zmedia

Mausuatul Akhlak: Ihsan

Pembaca rahimakumullah, Akhlak merupakan pilar utama dalam pembentukan pribadi Muslim yang paripurna, dan di antara akhlak yang paling agung adalah al-iḥsān—berbuat baik dengan kesempurnaan niat dan tindakan. Dalam Islam, ihsan bukan sekadar kebaikan biasa, melainkan puncak dari interaksi etis antara manusia dengan sesama dan dengan Tuhannya. Artikel ini menguraikan nilai-nilai luhur ihsan sebagai akhlak yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, serta sebagai fondasi kemajuan masyarakat dan ketenangan jiwa. Ini adalah terjemahan dan ringkasan dari Mausuatul Akhlak Dorar Saniyah yang menjadi bahan ajar di RQ Irmas Bani Saimo Suro Karyo, Kec. Bulu – Sukoharjo. Semoga bermanfaat.

قالَ المُؤلِّفُ حَفِظَهُ اللهُ تَعالى وَنَفَعَنا بِهِ وَبِعُلومِهِ فِي الدّارَيْنِ، آمِيـن…

الإِحْسانُ إِلَى الغَيْرِ

Ihsan kepada yang lain مَعْنَى الإِحْسَانِ لُغَةً وَاصْطِلَاحًا

Makna Ihsan secara Bahasa dan Istilah

الإِحْسَانُ لُغَةً: الإِحْسَانُ ضِدُّ الإِسَاءَةِ، وَهُوَ فِعْلُ مَا يَنْبَغِي أَنْ يُفْعَلَ مِنَ الْخَيْرِ.

Ihsan secara bahasa: Ihsan adalah lawan kata dari Isa-ah (keburukan). Ihsan artiya melakukan kebaikan yang semestinya dilakukan.

الإِحْسَانُ اصْطِلَاحًا: وَقَالَ السَّعْدِيُّ: (هُوَ بَذْلُ جَمِيعِ الْمَنَافِعِ مِنْ أَيِّ نَوْعٍ كَانَ، لِأَيِّ مَخْلُوقٍ يَكُونُ). (بَهْجَةُ قُلُوبِ الأَبْرَارِ، ص: ١٤٢)

Ihsan secara istilah menurut As-Sa’di adalah memeberi semua manfaat – apa pun jenisnya, kepada setiap makhluk, apa pun itu, (Bahjatul Qulubil Abrar: 142).

التَّرْغِيبُ فِي الإِحْسَانِ وَالْحَثُّ عَلَيْهِ

Dalil Anjuran Ihsan

أ- مِنَ القُرْآنِ الكَرِيمِ 1 – Dari Al-Quranul Karim

قال اللهُ سُبحانَه: إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ [النحل: 90[

Allah ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat ihsan, memberi kepada sanak kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan mesum, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran,” (QS An-Nahl: 90).

وقال تعالى: وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ [القصص: 77[

Allah ta’ala berfirman, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuatlah ihsan sebagaimana Allah telah ihsan kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan,”(QS Al-Qasas: 77).

وقال تعالى: هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ [ الرَّحمن: 60[

Allah ta’ala berfirman, “Tidak ada balasan bagi perbuatan ihsan kecuali ihsan (pula),”(QS Ar-Rahman: 60).

وقال تعالى: إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ [الأعراف: 56[

Allah ta’ala berfirman, “Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat kepada orang-orang yang berbuat ihsan,” (QS Al-A’raf: 56).

ب- مِنَ السُّنَّةِ النَّبَوِيَّةِ

2 – Dari Sunah Nabawiyah

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((مَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةً، وَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَعَمِلَهَا كُتِبَتْ لَهُ عَشْرًا إِلَى سَبْعِمِئَةِ ضِعْفٍ، وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا لَمْ تُكْتَبْ، وَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ)) أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ (١٣٠)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa saja yang merencanakan sesuatu yang ihsan, tetapi tidak melakukannya, dia dicatat satu kebaikan. Siapa saja yang merencanakan sesuatu yang ihsan, dan dia melakukannya, dia dicatat 10 (kebaikan) hingga 700 kali lipat. Siapa saja yang merencanakan keburukan, tetapi tidak melakukannya, dia tidak dicatat (dosanya), tetapi jika dia melakukannya, dia dicatat dosanya, (Sahih Muslim: 130).

وَعَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: ((ثِنْتَانِ حَفِظْتُهُمَا عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ قَالَ: إِنَّ اللهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا القِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ)) أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ (١٩٥٥)

Dari Saddad bin Aus Radhiyallahu Anhu yang mengatakan bahwa beliau menghafal dua hal dari Rasulullah ﷺ yang bersabda, “Sesungguhnya Allah mewajibkan Ihsan atas segala sesuatu. Jadi, apabila kamu harus membunuh, maka bunuhlah secara ihsan. Jika kalian menyembelih, maka sembelihlah secara ihsan. Hendaknya salah seorang dari kalian menajamkan pisau, lalu menyenangkan sembelihannya,” (Sahih Muslim: 1955).

ج- مِنْ أَقْوَالِ السَّلَفِ وَالعُلَمَاءِ

3 – Dari Perkataan Salaf dan Ulama

كَتَبَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ العَزِيزِ إِلَى عَبْدِ الحَمِيدِ صَاحِبِ الكُوفَةِ رِسَالَةً، وَفِيهَا: (... إِنَّ قَوَامَ الدِّينِ: العَدْلُ، وَالإِحْسَانُ) ((حِلْيَةُ الأَوْلِيَاءِ وَطَبَقَاتُ الأَصْفِيَاءِ)) لأَبِي نُعَيْم (٥/٢٨٦)

Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada Abdul Hamid, ulama di Kuffah, yang di dalamnya tertulis, “Sungguh, penegak agama ini adalah perilaku adil dan ihsan,” (Hilyatu Aulia wa Tabaqat Al-Ashfiya li Abi Nu’aim: 5/285).

وَقَالَ ابْنُ حِبَّانَ: (لَا سَبَبَ لِتَسْكِينِ الإِسَاءَةِ أَحْسَنُ مِنَ الإِحْسَانِ) ((رَوْضَةُ العُقَلَاءِ)) (ص: ١٦٦)

Ibnu Hibban berkata, “Tidak ada sebab yang lebih baik dalam menjinakkan keburukan selain sikap ihsan,” (Raudhatul Uqala: 166).

وَقَالَ ابْنُ القَيِّمِ: (مِفْتَاحُ حُصُولِ الرَّحْمَةِ: الإِحْسَانُ فِي عِبَادَةِ الخَالِقِ، وَالسَّعْيُ فِي نَفْعِ عَبِيدِهِ) ((طَرِيقُ الهِجْرَتَيْن)) (ص: ٤٦)

Ibnul Qayyim berkata, “Kunci menuju rahmat (Allah) adalah berbuat ihsan dalam peribadatan kepada Al-Khaliq dan berusaha keras dalam memberi manfaat kepada hamba-hambaNya,” (Tariqul Hijratain: 46).

فَوَائِدُ الإِحْسَانِ

Manfaat Akhlak Ihsan

تَمَاسُكُ بُنْيَانِ المُجْتَمَعِ، وَوِقَايَتُهُ مِنَ الآفَاتِ الاجْتِمَاعِيَّةِ.

1 – Menguatkan bangunan masyarakat, serta mencegah dari penyakit sosial.

المُحْسِنُ يَكُونُ فِي مَعِيَّةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ [العنكبوت: ٦٩]

2 – Orang yang berbuat ihsan, dia akan dibersamai oleh Allah azza wa jalla, (lihat QS Al-Ankabut: 69).

المُحْسِنُ يَكْتَسِبُ بِإِحْسَانِهِ مَحَبَّةَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ [البقرة: ١٩٥]، [آل عمران: ١٣٤]

3 – Orang yang berbuat ihsan, dengan akhlak ihsannya itu dia akan mendapat kecintaan Allah azza wa jalla, (lihat QS Al-Baqarah: 195 dan QS Ali Imran: 134).

لِلْمُحْسِنِينَ أَجْرٌ عَظِيمٌ فِي الآخِرَةِ [البقرة: ١١٢]

4 – Orang yang berbuat ihsan, dia mendapat ganjaran yang sangat besar di akhirat, (lihat QS Al-Baqarah: 112).

المُحْسِنُ قَرِيبٌ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ [الأعراف: ٥٦]

5 – Orang yang berbuat ihsan akan dekat dengan rahmat Allah azza wa jalla, (lihat QS Al-A’raf: 56).

الإِحْسَانُ هُوَ وَسِيلَةُ المُجْتَمَعِ لِلرُّقِيِّ وَالتَّقَدُّمِ.

6 – Ihsan adalah wasilah terwujudnya masyarakat yang maju dan berkembang.

الإِحْسَانُ وَسِيلَةٌ لِإِزَالَةِ مَا فِي النُّفُوسِ مِنَ الكَدَرِ وَسُوءِ الفَهْمِ وَسُوءِ الظَّنِّ وَنَحْوِ ذَلِكَ.

7 – Ihsan adalah wasilah untuk menghilangkan kesusahan, kesalahpahaman, prasangka yang buruk, atau yang semisal, dari jiwa.

الإِحْسَانُ إِلَى النَّاسِ سَبَبٌ مِنْ أَسْبَابِ انْشِرَاحِ الصَّدْرِ.

8 – Ihsan kepada manusia adalah salah satu sebab lapang dada.

الإِحْسَانُ إِلَى النَّاسِ يُطْفِئُ نَارَ الحَسَدِ، وَيَدْفَعُ العَدَاوَةَ.

9 – Ihsan kepada manusia akan memadamkan api hasad dan mencegah permusuhan.

مِنْ أَسْبَابِ إِزَالَةِ الهَمِّ وَالغَمِّ.

10 – Termasuk sebab penghilang Al-Hammu[1] dan Al-Gammu.[2]

تَثْبِيتُ دَعَائِمِ الأُخُوَّةِ وَالمَحَبَّةِ بَيْنَ المُسْلِمِينَ.

11 – Menguatkan keberlangsungan persaudaraan dan rasa cinta di antara kaum muslimin.

مِنْ أَسْبَابِ جَلْبِ النِّعَمِ، وَدَفْعِ النِّقَمِ

12 – Termasuk sebab yang mendatangkan nikmat (Ni’am) dan mencegah bencana (Niqam).

مَوَانِعُ الإِحْسَانِ

Penghalang Terwujudnya Akhlak Ihsan

الجَهْلُ بِالفَضْلِ الكَبِيرِ وَالأَجْرِ الجَزِيلِ الَّذِي جَعَلَهُ سُبْحَانَهُ لِلْمُحْسِنِينَ مِنْ عِبَادِهِ.

1 – Ketidaktahuan tentang besarnya keutamaan dan mulianya ganjaran yang Allah berikan kepada orang-orang yang berbuat ihsan.

الغَفْلَةُ عَنِ الآثَارِ الحَسَنَةِ الكَثِيرَةِ لِلإِحْسَانِ.

2 – Abai terhadap banyaknya pengaruh baik dari berbuat ihsan.

ضَعْفُ التَّقْوَى؛ فَإِنَّ مَنْ عَرَفَ اللهَ سُبْحَانَهُ وَاتَّقَاهُ أَحْسَنَ مُعَامَلَةَ خَلْقِهِ.

3 – Tingkat ketakwaan yang rendah, karena orang yang mengenal dan bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala akan berbuat ihsan ketika bermuamalah dengan makhlukNya.

الرَّغْبَةُ فِي الانْتِصَارِ لِلنَّفْسِ، وَتَرْكُ المُسَامَحَةِ.

4 – Ingin menang sendiri, tidak mau memaafkan.

آفَاتُ النَّفْسِ كَالغِلِّ وَالحَسَدِ وَالكَرَاهِيَةِ وَنَحْوِهَا.

5 – Penyakit jiwa, seperti Gil,[3] Hasad,[4] Karahiah, dan yang semisal.

شُحُّ النَّفْسِ وَغَلَبَةُ الأَثَرَةِ عَلَيْهَا؛ مَا يَمْنَعُهَا مِنَ البَذْلِ لِلآخَرِينَ، وَالسَّعْيِ فِي نَفْعِهِمْ وَالإِحْسَانِ إِلَيْهِمْ

Bakhil (plus tamak) yang disertai dengan egois, karena itu akan mencegah seseorang untuk memberi kepada orang lain, juga mencegah seseorang dari berusaha untuk memberi manfaat dan berbuat ihsan kepada orang lain.

الوَسَائِلُ المُعِينَةُ عَلَى اكْتِسَابِ الإِحْسَانِ

Cara Mewujudkan Akhlak Ihsan

أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ الإِحْسَانَ لِلْغَيْرِ مِنَ الأَخْلَاقِ الَّتِي يُحِبُّهَا اللهُ سُبْحَانَهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

1 – Mengetahui bahwa berbuat ihsan kepada orang lain termasuk akhlak yang disukai Allah ta’ala dan RasulNya ﷺ.

أَنْ يَتَعَرَّفَ عَلَى مَا لِلْإِحْسَانِ مِنْ فَضْلٍ، وَمَا يَتَرَتَّبُ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ أُخْرَوِيٍّ وَمَصَالِحَ دُنْيَوِيَّةٍ.

2 – Mengetahui keutamaan berbuat ihsan, juga pahalanya di akhirat, serta maslahatnya di dunia.

أَنْ يُجَاهِدَ نَفْسَهُ فِي تَحْصِيلِ الأَخْلَاقِ الحَمِيدَةِ الَّتِي تُقَرِّبُهُ مِنْ أَهْلِ الإِحْسَانِ.

3 – Bersungguh-sungguh dalam mencapai akhlak terpuji yang bisa membuatnya dekat dengan orang-orang yang berbuat ihsan.

أَنْ يَلْجَأَ إِلَى رَبِّهِ سُبْحَانَهُ بِالتَّضَرُّعِ وَالدُّعَاءِ أَنْ يَكُونَ مِنْ عِبَادِهِ الْمُحْسِنِينَ.

4 – Meminta kepada Allah dengan merendah dan berdoa supaya menjadi bagian dari golongan hamba-hambaNya yang berbuat ihsan.

أَنْ يَتَخَلَّصَ مِنْ آفَاتِ النَّفْسِ، كَالشُّحِّ وَالْبُخْلِ وَالطَّمَعِ، إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ.

5 – Menyucikan diri dari penyakit jiwa seperti Syuhu (bakhil lagi tamak), bakhil, serta tamak, dll.

مُصَاحَبَةُ أَهْلِ الإِحْسَانِ.

6 – Bersahabat dengan orang-orang yang ihsan.

مُطَالَعَةُ سِيرَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالسَّلَفِ الصَّالِحِ.

7 – Mengaji Sirah Nabi ﷺ dan para salaf yang saleh.

أَنْ يَتَذَكَّرَ إِحْسَانَ اللهِ عَلَيْهِ؛ فَإِنَّ إِحْسَانَهُ مُوجِبٌ لِلْإِحْسَانِ إِلَى عِبَادِهِ.

8 – Mengingat-ingat kebaikan Allah kepada diri sendiri, karena IhsanNya Allah mewajibkan Allah untuk berbuat ihsan kepada hamba-hambaNya.

أَنْ يَسْتَحْضِرَ نِيَّةَ الإِحْسَانِ إِلَى الْخَلْقِ وَنَفْعِهِمْ.

9 – Menghadirkan niat untuk berbuat ihsan dan memberi manfaat kepada sesama makhluk.

Dengan memahami hakikat ihsan, hambatan-hambatannya, serta cara-cara untuk menggapainya, seorang Muslim dapat menempuh jalan menuju kedekatan dengan Allah dan kebermanfaatan bagi sesama. Ihsan bukan hanya tuntutan moral, tetapi juga jalan menuju rahmat, cinta Ilahi, dan kemuliaan di dunia maupun akhirat. Maka, menjadikan ihsan sebagai karakter hidup bukanlah pilihan, melainkan keniscayaan bagi siapa pun yang menginginkan kebahagiaan sejati dan keberhasilan hakiki. Semoga nilai-nilai ihsan senantiasa menghiasi perilaku kita, memperkuat ukhuwah, dan menjadi cahaya dalam perjalanan menuju ridha Allah. Wallahua’lam

Karangasem, 20 Agustus 2024

Irfan Nugroho (Semoga Allah mengampuni, merahmati, dan menempatkan ibunya di surga. Aamiin)

CATATAN KAKI [1] Al-Hammu artinya:

مَا يَشْغَلُ بَالَ الانسان، مَا يُؤَرِّقُ فِكْرَهُ

Apa saja yang menyibukkan dan mengganggu pikiran seseorang.

[2] Al-Gammu artinya:

الحزن والكرب لأنه يغطي السرور والحلم

Kesedihan dan kesusahan karena ia menutupi kebahagiaan dan impian.

[3] Gil artinya:

العَدَاوَةُ والحِقْدُ الكَامِن

Permusuhan dan kebencian yang terpendam.

[4] Hasad artinya:

كَرَّهَ نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْهِ، وَتَمَنَّى أَنْ تَزُولَ عَنْهُ

Tidak suka nikmat Allah yang ada pada seseorang, serta berharap agar nikmat itu hilang darinya.

Post a Comment for "Mausuatul Akhlak: Ihsan"