zmedia

Minhajul Muslim: Fikih Udhiyah

Pembaca mukminun.com yang budiman, kali ini kita akan mempelajari seluk beluk qurban atau udhiyah. Makalah ini diambil dari kitab fiqih Syekh Abu Bakar Jabir al-Jazairi yang berjudul Minhajul Muslim. Teruskan membaca. Semoga bermanfaat!

تَعْرِيفُهَا

Pengertian Udhiyah

ٱلْأُضْحِيَةُ هِيَ ٱلشَّاةُ تُذْبَحُ ضُحًى يَوْمَ ٱلْعِيدِ تَقَرُّبًا إِلَى ٱللَّهِ تَعَالَى

Udhiyah adalah kambing (termasuk sapi/unta) yang disembelih pada waktu dhuha hari Idul Adha sebagai taqarub kepada Allah ta'ala.

حُكْمُهَا

Hukum Udhiyah

ٱلْأُضْحِيَةُ سُنَّةٌ وَاجِبَةٌ عَلَىٰ أَهْلِ كُلِّ بَيْتٍ مُّسْلِمٍ قَدَرَ أَهْلُهُ عَلَيْهَا

Hukum Qurban (Udhiyah) adalah sunnah wajibah bagi setiap keluarga muslim yang mampu untuk melakukannya, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu, dan berqurbanlah,” (Al-Kautsar: 02).

Juga didasarkan pada hadist Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam:

مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيَذْبَحْ مَكَانَهَا أُخْرَى

“Barangsiapa yang menyembelihnya sebelum shalat (Ied), maka hendaklah ia mengulangi,” (Sahih Bukhari: 7400).

Juga sebagaimana perkataan Ayyub Al-Anshari:

كَانَ الرَّجُلُ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُضَحِّي بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ

“Adalah seorang laki-laki di zaman Rasulullah berqurban dengan seekor kambing atas nama dirinya dan keluarganya,” (Sunan Ibnu Majah: 3147).

فَضْلُهَا

Keutamaan Udhiyah

يَشْهَدُ لِمَا لِسُنَّةِ ٱلْأُضْحِيَةِ مِنَ ٱلْفَضْلِ ٱلْعَظِيمِ قَوْلُ ٱلرَّسُولِ - صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -

Yang menunjukkan betapa besarnya keutamaan sunnah berkurban adalah sabda Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلًا أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هِرَاقَةِ دَمٍ وَإِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَظْلَافِهَا وَأَشْعَارِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا

“Tidak ada amalan (sunah) di hari Nahr (10 Zulhijah) yang lebih dicintai Allah melebihi amalan (sunah) berupa mengalirkan darah hewan kurban. Sungguh, hewan qurban akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, kuku, dan rambut-rambutnya. Sungguh, darahnya itu mendapat tempat di sisi Allah Azza Wa Jalla sebelum darahnya jatuh ke muka bumi. Maka, berbahagialah orang yang berudhiyah,” (HR Ibnu Majah: 3126, dan At-Tirmidzi dan dia menghasankan walaupun dianggap gharib).

Dan sabda Rasulullah ketika beliau ditanya oleh para sahabat:

مَا هَذِهِ الْأَضَاحِيُّ

“Apa yang dimaksud dengan hewan qurban?”

Pada saat itu beliau menjawab:

سُنَّةُ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ

“Itu merupakan satu sunnah ayah kalian semua yaitu Ibrahim.”

Lalu mereka bertanya lagi:

فَمَا لَنَا فِيهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ

“Apa yang kami dapatkan darinya?”

Beliau menjawab:

بِكُلِّ شَعَرَةٍ حَسَنَةٌ

“Setiap helai bulu (kambing Jawa) adalah satu kebaikan.”

Mereka bertanya kembali:

فَالصُّوفُ يَا رَسُولَ اللَّهِ

“Bagaimana dengan bulu (kambing gembel/domba)?”

Beliau menjawab:

بِكُلِّ شَعَرَةٍ مِنْ الصُّوفِ حَسَنَةٌ

“Setiap helai bulu (kambing gembel) adalah satu kebaikan,” (Sunan Ibnu Majah: 3127).

حكمتهَا

Hikmah Udhiyah

Di antara hikmah ibadah qurban atau udhiyah menurut  sheikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi antara lain:

ٱلتَّقَرُّبُ إِلَى ٱللَّهِ تَعَالَى بِهَا 1. Mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala

Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berkorbanlah,” (Al-Kautsar: 02).

Juga dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.” (Al-An’am: 163).

Ada pun yang dimaksud An-Nusuk di sini adalah:

ٱلذَّبْحُ تَقَرُّبًا إِلَيْهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

Menyembelih hewan sebagai taqarrub kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

2. Mengikuti sunnah Nabi Ibrahim

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mewahyukan kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya yaitu Nabi Ismail Alaihissalam. Tetapi, Allah Subhanahu Wa Ta’ala kemudian mengganti Nabi Ismail Alaihissalam dengan domba. Maka beliau (Nabi Ibrahim Alaihissalam) menyembelih domba tersebut sebagai ganti dari Nabi Ismail Alaihissalam.

Hal ini sebagai firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar,” (Ash-Shaffat: 107).

ٱلتَّوْسِعَةُ عَلَى ٱلْعِيَالِ يَوْمَ ٱلْعِيدِ، وَإِشَاعَةُ ٱلرَّحْمَةِ بَيْنَ ٱلْفُقَرَاءِ وَٱلْمَسَاكِينِ 3. Qurban memberikan kelapangan kepada keluarga di hari Ied, dan memberikan kasih sayang kepada fakir miskin

شُكْرُ ٱللَّهِ تَعَالَى عَلَىٰ مَا سَخَّرَ لَنَا مِنۢ بَهِيمَةِ ٱلْأَنْعَامِ

4. Sebagai rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Demikianlah Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menundukkan binatang ternak bagi kita sebagaimana firman-Nya:

وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُم مِّن شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ ۖ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ ۖ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi'ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur. [QS Hajj: 36]

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. [QS Hajj: 37] أحكامهَا

Fikih Udhiyah

سِنُّهَا

1. Usia Hewan Qurban atau Udhiyah

: لَا يُجْزِئُ فِي ٱلْأُضْحِيَّةِ مِنَ ٱلضَّأْنِ أَقَلُّ مِنَ ٱلْجَذَعِ، وَهُوَ مَآ أَوْفَىٰ سَنَةً أَوۡ قَارَبَهَا، Tidak sah untuk berkurban domba yang berusia kurang dari jaza' (domba yang sudah tanggal gigi depannya), yaitu yang telah genap satu tahun atau mendekatinya. (Catatan penerjemah: Syaikh Abu Bakar Jabir mengartikan Jadzau dengan genap satu tahun, sedang ulama lain mengartikannya enam bulan)

وَفِي غَيْرِ ٱلضَّأْنِ مِنَ ٱلْمَعْزِ وَٱلْإِبِلِ وَٱلْبَقَرِ لَا يُجْزِئُ أَقَلُّ مِنَ ٱلثَّنِيِّ وَهُوَ

Sedangkan untuk selain domba, yaitu kambing, unta, dan sapi, tidak sah yang berusia kurang dari tsaniy (hewan yang sudah tanggal gigi serinya). Detail usia tsaniy adalah sebagai berikut:

فِي ٱلْمَاعِزِ مَآ أَوْفَىٰ سَنَةً وَدَخَلَ فِي ٱلثَّانِيَةِ،

Kambing: yang telah genap satu tahun dan masuk tahun kedua.

وَفِي ٱلْإِبِلِ مَآ أَوْفَىٰ أَرْبَعَ سَنَوَاتٍ وَدَخَلَ فِي ٱلْخَامِسَةِ.

Unta: yang telah genap empat tahun dan masuk tahun kelima. (Catatan penerjemah: Ini adalah pendapat Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi. Ulama lain berpendapat genap lima tahun, masuk tahun tahun keenam)

وَفِي ٱلْبَقَرِ مَآ أَوْفَىٰ سَنَتَيْنِ وَدَخَلَ فِي ٱلثَّالِثَةِ؛

Sapi: yang telah genap dua tahun dan masuk tahun ketiga. لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ ٱلصَّلَاةُ وَٱلسَّلَامُ: "لَا تَذْبَحُوا۟ إِلَّا مُسِنَّةًلَا تَذْبَحُوا إِلَّا مُسِنَّةً إِلَّا أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوا جَذَعَةً مِنْ الضَّأْنِ" وَٱلْمُسِنَّةُ مِنَ ٱلْأَنْعَامِ هِيَ ٱلثَّنِيَّةُ.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ: "Janganlah kalian menyembelih kecuali musinnah (yang sudah tanggal giginya), kecuali jika sulit bagi kalian, maka sembelihlah jaza'ah dari domba," [Sahih Muslim: 1963].

Dan musinnah dari hewan ternak adalah tsaniyah (yang sudah tanggal gigi serinya).

سَلَامَتُهَا

2. Terbebas dari Kurus dan Cacat

لَا يُجْزِئُ فِي ٱلْأُضْحِيَّةِ سِوَى ٱلسَّلِيمَةِ مِن كُلِّ نَقْصٍ فِى خِلْقَتِهَا، فَلَا تُجْزِئُ 

Tidak sah untuk berkurban kecuali hewan yang selamat (bebas) dari setiap kekurangan dalam penciptaannya. Oleh karena itu, tidak sah berkurban dengan hewan yang:

ٱلْعَوْرَآءُ

1 - buta sebelah (jelas butanya),

وَلَا ٱلْعَرْجَآءُ

2 - pincang (jelas pincangnya),

مَكْسُورَةُ ٱلْقَرْنِ مِنْ أَصْلِهِۦ

3 - tanduknya patah dari pangkalnya atau

مَقْطُوعَةُ ٱلْأُذُنِ مِنْ أَصْلِهَا

4 - telinganya terpotong dari pangkalnya (adhbā),

وَلَا ٱلْمَرِيضَةُ

5 - sakit (jelas sakitnya), dan

وَلَا ٱلْعَجْفَآءُ (وَهِيَ ٱلْهَازِلُ ٱلَّتِي لَا مُخَّ فِيهَا)

6 - sangat kurus ('ajfā, yaitu hewan yang kurus kering dan tidak ada sumsum di tulangnya).

وَذَٰلِكَ لِقَوْلِهِۦ -صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: "أَرْبَعٌ لَا تَجُوزُ فِي الْأَضَاحِيِّ فَقَالَ الْعَوْرَاءُ بَيِّنٌ عَوَرُهَا وَالْمَرِيضَةُ بَيِّنٌ مَرَضُهَا وَالْعَرْجَاءُ بَيِّنٌ ظَلْعُهَا وَالْكَسِيرُ الَّتِي لَا تَنْقَى" [2] يَعْنِي لَا نَقِىَ فِيهَا أَيْ لَا مُخَّ فِى عِظَامِهَا وَهِيَ ٱلْهَازِلُ ٱلْعَجْفَآءُ.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ: "Empat (macam hewan) yang tidak boleh dijadikan kurban: (pertama) yang buta sebelah dan jelas kebutaannya, (kedua) yang sakit dan jelas sakitnya, (ketiga) yang pincang dan jelas pincangnya, dan (keempat) yang patah atau kurus kering hingga tidak memiliki sumsum," [Sunan Abu Dawud: 2802]

Maksud dari "tidak memiliki sumsum" adalah tidak ada sumsum di tulangnya, yaitu hewan yang kurus kering dan lemah.

أَفْضَلُهَا

3. Hewan yang Paling Utama

أَفْضَلُ ٱلْأُضْحِيَّةِ مَا كَانَتْ كَبْشًا أَٔقْرَنَ فَحْلًا أَٔبْيَضَ يُخَالِطُهُۥ سَوَادٌ حَوْلَ عَيْنَيْهِ وَفِى قَوَآئِمِهِۦ؛ إِذْ هَٰذَا هُوَ ٱلْوَصْفُ ٱلَّذِي ٱسْتَحَبَّهُۥ رَسُولُ ٱللَّهِ -صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- وَضَحَّىٰ بِهِۦ. قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ ٱللَّهُ عَنْهَا: "

Hewan kurban yang paling utama adalah domba jantan bertanduk, putih bersih yang bercampur sedikit hitam di sekitar matanya dan pada kakinya. Ini adalah sifat yang disukai Rasulullah ﷺ dan yang beliau gunakan untuk berkurban. Aisyah radhiyallahu 'anha berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِكَبْشٍ أَقْرَنَ يَطَأُ فِي سَوَادٍ وَيَبْرُكُ فِي سَوَادٍ وَيَنْظُرُ فِي سَوَادٍ فَأُتِيَ بِهِ لِيُضَحِّيَ بِهِ

"Sesungguhnya Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk didatangkan seekor domba jantan bertanduk, yang tapaknya hitam, rebahnya hitam, dan pandangannya hitam, lalu domba itu didatangkan kepada beliau untuk dijadikan kurban," (Sahih Muslim: 1967)

وَقْتُ ذَبْحِهَا

4. Waktu Menyembelih

وَقْتُ ذَبْحِ ٱلْأُضْحِيَّةِ صَبَاحُ يَوْمِ ٱلْعِيدِ بَعْدَ ٱلصَّلَاةِ، أَيْ صَلَاةِ ٱلْعِيدِ فَلَا تُجْزِئُ قَبْلَهُۥ أَبَدًا؛ 

Waktu menyembelih hewan qurban adalah pagi hari di hari Idul Adha, yakni setelah selesai melaksanakan shalat Ied. Tidak diperbolehkan menyembelih sebelum melaksanakan Shalat Ied, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadist:

لِّقَوْلِهِۦ -صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: "مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ ٱلصَّلَاةِ فَإِنَّمَا يَذْبَحُ لِنَفْسِهِۦ؛ وَمَن ذَبَحَ بَعْدَ ٱلصَّلَاةِ فَقَدْ تَمَّ نُسُكُهُۥ وَأَصَابَ سُنَّةَ ٱلْمُسْلِمِينَ" [4]. أَمَّا بَعْدَ يَوْمِ ٱلْعِيدِ فَإِنَّهُۥ يَجُوزُ تَأْخِيرُهَا لِلْيَوْمِ ٱلثَّانِي وَٱلثَّالِثِ بَعْدَ ٱلْعِيدِ؛ لِمَا رُوِيَ "كُلُّ أَيَّامِ ٱلتَّشْرِيقِ ذَبْحٌ" [5]

“Barangsiapa yang menyembelih sebelum Shalat Ied maka sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya, dan barangsiapa yang menyembelih setelah shalat Ied, maka sempurnalah amalannya dan mengikuti sunnah umat Islam,” (HR Bukhari: 7/128, 131).

مَا يُسْتَحَبُّ عِنْدَ ذَبْحِهَا

5. Sunah ketika Menyembelih Udhiyah

يُسْتَحَبُّ عِنْدَ ذَبْحِهَا أَن يُوَجِّهَهَا إِلَى ٱلْقِبْلَةِ وَيَقُولُ: 

Ketika menyembelih, dianjurkan untuk menghadapkan hewan ke arah kiblat sambil mengucapkan:

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ. إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada yang telah menciptakan langit dan bumi, dalam keadaan pasrah dan tidaklah aku termasuk golongan orang musrik. Sesungguhnya salatku, amalanku, hidupku, dan matiku, hanya untuk Allah Rab semesta alam, tidak ada sekutu bagiNya dan dengan itu aku diperintahkan dan aku termasuk yang pertama-tama berserah diri.

وَإِذَا بَاشَرَ ٱلذَّبْحَ أَن يَقُولَ: Ketika akan menyembelih membaca:

بِسْمِ ٱللَّهِ وَٱللَّهُ أَكْبَرُ. ٱللَّهُمَّ هَٰذَا مِنكَ وَلَكَ

"Bismillah wallahu akbar. Allahumma hadza minka wa laka."

(Dengan nama Allah dan Allah Mahabesar. Ya Allah, ini dari-Mu dan untuk-Mu.)

صِحَّةُ ٱلْوَكَالَةِ فِيهَا

6. Mewakilkan Penyembelihan Udhiyah

يُسْتَحَبُّ أَن يُبَاشِرَ ٱلْمُسْلِمُ أُضْحِيَتَهُۥ بِنَفْسِهِۦ، وَإِنْ أَنَابَ غَيْرَهُۥ فِي ذَبْحِهَا جَازَ ذَٰلِكَ بِلَا حَرَجٍ، وَلَا خِلَافٍ بَيْنَ أَٔهْلِ ٱلْعِلْمِ فِي هَٰذَا.

Disunahkan bagi seorang Muslim untuk menyembelih hewan kurbannya sendiri. Namun, jika ia mewakilkan kepada orang lain untuk menyembelihnya, itu diperbolehkan dan tidak ada masalah. Tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama mengenai hal ini.

قِسْمَتُهَا ٱلْمُسْتَحَبَّةُ:

7. Pembagian Daging Udhiyah

 يُسْتَحَبُّ أَن تُقْسَمَ ٱلْأُضْحِيَّةُ ثَلَاثًا، يَأْكُلُ أَٔهْلُ ٱلْبَيْتِ ثُلُثًا وَيَتَصَدَّقُونَ بِثُلُثٍ، وَيُهْدُونَ لِأَصْدِقَائِهِمُ ٱلثُّلُثَ ٱلْآخَرَ؛ 

Daging hewan qurban atau udhiyah dianjurkan untuk dibagi menjadi tiga bagian:

- Sepertiga untuk dimakan keluarga yang berqurban

- Sepertiga untuk sedekah

- Sepertiga untuk diberikan kepada sahabat

لِّقَوْلِهِۦ -صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: "كُلُوا۟ وَٱدَّخِرُوا۟ وَتَصَدَّقُوا۟" وَيَجُوزُ أَٔن يَتَصَدَّقُوا۟ بِهَا كُلِّهَا، كَمَا يَجُوزُ أَٔن لَّا يُهْدُوا۟ مِنْهَا شَيْـًٔا.

Hal ini didasarkan pada sabda Nabi : Makanlah oleh kalian, simpanlah, dan sedekahkanlah, (Sunan Abu Dawud: 10 dan Sunan An-Nasai: 37).

8. Upah Penyembelih Udhiyah

أُجْرَةُ جَازِرِهَا مِن غَيْرِهَا: لَا يُعْطَىٰ ٱلْجَازِرُ أُجْرَةَ عَمَلِهِۦ مِنَ ٱلْأُضْحِيَّةِ؛ 

Kita tidak boleh memberikan upan kepada orang yang menyembelih hewan qurban dari bagian hewan qurban tersebut.

لِّقَوْلِ عَلِيٍّ رَضِيَ ٱللَّهُ عَنْهُ: أَمَرَنِي رَسُولُ ٱللَّهِ -صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- أَن أَقُومَ عَلَىٰ بُدْنِهِۦ، وَأَن أَتَصَدَّقَ بِلُحُومِهَا وَجُلُودِهَا وَجَلَالِهَا، وَأَن لَّا أُعْطِيَ ٱلْجَازِرَ مِنْهَا شَيْـًٔا. وَقَالَ: "نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِندِنَا".

Sebagaimana perkataan Ali Radhiyallahuanhu, “Rasulullah memerintahkan kepadaku untuk mengurusi untanya, dan aku diperintahkan untuk menyedekahkan dagingnya, kulitnya, dan untuk tidak memberikan kepada penyembelihnya (orang yang menanganinya/panitia) upah sedikit pun. Lali dia mengatakan, kami memberinya upah dari apa yang kami miliki,” (Sahih Muslim: 954, Sunan Abu Dawud: 1769, Musnad Ahmad: 1/123, Ibnu Majah: 3099).

هَلْ تُجْزِئُ ٱلشَّاةُ عَنۡ أَٔهْلِ ٱلْبَيْتِ؟

9. Sahkah Udhiyah 1 Kambing dari 1 Keluarga?

تُجْزِئُ ٱلشَّاةُ ٱلْوَاحِدَةُ عَنۡ أَٔهْلِ ٱلْبَيْتِ كَافَّةً وَإِنْ كَانُوٓا۟ أَنْفَارًا عَدِيدِينَ لِقَوْلِ أَٔبِىٓ أَٔيُّوبَ -رَضِيَ ٱللَّهُ عَنْهُ-: 

Sah qurban satu keluarga berupa seekor kambing meskipun ada beberapa orang dalam keluarga tersebut, sebagaimana penuturan Abu Ayyub Al-Anshari:

"كَانَ ٱلرَّجُلُ فِى عَهْدِ رَسُولِ ٱللَّهِ -صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يُضَحِّي بِٱلشَّاةِ عَنْهُ وَعَنۡ أَٔهْلِ بَيْتِهِۦ".

“Adalah seorang laki-laki di zaman Rasulullah berqurban dengan seekor kambing atas nama dirinya dan keluarganya,” (Sunan At-Tirmizi).

مَا يَتَجَنَّبُهُۥ مَنۡ عَزَمَ عَلَى ٱلْأُضْحِيَّةِ

10. Yang harus Dihindari saat Berniat Udhiyah

يُكْرَهُ كَرَاهَةً شَدِيدَةً لِّمَنْ أَرَادَ أَن يُضَحِّيَ أَن يَأْخُذَ مِن شَعَرِهِۦٓ أَوۡ أَظْفَارِهِۦ شَيْـًٔا وَذَٰلِكَ إِذَا أَهَلَّ هِلَالُ شَهْرِ ذِى ٱلْحِجَّةِ حَتَّىٰ يُضَحِّيَ لِقَوْلِهِۦ -صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-:

Orang yang hendak berqurban sangat dimakruhkan untuk memotong rambut atau kukunya walau sedikit. Demikian ini apabila telah nampak hilal bulan Zulhijjah sampai datang waktu penyembelihan hewan qurban, sebagaimana sabda Nabi :

"إِذَا رَأَيْتُمْ هِلَالَ ذِى ٱلْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَن يُضَحِّيَ فَلْيُمْسِكْ عَن شَعَرِهِۦ وَأَظْفَارِهِۦ حَتَّىٰ يُضَحِّيَ" [5]

“Apabila kalian telah melihat hilal bulan Zulhijjah, dan salah seorang dari kalian hendak berqurban, maka hendaklah dia menahan (tidak memotong) rambutnya dan kukunya hingga dia berqurban,” (Sahih Muslim: 41).

ضَحِيَّةُ ٱلرَّسُولِ -صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- عَن جَمِيعِ ٱلْأُمَّةِ

11. Qurban Rasulullah untuk Seluruh Umatnya

مَنۡ عَجَزَ عَنِ ٱلْأُضْحِيَّةِ مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ نَالَهُۥ أَجْرُ ٱلْمُضَحِّينَ؛ وَذَٰلِكَ لِأَنَّ ٱلنَّبِيَّ -صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- عِندَ ذَبْحِهِۦ لِأَحَدِ كَبْشَيْنِ قَالَ:

Barang siapa yang tidak mampu berqurban, maka dia akan meraih pahala dari orang-orang yang berqurban, sebagaimana sabda Rasulullah :

ٱللَّهُمَّ هَٰذَا عَنِّي وَعَمَّن لَّمْ يُضَحِّ مِنۡ أُمَّتِي

Ya Allah, ini (hewan qurban) dari hamba dan dari yang tidak mampu berqurban dari umatku, (al-Mustadrak: 4/228).

Demikian pembaca yang budiman, telah kita pelajari bersama tuntunan lengkap fiqih qurban atau udhiyah. Semoga kita diberi hidayah untuk mengamalkannya, dimudahkan untuk berqurban, dan diterima amal ibadah kita. Silakan dibagikan kepada pembaca yang lainnya.

Post a Comment for "Minhajul Muslim: Fikih Udhiyah"