالدُّعَاءِ لَهُ وَالاسْتِغْفَارِ، وَتَنْفِيذِ وَصَايَاهُ
karena dengan mengetahui hal itu, orang-orang akan segera menghadiri jenazahnya, mempersiapkan urusannya, shalat atasnya, mendoakannya, memohonkan ampunan, dan melaksanakan wasiatnya.[12] Wallahua’lamKarangasem, 24 Desember 2024
Irfan Nugroho (Semoga Allah mengampuni, merahmati, dan memberkahi dirinya, keluarganya, dan orang tuanya. Amin).
CATATAN KAKI [1] Na’yu adalah:هُوَ إِذَاعَةُ مَوْتِ المَيِّتِ، وَالإِخْبَارُ بِهِ، وَنَدْبُهُ
Menyiarkan kematian orang yang meninggal, memberitahukan kematiannya, dan meratapinya, (An-Nihayah li Ibni Atsir: 5/85).
Az-Zaila’i berkata:
كَانُوا يَبْعَثُونَ إِلَى القَبَائِلِ يَنْعَوْنَ مَعَ ضَجِيجٍ وَبُكَاءٍ وَعَوِيلٍ وَتَعْدِيدٍ، وَهُوَ مَكْرُوهٌ بِالإِجْمَاعِ
Dahulu mereka mengirimkan berita kematian kepada suku-suku dengan diiringi kegaduhan, tangisan, ratapan, dan pengulangan, dan itu makruh berdasarkan ijma, (Tabyin Al-Haqa’iq: 1/240).
Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, “Tidak masalah mengumumkan kematian di surat kabar dan majalah sebelum disalatkan, jika tujuannya adalah untuk melakukan salat jenazah bagi mayit, seperti Nabi Muhammad ﷺ mengumumkan kematian Najasyi ketika wafatnya, dan memerintahkan para sahabat untuk keluar ke tempat salat, lalu beliau salat bersama mereka,” (Majmu Fatawa wa Rasail Al-Utsaimin: 17/344).
[2] Di dalam Mazhab Hanafi terdapat pembatasan bahwa yang makruh itu jika disertai dengan penyebutan dan pengagungan, (Hasiyah ibnu Abidin: 2/239). [3] Di dalam Mazhab Maliki terdapat pembatasan bahwa yang makruh adalah pengumuman kematian di masjid dan pintu masjid, (At-Taj wal Iklil li Al-Mawaqi: 2/241). [4] Di dalam Mazhab Syafii terdapat pembatasan bahwa yang makruh adalah pengumuman kematian yang disertai dengan penyebutan keutamaan dan prestasi orang yang meninggal, (Mughni Al-Muhtaj: 1/357). An-Nawawi berkata, “Makruh mengumumkan kematian dengan cara jahiliyah dan tidak masalah memberitahukan kematian untuk shalat atasnya dan lainnya, (Raudhatut Thalibin: 2/98). [5] Di dalam Mazhab Hambali disebutkan bahwa tidak masalah memberitahukan kepada kerabat dan saudara tanpa pengumuman, (Al-Insaf lil Mardawi: 2/329). [6] Ibnu Hajar berkata:النَّعْيُ لَيْسَ مَمْنُوعًا كُلُّهُ، وَإِنَّمَا نُهِيَ عَمَّا كَانَ أَهْلُ الجَاهِلِيَّةِ يَصْنَعُونَهُ؛ فَكَانُوا يُرْسِلُونَ مَنْ يُعْلِنُ بِخَبَرِ مَوْتِ المَيِّتِ عَلَى أَبْوَابِ الدُّورِ وَالأَسْوَاقِ
Na’yu (Pengumuman kematian) tidak semuanya dilarang, yang dilarang adalah apa yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah; mereka mengirimkan orang untuk mengumumkan berita kematian di pintu-pintu rumah dan pasar,(Fathul Bari: 3/117).
[7] Tabyin al-Haqa'iq li Az-Zaila'i: 1/240. Fath al-Qadir li Al-Kamal Ibn al-Humam: 2/127. [8] At-Taj wal-Iklil li Al-Mawwaq: 2/241. Syarh Mukhtasar Khalil li Al-Kharsyi: 2/139, Asy-Syarh As-Saghir li Ad-Dardir: 1/570. [9] Raudhatut Thalibin li An-Nawawi: 2/98, Mughni al-Muhtaj li Asy-Syarbini: 1/357 [10] Di dalam Mazhab Hambali, pembolehan hanya terbatas pada pemberitahuan kepada saudara dan kerabat, (Al-Iqna li Al-Hajjawi: 1/212. Kasyaf Al-Qina li Al-Buhuti: 2/85). [11] Ibnu Rusydi berkata:وَأَمَّا الإِذْنُ بِهَا، وَالإِعْلَامُ مِنْ غَيْرِ نِدَاءٍ، فَذَلِكَ جَائِزٌ بِإِجْمَاعٍ
Adapun izin untuk itu, dan pemberitahuan tanpa pengumuman, maka itu diperbolehkan dengan ijma, (Al-Bayan wat Tahsil: 2/218).
[12] Fathul Bari li Ibni Hajar: 3/117.
Post a Comment for "Fikih Dorar: Na'yu atau Pengumuman Kematian"